Merah Putih Berkibar di Condong

Tanggal 17 Agustus tahun ini, hari peringatan kemerdekaan RI kembali ramai. Tahun kemarin sempat bertabrakan dengan bulan puasa, sehingga banyak kegiatan 17-an menjadi kurang meriah. Di Islamic Boarding School tempat saya mengajar juga terlihat lebih meriah, acaranya bahkan sampai sore pula. Tapi yang penting, semoga semangat yang mereka nyalakan pada hari itu sebanding dengan esensi semangat kemerdekaan negara Indonesia 68 tahun yang lalu ya. Baiklah, ini dia beberapa foto yang sempat saya ambil dari balkon rumah.

Pasukan Upacara
Pengibar Bendera
Paduan Suara
Pengibaran Bendera Merah Putih
Amanat Pembina Upacara
merah putih siap mengibarkan semangat 45
salah satu keseruan berbagai game




















Mudik Salopa





Seperti halnya kebanyakan perantau yang lain, saya pun ternyata harus melakukan sebuah tradisi yang disebut “mudik”. Bagi negara yang mayoritas penduduknya muslim, dan termasuk dalam kategori negara berkembang, tradisi mudik memang akan selalu ada. Tapi melihat pemudik di Indonesia yang begitu gencar, rasanya cuma kita satu-satunya di dunia yang paling dominan. Memang benar, seperti prinsip Ibnu Khaldun, jika sulit berkembang di kampung, ya merantau. Begitu pun yang terjadi di negara kita. Kebanyakan daerah pedalaman belum bisa menjadi daerah otonom, warga nya pun terpaksa harus mencari usaha yang lebih menjanjikan di Kota.
Bisa dibilang saya adalah warga kampung di daerah pedalaman Kabupaten tasikmalaya Selatan, Salopa. Sejak SMP merantau ke Kota yang juga masih Kota Tasik. Bedanya, dulu saya bertujuan untuk menuntut ilmu di Pesantren yang menyediakan Boarding School, tapi kini saya benar-benar tinggal dan menjadi warga sana karena ikut suami. Otomatis, mata pencaharian saya pun disesuaikan dengan lokasi, yakni di Kota. Kalau sudah begitu, kampung Salopa menjadi tanah kelahiran yang harus saya tinggalkan tapi bukan untuk dilupakan.
Lebaran kali ini, saya pun mencoba menjalani ritual tahunan penduduk muslim Indonesia, yakni mudik. Tapi mengingat jarak dari tempat tinggal saya sekarang dan Kampung salopa hanya memakan waktu 1,5 jam, apa iya bisa dikatakan mudik? Kembali ke akar kata, mudik kan artinya pulang ke kampung halaman. Berasal dari kata “udik” yang konotasinya merupakan kata kerja (ciee guru bahasa Indonesia muncul). Jadi sebenarnya, tidak terbatas pada tradisi saat lebaran, asal pulang ke kampung halaman, ya itu bisa dikatakan mudik. Hanya saja kata mudik memang baku digunakan pada saat lebaran, tidak apa-apa.
Ada yang menarik dari mudik saya kali ini adalah kenakalan kreatifitas diri untuk mengekspos seluk beluk kampung salopa. Saya mencoba membuat video dokumenter yang “lumayan”, hehe. Selain itu, mengunjungi keluarga, dan tempat wisata. Wah, memang di salopa ada tempat wisata. Eits, jangan salah, bagi anda yang kenal Panji si Petualang pasti pernah nonton dia syuting di sebuah air terjun yang bernama curug Cimanintin. Ya itu di salopa!
Kalau saya abandingin Ubud, atau Kintamai di Bali, sepertinya hanya beda tipis. Bedanya adalah akses jalan yang lumayan parah. Sentuhan pemprov Kabupaten Tasik belum sampai ke daerah kami. Insfrastruktur berupa jalan raya masih sangat hancur, terdiri dari bebatuan besar, dan bekas aspal tahun lampau yang mengelupas parah. Mirip dengan sungai tanpa air!
Tapi semua itu bisa terbayar dengan pemandangan yang bisa dilihat dan ditafakuri. Pegunungan serasa dekat, jalan yang diapit pepohonan karet, beberapa sungai besar yang membentang, sawah hijau dan juga air terjun yang menyejukan. Kalau pun butuh tempat hang-out dan juga lapar, bisa pilih mengunjungi rumah makan danau Lemona. Indah dan nyaman. Hanya saja jika berniat naik angkutan umum, ya kita musti sabar, karena bentuk angkutannya berupa mini bus yang datang satu jam sekali. Weh weh. Makanya saya dan suami memilih naik motor. Bawa mobil yang dirumah pun tidak tega, masa sedan disuruh jalan di atas bebatuan tajam, ckck.
Alright, tidak afdol ya kalau saya terus bicara mengenai pesona (ceila pesona) Salopa kalau belum kasih foto-fotonya. These are some photos of my beloved Village Salopa.

