Tampilkan postingan dengan label Wanita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wanita. Tampilkan semua postingan

Menyoal Fenomena Jilbabers, Hijabers dan Jilboobs di Indonesia

http://fc08.deviantart.net

Perintah untuk mengenakan jilbab dalam Islam telah diatur dalam al-Quran surat Al-Ahzab ayat 59 yang berbunyi;
"Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka’ yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. 33:59)

Yang dimaksud dengan jilbab sendiri adalah sejenis baju kurung yang lapang yang dapat menutup kepala, muka dan dada. 

         Dengan begitu, sudah jelas bahwa setiap wanita yang beragama Islam wajib menutup auratnya dengan mengenakan jilbab. Jilbab tidak sekedar tradisi atau produk budaya, melainkan titah tuhan pada hambanya. Memang apa gunanya? Tentu selain mendapat pahala dengan mentaati syariat-Nya, berjilbab juga memiliki hikmah tersendiri. Salah satunya adalah “KEMULIAAN”. Benar, jilbab adalah salah satu simbol kemuliaan. Sebab dengan mengenakan jilbab, seorang wanita akan terlihat anggun, rapi, sopan, serta dihormati. Sudah bukan barang baru jika wanita berjilbab seringkali mendapat nilai yang lebih luhur jika dibandingkan mereka yang tidak mengenakannya di kalangan masyarakat. Meski terkadang sering diledek dengan sebutan “bu haji” atau disapa dengan ucapan salam yang seakan mencemooh dari orang-orang jahil, tapi pada dasarnya itu adalah bentuk kemuliaan dari sebuah jilbab. Begitulah Allah dengan nyata memperlihatkan keagungannya.
Jilbab adalah solusi dari Allah untuk kaum wanita yang seringkali menjadi korban pelecehan. Jilbab adalah salah satu ciri yang membedakan wanita muslim dengan kafir. Jilbab adalah mahkota wanita yang menjadikannya tampak luhur dan terhormat. Begitulah ketentuan Allah yang pada akhirnya menginginkan hamba-Nya agar menjadi lebih baik dan akan menjadi ladang amal serta pahala tersendiri.
Indonesia adalah negara dengan penduduk mayoritas muslim. Karenanya, tidak heran bila banyak warga negaranya yang terlihat mengenakan jilbab. Meski begitu, yang menjadi ironi adalah ketika seringkali yang ditampilakan media adalah mereka yang bebas mengumbar auratnya. Tidak jarang para selebriti yang status KTP nya beragama islam pun ikut melepas ke-Islamannya. Padahal, media bisa disebut sebagai tolak ukur gambaran realita yang ada di masyarakat. Atau mungkin saja hal ini merupakan imbas dari masa kepemerintahan orde lama yang melarang wanita berjilbab. Sungguh masa-masa kelam serta ironis bagi kaum muslim pada zaman itu.
Sekalipun kaum muslim di Indonesia telah melewati masa kelamnya itu, tapi toh nyatanya masih marak saja gambar-gambar tak senonoh yang ditampilkan wanita muslim di media. Namun, tidak perlu menghujat atau menghakimi, karena selain mereka, masih banyak wanita muslim yang mau menjalankan syari’at berjilbab. Hanya saja, kaum perempuan berjilbab di negara ini tampak berbeda dengan mereka yang ada di belahan bumi lain. Indonesia adalah negara dengan fenomena jilbab yang unik atau nyaris aneh.
Sebut saja jilbabers, hijabers, atau yang terbaru jilboobs. Istilah-istilah tersebut merupakan sebutan bagi perempuan berjilbab dengan beragam kategori. Sejak kapan wanita berjilbab terpisah-pisah dalam beberapa kategori? Dan dimana semua itu berada? Di Indonesia! Saya yakin hanya di negara INDONESIA!. 

Jilbabers         
      Ciri khas yang kental untuk istilah ini adalah mereka yang mengenakan jilbab segi empat lebar semampai sampai menutup seluruh bagian dada dan punggung. Selain itu, jenis pakaian yang dikenakan pun identik dengan gamis atau blous panjang selutut. Khusus untuk pelajar, biasanya mereka mengkombinasikan style ini dengan tas ransel, kaos kaki dan manset (semacam sarung tangan yang dikenakan di pergelangan tangan). Entah siapa yang menemukan istilahnya, hanya saja begitu lah corak style berjilbab kaum jilbabers.
        Kaum jilbabers biasanya muncul dari sebuah komunitas pelajar Islam atau mereka yang menjadi aktivis di beberapa forum ke-Islaman. Tapi ada juga yang muncul dari salah satu partai politik yang berasaskan Islam. Sejauh ini, saya kira penampilan komunitas ini sesuai dengan syariat Islam, karena selain bentuk jilbab dan pakaian mereka yang longgar dan lebar, biasanya orang-orangnya mempunyai sifat yang sopan, religius, supel serta baik hati. Namun entah kenapa, justru orang-orang yang berpikiran negatif malah sering menghakimi mereka dengan sebutan so’ suci, teroris, norak atau bahkan kampungan.

