Tampilkan postingan dengan label even. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label even. Tampilkan semua postingan

Aksi Solidaritas untuk Gaza



              Setelah mendengar dan menyaksikan berita seputar gencatan senjata oleh Israel di Gaza, seketika saya dan suami menangis meringis. Berdoa agar warganya senantiasa diberikan keselamatn oleh Allah Swt. telah kami lakukan. Tapi rasanya ada yang masih kurang. Akhirnya, Ramadhan kemarin kami berinisiatif untuk menggalang dana dan doa dari seluruh santri pondok pesantren Riyadlul 'Ulum Wadda’wah Condong. Saya mewakili tim Majalah Condong mengambil tindakan untuk mempresentasikan kondisi warga muslim di Gaza lewat power point, selain itu saya memahamkan pada para santri mengapa kita harus membantu? mengapa kita harus peduli?.
      Sekitar setengah jam berbicara di depan para santri, kami sepakat untuk mengumpulkan dana dan doa. Untuk donasi bantuan sendiri nantinya akan kami salurkan lewat dompet peduli ummat Daarut Tauhid yang ada di daerah Kota Tasik. Nantinya bantuan akan diwujudkan dalam bentuk pangan, energi (listrik dll), uang dan obat-obatan. Alhamdulillah dana yang kami kumpulkan sebesar Rp 6.386.000,-. Tidak besar, tapi insyaAllah para santri ikhlas. Semoga sedikitnya dapat meringankan beban moral dan moril warga muslim di sana. Amin. Gaza, jangan pernah merasa sendiri, karena kami sesama muslim ada untuk terus mendukung dan membantu sebisa mungkin.

Saya perwakilan dari tim Majalah Condong mempresentasikan keadaan seputar serangan tentara Israel di Gaza
Kami memperlihatkan gambar-gambar penyerangan dan korban pengeboman
Saya dan Aufa di depan kantor DPU DT cabang Tasikmalaya
Papa dan petugas yang sedang menghitung donasi dari kami
Bukti penyaluran dana



























Idul Fitri 1435 H

Kami mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri 1435 H. Mohon maaf lahir dan batin.

Festival of Drama Contest 2014


         To test the ability of foreign language among students, Condong Islamic Boarding School held an annual event called the Festival of Drama Contest (FDC). In this event participants are required to be able to show a drama performance by using two foreign languages ​​are Arabic and English. 
           FDC organizers of this year came from class 1  of Condong Senior High School. And their tutor is me, so, of course I also took care of this annual event. The participants themselves came from Junior High School.
           There are different things from the on going implementation of the FDC (17/04) this year. The different is the theme of the FDC itself inspired from Box Office movies which has an education lesson in it. Therefore, each class shall display the title of the drama according to Box Office movies that have been selected by the committee. Among others; Laskar Pelangi, Hafalan Shalat Delisa, Emak Ingin Naik Haji, Petualangan Sherina, Negeri 5 Menara, etc.. In addition, the stage and the background done by women students who are gifted in painting. The result is very satisfactory, although with minimal funds. Good job girls!
            FDC event has been going on since a month ago. This is because the participants had to pass through several stages `rehearsal. Previously, each class had to make a play scenario refers to the movie, but from the start until the contents of the script title should use either one foreign language was Arabic or English. Afterwards, they will conduct a series of rehearsal are assessed by the judge. This purpose to monitor the extent to which children's readiness to lead drama performance later in the spectacular stage.
           The event was held from Thursday noon to midnight Friday, and housed in Riyadlul Badi'ah yard. In terms of the readiness of the show Alhamdulillah everything went on smoothly and looks there’s some progress. MC looks good from formal and non-formal, welcoming speech from the chief of committee that accompanied the dancers, the stunning Grand Opening until the appearance of the participants were very entertaining. Yeah!
      FDC Championships consist of Best Narrator, Best Actress, Best Property, Best Language, 1st and 2nd of each language, Favorite Winner and General Winner. Best Actress itself was won by Khoirunnisa from class VIII C who plays as Ekhsan in the drama title taree Zamen Par (Indian film produced Amir Khan). Acting Khoerunnisa very intriguing and entertaining. Meanwhile, the Best Language won by Rica from Class VIII A. Her English is very fluent in terms of pronunciation and accent. The general Winner of this year FDC come from class VIII C under the title Taare Zamen Par. Congratulations girls.
          FDC event in the future hopefully could lead to be better than before. and can motivate the students to get used to using a foreign language in daily life at the school. In addition, students creativity may growing better. as accordance with the motto of this year's FDC, "Through language and creativity we color the world".[]


Gallery of FDC 2014
Gina and Salma as Formal MC
Welcoming Speech from the Chief of Committee (Syifa and Azmi)
Welcoming Speech from School Headmaster (KH. Diding Darul Falah)
Performance from Class 1
Grand Opening presented by the Committee
Performance by Class VIII C under the title Taare Zamen Par
the trophies
Rika is the winner of the Best Language
General Winner comes to Class VIII C. I think she's too much happy, hehe.
These are the winners
the committee
Chief of committee and I :-)

 


 

Kuliah Kerja Nyata



Dulu pas nikah sempet mau nunda punya baby. Pertimbangannya banyak, dari mulai belum punya rumah sendiri, belum mantap mental, sampai alas an masih duduk di bangku kuliah. Dan yang paling saya inget adalah waktu itu pernah bilang ke suami kalau saya takut melahirkan pas KKN atau PPL. Inget banget!

