Tampilkan postingan dengan label Family. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Family. Tampilkan semua postingan

Aufa Nggak mau Ikut Papa

a conversation between father and son. Happy Watching! :-)

Celoteh Aufa Part 1

Aufa Ilma Rausyanfikr umur 3 bulan


           Memiliki buah hati adalah dambaan setiap pasangan suami istri. Begitu pula dengan saya dan suami. Saat pertama kali dinyatakan positif, rasanya perasaan ini campur aduk. Antara senang, gugup dan bingung. Tapi saat menjalaninya saya merasa ada sejuta perubahan yang terjadi. Mulai dari kualitas diri, fisik, sampai sikap suami yang semakin memanjakan saya. Saat itu, kami berdua selalu tak sabar menantikan dia yang ada di dalam rahim. Bagaimana rupanya, bagaimana kelucuannya, dsb. Hingga pada akhirnya ia lahir ke dunia, kami seakan dianugrahi hadiah yang tiada terkira oleh Sang Maha Pencipta.
            Saat bayi kami lahir dan akhirnya diberi nama Aufa Ilma Rausyanfikr (cukupkanlah ilmu sang cendekiawan), saya sebagai ibu tak pernah mau absen untuk menyaksikan langsung tumbuh kembangnya. Dari mulai Aufa dimandikan, tidur, tersenyum, menangis, minum susu ASI sampai berceloteh tidak pernah saya lewatkan. Hasilnya, hari demi hari selalu saja ada perkembangan Aufa yang menarik hati.
Dari mulai usia 7 hari, sampai sekarang telah berusia 3 bulan setengah ia selalu menampakan sesuatu yang baru. Saya masih ingat saat Aufa masih usia sebulan kurang, dia sudah senang berceloteh. Kata pertamanya adalah “HAO”. Beranjak dua bulan, Aufa mulai sering teriak-teriak sendiri, dan sudah mulai merespon ekspresi orang yang mengajaknya bicara. Kini saat usianya menginjak 3 bulan lebih, Aufa semakin lincah dan agresif. Mulai sering tersenyum dan berceloteh, wajahnya mulai terbentuk, dan yang paling signifikan adalah berat badannya yang sudah mencapai 7,5 Kg, wow berat ya. Panjangnya pun sudah mencapai 65 cm. Jika dibandingkan bayi pada umumnya memang kemajuan Aufa terbilang lebih pesat. Alhamdulillah wa syukru lillah.
Komitmen saya untuk memberinya ASI eksklusif tidak akan berubah, meski beragam kesibukan menghantui. Saya kira hal ini merupakan salah satu bentuk syukur terhadap anugrah Allah. Mungkin ini juga yang menjadikan Aufa lebih subur dan lebih ceriwis dari bayi lainnya. Oh iya, karena tidak ingin melewatkan perkembangan Aufa, saya dan suami selalu merekam setiap momen yang menggemaskan. Berikut video kompilasi celotehan Aufa dari usia 1 bulan sampai 3 bulan lebih. 



Galeri Foto Aufa:
Usia 1 hari
umur 7 hari

Umur 1 bulan setengah
umur 2 bulan








Idul Fitri 1435 H

Kami mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri 1435 H. Mohon maaf lahir dan batin.