Lapar? Ke Rumah Makan Danau Lemona yuk!
Bisa naik sampan juga lho!
Lilbro Sandi berfoto di jalan yang diapit pohon-pohon karet
Pegunungan dan sawah yang warnanya hampir menyerupai baju saya :)
Curug Cimanintin, yang sempat jadi lokasi syuting Panji Sang Petualang.
Kalau air terjun sedang pasang, saya belum tentu bisa sedekat ini :)
Sista Dini merasakan kesejukan berdekatan dengan air terjun.
Mau coba jadi tarzan? Bisa! :)
Siluet!
Finally home. My beloved home :)

And Family, minus Syehdi and Sandi.

Warm Regards,        
Lena Sa'yati

Apa Kabar Kota Santri?


ilustrasi pusat perbelanjaan di Tasikmalaya

Hari ke-5 pasca lebaran, sambil nunggu dokter buka praktek untuk jam sore, saya dan suami tidak sengaja mampir ke mall Asia Plaza Tasikmalaya. Tadinya mau makan sebentar terus baca-baca buku di Gramed. Ternyata eh ternyata, mall ini sesak sekali dengan kerumunan manusia. Bisa saya pastikan, 80% nya adalah remaja alias pelajar. Waduh, saya kira udah pada masuk sekolah, ternyata masih pada liburan aja.
Perut semakin keroncongan, kita beranjak ke food court, tapi faktanya tidak ada satupun kursi yang bisa kami duduki. Penuh sepenuh-penuhnya. Kanan, kiri, depan, belakang, hampir semuanya anak ABG. Bingung juga harus bagaimana, tapi akhirnya pesan makan juga. Beruntung ada meja kosong yang baru saja ditinggal orang. Tidak menyangka, ternyata saya banyak menemui murid-murid saya yang juga sedang berlibur di sana. Alhamdulillah mereka baik dan mau menyapa. Tapi yang membuat saya gelisah adalah keramaian yang tidak terhitung ini.
Bisa dikatakan, mall pertama kali yang dibangun di Kota Tasik adalah Mayasari Plaza yang terdiri dari 3 lantai. Awalnya banyak warga yang hilir mudik di sana. Tapi kemudian masih belum puas dengan fasilitas dari mall yang ada, berdirilah Asia Plaza yang lebih besar dengan fasilitas lebih lengkap. Hasilnya? Sudah pasti manusia numplek di sana. Bagaimana tidak, dari mulai kebutuhan liburan keluarga, hiburan, life style, sampai bioskop 21 ada semua. Kini hadir pula mall Ramayana, yang jaraknya berdekatan. Namun bisa kita lihat bedanya, karena fasilitas yang juga masih belum selengkap Asia Plaza, jadilah mall ini tak begitu ramai. Terus satu lagi, kini juga tengah dibangun proyek di perempatan Cisumur, tempat pusat perbelanjaan yang juga ikut meramaikan Tasik.
Antara gelisah dan cukup senang, kebutuhan hidup bisa lebih terpenuhi, namun jika lama-lama kompetisi kaum kapitalis ini menjadi bola liar, Tasik yang “katanya” Kota Santri mau dikemanakan? Apa mungkin nantinya mall penuh dengan orang bersarung dan berkerudung? Apa iya malam jum’at mall lebih penuh dari masjid dan madrasah? Apa benar kemacetan Tasik dan pola hidup warganya akan berubah menjadi lebih konsumtif dan tak terpecahkan. Lalu, apa kabar Kota Santri?
Tidak usah berlarut-larut, sudah pasti semuanya bisa ditebak. Akan bagaimana klimaksnya, dan bagaimana pula endingnya. Harapan saya, semoga Tasik meliputi warga dan pemerintahannya bisa lebih bijak sekaligus arif menyikapi masa yang akan datang.[]

Warm Regards,          
Lena Sa'yati
 

The Super Impresive Bali #2 (The End)




Sambungan dari tulisan sebelumnya yang bisa kamu baca di sini. Sekarang saya mau meneruskan perjalanan dari duapena di Bali yang sempet tertunda karena kesibukan. Well, hari kedua, kita banyak menghabiskan waktu dengan mengunjungi tempat-tempat religius plus pemandangan alam gitu. Pokoknya lebih bermakna, ciela bermakna!
Sebelumnya, pas malam kita sempet nonton pertunjukan teater gitu plus atraksi sulapnya yang juga memukau di Teater Kuta. Yang bikin saya salut itu, penarinya mahir nari segala macam tarian. Dari mulai tari khas Bali, modern sampai yang kebarat-baratan mirip film step-up dia bisa. Keren kan? Makanya kita sempetin foto penarinya dulu, hihi. 