Hijabers
         Muncul pada tahun 2010, komunitas yang dipelopori disainer muslim Dian Pelangi ini menamakan dirinya dengan istilah Hijabers Community (HC). Berbeda dengan kaum jilbabers, komunitas ini mengusung tema kreatifitas dalam penggunaan hijab. Tentu saja, karena komunitas ini lahir dari tangan-tangan para “Fashion Blogger”. Dengan begitu, jilbab pun dijadikan sebagai salah satu produk fashion yang tidak lagi terkesan norak, ekstrem atau kampungan. Dian Pelangi sebagai founder pun mulai mempopulerkan beragam gaya berjilbab dengan kreatifitasnya.
      Kemunculan komunitas ini ternyata memiliki dampak yang luas biasa bagi dunia per-jilbab-an di tanah air. Mulai dari para fashionista, selebritis, dan kaum wanita pada umumnya berbondong-bondong untuk memutuskan memakai jilbab dengan aneka gaya dan rupa. Jenis kerudung yang dikenakan identik dengan syawl atau pashmina. Kata “jilbab” pun dirubah penyebutannya dengan kata “hijab”. Akibatnya, banyak yang semula tidak berjilbab memilih untuk menutup kepalanya. Dan yang paling baru, banyak dari kalangan selebritis yang semula identik dengan keseksian serta keglamorannya ikut berhijrah untuk mengenakan hijab.
Nah, tapi dari sini dimulailah beragam kontroversi soal fenomena hijabers ini. Alih-alih menjalankan syariat Islam untuk menutup aurat, malah banyak dari mereka yang meniatkan dirinya berhijab karena ingin tampil lebih modis, dengan anggapan bahwa hijab kini tidak lagi terkesan “kampungan”. Akibatnya, banyak yang tampil setengah-setengah, alias berhijab tapi tidak menutup aurat. Atau berhijab, tapi tetap menonjolkan keseksian serta keglamoran. Bagaimana maksudnya? Secara kasat mata, jika dilihat dari segi penampilan banyak dari mereka yang berhijab tapi tidak menutup dada, memakai pakaian ketat, atau bahkan mengenakan celana pensil. Selain itu, tidak jarang dari mereka yang tidak segan mengumbar asmara dengan lawan jenis yang belum halal.
Berangkat dari fenomena ini, ada yang menilai postif tapi ada pula yang beranggapan negatif. Dari kalangan para disainer, masyarakat awam, serta para pebisnis pakaian, komunitas hijabers ini telah merubah cara pandang orang tentang jilbab. Jika dulu dianggap norak dan kampungan, kini terkesan modis dan stylish. Oleh karenanya, orang berhijab sekarang lebih banyak dari zaman dulu, karena paradigma mereka tentang jilbab yang kampungan itu telah berubah. Selain itu, dengan semakin beragam corak dan variasinya, mereka berharap bahwa kelak Indonesia menjadi kiblat fashion muslim dunia.
Meski demikian, banyak kalangan para ulama atau kaum jilbabers yang menyayangkannya. Karena bukannya menjadikan martabat kaum wanita terangkat dengan kemuliaannya, malah terkesan hedonis dan acuh terhadap kebenaran aturan dalam firman Allah. Kebanyakan dari mereka berkilah jika diingatkan atau dinasihati. Mereka selalu berkata “masih proses” jika orang mengingatkan untuk berhijab sesuai aturan yang Allah tetapkan. Tapi ternyata kalimat “masih proses” itu tidak terlihat sungguh-sungguh dalam menjemput hidayah Allah. Kebanyakan malah keasyikan dengan keadaannya sekarang, karena tak jarang yang mereka dapatkan adalah pujian serta sanjungan atas kreatifitas mereka dalam berhijab.
Terlepas dari beragam asumsi, justru komunitas ini kini semakin digemari dan membawa dampak yang signifikan dalam dunia bisnis dan perbukuan. Terbukti dari kebanyakan para anggotanya yang masing-masing memilih untuk memiliki line clothing sendiri. Selain itu, jika kita berkunjung ke toko buku, banyak buku yang termasuk best seller adalah buku-buku bergenre tutorial. Yaitu tutorial mengkreasikan kerudung dengan segala macam bentuk dan karakter.

Jilboobs
           Istilah jilboobs merupakan akronim dari kata jilbab dan boobs (payudara). Entah siapa penemunya, tapi yang pasti kemunculannya yang baru-baru ini meresahkan semua kalangan. Ciri khas dari komunitas ini adalah mereka yang mengenakan hijab transparan, tapi berpakaian ketat sehingga menonjolkan bagian dada. Tidak jarang mereka mengupload foto berhijab tapi memakai pakaian dengan lengan pendek serta celana jeans ketat. Komunitas ini dengan resmi membuat fans page di facebook dan secara berkala mengupload foto-foto serupa. Tidak tanggung-tanggung jumlah likers-nya mencapai 3000-an lebih. Sungguh ironis sekali. Saya kira komunitas seperti ini sudah merupakan sebuah penghinaan terhadap agama Islam. Karena dengan terang-terangan mereka mempermalukan agama dengan sengaja mempertontonkan bagian tubuhnya yang termasuk aurat. Saya benar-benar geram serta ingin segera fans page di facebook-nya diblokir.

