Tampilkan postingan dengan label Novel Dua Purnama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Novel Dua Purnama. Tampilkan semua postingan

DUA PURNAMA (Part 2)

GURU SPIRITUAL
Lena Sa'yati,
lenasayati@gmail.com
                     Kini aku tengah berdiri di depan sebuah rumah yang cat-cat juga tembok di dindingnya telah mengelupas, beberapa gentingnya sudah nampak tak rapih lagi lantaran terus berguguran satu persatu dan kemudian pecah berhamburan ditanah.Lantai terasnya yang semula berwarna hitam, kini berubah warna menjadi abu-abu dengan permukaan yang nampak kasar dan kusam. Sekeliling rumah ditancapi pagar bambu tipis, yang jika didorong dan diguncang-guncang sedikit saja dipastikan roboh. Disebuah sudut dari pagar-pagar itu masih saja kulihat kembang rose terus tumbuh sampai dahannya sudah keras dan kokoh saking tak pernah diurus. Namun bunganya yang berwarna pink kemerah-merahan itu tetap saja mekar menyelipi setiap daun-daunnya yang tumbuh lebat. Aku menoleh kesamping kanan rumah. Terdapat sebuah lahan yang dipadati tumbuhan singkong terlihat menjulang dengan daun-daun berbentuk bintang yang berdesakan disana. Benar-benar masih seperti enam tahun yang lalu. Hanya saja aku keheranan, dimana pohon jambu air merah yang sering kupanjati dulu bersama saudara-saudaraku itu? Apa mungkin sudah ditebang? Lalu dimana pohon jambu dipa ditepi kolam samping rumah ini? Dan juga kembang-kembang kole yang tumbuh lebat berjejer di depan pagar? .Namun disaat semua keheranan menyerbu pikiranku, sesosok tubuh ringkih dengan tongkat sebagai penyangga tubuhnya muncul dari balik pintu, dan datang menghampiriku. Langkahnya lambat-lambat namun terlihat bersemangat. Ia menyuguhkan senyum hangat penuh kebahagiaan diparas senjanya. Dan saat Ia sudah tepat berada dihadapanku, senyumnya semakin merekah namun kesannya berubah menjadi senyum keharuan seorang nenek yang terlalu rindu pada cucunya. Kedua bola matanya mulai berkaca-kaca namun tetap lekat mentapku. Dan akhirnya keluar dari mulutnya,
                   " Nong,.." Bibirnya bergetar menahan tangis. Sungguh kebahagiaan terbesarku bisa kembali melihatnya. Langsung saja kucium tangannya dengan takdzim. Serta merta Ia mengelus kepalaku, sampai aku menengadah dan mulai sanggup berkata.
                  " Emih...May kangen, mih"
Emih kembali mengusap-usap lenganku dengan bibir yang semakin bergetar menahan haru.
                  " Nong, nong...ayo, ayo masuk..." Emih beranjak masuk dan mengajaku kedalam.
                  " Oh iya Mih, ini ada titipan dari mama..."
Sudah sangat biasa setiap kali aku berkunjung kerumah Emih, pasti mama akan menitipkan berbagai olahan untuknya.Emih menerima titipan dalam kresek hitam yang aku berikan itu.
                  " Neng Ida, ...mamamu baik sekali ya Nong,.."
                " Ayo, duduk, Nong.." Sambil beranjak kedapur Emih menyuruhku duduk diatas dipan yang terbuat dari kayu sebagai pengganti sofa. Sesaat aku memperhatikan rumah kecil Emih. Dinding yang catnya sudah mengelupas, ambang pintu menuju kamarnya yang tak lagi berpintu, bahkan memakai bambu sebagai penyangga tiangnya. Begitupun lemari yang dulu dipakai sebagai pajangan berbagai peralatan antik, kini sudah tak berisi lagi, beberapa bagian kacanya pecah, dan kayunya bahkan sudah rapuh dimakan rayap. Yang membuatku heran, kenapa sekarang rumah Emih memakai sekat terhadap ruangg tamu utama? Yang tersisa untuknya hanya kamar kecil, Dapur, dan ruang sedikit lengang tempat aku duduk saat ini.Namun tak lama Emih kembali menghampiriku dengan segelas air putih di tangannya yang kemudian Ia letakkan dihadapanku sambil ikut duduk menemaniku.
