DUA PURNAMA (Part 2)

GURU SPIRITUAL
Lena Sa'yati,
lenasayati@gmail.com
                     Kini aku tengah berdiri di depan sebuah rumah yang cat-cat juga tembok di dindingnya telah mengelupas, beberapa gentingnya sudah nampak tak rapih lagi lantaran terus berguguran satu persatu dan kemudian pecah berhamburan ditanah.Lantai terasnya yang semula berwarna hitam, kini berubah warna menjadi abu-abu dengan permukaan yang nampak kasar dan kusam. Sekeliling rumah ditancapi pagar bambu tipis, yang jika didorong dan diguncang-guncang sedikit saja dipastikan roboh. Disebuah sudut dari pagar-pagar itu masih saja kulihat kembang rose terus tumbuh sampai dahannya sudah keras dan kokoh saking tak pernah diurus. Namun bunganya yang berwarna pink kemerah-merahan itu tetap saja mekar menyelipi setiap daun-daunnya yang tumbuh lebat. Aku menoleh kesamping kanan rumah. Terdapat sebuah lahan yang dipadati tumbuhan singkong terlihat menjulang dengan daun-daun berbentuk bintang yang berdesakan disana. Benar-benar masih seperti enam tahun yang lalu. Hanya saja aku keheranan, dimana pohon jambu air merah yang sering kupanjati dulu bersama saudara-saudaraku itu? Apa mungkin sudah ditebang? Lalu dimana pohon jambu dipa ditepi kolam samping rumah ini? Dan juga kembang-kembang kole yang tumbuh lebat berjejer di depan pagar? .Namun disaat semua keheranan menyerbu pikiranku, sesosok tubuh ringkih dengan tongkat sebagai penyangga tubuhnya muncul dari balik pintu, dan datang menghampiriku. Langkahnya lambat-lambat namun terlihat bersemangat. Ia menyuguhkan senyum hangat penuh kebahagiaan diparas senjanya. Dan saat Ia sudah tepat berada dihadapanku, senyumnya semakin merekah namun kesannya berubah menjadi senyum keharuan seorang nenek yang terlalu rindu pada cucunya. Kedua bola matanya mulai berkaca-kaca namun tetap lekat mentapku. Dan akhirnya keluar dari mulutnya,
                   " Nong,.." Bibirnya bergetar menahan tangis. Sungguh kebahagiaan terbesarku bisa kembali melihatnya. Langsung saja kucium tangannya dengan takdzim. Serta merta Ia mengelus kepalaku, sampai aku menengadah dan mulai sanggup berkata.
                  " Emih...May kangen, mih"
Emih kembali mengusap-usap lenganku dengan bibir yang semakin bergetar menahan haru.
                  " Nong, nong...ayo, ayo masuk..." Emih beranjak masuk dan mengajaku kedalam.
                  " Oh iya Mih, ini ada titipan dari mama..."
Sudah sangat biasa setiap kali aku berkunjung kerumah Emih, pasti mama akan menitipkan berbagai olahan untuknya.Emih menerima titipan dalam kresek hitam yang aku berikan itu.
                  " Neng Ida, ...mamamu baik sekali ya Nong,.."
                " Ayo, duduk, Nong.." Sambil beranjak kedapur Emih menyuruhku duduk diatas dipan yang terbuat dari kayu sebagai pengganti sofa. Sesaat aku memperhatikan rumah kecil Emih. Dinding yang catnya sudah mengelupas, ambang pintu menuju kamarnya yang tak lagi berpintu, bahkan memakai bambu sebagai penyangga tiangnya. Begitupun lemari yang dulu dipakai sebagai pajangan berbagai peralatan antik, kini sudah tak berisi lagi, beberapa bagian kacanya pecah, dan kayunya bahkan sudah rapuh dimakan rayap. Yang membuatku heran, kenapa sekarang rumah Emih memakai sekat terhadap ruangg tamu utama? Yang tersisa untuknya hanya kamar kecil, Dapur, dan ruang sedikit lengang tempat aku duduk saat ini.Namun tak lama Emih kembali menghampiriku dengan segelas air putih di tangannya yang kemudian Ia letakkan dihadapanku sambil ikut duduk menemaniku.
                  " Aduh, nyeri, Nong...." Emih memegangi pinggulnya.
                  " Kenapa Mih?....encok lagi ya?..." Aku asal nebak. Tapi Emih malah tersenyum menyindir,
                  " Kamu ini Nong, Emih mah memang sudah tua, .." Timpalnya sambil sedikt mesem. Ya, tentulah aku paham.
                  " Ayo gimana Nong sekolahmu itu?...siang malam Emih tak hent-henti mendoakanmu, hanya saja emih selalu berdo'a semoga Nong mendapatkan yang terbaik, sekolah dimanapun itu. Meski bukan di Bandung dan jakarta, tapi kalau itu memang yang terbaik buat Nong, insya allah barokah..." Emih membuka percakapan, seperti tahu apa yang akan aku katakan. Aku yang semula merasa ragu memberitahunya tentang kabar piluku, tapi setelah mendengarnya berkata begitu, aku kembali yakin kalau nenek terbaikku ini selalu siap mendengar segala keluh kesahku.
                  " Iya mih, sepertiny Jakarta dan Bandung bukan tempat terbaik buat May." Tuturku " May gak lulus seleksi, mih." Kalimat terakhir itu kuucapkan dengan sedikit pilu. Tapi Emih segera menyahut,
                  " Sabar, Nong...Ikhlas,...orang seperti kita mah ya cuma bisa ikhlas, tawakal...da Nong teh sudah berusaha, sudah banyak berdo'a, tapi kalau memang takdirnya harus begitu, berarti kita harus terima. Dan jangan lupa, ..." Emih menggantung kalimatnya, " Pasti akan ada hikmahnya, " 
Aku mengangguk-angguk menyelami setiap perkataannya yang selalu penuh dengan motivasi dan nasihat-nasihat.
                 " Nah terus sekarang bagaimana, apa Nong mau tinggal dikampung saja? " Emih kembali bertanya
                 " Ya, mungkin juga begitu, Mih...kemarin sudah ada tawaran ngajar di SDN Pawitra, tapi baru akan dibicarakan dua hari lagi. "
                 " Oh, begitu? Ya atuh syukur Alhamdulillah kalau langsung ada kerjaan mah. Seperti yang Emih katakan, pasti akan ada hikmah dibalik semua ini, dan bisa saja hikmah dari ketidaklulusan Nong untuk kuliah itu, mungkin karena Nong ditakdirkan untuk mengabdi saja pada kampung, memajukan pendidikan disini, tentu itu akan lebih bermanfa'at " Aku mengangguk-angguk lagi. Lalu sejenak kami sempat terdiam, Hingga Emih kembali berujar, " Oh iya, Adikmu, si Zam-zam tahun ini mau SMP ya? mau dimana katanya? "
                 " Kata Mama, mau di ke Condong-kan saja, Mih.." 
                 " Hmm, si Zam-zam ..." Emih tertawa kecil " Emih ingat, dia itu sangat polos sekali. Berbeda dengan kamu, Nong. Kamu mah orangnya sangat ceria sewaktu kecil dulu. Selalu bikin gara-gara, dimana-mana. Kamu ingat, Nong. Waktu kamu memanjat pohon jambu air dibelakang rumah ini? Kamu hampir saja membuat orang geger lantaran hampir saja terjatuh kekolam. Dasar anak bandel,..." Emih kembali tertawa kecil mengingat itu. Akupun kembali teringat dengan masa kecilku itu. Iya, aku memang luar biasa bandel dan selalu bikin onar. Namun aku kecil adalah, selalu menyuguhkan tampang ceria dihadapan setiap orang. Aku selalu berani menyapa siapapun warga kampung Emih dengan tanpa sedikitpun rasa malu. Tidak seperti adikku si Zam-zam. Dia justru sangat pemalu. Namun, berkat kebandelanku, aku menjadi satu-satunya cucu Emih yang sangat disayang dan diperhatikan oleh keluarga besar Bapak. Terlebih karena aku kecil, adalah anak yang multitalenta, serba bisa, dan sering mengukir banyak prestasi. Dan dirumah inilah aku selalu meluapkan semuanya, mengganggu Emih, mengabari Emih akan keberhasilanku, mengadu kalau ada masalah, meminta uang, terkadang, dan aku kebanyakan menginap sewaktu kecil ya disini. Biasanya uwa-uwa, bibi juga mamangku akan berdatangan kerumah Emih untuk menyambut kedatanganku, karena kebiasaan waktu kecil, aku selalu unjuk bakat dihadapan mereka jika berkesempatan untuk menginap dirumah Emih. Unjuk pidatolah, nyanyilah, baca puisilah, pura-pura jadi presenterlah, atau bahkan menari-nari seperti para dancer. Dan biasanya, keluarga besar Emihku itu selalu senang dan memberikan tepuk tangan  selepas aku tampil di rumah Emih yang kini tiangnya sudah disangga bambu itu. Aku juga ingat, jika sudah berlama-lama di kampung Emih, aku pasti keliling rumah uwa dan bibi, dan menginap disana. Mereka selalu menyambutku dengan baik. Bagi mereka, setidaknya aku adalah gadis serba bisa yang memiliki segudang talenta yang tidak dimiliki siapapun dikampung ini. Mungkin bagi mereka, setidaknya aku adalah gadis yang bisa dibanggakan dalam keluarga besar yang penuh kehangatan ini. 

