Alhamdulillah, Papa sekarang udah makin dewasa, udah 26 tahun. Bahkan kalau dilihat-lihat sikapnya melebihi orang yang usianya sebaya dengan Papa. Tapi Papa aku pikir lebih-lebih dari apa pun. Termasuk jadi lebih dari makan dan minum, gendut dan naik 10 kilo deh akhirnya, haha. Tapi itu kan janji mu, mau gendut kalau udah nikah, dan benar juga ternyata. Selamat, selamat!
Eh ada nih kayaknya perbandingan tubuh papa antara before and after married. Nih,
Beda abissss!
Tapi bagus lah, tugas saya terpenuhi dengan baik, hehe. Tapi pada intinya, mimi cuma mau mengingatkan, kalau kita tetap harus bersyukur dengan apa yang Allah berikan. Termasuk nikmat kesehatan dan umur yang masih bisa kita jalani sekarang ini. Kita gak tahu apakah Allah akan memanggil mimi atau papa terlebih dahulu untuk menghadapnya, tapi semoga kita kembali bersama di jannah-Nya, amin ya Rabb.
Oh iya, terakhir mimi punya segudang do'a untuk papa. Diantaranya; semoga papa diberikan umur yang panjang dan barokah, ditambah-tambah dalam mencari rezeki, dilancarkan segala urusan, tercapai segala impian, bisa S2 bareng mimi nanti di IIUM, selalu sehat dan fit, semakin jenius dan sukses segala-galanya, aminnn.
Nah, ini dia video yang mimi dedikasikan untuk milad papa yang ke 26. Happy Watching ^_^
Well, the last I only wanna say, U're my everything and I love you so Much. Dadaaaahhh...
Menginjak kepala tiga, semestinya seseorang tengah menjadi sosok manusia dewasa yang sudah matang. Matang dalam pola pikir, dalam bertindak, dalam bergaul, dalam pengalaman termasuk matang dalam mengelola sebuah keluarga yang nantinya melahirkan generasi-generasi penerus. Lantas kenapa kepala tiga dibahas pula di sini? memangnya ada apa? Saya kira bagi mereka orang-orang pecinta bacaan, sudah barang lazim mengenal satu penerbit ternama "MIZAN". Tentu saja, betapa tidak, penerbit buku-buku berkualitas ini bahkan sudah menancapkan kakinya dalam dunia Literasi selama 30 tahun! Subhanallah sekali bukan? sungguh konsistensi yang mulia.
Bukannya sok beromantisme atau bahkan lebay dan alay, namun pengalaman saya bersama Mizan mengantarkan saya menjadi sosok wanita yang berani berbeda dari yang lainnya. Mungkin bisa dibilang saya baru berkenalan dengan buku-buku dari penerbit ini sekitar 9 tahun yang lalu saat masuk kelas 1 SMP di SMP Terpadu Condong Tasikmalaya. Saat awalnya saya sama sekali buta terhadap buku-buku bacaan lantaran saya berlatar belakang seorang gadis kampung yang norak dan kampungan. Tapi sungguh, saat pertama kali mata ini menatap sebuah gambar di sampul buku, tiba-tiba hasrat untuk membuka dan membaca buku itu pun muncul. Bukunya sangat khas sekali dengan design cover kartun dan conten meremaja yang juga disertai gambar di dalamnya.
"Oh tuhan, aku jatuh cinta pada barang itu, aku pikir saat itu pula duniaku mulai berubah untuk menentukan jalan hidupku kedepannya. Sungguh, aku jatuh cinta pada pertama kali jumpa!"
Hari itu merupakan kali pertama saya berkenalan dengan buku yang mengubah duniaku. Namun karena masih bingung dimana harus membeli, saya hanya bisa meminjam dari teman atau kakak kelas. Lambat laun tipe bacaan saya merambah pada buku non-fiksi. Kembali Mizan membuat saya terhipnotis dengan gebrakannya. Buku-buku how to- bertemakan kehidupan remaja (persahabatan, pergaulan, dsb) saya pilih untuk menemani roda kehidupan yang mulai berjalan. Berlanjut hingga SMA saya mulai rajin menulis dan terus menulis. Buku pun semakin bertambah di rak lemari. Beberapa lomba menulis sempat saya ikuti.
Selepas SMA saya mulai berani mendirikan sebuah komunitas menulis dan merekrut murid-murid dimana tempat saya mengajar. Sudah empat tahun berjalan, komunitas ini semakin menguat dengan konsisten berkarya dari mulai menerbitkan buku secara indie, memproduksi film, dan mengundang penulis-penulis nasional. Selain itu, alhamdulillah saya melaju ke tingkat nasional dan menyabet gelar juara dalam lomba menulis. Juga lagi-lagi dengan referensi yang saya gunakan dari buku-buku Mizan. Begitu pula anak-anak didik saya yang juga semakin semangat berkarya berkat lecutan semangat yang Mizan ciptakan.