Menyoal fenomena di atas, seakan kaum muslim di Indonesia tengah mencari jati diri ke-Islaman satu sama lain. Termasuk kedalam kelompok manakah diri ini, atau pantas tergolong kelompok manakah style yang saya tampilkan. Tentu hal ini dirasa tidak baik dan tidak kondusif bagi kaum muslim yang semestinya bersatu padu serta taat pada tuhannya yang satu, Allah SWt. Karena hal seperti ini hanya terjadi pada kaum wanita, sehingga tak jarang kaum pria seringkali mencemooh atau bahkan ikut prihatin, terutama pada orang-orang terdekatnya.
Perbedaan asas, corak serta pemikiran masing-masing kelompok menjadi bumerang tersendiri bagi kaum wanita muslim untuk tak henti-hentinya berdebat. Kaum jilbabers yang sederhana, serba tertutup dan syar’i merasa prihatin dengan kaum hijabers yang dengan kreatifitiasnya malah merujuk ke arah yang tidak Islami. Begitu juga kaum hijabers yang merasa terhina karena sebagian dari mereka yang seringkali diolok-olok sebagai “wanita jilboobs” lantaran kerudungnya tidak menutup dada.
Sedih? Iya. Marah? Mungkin tidak seharusnya kita sebagai ummat muslim bersikap antagonis. Jika Allah memerintahkan kita dalam firmannya untuk saling menasihati satu sama lain dalam kebaikan, itu sudah sepantasnya kita lakukan. Tapi bagaimana jika mereka yang dinasihati atau diingatkan malah membelot dengan dalih “pikirin aja diri lo sendiri, ngapain ngurusin orang. Emang lo udah sempurna!” tentu lain lagi. Tapi satu yang pasti, untuk saling menasihati satu sama lain dalam kebaikan, kita tidak perlu menjadi sempurna, karena tidak ada manusia yang sempurna selain Rasulullah. Jika begitu, sikap yang mesti kita ambil adalah kembali luruskan niat. Mari melapangkan dada dan membuka pikiran untuk menerima hal-hal positif dari orang yang berefek baik bagi diri sendiri. Tidak boleh saling menghujat satu sama lain, dan teruslah saling mendoakan agar kita kaum wanita bisa mendapat hidayah Allah untuk menjadi hamba-Nya yang lebih baik.[]
 

World Meet Baby

29 April 2014


         Rasa syukur dan senang luar biasa tengah menghinggapi rumah tangga kami. Rabu, 29 April 2014 bertepatan dengan ulang tahun Papa akhirnya Baby lahir ke dunia yang terang benderang. Sungguh kado terindah baik untuk Papa maupun saya. Bicara tentang tanggal lahir, saya pun lahir di tanggal 29. Sepertinya kami memang keluarga twenty niners ya…
            Hal menarik dari proses kelahiran Baby adalah perjuangan dan cobaan dari Allah untuk saya sebagai ibu juga baby. Betapa tidak, saya sempat khawatir ketika beberapa jam selepas ketuban pecah detak jantung baby malah semakin kencang, sedangkan saya semakin mulas. Jalan terakhir adalah operasi. Sontak saya terkejut dan sempat putus asa. Tapi Alhamdulillah keluarga senantiasa memberi dorongan dan semangat.
            Saya sempat merasakan dokter menyuntikan biusan di punggung sebelum akhirnya saya terbaring kaku. Sekitar enam dokter berkumpul di dekat badan saya hendak mengoperasi. Ingatan saya masih sadar, sampai baby diangkat dan saya mendengar jeritan tangisnya untuk pertama kali. Seorang dokter mengangkatnya dan menunjukannya ke depan mata saya. Antara sadar dan sedikit pusing saya mencoba tersenyum. Anakku, bayi laki-laki itu adalah anakku. Seluruh keluarga yang menunggu akhirnya berucap syukur dan lega. Terimakasih ya Allah melancarkan persalinan ini.

Menemani baby berjemur


Pasca Persalinan
            Sabar. Kata itu adalah kunci utama saat saya harus menghadapi masa pasca persalinan secara caesar. Memang saat operasi kita tidak merasa sakit atau apa. Tapi setelahnya sungguh masa-masa yang sulit dan perih. Hampir dua hari tidak bisa bangun atau bahkan berbaring menyamping. Untuk bisa duduk saja harus bertarung dengan rasa linu di perut yang luar biasa. Padahal ASI saya sudah keluar, dan baby menunggu disusui. Tapi demi kesehatan baby, saya paksakan untuk berusaha bangun dan menyusuinya.
            Tantangan lainnya adalah ketika setiap malam baby terbangun sejam sekali. Bisa dibayangkan saya harus bangun-tidur berulang-ulang dengan keadaan linu dan sakit di perut. Hingga sempat tekanan darah saya ngedrop. Belum lagi ketika siang hari baby banyak tidur sehingga ASI menumpuk dan menyebabkan demam di tubuh saya, sungguh cobaan yang luar biasa sakit. Tapi apa pun yang menyakitkan ternyata kalah dengan bahagianya hati ini menatap sang buah hati.   
            Kini segalanya telah berubah, hal-hal pahit yang dialami pasca persalinan telah berhasil saya lewati. Saatnya saya dan keluarga menjalani hari-hari baru yang lebih berwarna dengan kehadiran baby mungil ini. Terimakasih ya Allah, terimakasih Ibu, terimakasih Bapak, terimakasih papa sayang, terimakasih baby untuk cinta kasih tulus kalian. []



Welcoming My Baby Boy


Assalamu'alaikum...
Campur aduk sekali perasaan saya bulan ini. Kandungan saya sudah mau menginjak 9 bulan. Itu artinya semakin dekat dengan waktu kelahiran. Nah, perasaan campur aduk itu maksudnya antara senang,penasaran, tapi juga gugup dan takut. Maklum, kehamilan pertama, jadi masih belum punya pengalaman.