                  Namun, terlepas dari semua itu, meski usiaku kini sudah menginjak 18 tahun, bagi Emih aku tetaplah Mayla si gadis cilik yang bandel. Banyak orang yang menganggapku sangat beruntung dianugrahi keluarga besar yang punya posisi terhormat dimasyarakat, memilki banyak kemampuan, dan mampu mengukir prestasi saat harus sekolah dikota. Orang-orang selalu menganggapku sebagai seorang gadis yang sangat beruntung, dan hidupnya selalu diliputi kebahagiaan. Namun siapa sangka, justru akulah yang sering mendapat batu sandungan saat mau melangkah menuju suatu tempat dan tujuan. Seakan Allah tidak begitu saja memberikan apa yang aku impikan secara mudah. Dan pada akhirnya, saat hati sudah merasa keruh, pikiran sudah tak lagi jernih, aku hanya bisa datang pada Emih, mencurahkan setiap masalahku, yang kemudian Ia akan memeberiku motivasi dan nasihat-nasihat. Emih sudah menyaksikan pertumbuhan mentalku semenjak aku yang masih suka memanjat pohon jambu air, sampai aku yang sudah saatnya menentukan jalan hidup. Kalau harus dibilang, Emih adalah guru spiritual dalam hidupku. Rasanya para kiayi dan ustadz-ustadz pendakwah terhebatpun kalah jika dibandingkan dengannya dalam menyikapi dan memberi solusi dari setiap masalahku. Ia selalu memakai pendektan secara mentalis dan dialogis. Tutur katanya terkadang nakal-nakal, namun kembali melembut tanpa menghilangkan penekanan-penekanan dari setiap nasihat-nasihat pentingnya. Emih sangat terbuka, bahkan untuk urusan yang sangat pribadi sekalipun aku tak pernah sungkan membicarakannya didepan Emih. Dan mungkin jika nanti ada seorang lelaki yang kemudian bersimpati padaku, orang pertama yang akan tahu masalah itu sudah aku pastikan, Emihlah orangnya.Ya, bagiku Emih adalah guru spiritual, yang mampu kembali mencharge semangat dan mentalku disaat-saat kendor dan jauh dari ketenangan.Itulah Emihku yang senang memanggilku dengan panggilan, Nong.

DUA PURNAMA (Part 1)

