FENOMENA PEKAN LITERASI PELAJAR 2011


Oleh    : Lena sa’yati, Pengurus Komunitas Matapena Rayon tasikmalaya
http://www.lenasayati.blogspot.com


Hmmm....mungkin saya cukup telat untuk menuangkan hal yang akan saya paparkan ini dalam sebuah tulisan. Bukan karena malas, ataupun sedang tidak mood, haha padahal sama saja ya. Tapi karena berbagai faktor, terutama fisik dan si iyoo (laptop saya) mengalami berbagai kendala. Saya baru fit kembali beberapa hari yang lalu setelah Allah menguji saya dengan rasa pusing yang cukup dahsyat, disamping itu laptop saya bertamasya kesana-kemari mengikuti tuan barunya (peminjam) yang cukup lama juga waktu peminjamannya. Dan hingga pada akhirnya, saya saaaaaaaangat kangen sekali dengan aktivitas saya ini, apa lagi kalau bukan ‘menulis’. Kok rasanya ada yang hilang bila dalam seminggu ini saya tidak meluangkan waktu untuk menulis, serasa ada beban batin bila belum ada satu tulisanpun yang saya buat, makanya untuk menebus semua rasa itu, saya kembali menulis dengan sepenuh hati dan segenap rasa cinta yang menyesaki setiap deretan kata-kata dalam tulisan ini. J
            Baiklah, saya start saja dari sini ya. Sebenarnya saya hanya ingin meng-ekspos fenomena yang terjadi dibalik acara cukup hebring yang kami selenggarakan seminggu yang lalu. Pekan Literasi Pelajar 2011, itulah nama acaranya. Hmmm...dari namanya saja sudah tercium aroma bolpoin yang khas dengan basahnya tinta, dan buku dengan lembaran-lembaran kertas putihnya,  acara ini memang berkaitan erat dengan dunia baca tulis (Literasi). Tapi biarkanlah saya bercuap-cuap dulu untuk sekedar berbagi seputar tulis-menulis di kalangan perempuan. Kenapa harus perempuan? Pertama, karena saya sendiri seorang perempuan. Kedua, karena dunia tulis dikalangan perempuan masih sangat dini dan cukup tabu. Ketiga, karena ternyata dari menulis, perempuan mampu menunjukan emansipasinya. Baiklah, sekarang saya akan mulai mengobrol tentang hal tadi dengan teman-teman semua. Saya sarankan anda baiknya ditemani teh sariwangi hangat, biar suasana ngobronya jadi lebih hangat pula. J
            Dalam acara Pekan Literasi Pelajar 2011, atau kami menyingkatnya dengan PLP, ada tiga rangkaian acara yang digelar. Diantaranya, 1)Launching Buku Santri “Hidup sekali, Hiduplah yang berarti”, 2) Sarasehan Sastra bersama Dewan Pengawas Forum Lingkar Pena (FLP) Pusat, dan yang ke 3) Journalists Go to School bersama H.U Pikiran Rakyat Bandung.
            Pada saat Launching Buku Santri “Hidup Sekali Hiduplah yang berarti” , ada yang menggelitik dihati salah satu pembicara kami pada waktu itu, mengapa yang membedah buku tersebut dua-duanya perempuan? Yakni saya dan Minna. Kemudian selanjutnya beliau kembali bertanya-tanya selepas saya memanggil para penulisnya ke atas panggung untuk mempresentasikan tulisan-tulisan mereka, kok penulisnya perempuan semua? Kemudian saya menyunggingkan seulas senyuman. Maksudnya apa?

 Setidaknya, beginilah saya tersenyum saat melihat antusias para peserta terhadap acara ini 
            Saya mengurus sebuah komunitas kepenulisan di Ponpes Condong yang baru berdiri dua tahun, yakni komunitas Matapena. Semula semua anggotanya adalah perempuan, kemudian bertambah segelintir anggota dari ikhwannya. Saya terpecut ketika mengetahui bahwa pendiri komunitas kepenulisan terbesar se-Indonesia yaitu Forum Lingkar Pena, adalah didirikan oleh sekelompok perempuan. Tentu kita tak asing dengan nama sekaliber Helvy Tiana Rosa, dan Asma Nadia. Begitu produktifnya kedua penulis perempuan ini, apalagi keduanya konsen dengan tulisan berlabel islami, membuat saya terkagum-kagum bahwa perempuan mampu membuat sesuatu yang besar bahkan dalam kapasitas yang cukup luas sekalipun.
             
Lalu menilik lebih jauh lagi pada tahun 1911 yang merupakan kali pertama seorang perempuan warga Indonesia yakni R.A. Kartini menerbitkan bukunya “ Dari Kegelapan Menuju Cahaya” atau dalam versi melayunya “ Habis Gelap, Terbitlah Terang” yang saat itu dicetak sampai lima kali cetakan, adalah fenomena baru dalam dunia perempuan di negri ini yang pada saat itu para perempuan kita tidak sama sekali mengenal huruf, dan lebih memilih hidup sebagai perempuan rumahan saja dengan seabreg aktifitas sebagai Ibu rumah tangga seperti melayani suami, mengurus anak, mencuci, memasak, dan begitu seterusnya. Maka Ibu Kartini ini hadir sebagai icon baru yang mewarnai kehidupan dan paradigma para perempuan dengan warna yang mencerahkan. Kartini yang menjunjung emansipasi, Kartini yang berjiwa sosial tinggi, Kartini yang menuntut kebebasan ruang gerak yang lebih luas bagi kaum perempuan, telah membuktikan dengan terbitnya karya-karya beliau, bahwa perempuan dapat bangkit dan mengekspresikan pemikiran-pemikirannya lewat tulisan. Dengan begitu, perempuan memiliki ruang yang lebih luas lagi untuk menuangkan gagasan-gagasan dan idealismenya. Tentu dalam batasan kewajaran kita sebagai seorang muslimah yang sekuat dan semahir apapun, tetaplah menjadi seorang makmum bagi seorang imam yang bernama ‘laki-laki’.Tentang Kartini dapat dilihat DI SINI

Selangkah kedepan dari R.A. kartini, kitapun mengenal sosok NH Dini, yang dikenal selain sebagai seorang sastrawan, juga sebagai sosok perempuan yang sangat peka terhadap lingkungan dan berjiwa sosial tinggi. Terbukti bahwa perempuan satu ini tercatat sebagai anggota Les Amis dela Natura (Green Peace) di Prancis. Konsistensi dirinya sebagai seorang sastrawan, terbukti pula ketika beberapa karyanya meraih SEA Write Award di bidang sastra dari pemerintah Thailand.Tentang NH Dini dapat dilihat DI SINI
Hmm...perempuan satu ini mengingatkan saya pada sebuah cerpen yang pernah saya baca di sebuah majalah remaja islami yang menceritakan tentang seorang gadis belia yang di ajarkan neneknya untuk selalu menjaga kelestarian alam dan burung-burung yang pada saat itu sempat terancam punah akibat wabah flu burung. Sebagai hadiah, si nenek pun memberikan sebuah gaun yang hanya Ia berikan kepada seorang gadis yang mampu merawat alam sekitar dan melestarikannya. Gaun tersebut bernama ‘gaun hijau toska’, dengan begitu, gadis tersebutpun dikenal dengan nama ‘gadis bergaun hijau toska’. Cerpen ini membuat saya kagum luar biasa kepada pengarangnya yang sangat peka terhadap lingkungan. Dan yang membuat saya lebih kagum, karena  penulis dari cerpen tersebut lagi-lagi perempuan.