Untuk menyambut si baby ini, alhamdulillah beberapa waktu lalu saya dan papa sudah mempersiapkan segala keperluan. Mulai dari baju, popok, gurita, kain pernel, peralatan mandi, selimut, kain aisan, kasur, dll. Betapa antuasiasnya kami menyambut titipan Allah ini. Kadang suka senyum sendiri melihat barang-barang kecil yang menumpuk di kamar kami. Apa lagi lihat baju kodok hijau yang mungil, papa malah suka cekikikan menahan tawa. Kok lucu sekali ya. Ya ampun baby, we're here waiting for you, son :-)

Setelah periksa rutin tiap bulan ke dokter, alhamdulillah selama ini baby selalu ada dalam keadaan sehat. Cuma memang kadang kala Ibunya yang ririwit alias gampang sakit. Mungkin karena belum terbiasa. Tapi yang diharapkan tentunya nanti bisa melahirkan secara normal dengan lancar seperti apa yang diperkirakan dokter. Amin.

Dulu sempat minat ikutan senam Ibu hamil, tapi ternyata saya malah jadi malas dan memilih melakukan terapi sendiri di rumah. Cuma yang belum saya latih adalah olah pernafasan. Huh, mudah-mudahan kuat ya Allah. Dan alhamdulillahnya, karena saya sering terapi dan berkat kuasa Allah, posisi baby sekarang sudah sangat bagus, yaitu kepala di bawah dan kaki di atas. Hanya saja saya selalu merasa kesakitan di daerah perut sebelah kanan tepat di bawah tulang rusuk, kata dokter sih itu kebetulan bokongnya baby mendorong bagian isi perut yang ada di sana, jadinya linu. Nggak apa-apa sayang, yang penting kamu sehat deh :-)

Alright, finally mimi sama papa tak henti berdoa untuk keselamatan kita berdua. Semoga Allah memudahkan segalanya. Amin.[]

     warm regards,
Lena Sa'yati

Kuliah Kerja Nyata



Dulu pas nikah sempet mau nunda punya baby. Pertimbangannya banyak, dari mulai belum punya rumah sendiri, belum mantap mental, sampai alas an masih duduk di bangku kuliah. Dan yang paling saya inget adalah waktu itu pernah bilang ke suami kalau saya takut melahirkan pas KKN atau PPL. Inget banget!

Tapi dipikir-pikir ternyata kehidupan rumah tangga lumayan sepi ya tanpa buah hati. Akhirnya kami mencoba mantapkan hati dan bertawakal. Allah akhirnya memberi kepercayaan titipannya ini pada kami setelah hampir sepuluh bulan menikah. Alhamdulillah senang luar biasa.

Tapi ada yang lebih spesial!

Kira-kira apa coba? Yups, ternyata omongan saya di masa dulu comes true!

Saya akan melahirkan pas KKN!

That’s why kita harus jaga lisan. Bisa jadi apa yang  ditakutkan justru malah jadi ujian tersendiri buat kita. Finally saya harus tetap menjalaninya sepenuh hati. Minimal ikutan di awal-awal sebelum lahiran. Tapi yang jadi soal, kita kebagian KKN di tempat yang super jauh dari hiruk pikuk perkotaan, ditambah dengan kondisi infrastruktur yang masih minim. Contohnya; jalan yang garijlug! Jadi inget lagu dangdut yang  tentang kereta itu.

Jug gijag gijug gijag gijug, kereta berangkat….amboii ada-ada saja!

Saya ngeri sekali harus menahan perut yang ada baby-nya sekuat tenaga. Tapi insyaAllah ada papa yang mau nemenin. Tuh kan, Inna ma’al ‘usri yusra itu benar! Di dalam kesulitan pasti ada jalan kemudahan. Itu sudah keputusan Allah.

Peyorasi KKN

Berbicara KKN, meskipun akronim dan maknanya mulia, tetap saja kesininya jadi peyoratif. Banyak makna kotor yang disematkan buat singkatan itu. Mulai dari Kolusi Korupsi dan Nepotisme, Kulalang-Kuliling Nangkring, atau Kuliah Kerja Nihil, dlsb.
Cukup prihatin ya. Hiks.

Tapi saya akui memang KKN ini bisa dibilang kuliah yang sesungguhnya. Kita langsung terjun dan belajar secara nyata berdasarkan fakta di lapangan. Setelah sekian lama menjalankan sebagian dari Tri Darma Perguruan Tinggi ( Pendidikan/pengajaran, Penelitian, dan Pengabdian Masyarakat), akhirnya sampai juga pada tugas yang ketiga, yaitu mengabdi!