KEMBALI PULANG
Lena Sa'yati, Sekolah Tinggi Pesantren Terpadu (STPT), Tasikmalaya
lenasayati@gmail.com
                  Saat kusibak tirai jendela, semburat cahaya matahari pagi menerpa kaca yang kemudian membuatnya silau berkilauan. Sesaat aku mengusap debu yang sedikit melekat pada permukaan kaca jendela, sudah lama rupanya aku meninggalkan rumah. Namun serta merta tak sengaja mataku melihat beberapa gadis desa tengah sibuk di jamban tepi kolam samping rumahku. Di kampungu memang masih banyak sekali kolam ikan, termasuk yang disamping rumahku itu. Ada satu jamban yang terbuat dari beberapa bambu yang dijejerkan ditepi kolam, disampingnya air jatuh mengalir dari pancuran yang juga bambu. Hanya ada satu ditepi kolam itu, maka setiap paginya sudah dipastikan beberapa gadis desa akan beramai-ramai mencuci piring atau mencuci baju disana, seperti pagi ini. Karena memang dikampungku masih sedikit rumah-rumah yang memiliki WC sendiri. Dan rumahku adalah salahsatu yang sudah punya jamban sendiri.
               Salahsatu diantara mereka menyadari kelakuanku. Dia lalu tersenyum lembut sambil mengangguk pelan. Khas orang sunda asli jika hendak tersenyum pada orang. Aku langsung menyambut senyumnya juga dengan mengangguk pelan. Kembali aku teringat akan maksudku untuk membereskan rumah, maka langsung saja kubuka daun jendela kamarku lalu kemudian beranjak merapikan kasur. Sungguh aktifitas sehari-hari yang seakan menjadi tabu kulakukan lantaran sudah terlalu lama tak melakukannya. 
               Pagi begini Mama tengah menggoreng bala-bala di Dapur. Bapak sudah pergi ke Kebon, Dua adikku Zam-zam dan Adil tengah memberi makan ternak mereka di samping kebon Bapak, dan dua adikku lagi, Fikar dan Ilham tengah bermain di halaman rumah. Mereka semua terlihat nyaman dengan pekerjaannya masing-masing, hanya aku yang murung, diam, dan seakan belum bisa menerima kenyataan. Kenyataan apa? biarlah aku menceritakannya sekarang.
***
                Kemarin aku baru saja pulang dari Pondok Pesantren dan juga Sekolahku. Aku sudah lulus SMA. Dan aku putuskan untuk pulang kekampung halamanku di daerah Tasikmalaya, tepatnya Salopa. Jauh dari apa yang aku bayangkan, bahwa selepas SMA aku akan putus sekolah dan kembali kekampung hanya dengan membawa ijzah sampai tingkat SMA saja. Padahal selama sekolah dan mesantren di Tasik-sebutan orang kidul untuk daerah perkotaan di Tasikmalaya-, aku cukup memilki prestasi untuk bekal melanjutkan pendidikan kejenjang perguruan tinggi. Orangtuaku pun sudah cukup siap dengan segala biaya mencakup kuliahku nanti. Makin semangatlah aku saat itu, sampai berani bermimpi kuliah di UI lalu setelah itu mendapat beasiswa kuliah di Luar Negri.Dan itu berarti aku adalah orang pertama di kampungku yang mampu mendobrak image kebodohan dan keprimitifan yang orang capkan untuk penduduk disana. Bayangkan, kuliah di Universitas nomor satu di Indonesia, dan meneruskan kuliah S2 di Luar Negri, betapa bangganya orang tuaku, keluargaku, serta kampungku jika itu benar-benar terjadi. Maka, dengan kawan-kawan seangkatanku yang lain, akupun gencar mencari info-info seputar perkuliahan juga tak lupa dengan info beasiswanya. Aku memilih tiga Perguruan Tinggi yang akan aku ikuti saat itu. UI, UNPAD, dan UIN Syarif Hidayatulah Jakarta. UI karena aku selalu terpukau dengan lebelnya sebagai Universitas Indonesia. UNPAD, karena aku punya saudara di Bandung yang mungkin saja aku bisa ikut tinggal disana jika lulus seleksi. Dan UIN Syarif Hidayatulloh, karena Pamanku yang lulusan sana bersedia membantuku dari mulai tes masuk sampai tempat tinggalku nantinya. Maka, formulir pendaftaran untuk ketiga Perguruan Tinggi itupun aku kirimkan melalui online. Selain aku yang memilih ketiga perguruan itu dengan jalur SPMB, ada sebagian teman-temanku yang memakai jalur Bidik Misi. Tapi tak apalah, yang aku pikirkan saat itu hanyalah pengumuman hasil tes seleksi. Itu saja, yang lainnya aku tidak peduli lagi.
                 Setelah melakukan berbagai tes disana-sini, tibalah saatnya pengumuman hasil tes seleksi. Dan kau pasti tahu jawabannya. Namaku sama sekali tak tercantum dalam daftar para calon Mahasiswa dari ketiga perguruan Tinggi itu. Tak UI, UNPAD, maupun UIN. Sedangkan temanku yang lain, yang malahan niatnya hanya ikut-ikutan saja, berhasil lolos di UPI Bandung, UNJ, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, UIN Syarif Hidayatullah, dan yang paling mengagetkan, bahkan salah satu temanku berhasil mendapatkan beasiswa penuh jurusan kedokteran di UNPAD. Semuanya bahagia. Semuanya terharu. Mereka saling berpelukan saat membaca pengumuman. Mereka menangis dan segera menelpon orangtua masing-masing. Tapi aku, aku mundur dari tumpah ruah kebahagiaan yang mengharukan itu. Aku memilih duduk dipojok saja, menyendiri, memeluk erat lututku, dan membenamkan kepalaku diatasnya. Diam-diam aku menangis, terisak, dan semain lama semakin keras. Euforia kelulusan itu, daftar nama-nama itu, basiswa itu, berita membahagiakan buat orangtua itu, dan mimpi-mimpi itu, tak sama sekali menyapaku, tak peduli pada nasibku, dan bahkan tak mau sekalipun memberi kesempatan padaku. Dan saat itu aku hanyalah seorang murid termalang dari sekian banyak kemalangan yang menimpa para pelajar di negri ini. Aku sadar, bahwa semua impian dan harapan yang sudah terlukis rapi dalam benak ini, mulai sekarang harus segera kuhapus dan kembali membuat lukisan harapan yang baru. Tidak ada lagi kuliah di Universitas nomor satu di Indonesia, tidak ada meneruskan S2 di Luar Negri, hanguslah sudah impian menjadi orang pertama yang menghapus image kebodohan dan keprimitifan kampungku Salopa. Hanya itu yang terlintas dalam tangis kesengsaraanku saat itu. Hanya itu, teman. Itu saja.
***
                 Melihat gadis-gadis kampung yang sedang mencuci piring di jamban itu adalah sama halnya melihat diriku sendiri. Bahwa aku pada akhirnya hanya akan menjadi gadis kampung yang masa depan tercerahnya adalah menjadi seorang istri, mengurusi rumah tangga, dan bersiap tiap pagi  menjinjing rantang membekali suaminya pergi bertani. Tidak!...aku terenyah dari lamunanku. Aku ini lulusan SMA Terpadu Riyadlul 'Ulum Wadda'wah. Sekolah terpandang yang memiliki sejuta prestasi dalam usianya yang masih muda. Aku harus bangkit, aku telah digodog selama enam tahun disana, dibekali beraneka ragam ilmu, dan dididik dengan berbagai pembentukan karakter yang berkualitas, tidak mungkin kalau pada akhirnya hanya berujung pada kemalangan nasib seperti itu. Dan benarlah, sampai satu sms masuk di hpku.
               " Teh Mayla, dua hari lagi Bapak Hakim akan datang kerumah untuk memperbincangkan masalah staf pengajar di SDN Pawitra, terimakasih."
               Itu dari Mang Iik, saudaraku yang juga mengajar di SDN pawitra, tempat aku menimba ilmu sewaktu kecil dulu. Aku tersanjung. Baru lulus SMA sudah akan ditawari mengajar oleh pihak sekolah. Betapa sambutan masyarakat sangat agung terhadap pemuda-pemuda kampung yang punya kemauan untuk sekolah di Luar sana. Apalagi kalau aku benar-benar lulusan Luar Negri. Sudah jadi Presiden Kampung mungkin aku nanti. Tapi sudahlah, setidaknya tawaran ini bisa sedikit mengobati ketakutanku terhadap masa depan seperti para gadis desa itu. Bahwa menikah dalam usia dini, lalu harus megurusi rumah tangga, dan menaggung beban keluarga dengan pendapatan kecil lantaran tak memilki skill dan keterampilan tidak akan terjadi padaku. Semoga saja.