Itu baru penulis-penulis dalam negri, belum yang dari Luar negri. Kita mengenal J.K Rowling dengan Seri Novelnya Harry Potter yang setiap seri barunya selalu ditunggu-tunggu pelahap novel. Pun penulis perempuan satu ini sama-sama peka lingkungan, terbukti ketika Ia meminta kepada penerbit bukunya untuk menggunakan kertas daur ulang untuk novel Harry Potter ketujuh dalam rangka mengurangi penebangan pohon-pohon yang mampu menyebabkan global warming. Tentang Rowling bisa dilihat DI SINI







Ada lagi Agatha Christie, yang dikenal sebagai penulis fiksi kriminal, pun dikenal sebagai penulis kisah-kisah roman dengan nama pena Mary Westmacott. Yang membuat saya kagum, penulis satu ini telah menerbitkan lebih dari 80 novel dan sandiwara teater. Wow, jumlah karya yang spektakuler, bukan? tentang Agatha Christie dapat dilihat DI SINI

Kemudian ada pula pejuang pena Palestina, Ibtisam Barakat yang menulis berdasarkan dari apa yang Ia alami sebagai warga Palestina yang terusir kala itu. Karyanya yang berbentuk memoar Tasting the Sky: A Palestinian Childhood, masuk daftar 10 besar biografi anak muda di AS. Hebatnya, dari kesedihan dan keterpurukan yang Ia alami, justru perempuan satu ini malah bangkit melalui tulisannya yang ternyata sangat menakjubkan. Tentang Ibtisam dapat dilihat DI SINI






Namun kawan, yang saya sesalkan, dari sekian banyak daftar nama-nama penulis perempuan yang saya katakan inspiring dan mengagumkan karena karya-karya dan konsistensinya terhadap lingkungan dan sosial itu, tidak ada satupun yang mampu membelalakan mata saya terhadap identitas keyakinan yang mereka pegang. Saya adalah seorang muslimah, yang masih belum bisa menjadi bagaimana seharusnya seorang muslimah. Beberapa penulis perempuan di atas adalah seorang muslimah, tapi tak ada satupun yang pernah menelurkan karya tulisannya yang sesuai dengan identitas kemuslimahannya.
 Maka, ketika Helvi Tiana Rosa, Asma Nadia, dan sederet penulis muslimah lainnya yang konsen terhadap tulisan-tulisan islami , mata hati saya mulai tercerahkan. Pada saat mengenal nama-nama tersebut, saya masih duduk di bangku SMP, belum begitu paham dalam dunia tulis menulis yang muslimah-muslimah ini geluti, hingga akhirnya kini saya mulai beranjak dewasa, dan semakin tahu tentang hal itu.
Oleh karenanya, saya bersama 25 anggota Matapena yang mayoritasnya perempuan, bukan saja ingin ikut mewarnai dunia perempuan muslim yang semakin hari semakin mendapat tempat yang hangat dikalangan pembaca, tapi saya ingin jauh lebih dari semua itu.
@ Saya ingin dunia Islam diwarnai dengan karya-karya islami kami yang berkualitas dan dapat menjadi warisan yang bermanfaat bagi generasi setelahnya.
@ Saya ingin menjadi pejuang pena yang tidak hanya menulis untuk hal-hal yang kita rasakan, kita lihat, kita alami, namun tidak dilandasi kesadaran nilai-nilai formatif agama kita (Al-Quran dan Hadist).
@ Saya ingin dengan karya-karya kami kelak, karya-karya berkualitas lainnya terus bermunculan dari para penghunus pena perempuan yang sampai kapanpun terus dikenang lantaran kemaslahatan tulisannya bagi ummat.
Tentu semua “keinginan” itu, akan kami mulai dengan selangkah demi selangkah yang disetiap langkahnya selalu kami tiupkan ucap basmallah yang mengiringi, pun tekad kuat dan pembaharuan niyat yang mampu menebarkan energi-energi positif bagi diri kami. Maka dari itu, muncullah buku tipis nan imut namun kami menulisnya dengan sepenuh hati dan sarat makna yang tersirat seputar romantika kehidupan santri di Pondok tempat kami tinggal, “Hidup Sekali, Hiduplah yang berarti”. Hal ini merupakan langkah awal kami untuk mewujudkan semua keinginan dan cita-cita besar di atas. Dan langkah kami tidak akan hanya berhenti sampai di sini. Kami akan terus melangkah, karena kami yakin, untuk mengitari luasnya hikmah dunia ini, butuh perjalanan yang panjang. Kalaupun sampai mana kami dapat melangkah, itu adalah karena suratan takdir telah tiba pada diri kami. Saya selalu berdo’a kepada Allah, berikanlah saya umur yang bermanfa’at, dan berikanlah saya kekuatan agar istiqomah untuk senantiasa menulis hal-hal nafi’ bagi ummat. Intinya, saya ingin hanya ‘azal yang mampu menghentikan langkah menulis kami. In Sya Allah. J
            Udah ya ngobrolin masalah dunia tulis-menulis dan perempuannya. Teh angetnya saja sudah habis tiga cangkir gara-gara nyimak obrolan saya, hehe.
***
           

Dan selanjutnya,...inilah Fenomena Pekan Literasi Pelajar 2011!
            Sudah ada dua surat kabar yang memuat tentang kegiatan tersebut. Ini gebrakan baru, ini acara yang bukan sembarang acara, ini acara berkualitas! Baiklah kawan, inilah PLP (Pekan Literasi Pelajar 2011 yang terselenggara pada tanggal 13 Maret 2011. Acara ini diikuti 299 peserta SMP-SMA se-Priangan Timur. Bertempat di Pondok Pesantren Riyadlul ‘Ulum Wadda’wah, dan acara ini terselenggara atas kerjasama dua komunitas menulis di Pondok kami, yakni Komunitas Matapena dan Nahdlatut Thullab Group. Dunia Literasi masih belum terlihat geliatnya di pondok kami, sampai akhirnya muncul Nahdlatut thullab Group yang konsen pada bidang jurnalistik dan pers, kemudian Matapena yang konsen pada bidang sastra. Dalam rangka memperingati 10 tahun sistem keterpaduan ponpes Riyadlul ‘Ulum Wadda’wah, keduanya ingin turut meramaikan sekaligus menegaskan eksistensi dunia Literasi di Pondok ini dengan mengadakan acara bertemakan Literasi. Maka tiga runutan agendapun terbentuk, yakni  1)Launching Buku Santri “Hidup sekali, Hiduplah yang berarti”, 2) Sarasehan Sastra bersama Dewan Pengawas Forum Lingkar Pena (FLP) Pusat, dan yang ke 3) Journalists Go to School bersama H.U Pikiran Rakyat Bandung.
            Kami tak ingin main-main dalam menggelar acara tersebut. Maka kami menghadirkan para narasumber yang sudah benar-benar ahli dalam kedua bidang tersebut. Dari sastra, kami langsung mengundang mantan ketua FLP pusat M. Irfan Hidayatullah. Untuk jurnalis, kami langsung mengundang staff redaksi dari surat kabar terbesar di Jawa barat yakni H.U Pikiran Rakyat Bandung.
            Yang menarik dari acara ini, yakni launching buku santri yang menggemparkan warga Condong berikut para alumninya. Hehe. Lebay gak sih?...ah, tapi beneran kok. Semuanya pada geger. Ya...meskipun kami menerbitkannya secara indie, tapi setidaknya dengan hadirnya sebuah buku karya asli anak-anak Matapena Condong, itu sudah merupakan letupan baru bagi dunia Literasi di Pondok kami. Tapi sabar dulu, biar lebih tahu bagaimana heboh dan spektakulernya acar tersebut, teman-teman harus tahu prosesi berjalannya acara tersebut yang dengan semangat dan penuh kegembiraan akan saya paparkan disini. 
            Jadi apa aja nih rentetan mozaik acara dari kegiatan PLP ini?
1.      Pembukaan