Bersama salah satu penari
Magiciannya kayak serem padahal kocak 
When the world gets dark, the beauty starts (arturo illusion)
Mengawali hari kedua, kita malah nemu trouble. Jadi saya dan suami sudah sewa mobil untuk berangkat ke beberapa tempat dari mulai pukul 08.00 (memperkirakan jarak tempat wisata jauh) dari hotel, ternyata eh ternyata, pak sopir yang mau jemput kita malah nyasar ke daerah Legian bukan ke hotel kita. Yaah, penonton kecewa, kita pun sama. Alhasil, karena kesal sudah nunggu dari jam 08.00 sampai jam 10.30, suami saya langsung nge-cancel sewa mobil itu. Kita mikir ulang, kira-kira perjalanan kita mau diterusin kemana, apa harus sewa mobil lagi.


Sempet bingung juga sih, jalan tanpa tujuan gitu keliling kota. Tapi saya pikir malah akan membuang-buang waktu kami yang singkat di Bali. So, kita minta bantuan sama resepsionis hotel buat sewa mobil lagi, dan berhasil! Jam 11.00 kitalangsung berangkat menuju tempat pembuatan batik dan tenun Bali. Setelah tanya-tanya sama pengrajinnya, kok saya jadi salut gitu ya. Satu kain batik itu pengerjaannya bisa sampai 3-5 hari, dan itu melalui sekitar 7 proses. Dari mulai pola gambar sederhana, dilapisi lilin, dan seterusnya (saya lupa lagi). Oh iya, tenun khas Bali juga nggak kalah memukau. Tapi proses pengerjaannya memang masih sangat sederhana.

Pengrajin Batik
Alat-alat untuk membatik
Tenun Bali
Tidak lama mengunjungi galeri batik, kita langsung berangkat ke Ubud. Banyak Bule yang norak deh, masa sampai turun ke sawah demi berfoto. Padahal sawahnya lagi kering, pokoknya nggak ada indah-indahnya. Padahal kalo sawah yang lebih indah sih banyak di kampung saya, hehe (promosi). Di Ubud kita sempet mampir ke galeri lukisan. Banyak lukisan yang bikin serem deh, jadi, mengeksplorasi tubuh kaum hawa gitu. Saya nutupin mata suami dia ngintip mulu, astagfirullah (becanda). Kita nggak niat beli sih, saya pribadi kurang interest sama lukisan, sukanya sama fotografi. Pas tanya-tanya sama penjualnya, harga paling mahal dari lukisan yang ada di sana dibandrol seharga 36 juta. Mantap kan. Tapi paling murah, ada juga yang cuma 100 ribuan. Di Bali memang gerbongnya para seniman. Seni pahat, seni tari, seni lukis, komplit pokoknya.
Well, jalan semakin ke atas dan mulai menanjak. Ternyata kita memang akan naik gunung untuk mengunjungi Kintamani! Iiih suka deh sama tempat wisata satu ini. Berasa damai gitu, udaranya yang dingin, pemandangan yang amazing, gunung dan danaunya perfect pokoknya. Subhanallah ya, saya tak henti mentafakuri keindahan alam ini. Oh iya, untuk ke Kintamani, kita perlu bayar tiket masuk seharga 15.000 rupiah/org (untuk turis domestik).
Sebenarnya saat itu kita nggak ngerasa begitu lapar, tapi akhirnya makan juga di resto yang deket tebing. Makanannya? Karena nggak tercantum lebel halal, kita jadi pilih makan sayuran aja. Tapi untungnya dessert nya aduhai, enak alhamdulillah. Tapi memang karena kita sampai udah agak sore, alhasil restomau tutup dan kita adalah tamu terakhir! Tapi dari sana kita bisa memandangi keindahan gunung dan danau Kintamani. Waiters nya juga ramah, kita malah ditawari untuk foto berdua sama dia. So sweet ya.

Kintamani
Disangka orang Malaysia karena papa pake baju Langkawi, hihi
Satu lagi tempat wisata yang kita kunjungi sebelum magrib. Yakni tampak siring! Uniknya di sebelah atas tempat peribadatan ini terdapat villa yang dulunya dipakai Presiden pertama RI, yup Pak Soekarno. Villa nya masih oke punya, dan katanya kadang suka open house juga buat umum. Sayang pas kita kesana gerbangnya masih digembok.