Sebelum hendak melaksanakn pengabdian masyarakat dalam bentuk KKN, sebenarnya saya sudah lebih dulu mengabdi buat lembaga pendidikan pondok pesantren di Condong. Tapi kan itu medannya para santri yang 24 jam berada dalam lingkungan akademik. Berbeda dengan KKN yang objeknya masyarakat secara general. Dari nenek, kakek, bapak, ibu, pemuda, pemudi, sampai anak-anak, semuanya menjadi ladang saya dan teman-teman mengabdi. Whoho, serasa beraaaat sekali beban ini. Mana kondisi sedang berbadan dua.
Tapi untuk menanggulangi itu, kampus memang sudah mempersiapkan bekal buat para mahasiswanya. Yaitu dengan adanya pembekalan KKN selama 3 hari berturut-turt dari tanggal 10-12 April 2014 dari pagi sampai sore non-stop (Cuma dijeda shalat aja).

Please, pemirsa!

Saya tahu niat kampus sangat mulia, tapi kondisi ini tak begitu mendukung ternyata. Kita dipaksa duduk berjam-jam menyimak pemateri dengan situasi aula yang panas dan fasilitas wc yang kurang (hehe). Saya hampir habis gaya. 
Beginilah suasana pembekalan

Lucunya, setiap pemateri selesai berpidato, lalu memberikan kesempatan mahasiswa untuk bertanya, justru kebanyakan audiens berharap tidak ada yang maju (sudah tahu kan alasannya kenapa). Yups, mereka sudah murka dengan pegalnya duduk dan panasnya udara. Jadilah ketika ada yang maju kedepan sudah pasti disoraki. Mahasiswa macam apa ini, hihi. Yaa intermezzo sejenak kan.

Bahkan ada kejadian getir yang super ngeselin!
Yaitu ketika waktu sudah menunjukan pukul 16.00 lebih, kita belum shalat ashar, dan tiba-tiba seorang mahasiswa maju kedepan. Dikira mau bertanya, terus ngapain?

Dia curcol!

Curcol tentang gaji mengajarnya di TPA, dan keluh kesah tentang hutangnya ke kampus. So sad, so touchy. Tapi karena orangnya alay, kita malah jadi nggak simpati. Well, memang cukup sedih sih ketika mendengar gaji yang diterima guru TPA hanya 20.000 sebulan. Cukup buat apa? Itu lah yang jadi keterbatasan dan kendala kemajuan TPA, salah satunya karena kurangnya SDM dan dana. PR kita bersama nih, cateeett!

Setelah pembekalan, lumayan banyak ilmu yang didapat, meskipun keseringan duduk di belakang (karena sering datang telat gara-gara naik kendaraannya rombongan, otomatis musti nungguin satu sama lain). Rencana keberangkatan KKN kita tanggal 21 April. Dan pelepasan tanggal 16 Juni (dua bulan pemirsah!). Semoga saya kuat, semoga segalanya lancar, semoga pengabdian kami pada masyarakat dapat bermanfat. Amin.
take a pose before leaving
Yes, aku ajak baby ngampus :-)

 Warm Regards,
Lena Sa'yati

Black meet Pink!

I was asked to help my sister's wedding ceremony in the village. there I served as the documentary of that. But why I own so narcissistic? hehe..



Bicara Kartini, Bicara Gender Equality


Lena Sa’yati


 
Saat duduk dibangku SD, seringkali kita menyanyikan lagu berikut,

Ibu kita Kartini,
Putri sejati
Putri Indonesia
Harum namanya

Ibu kita Kartini
Pendekar bangsa
Pendekar kaumnya
Untuk merdeka

Wahai Ibu kita Kartini
Putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya
Bagi Indonesia

Dulu kita hanya disuruh guru untuk menyanyikannya, tanpa diberi tahu dan tak mau tahu siapa itu Kartini? Mengapa sampai namanya dibuat menjadi lirik lagu kebangsaan? Mengapa sampai harus ada hari peringatan kelahirannya? Apakah yang telah dibuatnya lantas namanya menjadi sebuah gaung yang amat hebat dalam sejarah perempuan di Indonesia? Bahkan sampai di negri Kincir angin Belanda? Yang kita dan anak SD pada umumnya tahu, bahwa Kartini adalah seorang pahlawan bangsa. Itu saja.