 Acep dan Uha, yang mampu menghipnotis semua orang yang menyimaknya.
Dengan MC Uha dan Acep yang keduanya mahir membacakan sajak, semua orang seakan tersihir oleh kedua MC tersebut. Bukan hanya karena intonasi dan retorika mereka, tapi karena naskah MC yang superrrrrrrrrrrrrr puitis! Hasil buah tangan Nurfu’adiyah, Pimred Buletin Unik Matapena Tasik (BULUMATA). Suasanapun terasa hening dan khidmat.
*) Adapun pembukaan secara simbolis, dengan tidak bermaksud jahil, kami menyodorkan selembar kertas bersikan puisi pembukaan yang mau tidak mau harus di baca Bapak Kepala Sekolah SMA Terpadu yakni Drs. Mahmud Farid. Wah-wah, tidak terkira hebohnya orang-orang mendengar beliau bersajak. Ini kali pertama beliau membaca sajak.Tapi beneran hebat lho ternyata bapak kepsek kita ini. Intonasi, nada dan retorikanya mantap! Orang-orang termasuk kami panitiapun geleng-geleng kepala, maksudnya kagum, sekaligus gak percaya. Dan setelah itu, diteruskan pemukulan jimbe yang kemudian mengundang sorak tepuk tangan yang membahana di seantero kampus kita, sebagai tanda bahwa acara PLP resmi di BUKA!...Tok!Tok!Tok!...(ketuk palu)

 Setelah membaca puisi, Bapak Mahmud memukul jimbe sebagai pembukaan secara simbolis
*) yang tak kalah membuat merinding, ketika simbolisasi Launching buku dengan pemberian cendramata berupa duplikat Buku ‘Hidup Sekali Hiduplah yang Berarti’ dalam frame foto kepada pimpinan Pondok yakni Kiyai Diding Darul Falah. Saat prosesi itu berlangsung, salah satu panitia membacakan puisi bertemakan Literasi di belakang panggung. Tepuk tangan kembali membahana menyesaki lapangan Basket yang saat itu menjadi lokasi utama PLP.

 Simbolisasi Launching Buku Santri

2.      Launching Buku santri “Hidup Sekali Hiduplah yang Berarti”

 Dalam season ini, ukhti Meta dari Matapena mengubah image MC yang semula oleh Uha dan Acep terkesan resmi dan khidmat, dengan Meta, suasana menjadi cair dan komunikatif. Terlebih karena kelebihannya yaitu memiliki suara yang sangat MENGGELEGAR! Membuat penonton melek deh pokoknya. Dalam season ini, yang menjadi pembicara adalah saya bersama Mina, kemudian hadir pula Bapak Asep M. Tamam sebagai komentator dan tamu undangan perwakilan penulis profesional dan produktif dari Tasikmalaya. Acara berlangsung fun dan hidup karena interaksi para penulis matapena yang lucu-lucu saat mepresentasikan tulisan-tulisannya, selain itu, setiap peserta yang bertanya atau memberikan komentar langsung kami kasih hadiah dari sponsor, hehe. Ya iyalah, siapa yang gak mau dapat hadiah. 

 Ukhty Meta yang mampu menghidupkan dan mencairkan suasana
Yang dramatis itu, ketika acara Launching Buku hendak Meta tutup, tiba-tiba Ust. Syahrul bilang “STOP!”, sayapun memotong perkataan Meta. Ternyata eh ternyata, tamu yang kita tunggu-tunggu telah tiba! Siapa lagi kalau bukan, M. Irfan Hidayatullah. Aduh, serasa di sinetron deh..hehe. Ada acara stop-stopan segala ketika acara hendak diakhiri. Akhirnya Pak Irfanpun naik ke atas panggung diiringi tepuk tangan meriah dari para peserta PLP, kemudian beliau langsung memberikan komentar terhadap Buku kami. Beliau bilang: “Inilah buku yang membuat saya rindu terhadap dunia Pesantren!” Weiiissss...ngena anget ya komentarnya,..

3.      Sarasehan Sastra 

Di akhir acara, selalin menjadi narasumber sarasehan sastra, Mas Irfan juga nyanyi lho!
Nah, kalau yang satu ini langsung dinara sumberi oleh Kang Irfan dengan MC c’ndut Amel yang juga mampu membuat suasana cair lantaran celotehannya yang kocak. Agar peserta termotivasi untuk mengikuti proses sarasehan dengan fokus dan menyenangkan, maka kang Irfan membawa seabreg doorprize buat para peserta yang bisa menjawab atau memberikan komentarnya. Ada novel-novel karangannya, ada juga kaset nasyid MUPLA, yakni group nasyid Kang Irfan ini. Ssssttt....di akhir acara, Kang Irfan unjuk kebolehan lho! Beliau menyanyikan salah satu judul nasyid dalam kaset MUPLA. Weiiss..suaranya mantap, kawan! Peserta tak henti-hentinya bertepuk tangan lantaran kagum. Padahal kang Irfan nyanyinya gak pakai musik lho!

4.      Journalists Go to School

 Journalists Go to School bersama Bpk. Undang Sudrajat
 
Nah, kalau untuk jurnalis, yang jadi nara sumbernya yaitu bapak Undang sudrajat dari H.U Pikiran rakyat Bandung. MC-nya Minna hapadoh, itu lho, ketua umumnya Matapena sekaligus salah satu penulis di Buku santri. Acara inipun cukup komunikatif dan semakin hidup dengan aktifnya para peserta yang bertanya dan memberikan komentar.

5.      Penampilan Drama Inggris

 Ini dia penampilan drama bahasa inggris dari 1 D yang sangat memukau

Bakda Dzuhur, untuk menarik para peserta agar kembali ketempat semula, maka sayapun meminta kelas 1 D untuk tampil drama berbahasa inggris. Perlu diketahui, kelas 1 D ini juara 1 lomba English Drama Contest lho!, selain itu, kelas ini juga meraih kejuaraan lain seperti Best Actor, dan Best Language. Wow, gak salahkan saya memilih mereka untuk unjuk kebolehan saat waktu istirahat? Dan benar saja, condong di buat heboh dengan penampilan drama mereka yang sangat atraktif dan penguasaan kefasihan bahasa inggris yang menawan. Hampir-hampir panggung mau rubuh gara-gara kebanyakan scene action dalam drama tersebut. Gimana nggak, judul dramanya aja “Kungfu Kid” ya iyalah banyak adegan actionnya. Saya saja terus-terusan menjerit dan tertawa haha-hihi selama menyaksikan penampilan drama ini. Wah, pokoknya keren deh! Bangku-bangku kosong seketika penuh berdesakan oleh para peserta yang dalam hitungan detik langsung tersedot lantaran penasaran ingin melihat aksi drama 1 D.