Istana presiden
 Well, ada kejadian yang aneh sewaktu kami mengunjungi tempat ini. Dalam papan pengumuman, peraturannya tidak boleh masuk bagi wanita yang sedang haid. Kebetulan saat itu saya sedang datang bulan, tapi suami maksa saya buat masuk. Alhasil? Tiba-tiba saya mual, pusing bukan main dan hampir pingsan. Lalu suami panik dan langsung membawa saya keluar tempat peribadatan. Anehnya, saya langsung sembuh dan baik-baik aja. Nggak tahu sih ya gimana caranya bisa kayak gitu, hanya Allah yang tahu. Tapi satu yang pasti, saat kita masuk kedalam satu tempat, minimal hormati peraturan atau hukum yang ada. Inilah hikmah yang saya ambil dari kejadian itu.



berasa prewed ckck
The rules are...
Ada satu tempat khusus di tampak siring yang biasa dipakai orang untuk mandi secara bersamaan (tapi pake baju kok). Cuma memang peraturannya kalau masuk harus memakai sarung gitu. Katanya, air di sana dipercaya orang sekitar merupakan air suci yang multimanfaat. Selain itu, ada juga tempat untuk bertapa bagi umat hindu untuk beribadah. Terus yang unik dan khas banget yaitu banyaknya sesajen yang diletakan disamping kolam pemandian, dan siapa saja boleh menyimpan uang berapapun nilainya, semacam sedekah gitu. Terus saya gimana? Lah saya kan muslim, jadi maaf nggak bisa ikut yang begituan. Saya cukup tahu saja. Senang rasanya bisa mengenal lebih dekat budaya dan tradisi orang yang berbeda dengan kita.

Pemandian tirta empul
Father and Son
Sesajen hindu (Yadna)
Berakhirlah hari kedua di Bali. Back to hotel, mandi, selonjoran berdua sambil nonton TV terus ketiduran. Capek tapi seneng ya.

Hari ketiga!
            Masih seperti hari kedua, yang kita kunjungi di hari ketiga adalah tempat peribadatan (pura) dan pemandangan alam. Pilihan pertama adalah Taman Ayun Mengwi. Guess what? masyaAllah, tempatnya super rapi, bersih dan nyaman. Ada danau, padang rumput, dan pura yang mirip pagoda. Terpukau sekali saya di sini. Terutama bentuk pura nya yang mirip pagoda nya orang cina.  

Pura Taman Ayun Mengwi
Behind pura
Cukup lama di pura Taman Ayun Mengwi, sampai ada orang jerman yang minat motoin kita berdua, kita pindah tempat ke suasana alam yang lebih dingin. Yaitu Danu Beratan Bedugul. Ini terkenal sekali. Karena uniknya, puranya berada di atas danau. Tiket masuknya jangan lupa, 20.000,- aja.

Pura Danu Beratan Bedugul
 Berangkat dari bedugul, kita mampir ke tempat yang masih belum jauh dari situ, yakni Eka Karya Botanical Garden. Mungkin kalau di Bogor semacam Kebun Raya atau Cibodas. Sama-sama indah dan menenangkan. Cocok deh buat piknik. Tiketnya Cuma 10.000,- aja kok. Jalan-jalannya jangan pake kaki, tapi pake mobil ya, karena lokasinya super luas, pasti capek kalau jalan kaki.
            Di sini kita maen ke koleksi kaktus, anggrek dan guling-guling di padang rumput samping danau (hehe nggak deh). Sempet bikin kompetisi sama papa, siapa yang angel fotonya paling keren, tapi kayaknya saya yang menang deh, hehe.

Eka Karya Botanical Garden
Cactus Collection
Koleksi Anggrek 
Aha, hari ketiga usai, besoknya adalah hari terakhir kami di Bali. Tapi tidak banyak yang kami lakukan di hari terakhir, karena jam 12 kita harus sudah check out. Well, kita Cuma mau perpisahan sama pantai Kuta. Jadi ya menikmati pantai saja sebelum pulang. Papa sempet kegoda buat berenang sih, tapi mikir dua kali karena takut nggak keburu.

See You Kutaaa

Alhamdulillah, serunya liburan di tempat super mengesankan ini. Indonesia mantep deh punya destinasi wisata yang super komplit kayak Bali. Kalian yang belum pernah kesana, dicoba ya, dijamin ngangenin! 

Warm Regards!       
Lena Sa'yati