World Meet Baby

29 April 2014


         Rasa syukur dan senang luar biasa tengah menghinggapi rumah tangga kami. Rabu, 29 April 2014 bertepatan dengan ulang tahun Papa akhirnya Baby lahir ke dunia yang terang benderang. Sungguh kado terindah baik untuk Papa maupun saya. Bicara tentang tanggal lahir, saya pun lahir di tanggal 29. Sepertinya kami memang keluarga twenty niners ya…
            Hal menarik dari proses kelahiran Baby adalah perjuangan dan cobaan dari Allah untuk saya sebagai ibu juga baby. Betapa tidak, saya sempat khawatir ketika beberapa jam selepas ketuban pecah detak jantung baby malah semakin kencang, sedangkan saya semakin mulas. Jalan terakhir adalah operasi. Sontak saya terkejut dan sempat putus asa. Tapi Alhamdulillah keluarga senantiasa memberi dorongan dan semangat.
            Saya sempat merasakan dokter menyuntikan biusan di punggung sebelum akhirnya saya terbaring kaku. Sekitar enam dokter berkumpul di dekat badan saya hendak mengoperasi. Ingatan saya masih sadar, sampai baby diangkat dan saya mendengar jeritan tangisnya untuk pertama kali. Seorang dokter mengangkatnya dan menunjukannya ke depan mata saya. Antara sadar dan sedikit pusing saya mencoba tersenyum. Anakku, bayi laki-laki itu adalah anakku. Seluruh keluarga yang menunggu akhirnya berucap syukur dan lega. Terimakasih ya Allah melancarkan persalinan ini.

Menemani baby berjemur


Pasca Persalinan
            Sabar. Kata itu adalah kunci utama saat saya harus menghadapi masa pasca persalinan secara caesar. Memang saat operasi kita tidak merasa sakit atau apa. Tapi setelahnya sungguh masa-masa yang sulit dan perih. Hampir dua hari tidak bisa bangun atau bahkan berbaring menyamping. Untuk bisa duduk saja harus bertarung dengan rasa linu di perut yang luar biasa. Padahal ASI saya sudah keluar, dan baby menunggu disusui. Tapi demi kesehatan baby, saya paksakan untuk berusaha bangun dan menyusuinya.
            Tantangan lainnya adalah ketika setiap malam baby terbangun sejam sekali. Bisa dibayangkan saya harus bangun-tidur berulang-ulang dengan keadaan linu dan sakit di perut. Hingga sempat tekanan darah saya ngedrop. Belum lagi ketika siang hari baby banyak tidur sehingga ASI menumpuk dan menyebabkan demam di tubuh saya, sungguh cobaan yang luar biasa sakit. Tapi apa pun yang menyakitkan ternyata kalah dengan bahagianya hati ini menatap sang buah hati.   
            Kini segalanya telah berubah, hal-hal pahit yang dialami pasca persalinan telah berhasil saya lewati. Saatnya saya dan keluarga menjalani hari-hari baru yang lebih berwarna dengan kehadiran baby mungil ini. Terimakasih ya Allah, terimakasih Ibu, terimakasih Bapak, terimakasih papa sayang, terimakasih baby untuk cinta kasih tulus kalian. []



Welcoming My Baby Boy


Assalamu'alaikum...
Campur aduk sekali perasaan saya bulan ini. Kandungan saya sudah mau menginjak 9 bulan. Itu artinya semakin dekat dengan waktu kelahiran. Nah, perasaan campur aduk itu maksudnya antara senang,penasaran, tapi juga gugup dan takut. Maklum, kehamilan pertama, jadi masih belum punya pengalaman.

Untuk menyambut si baby ini, alhamdulillah beberapa waktu lalu saya dan papa sudah mempersiapkan segala keperluan. Mulai dari baju, popok, gurita, kain pernel, peralatan mandi, selimut, kain aisan, kasur, dll. Betapa antuasiasnya kami menyambut titipan Allah ini. Kadang suka senyum sendiri melihat barang-barang kecil yang menumpuk di kamar kami. Apa lagi lihat baju kodok hijau yang mungil, papa malah suka cekikikan menahan tawa. Kok lucu sekali ya. Ya ampun baby, we're here waiting for you, son :-)

Setelah periksa rutin tiap bulan ke dokter, alhamdulillah selama ini baby selalu ada dalam keadaan sehat. Cuma memang kadang kala Ibunya yang ririwit alias gampang sakit. Mungkin karena belum terbiasa. Tapi yang diharapkan tentunya nanti bisa melahirkan secara normal dengan lancar seperti apa yang diperkirakan dokter. Amin.