Nah, selain dari rentetan acara diatas, yang tak kalah membuat acara ini semakin seru dan rame banget adalah karena ada berbagai bazar yang bisa setiap saat dikunjungi para peserta. Dari mulai bazar Buku Santri ‘Hidup Sekali Hiduplah yang Berarti”, buku-buku dari Toko Buku Karisma, Buku-buku karangan M. Irfan Hidayatullah beserta kaset Nasyidnya, bazar aksesoris dan souvenir lucu dari Womenhood OSPC, bazar makanan dan minuman syirkah, bazar buletin BULUMATA dan eN-Te News, sticker, ada juga galeri foto anak Matapena dan Nahdlatut Thullab Group, DLL. Wah pokoknya ramai sekali deh.

 Bazar aksesoris, souvenir, dan buku

 Ini dia galeri fotonya

 Bazar makanan Syirkah juga ada 


Ini nih buku "Hidup Sekali Hiduplah yang Berarti"


Kemuidan, selain sarasehan sastra, Kang Irfanpun mensosialisasikan FLP kepada kami warga Tasik dengan mengajak salah satu rekannya dari FLP JABAR yakni Kang Yadi. Di forum ini, kami sharing seputar FLP dan menulis yangberetika, sebagaimana yang diusung FLP dalam setiap karya-karya anggotanya. Beretika, islami, dan mencerahkan. Mas Irfan juga bercerita bagaimana para Helper di Hongkong bersungguh-sungguh dalam menulis, sampai ada yang menulis di WC segala, lantaran dilarang majikannya untuk menulis. Hal ini sangat memotivasi kami untuk lebih bersungguh-sungguh lagi dalam menulis.
Walhasil, meskipun disana-sini masih banyak kekurangan, dari mulai kekurangan personil panitia, kekurangan persiapan, kekurangan yang kami suguhkan pada para peserta, sampai  kekurangan dana, hehe, tapi pada akhirnya kami sangat bersyukur atas kelancaran yang Allah limpahkan pada acara PLP ini. J Semoga tahun depan bisa kembali menggelar acara yang lebih-lebih ya dari PLP tahun ini ya. Amin.
Namun yang sangat membuat kami begitu dianggap, dan tiada terkira senangnya, saat memlihat Bapak Kepsek, Pimpinan Pondok, Pengasuhan santri, para peserta, santri-santri dan para Asatidz, memegang si hijau buku ‘Hidup Sekali Hiduplah yang Berarti’ dan dengan khusyu’ membacanya, lalu beberapa kali tersenyum sendiri, tertawa sendiri, ih takut..hehe, sampai mengerutkan kening sampai lipatannya mencapai berpuluh-puluh lipatan saat membaca buku itu..haha, becanda deh. Terimakasih lho apresiasinya.
***
            Pada intinya, dengan diselenggrakannya acara tersebut, kami ingin meyakinkan semua orang, bahwa menulis itu penting.
@ Menulis itu merupakan alternatif dakwah yang sangat manjur.
@ Menulis itu bisa mewujudkan apa yang tidak bisa kita wujudkan di dunia nyata, menjadi terwujud dalam tulisan kita.
@ Menulis itu sama halnya mewariskan warisan yang tak terkira harganya.
@ Menulis itu berarti ikut membasmi kebodohan dan menciptakan kemajuan.
@ Menulis itu menuangkan segala hikmah yang ditemukan agar terbaca oleh khalayak orang.
@ Menulis itu mengubah dunia dengan kualitas tuilisan yang kita lahirkan.
@ Menulis itu menorehkan sebuah kenangan untuk nama kita

Untuk seluruh warga Indonesia yang membaca tulisan ini, yang kita menyadari sendiri bahwa prestasi minat membaca di negri ini adalah NOL BESAR!, maka kawan semua perlu mengingat kutipan-kutipan di bawah ini!
Buku adalah jendela dunia! Buku adalah warisan berharga yang tidak akan pudar di telan waktu! Buku adalah warisan yang paling berharga! Sebaik-baik teman pada setiap waktu adalah buku! Buku adalah pengikat ilmu! Dan tidak akan ada buku jika tidak ada penulis! Maka menulislah untuk dapat membuka jendela dunia, untuk dapat memberikan warisan berharga, untuk memberikan teman terdekat untuk semua orang, untuk mengikat ilmu agar Ia tak akan lepas dan pergi.

Beberapa komentar untuk Pekan Literasi Pelajar 2011:



“ Seru! Memotivasi kita-kita supaya tidak mudah menyerah. Sekaligus menyadarkan kita bahwa budaya membaca dan menulis itu sangat penting! ”
Nisa Permatasari, MAN Cipasung











“ Acaranya kurang lama, hehe. So, belum terlalu ngerti..Tapi bagus kok! Malahan seneng bisa langsung berinteraksi dengan para penulis..”
Akhfi, Ciawi

 
 
“ kg' nyesel dagh ane ngikut PLP di pesantren riyadul ulum wa da'wah condong!!!!
mantebbbb!!!!
pa lagee kang irfan hidayatullah...beuh kweren ajib!!!!
langsung dari FLP (forum lingkar pena).
...my experience!!! “
Fika,MA Fathiyah


Galeri Foto dalam acara Pekan Literasi Pelajar 2011
SMP-SMA Se-Priangan Timur 

 Registrasi ulang

 Diikuti 299 peserta se-priangan timur

 Sambutan oleh Wakil Pimpinan Pondok Kiyai Dididng darul Falah

 Launching Buku

 Para panitia yang selalu siap siaga dan super sibuk

 Panitia Putri foto bersama M.Irfan hidayatullah dan Kang yadi dari FLP Jabar

 Sekarang giliran panitia putranya




It's Time to Go Back!