THE REAL WINNER

Lena Sa'yati
lenasayati@gmail.com

Narator       : Dina dan Astrid adalah kakak beradik yang sangat bertolak belakang. Dina sangat
                     menyukai dunia buku, sedangkan Astrid sangat menyukai dunia modeling. 


Astrid          : Five Six, Seven Eight!....(Astrid berlenggak lenggok bak seorang model)
Dina            : Assalamu'alaikum!...Dina pulang!
                     (Saat Dina berjalan keruang tamu, kebetulan Astrid sedang latihan jalan di catwalk, tak sengaja
                      mereka bertabrakan)
Dina&Astrid: Aww! (Buku Dina Berserakan, dan keduanya terjatuh)
Dina            : Kakak ini apa-apaan sih? nabrak aku sembarangan!
Astrid          : Kamu tuh yang sembarangan, tahu kakak lagi latihan jalan di catwalk, ya maklum bolak-balik.
Dina            : Lagian latihan diruang tamu, dikamar, sana. Berisik tuh musiknya!
Astrid          : Ogah! kamar aku kan sempit! udah sana anak kecil ke kamar aja. Vino G Bastian nih taruhan-
                     nya kalau aku menang modeling nanti.
Dina            : Gak penting! (mendengus pelan, sambil beranjak)
                     Dina mengendap-endap meraih tape dan mengganti jenis musiknya menjadi musik
                     Qosidah.
Astrid          : Five, Six...(tersadar dengan mendengar lagu Qosidah) DINAAAAA!!!!
Dina            : Hihi...(Ia terkekeh di balik kamar)


Narator       : Keesokan harinya Astrid berbelanja bersama teman-temannya untuk persiapan lomba
                     modeling.Namun saat pulang Ia mendapati adiknya tengah menulis dikamarnya.

Astrid          : Ya ampun De, gak bosen apa dari pagi kerjaannya baca sama nulis mulu? Lihat nih Kakak baru
                     aja belanja buat persiapan modeling besok, ada high heels, gaun, kalung, plus rambut kakak-
                     pun tadi udah direebonding.
Dina            : (Cuek)
Astrid          : Heh, kamu ngedengerin kakak gak barusan ngomong?
Dina            : Iya, denger...
Astrid          : Apa coba?
Dina            : High Heels, kalung dan...ah, kakak ganggu Dina aja deh! Lagi konsen nih!
Astrid          : Lagi ngapain sih?
Dina            : Aku tuh lagi nyari info tentang pemenang lomba menulis Novel Remaja 2010. katanya mau di-
                     umumin sekarang, tapi gak ada.
Astrid          : Aduh Din, hari gini ikut lomba gituan? mending kakak, lomba model, terkenal, gampang cari
                     duit, bisa main film sama artis. Nah kamu?, jadi penulis!...terkenal juga nggak, paling namanya
                     doang, bayarannya gak seberapa, lagi.
Dina            : Dina tuh bukan kakak!... jalan lunggak lenggok kayak kakak, gak bisa. Nyanyi, suara
                     pas-pasan. Cantik, nggak. Mau apa lagi? cuma ini yang pantes buat aku. Seenggaknya,
                     meskipun aku gak terkenal, tapi aku puas dengan pekerjaanku. Jadi penulis itu gak nuntut aku
                     buat dan-dan dan buka-buka betis, kak.
Astrid         : Yee...siapa bilang!...jadi model itu bayarannya menjanjikan lho Din.
Dina           : Iya kalau laku, wajahnya cantik, kakinya mulus. Nah kalau udah  jerawatan, kaki panuan,
                    ya lewat!...
Astrid         : Ih nih anak, lagipula kamu itu sebenernya cantik, kamunya aja yang malah milih jadi cupu gara-
                    gara kebanyakan gaul sama buku. Itu lagi kacamata udah setebel bukunya, pake softlens dong,
                    kayak kakak. Sini kakak ajarin deh biar kamu jadi cantik,...(membuka kacamata Dina)
Dina           : Aduh kak Astrid apa-apaan sih, kembaliin kacamataku!
Astrid         : Ya ampun ini kacamata tebel amat, ya? coba, (Astrid mencoba memakainya)
                    Aduh, pusing (jalan sempoyongan) Aduh, (Astrid terjatuh menabrak meja) Aww!!..
Dina           : kak Astrid? (Dina samar-samar melihat kakaknya)
Astrid         : Aduh, kakiku!....
Dina           : Kak, mana kakinya (Dina meraba tangan Astrid)
Astrid         : Bukan itu, dodol! itumah tangan kakak!
Dina           : Iya, makanya siniin kacamatanya!

Narator      : Ditengah kejadian itu, kedua sahabat Astrid, Yessi dan Sandra datang.

Yessi          : Astrid!...cewek cantik dateng!
Astrid         : Aduh,...
Sandra       : Kayak suara Astrid?
Yessi          : Iya, sepertinya dari kamar si Dina.
                    Mereka berlari menuju kamar Dina.
Yessi          : Ya ampun, Astrid kenapa?
Sandra        : Din, Astrid kenapa?
Dina           : kakinya kebentur meja, Kak.
Yessi          : Wah, bahaya nih! Bisa-bisa besok gak bisa ikut lomba,
Astrid         : Diem lu! Gua baik-baik aja!
Sandra       : Tapi Strid, kaki lo..
Astrid         : Gua gak apa-apa!..(mencoba berdiri) Aduh! (jatuh lagi)
Sandra       : Astrid, astrid...lu emang baik-baik aja! (nyindir)
Yessi          : Emang keras kepala, lu..
Astrid         : (Melotot ketus) Minggir! (lalu beranjak melabrak mereka dengan kesal dengan kaki terpincang-
                    pincang)
Sandra       : Lho, dia marah ma gua, ya?
Yessi          : kayaknya ma gue deh,
Dina          : Dia marah sama kalian berdua! (lalu pergi menyusul Astrid) kak, tunggu.
                  Sandra dan Yessi melongo.