                Raden Adjeng Kartini, atau biasa disebut Kartini, adalah seorang wanita pelopor kebangkitan perempuan di Indonesia, lantaran telah menciptakan image baru perempuan pada masa itu dengan pemikiran dan perjuangannya terhadap kaum perempuan pribumi.
 Pada masa penjajahan Belanda, kondisi sosial kaum perempuan amatlah memprihatinkan. Kartini yang merupakan seorang suku Jawa tahu betul bagaimana kaum perempuan saat itu diperlakukan. Terlepas dari adat yang mengharuskan seorang gadis berusia 12 tahun ke atas harus di pingit, dan ketika dewasa harus menikah dengan laki-laki yang sama sekali tak dikenal, pun pada masa itu, kaum perempuan mendapatkan perlakuan diskriminatif dalam bidang pendidikan dan kebebasan untuk memilih.
Kartini yang merupakan putri dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, seorang Bupati di Jepara, setidaknya pernah mengecap dunia pendidikan dengan bersekolah di ELS (Europese Lagere School) meski hanya sampai usia 12 tahun saja. Namun berangkat dari pendidikan yang diecapnya itu, Kartini lantas memiliki sebuah pandangan berbeda terhadap kaum perempuan yang saat itu mendapat perlakuan yang tidak pantas. Kaum perempuan yang ruang geraknya sempit, hanya menjadi kuncen rumah, dengan istilah hidupnya cukup di kasur, dapur, dan sumur, yakni melayani suami, memasak, dan mencuci saja.
Namun Kartinipun sadar, bahwa Ia merupakan bagian daripada kaum yang mendapat perlakuan diskriminatif tersebut. Yang juga dirinya mulai dipingit saat usianya menginjak 12 tahun. Maka, Kartini hanya bisa menuangkan segala uneg-uneg, harapan, ambisi, dan sikap protesnya lewat tulisan-tulisan yang kemudian semakin menumpuk hingga menjadi beberapa eksemplar buku.
                Tidak cukup hanya dengan terus-terusan menulis, Kartinipun akhirnya sering saling berkirim surat dengan sahabat penanya di Belanda. Kebanyakan tulisannya membahas tentang kondisi sosial kaum perempuan pribumi. Hal ini pula yang kemudian menjadikannya semakin dikenal di negri kincir angin itu, sampai namanya dipampang jelas di wilayah Amsterdam Zuidoost atau yang lebih dikenal dengan Bijlmer. Sempat pula pada saa itu Ia meminta izin pada ayahnya untuk melanjutkan jenjang pendidikannya, namun kandas lantaran Ia harus menikah dengan laki-laki pilihan orang tuanya.
                Dari pernikannya itu, justru Kartini mendapat dukungan penuh dari suaminya untuk mendirikan sekolah wanita. Hal ini yang membuat Kartini lantas tidak menyesal karena Ia gagal melanjutkan jenjang pendidikannya. Maka, dengan hadirnya Kartini ditengah-tengah kondisi sosial kaum perempuan yang amatlah rendah pada saat itu, yang sama sekali buta akan huruf, tidak pernah merasakan bagaimana dunia pendidikan, Ia seakan menjadi icon baru terhadap kebangkitan kaum perempuan pada masa itu, yang kemudian menjadi bias pada sebuah gerakan yang kita sering menyebutnya dengan gerakan EMANSIPASI.
                Kartini dan emansipasi atau kesetaraan gender, seakan menjadi sebuah magnet yang saling berkaitan erat. Kartni memang tidak mendeklarasikan bahwa dirinya seorang pelopor emansipasi, namun melihat perjuangannya membangkitkan kondisi kaum perempuan pribumi saat itu, menjadi alasan mengapa Ia disebut sebagai pelopor emansipasi.

Fenomena Gender Equality
                Emansipasi atau yang saat kini kaum intelektual lebih sering menyebutnya dengan gender equality ternyata menjadi seonggok isu yang tak pernah padam gaungnya di negeri ini bahkan sampai seantero dunia. Bukan lagi menyangkut Kartini, namun lebih pada sikap protes kaum perempuan yang ingin mendapatkan kesetaraan dengan kaum laki-laki. Beragam alasan yang melatarbelakangi mengapa sampai terjadi problematika antara ketidak selarasan hubungan kaum laki-laki dengan kaum perempuan ini. Dari mulai yang berasaskan kebebasan, pendapat ilmiah, sampai dendam sejarah.
                Tuntutan gender equality inipun semakin gencar dipublikasikan dan bahkan menjadi suatu kebijakan di negeri ini. Keharusan para anggota DPR yang 30% nya adalah kaum perempuan merupakan fakta riel di Indonesia. Kemudian, semakin gencar lagi, gerakan ini diterapkan dalam wacana akademik, seperti yang terjadi di salah satu Universitas Islam Negri yang membentuk Pusat Studi Wanita (PSW). Pun yang lebih dekat dengan lingkungan kita sehari-hari yaitu seorang Ibu yang memilih untuk menjadi wanita karir.
                Namun yang lebih ekstrim lagi, gender equality ini menjadi suatu problem yang semakin menjadikan seorang perempuan bersikap brutal, tak menerima kodrat, dan mulai bertindak macam-macam yang pada akhirnya dapat melanggar nilai-nilai masyarakat atau lebih jauh lagi melanggar nilai-nilai normatif agama, terutama agama islam, yakni Al-Quran dan hadist.
                Jika kita menengok jauh keluar sana, wacana gender equality ini menjadi sangat mengerikan bila kita mengenalnya lebih dalam. Protes para wanita di barat kini telah melahirkan sebuah gerakan yang disebut dengan gerakan feminism. Sebuah gerakan yang menuntut kesetaraan gender. Namun lebih dari pada itu, gerakan feminisme bukanlah sembarang gerakan yang dibentuk untuk memprotes dan menuntut. Gerakan ini telah melangakah jauh dengan membentuk suatu konsep, menyebarkan paham-pahamnya ke Negara-negara Islam, atau bahkan menjadikan kesetaraan gender sebagai neraca kemajuan.
                Amina Wadud yang merupakan seorang feminis liberal, juga seorang profesor Islamic Studies di Virginia Commonwealth University telah menggemparkan dunia dengan menyuguhkan fenomena ganjil yang kemudian mengundang kontroversi. Ia memimpin shalat jum’at di sebuah Gereja Katedral di Sundram Tagore Gallery 137 Street, New York. Ia menjadi imam sekaligus khatib dalam shalat jum’at yang pada saat itu jamaahnya mencapai 100 orang, mencakup laki-laki dan perempuan.
                Kemudian pada tahun 2003, sekelompok aktivis dan ulama yang tergabung dalam Forum kajian Kitab Kuning telah menerbitkan buku bertajuk “Wajah Baru Relasi Suami Istri: Telaah kitab ‘Uqud Al-Lujayn” yang juga memperjuangkan gender equality. Namun yang disayangkan, mereka menolak segala macam hukum yang dianggapnya diskriminatif terhadap kaum perempuan. QS 4:34, pun mereka artikan dengan penafsiran baru lagi. Bahwa ‘kelebihan’ yang dimaksud disana itu bukanlah kelebihan yang bersifat natural, namun lebih pada prestasi yang mampu dicapai.
                Ada pula upaya perombakan hukum-hukum islam sebagaimana dilakukan para kaum gender yang tergabung dalam PSW (Pusat Studi Wanita) dengan bukunya Isu-isu Gender dalam Kurikulum Pendidikan Dasar. Persoalan seperti mengapa adzan harus dilakukan oleh laki-laki, mengapa shaf wanita harus di belakang, sampai usrusan rumah tanggapun ikut dibahas dalam buku ini. Yang sangat mencolok sekali, mereka menggugat fitrah kodrati yang telah diberikan Allah pada kaum perempuan. Seperti, menyusui anak sebenarnya tidak mesti dilakukan oleh perempuan. Perempuan cukup mengandung dan melahirkan saja, selebihnya adalah tugas suami. Dan lain-lain.
                Dan yang lebih mengerikan, kaum feminis radikal lebih menyoal pembagian hak keadilan terkait alat reproduksi wanita dan laki-laki beserta tanggung jawab seksual yang mereka kira tidak adil. Wanita diposisikan sebagai alat pemuas laki-laki, maka dengan tanpa malu, pendukung feminis radikal ini mendeklarasikan bahwa perempuan bisa memenuhi kebutuhan seksnya tanpa laki-laki. Yang kemudian menjadi ide awal yang melahirkan praktek seks menyimpang yang disebut dengan lesbianisme di Barat.  
                Cukup membuat bergidik memang saat kita mengetahui beberapa kasus di atas. Namun yang lebih mengherankan lagi adalah, bahwa kaum gender di Barat dengan gencarnya menyebarkan paham-paham feminism dan gender ke Negara-negara yang mayoritas penduduknya Islam. Termasuk di Indonesia sendiri, kini sudah banyak yang mendukung paham feminism. Sehingga tak ayal pemberontakan menuntut kesetaraan gender di negeri inipun kian hari kian menjamur. Yang salah satu bentuk rielnya kemudian melahirkan kebijakan bahwa 30% anggota legislatif harus perempuan.