Lena Sa'yati, Seorang Pelajar
lenasayati@gmail.com


                
Tempat aku kembali


                   Setiap yang hidup, pasti akan mati. Setiap yang bertemu, pasti akan berpisah. Begitupun setiap yang pergi, pasti akan kembali untuk pulang. Semua itu sudah suratan, dan tak dapat diganggu gugat. Namun seringkali kita menentang suratan itu. Yang hidup, takut mati. Yang bertemu, tak mau berpisah. Dan yang pergi, tak mau kembali pulang. Mengapa demikian? Tiada lain karena kita terkadang dibutakan oleh kesenangan yang fana. Fana? Itu jelas. Semua yang berwujud dimuka bumi ini adalah fana. Termasuk bumi yang kita tinggali inipun hanyalah sementara. Lantas, kemana kita harus kembali untuk pulang?....Apakah keluar angkasa? Ke Planet lain? Atau kemana? Ah, teman-teman juga pastinya sudah tahu, ya tentu saja ke dunia kita yang kedua, yaitu Alam Akhirat. Inilah tempat kita kembali untuk selamanya. Tempat kehidupan yang abadi, tiada akhir. Wah, gak kebayang ya hidup tiada akhir. Makanya jangan dibayangin, takut malah ngigau nantinya.
                Pulang, berarti kembali. Tempat kembali pulang yang terkecil, mungkin keluarga, lalu desa, kota, sampai kembali pulang untuk Negara. Ini levelnya sudah sampai paling tinggi. Dan yang paling sulit adalah kembali pulang untuk desa, dan Negara. Betapa banyak sekali mereka para pelajar dari desa yang merantau keluar kota, atau bahkan keluar negeri yang enggan pulang untuk tanah kelahirannya. Mereka lebih senang berlama-lama bahkan menetap dikota, atau diluar negri, tanpa ‘ngeh’ untuk kembali pulang memberikan kontribusi bagi masyarakat di sana. Hmmm...saya termasuk orang-oarng yang kayak gitu gak ya?...Ah, semoga saja tidak. Karena apa? Karena kali ini saya sendiri sedang pulang ke tanah kelahiran saya, Salopa. Mumpung ada libur dua hari, ya saya sempatkan untuk pulang. Sebenarnya, ada dua motif mengapa saya hendak pulang;
Pertama, karena saya ingin bersilaturahmi plus meminta do’a dari sanak keluarga terutama mama dan nenek, untuk kelancaran kuliah, serta sebuah acara yang sedang saya rancang bersama rekan-rekan di pondok. Meminta do’a dan bersilaturahmi itu penting lho! Dan efeknyapun memang sangat manjur. Lho kok?...Tidak ada apa-apanya jika usaha tidak dibarengi do’a. Dan tidak akan terjadi kerukunan serta keeratan tali persaudaraan tanpa adanya silaturahmi. Hmmm....real banget kan dampak dari do’a dan silaturahmi ini?..maka dari itu, yuk kita biasakan untuk tak henti-henti berdo’a dan juga bersilaturahmi. Sok lah, rasakan saja manfa’atnya. Ageng pisan pokokna mah.
Kedua, karena saya sudah sangat rindu kepada keluarga  yang setia setiap saat mendo’akan kelancaran saya dan adik yang tengah menuntut ilmu di ‘kota’. Meski tanpa Bapak di rumah, karena beliau memang sedang merantau jauh ke luar kota, atau tepatnya mungkin ke luar pulau kali ya, tapi saya tetap ingin cepat-cepat berkumpul untuk kemudian bersua kembali bersama mereka. Mama, adik-adikku yang masih pada SD dan TK. Nenek, Abah, bibi, mamang, sepupu, apa lagi ya?...oh iya, dan juga  keponakan. Hmmm....I miss you all deh pokoknya. Sepertinya, tanpa ada rasa rindu di hati kita, pastinya tak akan muncul hasrat untuk bertemu. Nah, maka bersyukurlah kepada Maha penganugrah rasa rindu itu ya. Alhamdulillah.
Ini dia nih orang-orang yang sudah membuat saya rindu;

  Para pendekar Cilik,...Rifa', Ilham, and Fikar.

 Dan inilah sahabat untuk selamanya; Me, Sepupu: Dini, and Irna

Oh my beloved nephew, Dafa, U're so Cute.

My Beloved Super power Mom, 

Namun yang lebih menyenangkan, kebetulan di kampung saya ini sedang ada hajatan yang cukup besar. Dan serunya, rumah keluarga saya dijadikan markas memasaknya ibu-ibu ahli dapur. Hehe. Walhasil, rumah saya penuuuuuuuuuh luar biasa dengan berbagai macam olahan. Dan pastinya, perut saya kenyang tiada tara. Haha, Alhamdulillah. Ngomong-ngomong, hajatan apa ya yang sedang warga kampung ini adakan? Samenan? Nikahan? Khitanan? Atau pesta-pestaan?....Ah, bukan semua. Ternyata warga kampung sini tengah mengadakan acara peringatan maulid nabi, atau kalau kata masyarakat disini mah, Muludan. Hmm....acaranya cukup hebring, karena mengundang bintang tamu, aih, maksudnya, Muballigh dari kota. Dan seperti warga kampung pada umumnya, para bapak bebondong-bondong memadati isi masjid dengan berkostumkan sarung dan baju koko. Bakda ‘isya, speaker dinyalakan, dan....tes,tes, satu dua tiga,....mulailah MC berbicara. Hmmm.....Sempurna! Pas sekali deh saya pulang kali ini. Padahal tidak ada ancang-ancang sebelumnya. Coba lihat deh ramenya rumahku penu dengan macam-macam olahan:




               Namun yang selalu berkesan , serta tak akan pernah terlewatkan ketika saya pulang kerumah adalah, berbincang-bincang di rumah emih. Allow me to introduce my Emih, hehe. Usianya sudah menginjak kepala tujuh. Wah, banyak banget kepalanya? Ih, bukan itu, maksudnya sudah hampir 70 tahun. Sudah tua ya? Iya, memang. Tapi usianya tidak memudarkan semangatnya untuk terus memotivasi cucu yang paling disayanginya ini. Cieee. Eh, serius! Dari setiap perkataannya pasti penuh muatan nasihat dan pepatah yang bisa dijadikan prinsip hidup. Berbekalkan pengalaman, dan pandangan hidup yang emih tafsirkan berdasarkan jiwa sosialnya yang tinggi, emih selalu mampu memompa semangat cucunya ini untuk selalu kuat menghadapi sebagian pahitnya hidup, dan selalu siaga menjaga sikap untuk selalu bersikap sopan santun ketika menghadapi orang seperti apapun. Tidak pernah bosan saya  mendengar nasihat beliau, pun tidak pernah kaku untuk mencurahkan segala persoalan hidup kepada emih. Dan seperti biasa, pasti di akhir perbincangan, emih akan bertanya? “ Nong, kapan kembali ke pondok? “, lalu mengeluarkan lembaran uang, dan memberikannya pada saya. Terkadang selalu merasa tak enak kalau emih harus memberikan uang tiap kali saya berkunjung ke rumahnya, tapi emih selalu merasa tak afdhal bila tak membekali cucunya ini. Baiklah, saya anggap itu sebuah hadiah, plus imbalan dari Allah untuk orang-orang yang mau bersilaturrahmi. Hmm...beruntung saya dianugrahi nenek sebaik dan sesholihah emih. Semoga Allah memeberikan usia yang bermanfa’at dan barokah baginya, dan selalu merahmati dan melindungi emih yang saya sayangi ini. Amin. Nah, siapa hayo yang mau kenalan dengan emihku yang super hebat ini? Dijamin hati yang keras menjadi lunak, leher yang menengadah akan menunduk, dan wajah yang masam menjadi manis! Ini dia emihku tersayang:
Dan inilah "emih' 


Akhirnya, saya harus kembali ke pondok dengan membawa misi besar yakni tholabul ‘ilmi. Ingat Ena, Tholabul ‘ilmi! Siapkan mental yang matang, pikiran yang fokus, serta hati yang jernih. Tajdidun Niyyat untuk menggapai sebuah perubahan yang positif. Semoga perantauan memikul misi besar ini dapat tercurah kembali kemana seharusnya hasil dari misi itu di berikan. Dan pada saatnya tiba, disamping terus berusaha untuk beramal baik, pun siap berkontribusi untuk pembangunan masyarakat. Maka, prinsip hidup  saya kali ini adalah: Beramal, dan Berkontribusi! Bismillahirrahmaanirrahiim....
 