Narator     : Astrid mencoba keras untuk kembali berjalan, tapi kakinya belum sembuh total. Meski
                    sudah diobati, tapi setidaknya Ia perlu stirahat selama satu minggu. Namun Ia tetap 
                   besih kukuh ingin mengikuti lomba modeling itu.


Dina          : Udah, kak. Istirahat aja,
Astrid        : Enak aja, kapan lagi aku bisa main film bareng Vino G Bastian kalau besok aku gak jadi lomba.
Dina          : Pentingan mana sih kesehatan dibanding Vino?
Astrid        : Arrrgh!...gara-gara kacamata kamu, sih!
Dina          : Ye, siapa suruh pake sembarangan!

Narator     : Tiba-tiba suara bel berbunyi, Tukang Pos datang untuk mengantar surat.

Dina          : Iya, sebentar!...(menghampiri pintu)
Tukangpos: Ini ada surat, mbak.
Dina          : dari siapa? (sambil tanda tangan)
Tukangpos: Dari Panitia Lomba menulis Novel Remaja 2010, mbak.
Dina          : Oh ya, terimakasih pak.
Astrid        : Siapa Din?
Dina           : Itu, tukang pos. Dina buka, deh. (Membuka amplop surat)
                    Ya, tuhan. (tubuhnya gemetar)
Astrid         : Kenapa Din?
Dina           : Kak, Dina menang Lomba Menulis Novel, Kak! Dina menang!...(Dina mengguncang-guncang
                    tubuh astrid dan memeluknya)
Astrid         : Aw, aw, aw! sakit, DINA!
Dina           : Eh iya, lupa hehe. Besok Dina diundang hadir di Hotel bintang lima, kak untuk penyerahan
                    hadiah! Wah, kerja kerasku gak sia-sia.
Astrid         : (Memandang sebelah mata, merasa syirik)

Narator      : Keesokan harinya, ketika Dina hendak berangkat, Astridpun tampak bersiap dengan 
                     gaunnya.

Dina           : Wah, ternyata gaun itu dipakai buat datang keacaraku ya kak?...senangnya...
Astrid         : Siapa bilang? Aku mau ikut lomba modeling!...emang cuma kamu yang bisa menang!
Dina           : Lho, tapikan kaki kakak belum sembuh.
Astrid         : Sembuh gak sembuh yang penting menang!

Narator      : Lomba Modelingpun dimulai.

MC            : Hai selamat siang pemirsa! kali ini, kita punya model-model cantik untuk berjalan diatas catwalk
                    megah ini. Dan pemenangnya akan berkesempatan main film bareng Vino G Bastian. langsung
                    saja kita perkenalkan para juri terlebih dahulu. Yang pertama, Model ternama Arzeti Bilbina!
Arzeti         : selamat siang! (tersenyum kepenonton)
MC            : Yang kedua, artis sinetron terkenal, Shireen Sungkar!
Shireen       : Selamat siang semuanya! (menyapa penonton sambil melambaikan tangan)

Narator      : Disamping itu, Para peserta saling berbincang dibelakang panggung.

Model 1     : Aku pasti pemenangnya!
Astrid         : Pede banget, wajah pas-pasan gitu!
Model 1     : yee, sembarangan! tubuh siapa yang paling bagus?
                    Sandra dan Yessi menghampiri
Yessi          : Astrid, kok lo jadi ikutan, sih?
Sandra        : Iya, Strid. Kaki lo kan belum sembuh,
Astrid          : Berisik! Diem lo pada!..pokoknya gua mesti menang!

MC             : Kita panggilkan para kontestan kita!  Jessica!...(Jessica muncul dan berjalan di catwalk)
                     Selanjutnya, Astrid!...(Astrid muncul dan berjalan mengitari catwalk)
Yessi+Sandra: Astrid!...go Astrid Go!...
Astrid          : (tersenyum ketus)
MC             : Jessica dan Astrid! perlihatkan pesonamu! (keduanya berkeliling catwalk)
Astrid          : Aww!...(Astrid terjatuh)
Jessica         : Haha...(tertawa pelan sambil melihatnya sinis)
Yessi           :Ya ampun Astrid!..
Sandra         : Aduh, gimana nih?
MC              : Saatnya menentukan pemenang! Saya persilahkan dewan juri untuk naik keatas panggung.
Arzeti            : baiklah, setelah kami berdua menimbang, akhirnya kami memutuskan, yang jadi pemenang
                       Lomba Modeling kali ini dan berkesempatan main film bareng Vino G Bastian, adalah...
                       JESSICA!...

Narator       : Astrid pergi sambil menangis tak mau menerima kekalahannya. Disisi lain, Dina dengan
                     bangga menerima penghargaan yang diberikan oleh penulis terkenal pujaannya, HTR.

HTR            : baiklah, saya panggilkan pemenang Lomba Mneulis Novel Remaja 2010, yaitu Dina Mayla!
Dina            : (Naik ke panggung dan menerima trophy) Terimakasih saya ucapkan kepada semuanya,
                     terutama untuk Ibu dan Papa saya yang sudah tiada, juga Kakak saya yang kini tidak bisa hadir
                     karena ada acara mendadak. Terimakasih.

Narator      : Tak disangka, ternyata Astrid melihat Dina yang menerima trophy di panggung. Ia
                    hanya bisa menangis karena iri pada adiknya. Sampai Dina tersadar akan keberadaan-
                    nya dan Ia menghampiri Astrid secara diam-diam.

Dina          : Kakak?...(Astrid menoleh)
Astrid        : Adek,...hiks..hiks...(Memeluk Dina)
Dina          : Kak, bagaimana lombanya? Kenapa Kakak menangis?
Astrid        : Kakak malu, dek. Kakak kalah,...aku kalah. Hiks, hiks...
Dina          : Sudah, Kak...tak apa-apa. Masih ada kesempatan yang lain, mungkin karena kali ini kaki kakak
                   belum sepenuhnya sembuh, tapi Dina yakin Kakak pasti bisa.
Astrid        : Nggak, Din. Kakak gak mau ikutan modeling lagi!...Kakak muak dengan semua ini! Kakak
                   muak dengan sikap para juri yang hanya melihat kakak dari segi fisik saja. Kalaupun Kakak
                   menang, kakak tetap bukanlah pemenang. Tapi kamulah pemenang sesungguhnya. Kamulah yang
                   justru bisa membuat semua orang takjub dengan prestasimu itu. Selamat ya adekku.