Tapi dipikir-pikir ternyata kehidupan rumah tangga lumayan sepi ya tanpa buah hati. Akhirnya kami mencoba mantapkan hati dan bertawakal. Allah akhirnya memberi kepercayaan titipannya ini pada kami setelah hampir sepuluh bulan menikah. Alhamdulillah senang luar biasa.

Tapi ada yang lebih spesial!

Kira-kira apa coba? Yups, ternyata omongan saya di masa dulu comes true!

Saya akan melahirkan pas KKN!

That’s why kita harus jaga lisan. Bisa jadi apa yang  ditakutkan justru malah jadi ujian tersendiri buat kita. Finally saya harus tetap menjalaninya sepenuh hati. Minimal ikutan di awal-awal sebelum lahiran. Tapi yang jadi soal, kita kebagian KKN di tempat yang super jauh dari hiruk pikuk perkotaan, ditambah dengan kondisi infrastruktur yang masih minim. Contohnya; jalan yang garijlug! Jadi inget lagu dangdut yang  tentang kereta itu.

Jug gijag gijug gijag gijug, kereta berangkat….amboii ada-ada saja!

Saya ngeri sekali harus menahan perut yang ada baby-nya sekuat tenaga. Tapi insyaAllah ada papa yang mau nemenin. Tuh kan, Inna ma’al ‘usri yusra itu benar! Di dalam kesulitan pasti ada jalan kemudahan. Itu sudah keputusan Allah.

Peyorasi KKN

Berbicara KKN, meskipun akronim dan maknanya mulia, tetap saja kesininya jadi peyoratif. Banyak makna kotor yang disematkan buat singkatan itu. Mulai dari Kolusi Korupsi dan Nepotisme, Kulalang-Kuliling Nangkring, atau Kuliah Kerja Nihil, dlsb.
Cukup prihatin ya. Hiks.

Tapi saya akui memang KKN ini bisa dibilang kuliah yang sesungguhnya. Kita langsung terjun dan belajar secara nyata berdasarkan fakta di lapangan. Setelah sekian lama menjalankan sebagian dari Tri Darma Perguruan Tinggi ( Pendidikan/pengajaran, Penelitian, dan Pengabdian Masyarakat), akhirnya sampai juga pada tugas yang ketiga, yaitu mengabdi!

Sebelum hendak melaksanakn pengabdian masyarakat dalam bentuk KKN, sebenarnya saya sudah lebih dulu mengabdi buat lembaga pendidikan pondok pesantren di Condong. Tapi kan itu medannya para santri yang 24 jam berada dalam lingkungan akademik. Berbeda dengan KKN yang objeknya masyarakat secara general. Dari nenek, kakek, bapak, ibu, pemuda, pemudi, sampai anak-anak, semuanya menjadi ladang saya dan teman-teman mengabdi. Whoho, serasa beraaaat sekali beban ini. Mana kondisi sedang berbadan dua.
Tapi untuk menanggulangi itu, kampus memang sudah mempersiapkan bekal buat para mahasiswanya. Yaitu dengan adanya pembekalan KKN selama 3 hari berturut-turt dari tanggal 10-12 April 2014 dari pagi sampai sore non-stop (Cuma dijeda shalat aja).

Please, pemirsa!

Saya tahu niat kampus sangat mulia, tapi kondisi ini tak begitu mendukung ternyata. Kita dipaksa duduk berjam-jam menyimak pemateri dengan situasi aula yang panas dan fasilitas wc yang kurang (hehe). Saya hampir habis gaya. 
Beginilah suasana pembekalan

Lucunya, setiap pemateri selesai berpidato, lalu memberikan kesempatan mahasiswa untuk bertanya, justru kebanyakan audiens berharap tidak ada yang maju (sudah tahu kan alasannya kenapa). Yups, mereka sudah murka dengan pegalnya duduk dan panasnya udara. Jadilah ketika ada yang maju kedepan sudah pasti disoraki. Mahasiswa macam apa ini, hihi. Yaa intermezzo sejenak kan.

Bahkan ada kejadian getir yang super ngeselin!
Yaitu ketika waktu sudah menunjukan pukul 16.00 lebih, kita belum shalat ashar, dan tiba-tiba seorang mahasiswa maju kedepan. Dikira mau bertanya, terus ngapain?

Dia curcol!

Curcol tentang gaji mengajarnya di TPA, dan keluh kesah tentang hutangnya ke kampus. So sad, so touchy. Tapi karena orangnya alay, kita malah jadi nggak simpati. Well, memang cukup sedih sih ketika mendengar gaji yang diterima guru TPA hanya 20.000 sebulan. Cukup buat apa? Itu lah yang jadi keterbatasan dan kendala kemajuan TPA, salah satunya karena kurangnya SDM dan dana. PR kita bersama nih, cateeett!

Setelah pembekalan, lumayan banyak ilmu yang didapat, meskipun keseringan duduk di belakang (karena sering datang telat gara-gara naik kendaraannya rombongan, otomatis musti nungguin satu sama lain). Rencana keberangkatan KKN kita tanggal 21 April. Dan pelepasan tanggal 16 Juni (dua bulan pemirsah!). Semoga saya kuat, semoga segalanya lancar, semoga pengabdian kami pada masyarakat dapat bermanfat. Amin.
take a pose before leaving
Yes, aku ajak baby ngampus :-)

 Warm Regards,
Lena Sa'yati