Meluruskan pandangan terhadap Tuntutan Gender Equality
                Fenomena gender equality yang kini kita temui memang sudah menyimpang jauh sekali dari tuntutan kesetaraan gender yang Ibu Kartini perjuangkan dulu. Kartini dulu hanya ingin kaum perempuan mendapatkan posisi dan perlakuan yang patut dari hanya sebatas kuncen rumah saja dengan tidak sama sekali mengecap bangku sekolah. Namun Kartini masa kini adalah para perempuan yang menjual ‘emansipasi’ dengan tujuan komersial dan berlandaskan rasa kebencian terhadap lawan jenisnya. Evolusi yang terjadi dari masa Kartini hingga sekarang ternyata malah menjadikan kaum perempuan kembali menjadi obyek kajian yang mungkin lama-kelamaan bisa jadi disamakan dengan jaman dahulu, atau bisa pula menjadi amat brutal dan semakin tak terkendali.
                Maka dari pada itu, patut rasanya bila kita terutama kaum perempuan sedikit merenung atas apa yang menimpa kondisi sosial kaum perempuan pada masa sekarang dengan menelisik lebih dalam apa hakikat seorang perempuan? Bagaimana batas-batas kewajaran ruang gerak perempuan sampai terbentuk dalam lingkungan sosial? Dan mengkaji lebih dalam lagi dua guidelines umat islam yakni Al-Quran dan Hadist yang sudah pasti menjadi sumber dari segala hukum yang berlaku bagi kita selaku umat islam.