                  " Aduh, nyeri, Nong...." Emih memegangi pinggulnya.
                  " Kenapa Mih?....encok lagi ya?..." Aku asal nebak. Tapi Emih malah tersenyum menyindir,
                  " Kamu ini Nong, Emih mah memang sudah tua, .." Timpalnya sambil sedikt mesem. Ya, tentulah aku paham.
                  " Ayo gimana Nong sekolahmu itu?...siang malam Emih tak hent-henti mendoakanmu, hanya saja emih selalu berdo'a semoga Nong mendapatkan yang terbaik, sekolah dimanapun itu. Meski bukan di Bandung dan jakarta, tapi kalau itu memang yang terbaik buat Nong, insya allah barokah..." Emih membuka percakapan, seperti tahu apa yang akan aku katakan. Aku yang semula merasa ragu memberitahunya tentang kabar piluku, tapi setelah mendengarnya berkata begitu, aku kembali yakin kalau nenek terbaikku ini selalu siap mendengar segala keluh kesahku.
                  " Iya mih, sepertiny Jakarta dan Bandung bukan tempat terbaik buat May." Tuturku " May gak lulus seleksi, mih." Kalimat terakhir itu kuucapkan dengan sedikit pilu. Tapi Emih segera menyahut,
                  " Sabar, Nong...Ikhlas,...orang seperti kita mah ya cuma bisa ikhlas, tawakal...da Nong teh sudah berusaha, sudah banyak berdo'a, tapi kalau memang takdirnya harus begitu, berarti kita harus terima. Dan jangan lupa, ..." Emih menggantung kalimatnya, " Pasti akan ada hikmahnya, " 
Aku mengangguk-angguk menyelami setiap perkataannya yang selalu penuh dengan motivasi dan nasihat-nasihat.
                 " Nah terus sekarang bagaimana, apa Nong mau tinggal dikampung saja? " Emih kembali bertanya
                 " Ya, mungkin juga begitu, Mih...kemarin sudah ada tawaran ngajar di SDN Pawitra, tapi baru akan dibicarakan dua hari lagi. "
                 " Oh, begitu? Ya atuh syukur Alhamdulillah kalau langsung ada kerjaan mah. Seperti yang Emih katakan, pasti akan ada hikmah dibalik semua ini, dan bisa saja hikmah dari ketidaklulusan Nong untuk kuliah itu, mungkin karena Nong ditakdirkan untuk mengabdi saja pada kampung, memajukan pendidikan disini, tentu itu akan lebih bermanfa'at " Aku mengangguk-angguk lagi. Lalu sejenak kami sempat terdiam, Hingga Emih kembali berujar, " Oh iya, Adikmu, si Zam-zam tahun ini mau SMP ya? mau dimana katanya? "
                 " Kata Mama, mau di ke Condong-kan saja, Mih.." 