MAULID NABI, Bukti Bangga dan Cinta Kepada-nya


Lena Sa’yati, STPT Tasikmalaya
lenacinta@ymail.com




Muhammadku, Muhammadku
Dengarlah seruanku,
Aku rindu, aku rindu
Kepadamu Muhammadku....
[Haddad Alwi_Rindu Muhammad]

            Dalam Islam, setiap bulan memiliki sejarah atau peringatan tersendiri. Seperti Syawal, dengan ‘Iedul Fitrinya, Dzulhijjah, dengan ‘Iedul Adhanya, termasuk Rabi’ul Awwal, dengan peringatan Maulid Nabi-nya. Pada tanggal 12 Robi’ul Awwal tahun Gajah/ 571 M bertahun-tahun yang silam, telah lahir kedunia ini seorang Nabi panutan ummat sepanjang masa, seorang Nabi akhir zaman yang hanya darinya kita mendapatkan syafa’atul ‘udma. MUHAMMAD, itulah namanya. Kelahiran Nabi Muhammad ini, yang kemudian kita sering menyebutnya dengan ‘Maulid Nabi’.

Maulid Nabi Vs Valentine ?
            Tahun ini, hari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW seringkali di sebrangkan dengan perayaan hari Valentine yang jatuh pada hari sebelum peringatan Maulid Nabi. Valentine yang ditetapkan pada tanggal 14 Februari, bersebrangan dengan peringatan Maulid Nabi yang jatuh pada tanggal 15 Februari. Tak sedikit yang menyangkut pautkan atau bahkan membanding-bandingkan antara dua momen penting tersebut. Dan ironisnya, segelintir orang yang mengaku  ‘Islam’ sendiri, bahkan sempat menulis status dengan kalimat; ‘Valentine atau Maulid Nabi ya?’. Seharusnya ini sangat tidak etis dipublikasikan di pentas khalayak. Seakan masih ada keraguan untuk memperingati hari lahirnya Nabi kebanggaan ummat Islam, yang notabene seluruh Ummat Islam di Dunia ikut memperingatinya. Tua, muda, anak-anak, orang dewasa, kaya, miskin, semua kalangan ikut memperingati. Maka, seharusnya kita tak pantas bila membanding-bandingkan antara dua peringatan itu. Valentine dengan hakikatnya sebagai peringatan kematian pastur, dengan Maulid Nabi sebagai peringatan Lahirnya Nabi Muhammad. Keduanya tentu akan sangat kontras bila harus dibandingkan. Maka, agar semuanya menjadi lebih jelas dan tidak  lagi menimbulkan keraguan, perlu diketahui motif apa yang menopang ummat islam untuk memeperingati Maulid Nabi Muhammad SAW ini.

Dua Motif Mengapa Ummat Islam Memperingati Maulid Nabi
Mungkin teman-teman bertanya-tanya atas dasar apa seluruh ummat islam di dunia serentak memperingati hari lahir Nabi Muhammad. Karena tentu bukan tanpa alasan, seseorang sampai memperingati sebuah momen. Nah, kedua motif itu sendiri antara lain;

Motif Pertama, Karena ummat islam merasa bangga sekaligus bahagia dengan lahirnya seorang nabi yang merupakan Khotaman Nabiyyin (Nabi Terakhir), sekaligus satu-satunya nabi yang berhak memberikan syafa’atul ‘udzma pada hari akhir nanti. Dalam sebuah hadist dikatakan:
“..Barang siapa yang mengagungkan hari lahirnya Nabi, maka Ia akan mendapatkan Syafa’atul ‘Udzma..”
Menyimak hadist diatas, tentu kita langsung tahu dan mengerti mengapa harus memperingati Maulid Nabi ini. Yang sangat diharapkan oleh setiap muslim dari Nabinya ini tiada lain adalah Syafa’at yang agung itu, syafa’at yang tidak ada satu nabipun dapat memberikannya. Jika memang demikian, maka untuk mencapai harapan itu, salah satu caranya adalah dengan mengagungkan peringatan hari lahir Nabi.
            Salah satu bentuk peringatan Maulid Nabi ini yakni sebagaimana yang saya, para Santriwati, dan ustadzat lakukan pada malam Maulid Nabi, yaitu membaca Barzanji atau deba. Kitab ini umumnya berisi syair-syair shalawat yang biasa dikaji para santri salaf seperti kami ini. Menurut Syuyuti, dalam keterangannya, “ Barangsiapa orang membacakan Barzanji ini pada suatu tempat, maka tempat itu akan dipenuhi malaikat “ . Membaca disini tentu bukan hanya sekadar membaca tanpa ada esensi yang mendasarinya. Namun harus disertai kekhusyuan (Ikhdzorul Qolbi). Masih banyak lagi bentuk-bentuk dari peringatan Maulid ini, namun yang sudah sangat umum sekali di kalangan masyarakat kita adalah membaca Barzanji.

 Kitab Barzanji

Motif Kedua, Merasa Cinta dan Menyayangi Nabi. Ketika seseorang ditanya, manakah yang paling dia cintai, apakah Ibu, Bapak, Pacar, atau Nabi? Otomatis dia akan berfikir sejenak, lalu kemudian menjawab : “ Nabi! ”. Tapi kenapa harus berfikir terlebih dahulu? Ini semata-mata karena orang itu belum yakin dengan kecintaannya terhadap Nabi. Karena yang namanya cinta, perlu pengorbanan, kesetiaan dan ketulusan. Lantas jika benar kita mencintai Nabi lebih dari siapapun dimuka bumi ini, maka yang jadi pertanyaan, pengorbanan seperti apa yang telah kita persembahkan? Kesetiaan seperti apa yang kita tawarkan? Ketulusan yang bagaimana yang kita tanamkan? Hal ini merujuk pada diri kita masing-masing untuk kembali belajar untuk mencintai, dan mengikuti sunnahnya. Hal ini mengingatkan saya kepada penyanyi religi kondang, yakni Haddad Alwi yang dalam Syair lagunya Ia menyebutkan:
“..Siapa yang cinta pada Nabinya, pasti bahagia dalam hidupnya..”
Ini bukan fiktif, dan karangan syair belaka. Namun lirik itu memang benar adanya. 

Terlepas dari kedua motif di atas, bukan tanpa maksud Allah SWT menjadikan nabi sebagai Rosulnya. Dengan berbagai keajaiban sewaktu kecil, serta berbagai mukjizat saat menjadi Nabi, maka ini memang sudah rencana manis Allah mengutus Nabi untuk kemudian menyempurnakan akhlak di muka bumi ini. Sebagaimana sabda Nabiyul Islam Muhammad bin ‘Abdillah shollallahu ‘alaihi was sallam melalui sahabat Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu,
 “Sesungguhnya aku (Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam) diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia (dalam riwayat yang lain dengan lafadz untuk memperbaiki akhlak)”

Contoh uswah dari Rosul yang merupakan suri tauladan dalam keseharian kita antara lain;
-          Rosul selalu membiasakan tersenyum, ada yang bilang jika kita banyak tersenyum saat berpapasan dengan orang, maka kita akan awet muda! Wah, masa? Lho, benar kok. Senyum kan merupakan bentuk dari senam muka yang bisa membuat wajah kita senantiasa terlihat segar dan enak di pandang. Begitupun Rosul yang wajahnya full of smiles, melihat anak kecil, Ia tersenyum, melihat Sahabat, Ia tersenyum, tak terkecuali Nenek-nenekpun beliau senyumi. Betapa senyum itu dapat memberikan kesan ramah dan bersahabat pada diri seseorang. Dan lagi, senyum itu kan sodaqoh. So, jangan pelit untuk tersenyum ya, dalam sebuah syair Nasyid juga dikatakan;
Senyum tanda mesra,
Senyum tanda sayang,
Senyumlah sedekah yang paling mudah
[Raihan_Senyum]