Dina          : Kakak...(kembali berpelukan)
Yessi         : Ternyata kamu disini, Strid. Syukurlah,
Sandra       : Dina, Kamu dapet piala apa? kok kita gak tahu ya, Yess?
Yessi         : Yee..siapa bilang aku tahu kok. Pasti kamu menang olimpiade matematika, kan?
Astrid        : Bodoh!..Adekku menang lomba menulis novel remaja 2010, tahu!
Sandra       : Iya tuh, si Yessi sok tahu!
Yessi         : Biarin, yang penting eksis! hehe...selamat ya Din,
Dina          : Iya, terimakasih, kak..

narator       : Akhirnya Astrid memahami arti pemenang sesungguhnya. Yang tidak diukur dari fisik
                   semata, melainkan keluhuran budi pekerti dan ilmu pengetahuan yang luas. Pesan dari
                   cerita ini, jadilah pribadi yang baik, dan ingat, sebaik-baik teman pada setiap waktu 
                   adalah buku. Jadilah pemenang sejati dengan budi pekerti dan prestasimu.





       

Belanja Sambil Beramal

Lena Sa'yati,
lenasayati@gmail.com

           Pernah mendengar istilah Donasi? pastinya pernah dong ya. Itu lho para santri yang di sebarkan ke jalan-jalan atau perumahan untuk mengajukan proposal permintaan dana, atas nama pesantren. Begitulah cara pesantren-pesantren jaman dahulu alias jadul, menghimpun dana untuk pembangunannya.Tapi pesantren kita tercinta Riyadlul Ulum Wadda'wah ini, justru anti dengan tindakan penggalangan dana sepeti itu. Pondok kita tak mau santri-santrinya terlihat sengsara dengan tanpa disadari hanya meminta-minta dari tradisi donasi tersebut. Pondok kita ini ingin tampil beda dan mencoba merubah image penggalangan dana pesantren seperti yang sudah dipaparkan diatas itu, dengan meluncurkan terobosan-terobosan baru yang patut diacungi jempol. Salahsatu contohnya adalah dengan mendirikan beberapa unit usaha pondok. Yang sampai saat ini, alhamdulillah Pondok kita sudah mampu mendirikan enam cabang unit usaha, antara lain; Syirkah (Koperasi), Maqsof (Kafe), Wartel, Warnet, Mini Market dan satu diantaranya yang masih dalam proses adalah kolam renang. Wah, apa gak keren tuh?

Berdiri dan Istiqomah karena Peran dan Kontribusi Santri
              Sebenarnya disatu sisi, ada kesamaan antara tradisi donasi dengan inovasi mendirikan unit usaha pondok kita ini, yaitu Berdirinya unit usaha tersebut tentunya tidak lepas dari peran dan kontribusi para santri. Pastinya! kalau bukan santri ya siapa lagi? masa bangunan? mobil blezer? atau warga kampung sebelah. Ya tidak bisa begitu. Justru beberapa unit usaha pondok tersebut bisa terus konsisten, karena ada peranan besar para santri disana. Bagaimana tidak, seluruh unit usaha dari mulai wartel sampai mini market, yang memegangnya tiada lain adalah santri. Yang menjaga wartel berasal dari OSPC bagian wartel. Penjaga syirkahpun sama, atau kita biasa memanggil mereka Qismul Syirkah, kafe juga tak jauh beda meski ada petugas pokoknya yaitu Bibi Imut tercinta. Namun khusus untuk Warnet dan Mini Market, petugasnya berasal dari staff Asatidz dan Ustadzat pengabdian. Nah, kalau semua petugasnya berasal dari santri, lantas konsumennya siapa? Ya santri itu juga. Meski terkadang masyarakat luaspun bisa berbelanja di salah satu unit usaha pondok. 
              Disinilah letak kontribusi dan peran santri nampak. Bahwa pepatah yang mengatakan; " Jangan mencari kehidupan di Pondok, tapi hidupilah Pondok " itu benar-benar nyata adanya dan benar-benar diaplikasikan. Maka tak boleh ada santri yang jualan untuk meraup keuntungan bagi diri sendiri. Kalaupun ingin berjualan, ya mesti membagi keuntungan untuk pondok karena sudah memberi lahan untuk berjualan. Seperti yang dilakukan Bapak Khobir tuh yang berjualan bakso setiap hari jum'at. Yang pelanggannya selalu antri dan bebas meracik sendiri bumbunya itu, beliau juga membagi keuntungan untuk pondok. Lalu apakah ini termasuk kedalam kapitalis? Atau pondok yang matrealistis? Tentu tidak! Karena apa? karena seratus persen keuntungan yang dihasilkan dari semua unit usaha Pondok, murni digunakan untuk kemaslahatan umat. Pondok kita bisa membangun sekian banyak bangunan dengan pesat, disamping mendapatkan bantuan dari berbagai pihak, juga dibantu dari pengahasilan unit usaha tersebut. Tuh, percaya kan kalau Pondok kita ini tidak matre dan juga tidak menganut sistim kapitalis? Justru pahala yang tiada hentinyalah balasan bagi kalian yang sudah membelanjakan uang jajannya untuk berbelanja di Syirkah, Mini Market, Warnet, Kafe atau Wartel. Proses perputaran dan analoginya begini, kita membelanjakan uang kita misalnya ke Syirkah, lalu Syirkah menyetorkan penghasilannya ke pusat, oleh pusat digunakan untuk membeli semen buat pembangunan gedung baru yang akan dijadikan ruang belajar santri, nah, dengan begitu bukankah tanpa disadari kita sudah ikut beramal dalam memerangi kebodohan dengan berdirinya bangunan tersebut, yang tentu pahalanya akan terus mengalir selama gedung itu dipakai untuk kegiatan belajar mengajar. Subhanallah, menakjubkan bukan? Ternyata dibalik uang lima ratus perak yang kamu belanjakan itu, mengandung pahala yang berlipat-lipat lebih dari apa yang kamu bayangkan.