                 " Hmm, si Zam-zam ..." Emih tertawa kecil " Emih ingat, dia itu sangat polos sekali. Berbeda dengan kamu, Nong. Kamu mah orangnya sangat ceria sewaktu kecil dulu. Selalu bikin gara-gara, dimana-mana. Kamu ingat, Nong. Waktu kamu memanjat pohon jambu air dibelakang rumah ini? Kamu hampir saja membuat orang geger lantaran hampir saja terjatuh kekolam. Dasar anak bandel,..." Emih kembali tertawa kecil mengingat itu. Akupun kembali teringat dengan masa kecilku itu. Iya, aku memang luar biasa bandel dan selalu bikin onar. Namun aku kecil adalah, selalu menyuguhkan tampang ceria dihadapan setiap orang. Aku selalu berani menyapa siapapun warga kampung Emih dengan tanpa sedikitpun rasa malu. Tidak seperti adikku si Zam-zam. Dia justru sangat pemalu. Namun, berkat kebandelanku, aku menjadi satu-satunya cucu Emih yang sangat disayang dan diperhatikan oleh keluarga besar Bapak. Terlebih karena aku kecil, adalah anak yang multitalenta, serba bisa, dan sering mengukir banyak prestasi. Dan dirumah inilah aku selalu meluapkan semuanya, mengganggu Emih, mengabari Emih akan keberhasilanku, mengadu kalau ada masalah, meminta uang, terkadang, dan aku kebanyakan menginap sewaktu kecil ya disini. Biasanya uwa-uwa, bibi juga mamangku akan berdatangan kerumah Emih untuk menyambut kedatanganku, karena kebiasaan waktu kecil, aku selalu unjuk bakat dihadapan mereka jika berkesempatan untuk menginap dirumah Emih. Unjuk pidatolah, nyanyilah, baca puisilah, pura-pura jadi presenterlah, atau bahkan menari-nari seperti para dancer. Dan biasanya, keluarga besar Emihku itu selalu senang dan memberikan tepuk tangan  selepas aku tampil di rumah Emih yang kini tiangnya sudah disangga bambu itu. Aku juga ingat, jika sudah berlama-lama di kampung Emih, aku pasti keliling rumah uwa dan bibi, dan menginap disana. Mereka selalu menyambutku dengan baik. Bagi mereka, setidaknya aku adalah gadis serba bisa yang memiliki segudang talenta yang tidak dimiliki siapapun dikampung ini. Mungkin bagi mereka, setidaknya aku adalah gadis yang bisa dibanggakan dalam keluarga besar yang penuh kehangatan ini. 

                  Namun, terlepas dari semua itu, meski usiaku kini sudah menginjak 18 tahun, bagi Emih aku tetaplah Mayla si gadis cilik yang bandel. Banyak orang yang menganggapku sangat beruntung dianugrahi keluarga besar yang punya posisi terhormat dimasyarakat, memilki banyak kemampuan, dan mampu mengukir prestasi saat harus sekolah dikota. Orang-orang selalu menganggapku sebagai seorang gadis yang sangat beruntung, dan hidupnya selalu diliputi kebahagiaan. Namun siapa sangka, justru akulah yang sering mendapat batu sandungan saat mau melangkah menuju suatu tempat dan tujuan. Seakan Allah tidak begitu saja memberikan apa yang aku impikan secara mudah. Dan pada akhirnya, saat hati sudah merasa keruh, pikiran sudah tak lagi jernih, aku hanya bisa datang pada Emih, mencurahkan setiap masalahku, yang kemudian Ia akan memeberiku motivasi dan nasihat-nasihat. Emih sudah menyaksikan pertumbuhan mentalku semenjak aku yang masih suka memanjat pohon jambu air, sampai aku yang sudah saatnya menentukan jalan hidup. Kalau harus dibilang, Emih adalah guru spiritual dalam hidupku. Rasanya para kiayi dan ustadz-ustadz pendakwah terhebatpun kalah jika dibandingkan dengannya dalam menyikapi dan memberi solusi dari setiap masalahku. Ia selalu memakai pendektan secara mentalis dan dialogis. Tutur katanya terkadang nakal-nakal, namun kembali melembut tanpa menghilangkan penekanan-penekanan dari setiap nasihat-nasihat pentingnya. Emih sangat terbuka, bahkan untuk urusan yang sangat pribadi sekalipun aku tak pernah sungkan membicarakannya didepan Emih. Dan mungkin jika nanti ada seorang lelaki yang kemudian bersimpati padaku, orang pertama yang akan tahu masalah itu sudah aku pastikan, Emihlah orangnya.Ya, bagiku Emih adalah guru spiritual, yang mampu kembali mencharge semangat dan mentalku disaat-saat kendor dan jauh dari ketenangan.Itulah Emihku yang senang memanggilku dengan panggilan, Nong.