Dulu sempat minat ikutan senam Ibu hamil, tapi ternyata saya malah jadi malas dan memilih melakukan terapi sendiri di rumah. Cuma yang belum saya latih adalah olah pernafasan. Huh, mudah-mudahan kuat ya Allah. Dan alhamdulillahnya, karena saya sering terapi dan berkat kuasa Allah, posisi baby sekarang sudah sangat bagus, yaitu kepala di bawah dan kaki di atas. Hanya saja saya selalu merasa kesakitan di daerah perut sebelah kanan tepat di bawah tulang rusuk, kata dokter sih itu kebetulan bokongnya baby mendorong bagian isi perut yang ada di sana, jadinya linu. Nggak apa-apa sayang, yang penting kamu sehat deh :-)

Alright, finally mimi sama papa tak henti berdoa untuk keselamatan kita berdua. Semoga Allah memudahkan segalanya. Amin.[]

     warm regards,
Lena Sa'yati

Ramadan Menyatukan Kita




 Namanya Ramadan. Dari beberapa musim yang ada di dunia, tidak ada yang lebih mengagumkan dan secantik dia. Musim gugur dengan dedaunan yang mengalun di udara, musim semi dengan semarak wanginya aroma sakura, terasa biasa. Karena Ramadan adalah musim menebar kebaikan. Kebaikan selalu terlihat indah dan menyejukan.
             Satu hal yang membuat mata ini berkaca-kaca, disertai perasaan haru luar biasa, adalah ketika melihat eloknya jalinan tali persaudaraan di antara sesama makhluk-Nya. Si kaya mengasihi dan memberi yang miskin, ratusan anak yang bernasib sama di sebuah panti, tak lagi kesepian dari orang-orang yang ikhlas berbagi dan menyumbang kebahagiaan, atau sahabat lama, berkumpul kembali menyambung memori nostalgia. Serta, kedekatan makhluk dengan Khaliq-nya.  
             Momen baik ini seakan menjalar dan menular pada keluarga kami. Saya tinggal bersama suami dan orang tuanya. Selama berumah tangga, saya belum pernah sekali pun makan bersama dalam satu meja dengan mertua. Seringkali hal seperti itu kami anggap terlalu formal dan kaku. Kami selalu berpencar, di mana pun yang penting tetap dalam satu rumah.
            Namun Ramadan merubah segalanya, tepatnya memperbaiki segalanya. Bakda ashar adalah waktu yang tepat bagi saya dan Ibu untuk berkolaborasi di dapur. Menyusun menu, saling berbagi resep, dan tentu tak lupa saling berbagi cerita dan bercengkrama. Hal terlangka yang pernah kami lakukan dalam keseharian terjadi dengan begitu indah pada bulan penuh kemuliaan ini. Lebih dari itu, setiap magrib dan subuh, keluarga kecil ini berkumpul, berbagi rasa, cerita dan cinta. Saya melihat kasih sayang Allah menyertai rumah kami. Dan saya mensyukuri betapa Ramadan telah menyatukan kami.
Alhamdulillah..


*) Tulisan saya yang diikut sertakan dalam lomba Love Ramadan
dari OkeZone.com. Mohon di like ya link-nya dengan klik di sini.
Thank you :)