-          Rosul bersifat tawadu’, sudah tentu tahu kan apa arti dari tawadu’ ini? Yup, bersikap humble ternyata juga merupakan sifat Rosul kita ini. Tapi yang ini bukan rendah diri, melainkan rendah hati. Karena rendah diri akan menimbulkan kekufuran, sedangkan rendah hati dapat menimbulkan kesyukuran. Tawadu’ juga bisa di bilang lawan kata dari sifat sombong. Nah, bagi kita-kita yang merasa memiliki segudang kelebihan, baik itu yang bersifat fisik atau non-fisik, berhati-hatilah, karena syaitan akan selalu menggoda kita agar bersikap sombong. Nah, maka Nabi kita ini tampil dengan sikap ketawadu’an-nya. Orang yang seperti ini akan selalu disegani dan dihormati. Patut dicontoh juga, nih.

 
-          Dan masih banyak lagi. 

Hmm...Maulid tahun ini semakin terasa ramai dan khidmat terutama bagi saya pribadi. Pertama, karena pada malamnya, pondok kami mengadakan pengajian barzanji, dan siangnya ada acara kompetisi pidato empat bahasa yang juga temanya tak lepas dari peringatan hari Maulid Nabi. Hmm....dimana-mana acara peringatan hari besar islam itu memang selalu ramai dan khidmat ya?...dan yang pasti, peringatan bukan sembarang peringatan kosong, tanpa ada hikmah dan pesan yang terkandung di dalamnya. Itulah kelebihan setiap bulan dalam Islam, penuh makna, hikmah, dan barokah, amin.





VALENTINE : Hari Kasih Sayang Yang disayangkan


Lena Sa’yati












Tentunya tak asing bagi kita ketika mendengar kata “Valentine” Maka kesan yang timbul adalah hari kasih sayang yang seringkali di gembar-gemborkan lewat berbagai media, baik itu media massa, maupun media elektronik. Bahkan Hari yang ternyata dulunya ini merupakan hari untuk menghormati juno (ratunya dewa-dewi Romawi)  ini sepertinya sudah menjadi sebuah tradisi yang mengakar terutama bagi masyarakat kita. Lihat saja, ketika tanggal 14 Februari tiba, maka mall-mall atau tempat-tempat rekreasi lainnya tiba-tiba disulap menjadi tempat serba bernuansa pink, tentu lengkap dengan pernak-pernik berlambangkan ‘heart’ sebagai tanda kasih sayang. Tak jarang pula pada hari itu diadakan berbagai even yang juga berkaitan dengan momen valentine. Lomba bikin puisi bertema cinta-lah, Lomba bikin kue berbentuk heart-lah, atau bahkan lomba pasangan terserasi. Semakin semaraklah nuansa ‘kasih sayang’ pada hari valentine itu. Lantas, bagaimana sebenarnya bentuk kasih sayang yang dipentaskan orang-orang pada hari valentine ini?

 Kasih sayang dalam sebungkus Coklat
Kebiasaan yang juga sudah dianggap sebagai sebuah tradisi, dan tak pernah ketinggalan pada momen hari kasih sayang itu, adalah saling memberi coklat pada orang-orang yang dianggap spesial. Tak heran bila hari valentine tiba, pasokan coklat akan lebih meningkat. Entah dari mana awalnya, dan siapa yang memulai, namun fenomena ini seakan sudah menjadi keharusan pada hari valentine itu. Jika diumpamakan dengan hari raya idul fitri, mungkin si coklat ini seumpama ketupat yang merupakan makanan khas ummat islam pada hari raya idul fitri. Seakan sebungkus coklat ini mengandung sebuah makna yang menjadi perantara untuk mengungkapkan rasa kasih dan sayang pada orang yang dituju. Dari satu sisi, hal ini memang tidak bermasalah, bahkan mungkin bagi beberapa pihak malah bisa menguntungkan. Bagi produsen, tentunya keuntungan besar yang didapat jika ternyata produksi coklatnya laku. Bagi seseorang yang ingin menjalin hubungan yang lebih erat dengan yang lain, hal ini juga bisa menjadi alternatif. Namun apakah pernah terlintas dalam benak kita, sebenarnya dari mana asal mula kebiasaan ini, siapa yang pertama kali melakukannya. Dan yang disayangkan dari fenomena ini adalah, sebungkus coklat hanya dijadikan sebagai bentuk nilai kasih sayang secara formalitas saja. Seakan ketika tak ada coklat, maka tak ada kasih sayang. Dan setelah memberi coklat, habislah perkara saling menyayangi yang seharusnya tetap tertanam dalam hati setiap insan. Kalau begitu, kasih sayang kita terhadap sesama manusia hanya bertaruh pada sebungkus coklat saja. Mungkin ini akan terdengar cukup dibesar-besarkan, primitif, atau apalah. Namun, fenomena semacam ini ternyata memang cukup menggelitik dalam tradisi di tengah masyarakat kita, yang sudah menjadi plagiator, atau bahkan bisa dibilang korban dari budaya yang kebarat-baratan itu. Padahal, kalau memang bermaksud mencurahkan rasa kasih sayang, kenapa tidak bersodaqoh saja sebanyak-banyaknya pada orang-orang yang tidak mampu. Peminta-minta di lampu merah masih banyak, anak-anak panti asuhanpun masih sangat memerlukan uluran tangan kita.
            Yang lebih khas lagi dari hari valentine ini, adalah mencurahkan bentuk kasih sayang kepada lawan jenis. Dan memang atmosfer seperti itulah yang terasa saat hari itu tiba. Lagi-lagi, entah darimana dan siapa yang memulainya, namun hal ini sudah sangat mengakar pada masyarakat kita dewasa ini. Kini orang-orang gemar menyelenggarakan acara-acara khusus untuk para pasangan pada hari itu. Entah itu berbentuk kompetisi, atau semacam voucher gratis yang bisa ditukar dengan barang lain atau makanan jika di restoran-restoran. Tak jarang di mall-mall besar seringkali diadakan kompetisi pasangan terserasi, atau perlombaan yang berhadiah dating di tempat-tempat wisata, dan lain sebagainya. Bentuk masyarakat yang seperti itu sudah menjadi keuntungan tersendiri bagi para kaum kapitalis dengan even-even yang diselenggarakannya.
Sisi lain dari pelaku even-even itu adalah pasangan-pasangan yang berpartisipasi didalamnya. Dengan menjual nama valentine, hari kasih sayang, seakan-akan seorang laki-laki memiliki kesempatan besar dalam mewujudkan slogan dari hari itu. Namun yang disayangkan, atas nama hari kasih sayang ini, seringkali terjadi perlakuan yang tidak mengenakan antar sesama pasangan. Hari kasih sayang ini dijadikan ajang saling tembak-menembak, dating, dan yang lebih memprihatinkan tidak sedikit pasangan yang melakukan hal tidak senonoh pada hari ‘kasih sayang’ itu. Na’udzubillah. Maka, patut kembali kita bertanya, apakah fenomena seperti ini yang dinamakan hari kasih sayang?  Inikah bentuk kasih sayang sesungguhnya yang masyarakat kita meksudkan? Jika benar, maka sangat ironis sekali. Kultur masyarakat kita sudah tercampur aduk dengan semakin gencarnya budaya luar yang terus menggerogoti moral bangsa kita.
Kendati demikian, berarti hari kasih sayang pada hari valentine itu memiliki makna yang sempit akan arti sebuah kasih sayang yang sesungguhnya. Jika bentuknya hanya berupa perlakuan saling menyayangi antar lawan jenis yang memiliki hubungan khusus, lalu saling memeberi coklat hanya pada orang-orang yang dianggap spesial saja, tentu ini merupakan implementasi kasih sayang yang sangat dangkal. Betapa seharusnya kasih dan sayang ini selalu berusaha kita curahkan pada sesama manusia, terutama bagi mereka yang kurang mampu baik secara moril maupun materi. Merekalah yang lebih membutuhkan bentuk uluran kasih sayang itu. Di sanalah sikap saling mengasihi dan menyayangi akan lebih terlihat bermakna, indah, tulus, dan tak terbandingkan. Lantas, kapankah fenomena ini akan terwujud? Jawablah dengan hati dan pikiran yang jernih, agar kita bisa melihat, betapa bentuk kasih sayang yang terlihat pada hari valentine dewasa ini adalah semu, dan amat disayangkan.