DUA PURNAMA (Part 1)

KEMBALI PULANG
Lena Sa'yati, Sekolah Tinggi Pesantren Terpadu (STPT), Tasikmalaya
lenasayati@gmail.com
                  Saat kusibak tirai jendela, semburat cahaya matahari pagi menerpa kaca yang kemudian membuatnya silau berkilauan. Sesaat aku mengusap debu yang sedikit melekat pada permukaan kaca jendela, sudah lama rupanya aku meninggalkan rumah. Namun serta merta tak sengaja mataku melihat beberapa gadis desa tengah sibuk di jamban tepi kolam samping rumahku. Di kampungu memang masih banyak sekali kolam ikan, termasuk yang disamping rumahku itu. Ada satu jamban yang terbuat dari beberapa bambu yang dijejerkan ditepi kolam, disampingnya air jatuh mengalir dari pancuran yang juga bambu. Hanya ada satu ditepi kolam itu, maka setiap paginya sudah dipastikan beberapa gadis desa akan beramai-ramai mencuci piring atau mencuci baju disana, seperti pagi ini. Karena memang dikampungku masih sedikit rumah-rumah yang memiliki WC sendiri. Dan rumahku adalah salahsatu yang sudah punya jamban sendiri.
               Salahsatu diantara mereka menyadari kelakuanku. Dia lalu tersenyum lembut sambil mengangguk pelan. Khas orang sunda asli jika hendak tersenyum pada orang. Aku langsung menyambut senyumnya juga dengan mengangguk pelan. Kembali aku teringat akan maksudku untuk membereskan rumah, maka langsung saja kubuka daun jendela kamarku lalu kemudian beranjak merapikan kasur. Sungguh aktifitas sehari-hari yang seakan menjadi tabu kulakukan lantaran sudah terlalu lama tak melakukannya. 
               Pagi begini Mama tengah menggoreng bala-bala di Dapur. Bapak sudah pergi ke Kebon, Dua adikku Zam-zam dan Adil tengah memberi makan ternak mereka di samping kebon Bapak, dan dua adikku lagi, Fikar dan Ilham tengah bermain di halaman rumah. Mereka semua terlihat nyaman dengan pekerjaannya masing-masing, hanya aku yang murung, diam, dan seakan belum bisa menerima kenyataan. Kenyataan apa? biarlah aku menceritakannya sekarang.
***
                Kemarin aku baru saja pulang dari Pondok Pesantren dan juga Sekolahku. Aku sudah lulus SMA. Dan aku putuskan untuk pulang kekampung halamanku di daerah Tasikmalaya, tepatnya Salopa. Jauh dari apa yang aku bayangkan, bahwa selepas SMA aku akan putus sekolah dan kembali kekampung hanya dengan membawa ijzah sampai tingkat SMA saja. Padahal selama sekolah dan mesantren di Tasik-sebutan orang kidul untuk daerah perkotaan di Tasikmalaya-, aku cukup memilki prestasi untuk bekal melanjutkan pendidikan kejenjang perguruan tinggi. Orangtuaku pun sudah cukup siap dengan segala biaya mencakup kuliahku nanti. Makin semangatlah aku saat itu, sampai berani bermimpi kuliah di UI lalu setelah itu mendapat beasiswa kuliah di Luar Negri.Dan itu berarti aku adalah orang pertama di kampungku yang mampu mendobrak image kebodohan dan keprimitifan yang orang capkan untuk penduduk disana. Bayangkan, kuliah di Universitas nomor satu di Indonesia, dan meneruskan kuliah S2 di Luar Negri, betapa bangganya orang tuaku, keluargaku, serta kampungku jika itu benar-benar terjadi. Maka, dengan kawan-kawan seangkatanku yang lain, akupun gencar mencari info-info seputar perkuliahan juga tak lupa dengan info beasiswanya. Aku memilih tiga Perguruan Tinggi yang akan aku ikuti saat itu. UI, UNPAD, dan UIN Syarif Hidayatulah Jakarta. UI karena aku selalu terpukau dengan lebelnya sebagai Universitas Indonesia. UNPAD, karena aku punya saudara di Bandung yang mungkin saja aku bisa ikut tinggal disana jika lulus seleksi. Dan UIN Syarif Hidayatulloh, karena Pamanku yang lulusan sana bersedia membantuku dari mulai tes masuk sampai tempat tinggalku nantinya. Maka, formulir pendaftaran untuk ketiga Perguruan Tinggi itupun aku kirimkan melalui online. Selain aku yang memilih ketiga perguruan itu dengan jalur SPMB, ada sebagian teman-temanku yang memakai jalur Bidik Misi. Tapi tak apalah, yang aku pikirkan saat itu hanyalah pengumuman hasil tes seleksi. Itu saja, yang lainnya aku tidak peduli lagi.