                Barat sebagai pencetus konsep-konsep, paham serta sebuah gerakan yang dinamakan feminism seakan menjadi icon yang sangat manjur untuk menyokong adanya kesetaraan gender terutama di negeri kita. Namun jangan sampai disamakan, walau bagaimanapun barat dengan kita adalah berbeda. Barat yang sudah sekuler-liberal, hingga agama sudah tidak lagi memiliki kekuatan apa-apa dalam menangani problem kesetaraan gender ataupun prilaku seksual masyarakat yang sudah sangat menyimpang dan liberal, tentu menjadi alasan mengapa gaung penyokong feminis masih eksis berdiri di sana. Namun lihatlah diri kita, kita yang mayoritas agamanya muslim sedunia, kita yang menjunjung tinggi agama dan menjadikannya panji kehidupan, kita yang memiliki sumber segala hukum dengan kedua nilai-nilai normatif agama, kita yang mengenal sosok Ibu Kartini dengan perjuangannya yang tidak pula melupakan fitrah kodrati dan jasmani dirinya sebagai seorang perempuan, jelas tidak akan berhasil bila gerakan feminism ini tetap bersih kukuh maju.
                Emansipasi atau gender equality bukanlah alasan agar kaum perempuan yang semula merasa dirinya dibatasi ruang geraknya baik dalam media masa atau domestik, kemudian ingin posisinya setara layaknya seorang pria, yang kemudian perempuanpun tetap bisa menjadi ikut andil dalam berbagai bidang, dari mulai pendidikan, media masa, ekonomi, rumah tangga, karir, sampai politik. Kaum perempuan harus sadar diri, dari awal penciptaanya saja sudah tidak sempurna, yakni dari tulang rusuk seorang laki-laki. Kalaupun menuntut kesetaraan gender, perempuan hanya bisa menjadi sejajar dengan laki-laki, dan bukan sepenuhnya menjadi tipologi laki-laki.
 Walau bagaimanapun baik laki-laki maupun perempuan, keduanya telah dianugrahi kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Laki-laki yang dianugrahi akal dan kekuatan lebih matang menjadikannya wajib menjadi tulang punggung sehingga menciptakan konstruksi sosial bahwa laki-laki harus berada di luar (mencari nafkah). Dan perempuan dengan dianugrahi perasaan yang lebih peka ketimbang laki-laki menjadikannya patut untuk membina anak-anak dan kaumnya dengan kelembutan dan halus perasaan hingga membentuk konstruksi sosial bahwa perempuan harus berada di dalam rumah (mengurus anak dan suami). Dan kedua hal tersebut, tidak lantas menjadi sebuah bentuk diskriminatif terhadap kaum perempuan. Dalam batasnya, perempuan tetap wajib mengecap dunia pendidikan, dan diperbolehkan untuk menentukan pilihan. Bukankah begini akan lebih indah, selaras dan damai. Semua kembali pada fitrahnya masing-masing.
Maka, ketika kaum gender mengatakan bahwa menyusui anak tidak mesti dilakukan oleh perempuan, hal ini telah menyalahi kodratnya bahwa seorang perempuan telah dianugrahi dua payudara untuk menyusui anak-anaknya. Bahkan dari segi medispun sudah bisa membuktikan sendiri bahwa air susu ibu memiliki efek yang sangat baik bagi si anak.
Kemudian penyokong kaum feminis radikal yang mendeklarasikan prilaku seks menyimpang lesbian dengan alasan bahwa tanpa laki-laki perempuan tetap bisa memenuhi kebutuhan seksualnya, ini sungguh perbuatan yang sangat dilaknat. Bila semua perempuan menganut paham ini, lantas bagaimana generasi-generasi penerus umat lahir? Ini sama saja dengan sikap takabur juga penentangan terang-terangan terhadap hukum terutama Islam yang memerintahkan laki-laki dan perempuan untuk menikah agar melahirkan kembali generasi-generasi penerus umat.
Atau tuntutan bahwa seorang perempuan mampu menjadi tulang punggung keluarga, dengan menjadi seorang wanita karir. Jangankan di Barat yang sistem tatanan hidupnya sudah sekuler dan liberal, di Indonesia tidak terhitung banyaknya perempuan-perempuan yang meskipun suaminya masih dapat mencari nafkah dengan baik, tetap memilih untuk menjadi wanita karir dengan alasan emansipasi. Namun tanpa disadari, lambat laun perempuanpun akan sadar, bahwa dirinya mempunyai tugas lain yang sudah menjadi konstruksi sosial yakni mengurus anak dan pekerjaan rumah. Tak dapat dipungkiri, rumah tanggapun akan terganggu keharmonisannya. Maka tak ayal baik di Barat maupun di negeri ini, seorang perempuan dewasa dibingungkan oleh dua pilihan: menjadi wanita karir, atau mengurus rumah tangga. Karena sangat kecil sekali peluang untuk hidup harmonis bila tetap bersikukuh ingin memilih dua-duanya.
Kedua hal di atas harusnya menjadi bahan renungan kita untuk berpikir ulang tentang makna emansipasi atau gender equality yang sebenarnya. Perbedaan natural yang terbentuk dari laki-laki dan perempuan dengan berbeda penciptaan sampai perbedaan alat reproduksi, juga perbedaan-perbedaan lain yang tercipta dari adanya hukum-hukum dan nilai-nilai dalam masyarakat semestinya tidak lantas menjadikan kedua makhluk tersebut saling beradu kekuatan. Perbedaan adalah rahmat, dan bukankah itu indah. Tanpa perbedaan dunia terasa hambar, datar, tidak ada warna lain kecuali putih atau hitam. Yang harusnya terbentuk dari perbedaan itu adalah sikap saling menghargai dan menghormati satu sama lain, bukan saling menuntut dan saling menjatuhkan.
Jika hal tersebut benar-benar teraplikasi dengan baik, Kartinipun akan tersenyum melihatnya. Perempuan  bukan hanya mendapat hak-haknya, tapi juga memeperoleh kemanusiaannya, namun tetap tidak melupakan fitrahnya sebagai makhluk yang di anugrahi perasaan, dan juga tidak melangkah jauh dari pemahaman emansipasi yang sesungguhnya. Hingga menciptakan sebuah keselarasan dimana laki-laki dan perempuan saling menghormati, saling mensupport, dan saling menyayangi. 



Notes     : Saat menulis catatan ini, saya tahu saya ini makhluk apa, dan saya sadar bahwa saya 100% seorang wanita!