#Notes From Qatar

'Si Sakti' 3 P (Positive, Persistence, Pray) 
Lena Sa'yati, Sekolah Tinggi Pesantren Terpadu (STPT) Tasikmalaya
lenasayati@gmail.com


#NFQ
Muhammad Assad
His Profil HERE

                Hari sabtu pagi saya menonton acara di TV One yang mewawancara pengarang buku ini. Di sana Muhammad Assad ( The Author) memaparkan kandungan dan proses terbitnya buku #NFQ ini. Setelah menonton saya langsung ngeh untuk segera membeli buku itu. Tapi kemarin tiba-tiba ada orang yang sangat baik hati memberikan buku ini pada saya, dan buku ini baru saja selesai saya baca. Dan apa tanggapan saya mengenai buku ini?...Wow,..Merinding. Kenapa merinding? Apa ada mahluk halusnya? atau kedinginan?...Ah, bukan itu. Lantas kenapa?...bulu kuduk saya berdiri bahkan pada saat membaca sampulnya saja. Forewordnya ditulis langsung oleh Her Highness Sheikha Mozah bint Nasser Al-Missned (First Lady of Qatar), wah-wah...gimana nggak merinding, coba. Lalu seperti biasa, halaman-halaman awal buku diisi dengan beragam testimoni yang juga berasal dari orang-orang hebat pula, sekaliber Jusuf Kalla, Ary Ginanjar Agustian, Helvi Tiana Rosa, Dr. Salim Segaf Al Jufri (Mentri Sosial RI), sederet artis-artis, dan lain-lain.
                       Melihat orang-orang yang menulis testimoninya, saya yakin pasti sosok penulis satu ini adalah pribadi yang luwes dalam bergaul dan never give up dalam berusaha. Ternyata eh ternyata, benar perkiraan saya, Muhammad Assad memang pribadi yang selalu positive thinking dalam menyikapi sesuatu. Terbukti dari tulisan-tulisannya yang selalu mengobarkan kata-kata positif yang mampu membangkitkan kembali semangat kita. Dan yang paling sakti adalah teori 3 P-nya itu. Positive, Persistence, and Pray.
                      Saat membaca 3 P's Secret for Scholarship Hunter, saya menangis tersedu-sedu. Lho kok?...iya, sayapun tanpa sadar melakukannya, hehe. Mau tahu kenapa? karena sayapun kelak adalah calon dari pemburu beasiswa. Wah-wah, bulu roma saya berdiri sepanjang membaca kata demi kata yang mengalir dalam artikel itu. Saya kembali merasa terpecut untuk membangkitkan impian saya yang ingin sekali bisa bersekolah kebelahan bumi lain dengan bermodalkan beasiswa. Apalagi ketika membaca kalimat " success is when preparation meets the opportunity ". Saya kembali bertanya pada diri ini, sudah sampai mana persiapanmu untuk menemui kesempatan tak terbanding itu? Meski saya barulah berada pada tingkat satu di bangku kuliah, tapi yang namanya persiapan yang matang memang harus sudah ada di genggaman. Jadi teringat nasihat Mahfudzat yang mengatakan " Barangsiapa yang tahu jauhnya perjalanan, maka bersiap-siaplah Ia ". Wuih, jadi semangat belajar lagi deh,..hehe. Dan lagi, saya kagum luar biasa ketika mengetahui bahwa Assad ini lulus S1 dengan menyabet triple awards! salah satunya "Chancellor Award for the best Graduate for the Class of 2009 " (Penghargaan tertinggi di UTP yang diberikan langsung oleh mantan Perdana Mentri Malaysia, Tun Dr. Mahathir Mohammad) Subhanallah,...mantap tap tap tap. Good job, brader, nama Indonesia terangkat tentunya.
                        3 P yang Assad pegang ini sama halnya dengan DUIT. Lho, kok bisa?...maksudnya DUIT ini bukan uang, tapi Do'a, Usaha, Ikhtiar, dan Tawakkal. Bahwa setiap permasalahan dalam hidup kita ini harus disikapi dengan DUIT itu. Usaha tanpa Do'a ya tak akan barakah, pun Do'a tanpa Usaha ya tidak bisa. So, keduanya harus balance. 
                      Yang menarik dari buku #NFQ ini, bermula dari postingan-postingan Assad di blog pribadinya. Kemudian atas paksaan, hehe maksudnya usulan dari kawan-kawannya untuk dijadikan sebuah buku, maka Assadpun memutuskan untuk mengirimkan tulisan-tulisannya itu ke beberapa penerbit di Negri ini. Ini juga yang menjadi salah satu motivasi saya untuk terus mengisi blog saya tercinta. Dan yang menjadi ciri khas dari seorang Assad, dalam setiap tulisannya Ia selalu membubuhkan nilai moral dan hikmah juga menyelipkan ayat-ayat Al-Quran. Wah-wah,...selain berkualitas secara fisik, pun berkualitas secara spiritual ya. Campur aduk deh perasaan saya selama membaca buku #NFQ ini.
                      Selain artikel 3 P's Secret for Scholarship Hunter, masih banyak artikel-artikel menarik lainnya seperti; Dahsyatnya Sedekah, Dan Bersyukurlah, Ayo Menjadi Enterpreneur!, Ingin Bertato? Baca ini Dulu, Kartini Emansipasi dan Wanita Modern Abad 21, dan masih banyak lagi. Untuk mengetahui lebih lanjut seputar #NFQ ini silahkan lihat DI SINI.
                    Ya, setelah membaca buku yang inspiring ini, saya serasa memiliki energi baru untuk memompa semangat saya dalam menjalani hidup. Dan lagi, 3 P akan selalu saya coba implementasikan dalam realita hidup ini. Semoga kelak sayapun bisa menyusul keberhasilan sosok Assad ini, untuk sedikitnya memberikan sumbangsih dalam tatanan perbukuan indonesia yang mudah-mudahan bermanfaat bagi semua kalangan. Amin. 


My Multifunction Room
08.16
2011