                 Setelah melakukan berbagai tes disana-sini, tibalah saatnya pengumuman hasil tes seleksi. Dan kau pasti tahu jawabannya. Namaku sama sekali tak tercantum dalam daftar para calon Mahasiswa dari ketiga perguruan Tinggi itu. Tak UI, UNPAD, maupun UIN. Sedangkan temanku yang lain, yang malahan niatnya hanya ikut-ikutan saja, berhasil lolos di UPI Bandung, UNJ, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, UIN Syarif Hidayatullah, dan yang paling mengagetkan, bahkan salah satu temanku berhasil mendapatkan beasiswa penuh jurusan kedokteran di UNPAD. Semuanya bahagia. Semuanya terharu. Mereka saling berpelukan saat membaca pengumuman. Mereka menangis dan segera menelpon orangtua masing-masing. Tapi aku, aku mundur dari tumpah ruah kebahagiaan yang mengharukan itu. Aku memilih duduk dipojok saja, menyendiri, memeluk erat lututku, dan membenamkan kepalaku diatasnya. Diam-diam aku menangis, terisak, dan semain lama semakin keras. Euforia kelulusan itu, daftar nama-nama itu, basiswa itu, berita membahagiakan buat orangtua itu, dan mimpi-mimpi itu, tak sama sekali menyapaku, tak peduli pada nasibku, dan bahkan tak mau sekalipun memberi kesempatan padaku. Dan saat itu aku hanyalah seorang murid termalang dari sekian banyak kemalangan yang menimpa para pelajar di negri ini. Aku sadar, bahwa semua impian dan harapan yang sudah terlukis rapi dalam benak ini, mulai sekarang harus segera kuhapus dan kembali membuat lukisan harapan yang baru. Tidak ada lagi kuliah di Universitas nomor satu di Indonesia, tidak ada meneruskan S2 di Luar Negri, hanguslah sudah impian menjadi orang pertama yang menghapus image kebodohan dan keprimitifan kampungku Salopa. Hanya itu yang terlintas dalam tangis kesengsaraanku saat itu. Hanya itu, teman. Itu saja.
***
                 Melihat gadis-gadis kampung yang sedang mencuci piring di jamban itu adalah sama halnya melihat diriku sendiri. Bahwa aku pada akhirnya hanya akan menjadi gadis kampung yang masa depan tercerahnya adalah menjadi seorang istri, mengurusi rumah tangga, dan bersiap tiap pagi  menjinjing rantang membekali suaminya pergi bertani. Tidak!...aku terenyah dari lamunanku. Aku ini lulusan SMA Terpadu Riyadlul 'Ulum Wadda'wah. Sekolah terpandang yang memiliki sejuta prestasi dalam usianya yang masih muda. Aku harus bangkit, aku telah digodog selama enam tahun disana, dibekali beraneka ragam ilmu, dan dididik dengan berbagai pembentukan karakter yang berkualitas, tidak mungkin kalau pada akhirnya hanya berujung pada kemalangan nasib seperti itu. Dan benarlah, sampai satu sms masuk di hpku.
               " Teh Mayla, dua hari lagi Bapak Hakim akan datang kerumah untuk memperbincangkan masalah staf pengajar di SDN Pawitra, terimakasih."
               Itu dari Mang Iik, saudaraku yang juga mengajar di SDN pawitra, tempat aku menimba ilmu sewaktu kecil dulu. Aku tersanjung. Baru lulus SMA sudah akan ditawari mengajar oleh pihak sekolah. Betapa sambutan masyarakat sangat agung terhadap pemuda-pemuda kampung yang punya kemauan untuk sekolah di Luar sana. Apalagi kalau aku benar-benar lulusan Luar Negri. Sudah jadi Presiden Kampung mungkin aku nanti. Tapi sudahlah, setidaknya tawaran ini bisa sedikit mengobati ketakutanku terhadap masa depan seperti para gadis desa itu. Bahwa menikah dalam usia dini, lalu harus megurusi rumah tangga, dan menaggung beban keluarga dengan pendapatan kecil lantaran tak memilki skill dan keterampilan tidak akan terjadi padaku. Semoga saja.