          Gak susah kan ternyata beramal itu? malahan buat kita para santri Condong, disini sudah tersedia ladang amal yang menunggu kita untuk menuainya. Pastinya rugi lah bagi kamu-kamu yang sukanya susulumputan jajan diluar, seperti kisah seorang santriwati yang kebetulan merasa haus saat di tengah jalan, tepatnya di daerah Rangon (kampung dekat condong). Dengan nekat Ia jajan es di warung, tiba-tiba munculah salah satu ustadzah bagian pengasuhan santri yang baru pulang dari kampus, menyadari itu Ia buru-buru mencari tempat persembunyian. lalu masuklah Ia kerumah si pedagang warung. ternyata eh ternyata, didalamnya cowok semua, spontan Ia berteriak dan meghambur keluar rumah, walhasil, yah ketahuan juga sama Ustadzah Pengasuhan Santri. Malangnya Ia, sudah jatuh, ditambah ketiban tangga. Sudah ketahuan Ustadzah yang nantinya kan dihukum karena jajan diluar, ditambah rugi gak belanja sambil beramal di pondok yang penghasilannya notabene untuk kemaslahatan umat, tidak seperti di warung itu yang penghasilannya hanya untuk diri pribadi.
Nah, dari petikan kisah diatas, kita tentunya harus meyakini bahwa alasan dari pentidakbolehan jajan diluar pondok itu yang sebenarnya adalah melatih keikhlasan kita untuk senantiasa beramal demi kemasahatan bersama. Kalau kita berdalih lanataran diluarpun sama beramal untuk para penjualnya, maka kembali kepada prinsip kita untuk menghidupi Pondok, bukan malah mencari kehidupan di Pondok. Jadi selagi ada unit usaha di Pondok, kenapa harus keluar. Toh harganyapun tak beda jauh, kan? So, mulai dari sekarang, mari kita tanamkan sikap berbelanja sambil beramal di Pondok ini. Agar Pondok semakin maju, sekaligus tabungan pahala kita di Akhiratpun semakin menumpuk.

21.57
Wapernet, Taman Ilmu
1 Muharam 1432 H

Jamuan Tahun Baru Islam

Lena Sa'yati, Sekolah Tinggi Pesantren Terpadu (STPT), Tasikmalaya
lenasayati@gmail.com
          Kadang kita lupa akan moment terpenting yang semestinya seluruh umat Islam memperingatinya. Tahun baru islam yang diawali dengan bulan muharam, kini telah datang menghampiri kita. Tak banyak orang yang ingat akan hal ini. Sekalipun ingat, itu karena pada kalender masehinya berwarna merah, tandanya hari libur. Barulah bisa ingat. Setelah ingatpun, tak ada sambutan meriah untuk bulan ini. Tidak ada tasyakur, pawai, atau bahkan kembang api. Padahal, saat orang-orang akan dihadapkan dengan tahun baru masehi, seakan persiapannya sudah dari dua minggu sebelumnya. Terompetnya, mobil untuk pawainya, kembang apinya, dan seabreg antek-antek persiapan lain. Lantas mengapa bisa begini? apakah tahun baru masehi lebih mulia dibanding tahun baru islam? Kenapa hanya tahun baru masehi yang digembar-gemborkan? bukankah Nabi kita telah memuliakan Bulan Muharam dengan menyebutnya sebagai Syahrullah (Bulan Allah). Dikatakan demikian karena kemuliaan dan kelebihan bulan ini. Seperti yang diriwayatkan Al-Hassan Al-Basry rahimullah

"sesungguhnya Allah telah membuka lembaran Tahun baru didalam takwim Islam dengan bulan Muharam. Tidaklah kedapatan bulan yang lebih mulia didalam takwim Islam disisi Allah
selepas bulan Ramadhan melainkan Muharram yang terkhas disebabkan kehormatannya".

Lantas apakah kita tidak terketuk juga untuk ikut memuliakan bulan ini sebagaimana Nabi Muhammad yang sangat memuliakan bulan ini? Bahkan Nabi memposisikan kemuliaan bulan Muharam berada setelah kemuliaan bulan Ramadhan.
Jika kita mengaku sebagai umat Nabi, sudah sepantasnyalah kita turut memuliakan bulan ini dengan merayakan dari hal-hal positif yang bisa kembali menumbuhkan semangat kesatuan umat islam. Kenapa takut untuk menggembar-gemborkannya. Jika mereka mampu mendoktrin sekian banyak umat untuk turut serta mengagung-agungkan tahun barunya dengan diiringi syair-syair ceria yang khas sekali dengan moment umatnya, kenapa kita tidak? 
Setidaknya, meskipun tidak dengan perayaan yang justru lebih cenderung ke hedonis, umat islam semestinya memperingati tahun baru ini dengan hal yang bersifat khidmat, yaitu salah satunya dengan sama-sama menjalankan puasa di bulan Muharam ini.



Dari Abu Hurairah r.a. disebutkan Rasulullah s.a.w. bersabda, "Seutama-utama puasa sesudah puasa bulan Ramadan ialah puasa bulan Muharram dan seutama-utama solat sesudah solat fardu ialah solat malam". (Sahih Muslim)
Maka, dari situ seluruh umat manusia di duniapun akan dengan jelas dapat membedakan, manakah peringatan tahun baru yang sesungguhnya. Yang tidak hanya mentuhankan keduniawiaan demi sebuah kesenangan. Tapi dengan suasana khidmat dan damai yang dapat menumbuhkan persaudaraan diantara sesama umat. Karena tak sedikit dari mulanya pergi bergerombol untuk berpawai, namun yang terjadi di tempat tujuan malah saling tawuran, bahkan sampai ada yang tewas akibat kelalaian dalam lalu lintas. Inilah orang-orang yang hanya mentafsirkan tahun baru dengan pemikiran yang pendek. Mereka hanya tahu bahwa tahun baru itu adalah kembang api, terompet dan konser. Yang ternyata ujung-ujungnya malah menghasilkan musibah, bukan? Lantas mana kebahagiaan dan kesenangan yang diagung-agungkan itu? Maka kembali pada peringatan tahun baru islam yang diisi dengan melaksanakan puasa. Tentu akan jauh sekali perbandingannya. Bukan hanya kebahagiaan lahir yang diperoleh, bahkan kebahagiaan batiniyahpun akan kita dapatkan. Inilah kebahagiaan yang hakiki yang ditimbulakn dari perayaan yang hakiki pula. 