Mudik Salopa





Seperti halnya kebanyakan perantau yang lain, saya pun ternyata harus melakukan sebuah tradisi yang disebut “mudik”. Bagi negara yang mayoritas penduduknya muslim, dan termasuk dalam kategori negara berkembang, tradisi mudik memang akan selalu ada. Tapi melihat pemudik di Indonesia yang begitu gencar, rasanya cuma kita satu-satunya di dunia yang paling dominan. Memang benar, seperti prinsip Ibnu Khaldun, jika sulit berkembang di kampung, ya merantau. Begitu pun yang terjadi di negara kita. Kebanyakan daerah pedalaman belum bisa menjadi daerah otonom, warga nya pun terpaksa harus mencari usaha yang lebih menjanjikan di Kota.
Bisa dibilang saya adalah warga kampung di daerah pedalaman Kabupaten tasikmalaya Selatan, Salopa. Sejak SMP merantau ke Kota yang juga masih Kota Tasik. Bedanya, dulu saya bertujuan untuk menuntut ilmu di Pesantren yang menyediakan Boarding School, tapi kini saya benar-benar tinggal dan menjadi warga sana karena ikut suami. Otomatis, mata pencaharian saya pun disesuaikan dengan lokasi, yakni di Kota. Kalau sudah begitu, kampung Salopa menjadi tanah kelahiran yang harus saya tinggalkan tapi bukan untuk dilupakan.
Lebaran kali ini, saya pun mencoba menjalani ritual tahunan penduduk muslim Indonesia, yakni mudik. Tapi mengingat jarak dari tempat tinggal saya sekarang dan Kampung salopa hanya memakan waktu 1,5 jam, apa iya bisa dikatakan mudik? Kembali ke akar kata, mudik kan artinya pulang ke kampung halaman. Berasal dari kata “udik” yang konotasinya merupakan kata kerja (ciee guru bahasa Indonesia muncul). Jadi sebenarnya, tidak terbatas pada tradisi saat lebaran, asal pulang ke kampung halaman, ya itu bisa dikatakan mudik. Hanya saja kata mudik memang baku digunakan pada saat lebaran, tidak apa-apa.
Ada yang menarik dari mudik saya kali ini adalah kenakalan kreatifitas diri untuk mengekspos seluk beluk kampung salopa. Saya mencoba membuat video dokumenter yang “lumayan”, hehe. Selain itu, mengunjungi keluarga, dan tempat wisata. Wah, memang di salopa ada tempat wisata. Eits, jangan salah, bagi anda yang kenal Panji si Petualang pasti pernah nonton dia syuting di sebuah air terjun yang bernama curug Cimanintin. Ya itu di salopa!
Kalau saya abandingin Ubud, atau Kintamai di Bali, sepertinya hanya beda tipis. Bedanya adalah akses jalan yang lumayan parah. Sentuhan pemprov Kabupaten Tasik belum sampai ke daerah kami. Insfrastruktur berupa jalan raya masih sangat hancur, terdiri dari bebatuan besar, dan bekas aspal tahun lampau yang mengelupas parah. Mirip dengan sungai tanpa air!
Tapi semua itu bisa terbayar dengan pemandangan yang bisa dilihat dan ditafakuri. Pegunungan serasa dekat, jalan yang diapit pepohonan karet, beberapa sungai besar yang membentang, sawah hijau dan juga air terjun yang menyejukan. Kalau pun butuh tempat hang-out dan juga lapar, bisa pilih mengunjungi rumah makan danau Lemona. Indah dan nyaman. Hanya saja jika berniat naik angkutan umum, ya kita musti sabar, karena bentuk angkutannya berupa mini bus yang datang satu jam sekali. Weh weh. Makanya saya dan suami memilih naik motor. Bawa mobil yang dirumah pun tidak tega, masa sedan disuruh jalan di atas bebatuan tajam, ckck.
Alright, tidak afdol ya kalau saya terus bicara mengenai pesona (ceila pesona) Salopa kalau belum kasih foto-fotonya. These are some photos of my beloved Village Salopa.

Lapar? Ke Rumah Makan Danau Lemona yuk!
Bisa naik sampan juga lho!
Lilbro Sandi berfoto di jalan yang diapit pohon-pohon karet
Pegunungan dan sawah yang warnanya hampir menyerupai baju saya :)
Curug Cimanintin, yang sempat jadi lokasi syuting Panji Sang Petualang.
Kalau air terjun sedang pasang, saya belum tentu bisa sedekat ini :)
Sista Dini merasakan kesejukan berdekatan dengan air terjun.
Mau coba jadi tarzan? Bisa! :)
Siluet!
Finally home. My beloved home :)

And Family, minus Syehdi and Sandi.

Warm Regards,        
Lena Sa'yati