Mengasuh: Ladang Pendewasaan Diri

Lena Sa'yati, Sekolah Tinggi Pesantren Terpadu (STPT), Tasikmalaya
lenasayati@gmail.com


Saat saya ditakdirkan untuk mengabdi pada Pondok Tercinta, mulanya mengelak, bersikukuh tak mau menurut pada perintah Guru. Bukan tidak mau karena berniat membangkang, apalagi benci terhadap pondok, melainkan karena ada alasan lain yang sangat wajar bila setiap orang memperhitungkannya. Bahwa saya memiliki impian untuk bisa melanjutkan sekolah ke Perguruan Tinggi Negri ternama di Indonesia. Bukankah ini pemikiran yang wajar? Karena sayapun memiliki sisi idealisme dari jenjang yang akan saya tempuh selanjutnya. Sayapun mulai mendaftar kesana kemari bersama teman-teman saya, yang pada saat itu hampir semuanya memiliki pemikiran yang serupa dengan saya. UIN Syarif Hidayatullah, sampai Universitas Swasta Paramadina pun pernah saya kirimi formulir pada saat itu. Tapi takdir berkata lain. Ketika sebagian teman-teman saya berhasil lolos seleksi masuk Perguruan Tinggi, bahkan sampai ada yang mendapatkan beasiswa penuh, saya malah di hadapkan dengan kegagalan dan kegagalan. Saya yang saat itu sulit menerima kenyataan, merasa amat kecewa dan sedih luar biasa.
Sempat berkelumit dalam hati ingin nekat mencoba lagi, karena orangtuapun sangat berharap saya bisa melanjutkan ke Perguruan Tinggi Negeri. Namun saya kembali berfikir, akan kemanakah saya nanti jika dengan tegas memutuskan tidak ingin mengabdi ke Pondok, tapi ternyata saya kembali tak lolos. Tentu jika tidak kembali mesantren, ya jadi pengangguran dan semakin terpuruk ditengah-tengah masyrakat yang masih sangat terbelakang dalam dunia pendidikan. Mau kembali ke Pondok? Pasti malu, atau mau cari kerjaan? zaman sekarang, office boy saja bergelar Sarjana, apalagi lulusan SMA, mau kerja apa?. Maka, dengan sejuta beban yang mengganjal dalam hati, (Lantaran ogah kembali ke pondok), pada akhirnya kembali mengemas barang-barang yang sudah saya pulangkan untuk di bawa lagi pergi menuju Pondok. Malu, memang. Kecewa, apalagi.Tapi itulah yang pilihan yang meski awalnya sangat sulit saya putuskan. Saya hanya punya modal "Yakin" bahwa semua ini adalah yang terbaik yang Allah tetapkan pada diri saya.

Ustadzah, Gelar asing yang tak bisa ditolak
Saat pertamakali saya kembali menginjakan kaki di Pondok, seorang santriwati menyapa dengan setengah berteriak:
          " Ustadzah Lena!!!...Adeuh,..."
Dan saya yakin itu adalah sebuah ledekan! Betapa tidak, orang itu berteriak sambil cengengesan dan meng-Adeuh-adeuhi saya. Sayapun tersadar, bahwa setiap lulusan SMA pondok saya, lalu kemudian mengabdi disana, maka panggilannya bukan "Teteh" lagi, melainkan "Ustadzah". Bayangkan, semuda ini saya sudah harus di sebut Ustadzah. Sungguh malu rasanya bila ternyata gelar itu tak sesuai dengan pribadi saya. Tapi, walau bagaimanapun, setiap pengabdian bisa di sebut Ustadzah, karena memang ada beberapa karakter dan pandangan sosok seorang Ustadzah yang tertanam pada setiap diri seseorang yang mengabdi. Bisa dikatakan demikian, karena seluruh alumnus yang mengabdi, diwajibkan mengajar pelajaran-pelajaran yang bermuatan lokal, seperti Kitab-kitab Kuning, atau pelajaran bahasa arab yang luas cakupannya. Bukankah memang kekhasan seorang Ustadzah adalah mengajar ilmu-ilmu keagamaan?
Menemani Firda saat mengikuti ajang 
Pemilihan Miss Language 2010

Membimbing: Mengajar, mendidik, dan Mengasuh
Namun di Pondok ini, seorang Ustadzah tidak hanya terbatas pada mengajar saja. Ia juga diwajibkan membimbing setiap santriwati dengan menjadi wali kelas dari setiap kelas. Arti membimbing disini sangat luas. Bagaimana tidak, seorang Ustadzah dalam eksistensi membimbingnya harus mampu mengenali pribadi setiap anak didiknya. Mulai dari asal-usul keluarganya, nomer telepon yang bisa dihubungi, apa yang dia suka dan tidak suka, apakah dia punya penyakit bawaan atau tidak, pelajaran apa yang menurutnya sulit atau sebaliknya, teman dekatnya siapa saja, apakah dia punya masalah atau tidak, sampai uang jajan perbulannyapun kalau perlu seorang Ustadzah yang menjadi wali kelasnya harus tahu.
Coba bayangkan, kawan. Dari sekian puluh santriwati, Seorang Ustadzah bahkan dituntut untuk paham betul tentang segala seluk beluk kehidupan anak didiknya. Padahal Ia masih memiliki kesibukan lain, entah itu bersifat pribadi ataupun yang bersifat umum. Tapi apakah ini beban? Apakah ini rintangan? Mari saya paparkan setiap kegiatan seorang Ustadzah dari mulai bangun sampai bangun kembali, agar anda dapat menilai, apakah semua itu merupakan beban yang menghasilkan kecapaian, atau justru kepuasan dan ladang amal yang tidak tergantikan?
  • Dipagi hari tepat pukul 05.30 memberikan kosakata bahasa arab dan inggris dalam kegiatan Mufrodat. Seorang Ustadzah harus meninggalkan sebuah kemalasan besar selepas subuh dengan adanya penyegaran lewat pemberian mufrodat ini, karena dengan sistim interaktif antara guru dan murid, suasana mufrodatpun tidak akan terasa bosan.
  • Mengajar merupakan tugas pokok seorang Ustadzah. Setelah berabagai ilmu kita dapatkan, saatnya kita mengamalkannya. Merupakan kesempatan luar biasa, baru lulus SMA sudah dipercaya untuk mengajar. Tentu ini akan menjadi pengalaman berharga bagi seorang Ustadzah dimasa depan.
  • Setiap Ustadzahpun ditempatkan untuk membina kegiatan anak-anak yang sesuai dengan potensinya. Bakda asar adalah waktu yang tepat untuk mengaplikasikannya. Ada Ustadzah yang membimbing ekstrakurikuler Paskibra, Pramuka, Nasyid, dan Klub Sastra. Namun adapula yang di tugaskan untuk menjadi staff unit usaha Pondok, seperti Mini Market dan Warnet. Ini tentunya menjadi wahana pengembangan potensi yang dimiliki para Ustadzah.
  • Selepas Shalat Magrib, para Ustadzat kembali berkumpul dengan anak didiknya dalam kegiatan yang di sebut sorogan. Disini seorang Ustadzah kembali berperan sebagai guru, dengan mengulang kembali pelajaran-pelajaran kitab agar si anak mendapatkan pemahaman yang lebih baik selain hanya belajar dikelas. Tentulah kegiatan ini menuntut seorang Ustadzah untuk kembali mengkaji kitab-kitab yang dulu pernah dikajinya.
Bersambung...