Saya dan para penghunus pena di Komunitas Matapena
Salah satu rak buku saya dan suami. Beberapa bukunya terbitan Mizan
Sekarang, saya sudah menikah dengan suami yang juga pecinta dunia Literasi. Banyak pula koleksi bukunya terbitan Mizan. Bacaan-bacaan saya pun mulai merambah genre serius, dan lagi-lagi Mizan kembali menjadi pilihan. Kami seperti tidak memiliki dua hati. Segalanya serasa sama dan tidak ada pembeda. Saya kira, bahkan sampai nanti kami dikarunia malaikat-malaikat kecil, buku-buku bergizi dari Mizan akan selalu jadi pilihan. Alasan utama, tentu karena segala genre buku lengkap siap sedia. Dari yang lucu menggelitik, sedih haru dan menyayat hati, sampai membuat motivasi tumbuh dan pemikiran bekembang semua ada di Mizan. Terimakasih saya ucapkan, dan saya akui kematangan dan kesuksesan Mizan di tahun ke 30 ini sudah sangat maksimal. Saya doakan semoga terus melaju menuju gerbang kesuksesan serta tidak henti mendidik bangsa dengan goresan tinta dan semangat menjaga intelektualitas setiap insan di Indonesia bahkan di seluruh dunia.
Hari apa ini? Hari Jum’at. Itu
berarti? Hari yang istimewa buat kami para santri di Pesantren Condong. It’s
Hollidayyyyyyyy, Alhamdulillah. Kali ini kita punya agenda yang mulia, eeaa.
Apa itu? Yups, hari ini kita akan berkebun!
Ada apa dengan berkebun?
Sebenarnya alasan kami memilih kegiatan ini pertama, tentu karena ibadah.
Kedua, karena kelas 3 SMP sebentar lagi mau UN. Nah lho apa hubungannya? Ya,
biar mereka nggak setres-setres amat, jadi ada yang bikin mereka have fun dan nggak
boring gitu lho. Terus yang ketiga, berhubung harga bumbu-bumbu dapur
mahhhaaal, jadi kita coba berinisiatif untuk menanggulangi hal tersebut.
Keempat, pengen ngerasain aja sih gimana rasanya jadi “PETANI” (dan ternyata,
ya Allah it’s so difficult, we have to do hard and harder!). Kelima, pengen
nyiptain waktu bersama antara Wali Kelas dan Murid, kan seru.
Terbukti dari awalnya banyak yang
mau memanfaatkan hari libur buat pulang, tiba-tiba pas saya dan ke-3 wali kelas
yang lain ngumpulin mereka buat kegiatan ini, mereka pada nggak jadi pulang kecuali
yang bener-bener urgent. Akhirnya, kita mulai bagi tugas dari mulai pembagian kelompok
yang kebagian membabat rumput, membuat pagar, membuat gadengan, mengurusi benih
dll. Jam 09.30 kita mulai start kerja. Biar kerja makin asik, saya siapkan
Laptop dan Sound untuk Live Music (Musik Islami pastinya), Kamera (buat
foto-foto), handycame (buat kenang-kenangan mereka nanti). Oh iya, ada juga
bagian konsumsi yang bertugas nyiapin cemilan dan minum buat para pekerja.
Alhasil, kelihatan banget mereka kerja cerdas dan cepat. Jam 12.00 semuanya
selesai. Wow, subhanallah sekali kan wanita yang masih kecil-kecil gitu bisa
ngerjain pekerjaan abang-abang becak, eh, tukang kuli bangunan maksudnya. I’m
proud of you girls.
Ada beberapa momen yang sempet
kami abadikan ketika berkebun tadi. Bisa lihat-lihat.
initially like this
and than like this
Nisa cleared weeds
Eva cut bamboo
Gita made a fence
Ami hoe (one)
Ami hoe (two)
Ami hoe (three)
Here our Garden has become! :)
Horeee, Alhamdulillah :)
Alhamdulillah berakhir dengan bahagia juga, dan akhirnya kita shalat dzuhur dan kembali ke aktifitas masing-masing. Thanks for today my girls. Love you all :)
In my spare time,Isometimesfound time toshootsomethingwithmyfavorite camera,the NikonD3100.Andifyou believe,allthe results ofthis pictureI tookfrom thebalcony of the house. Here it is!
I love today's sky :)
Chick
Grandpa and Grandchildren
Green and Blue, such a nice combination
cat
swan are swiming
Dragonfly
Panorama
I don't know is it nice or not in your eyes, but I saw something that I called it "a wonderful creation", and all praise be to Allah, so let's say SUBHANALLAH! :)
Alhamdulillah, kita (Komunitas
Matapena Rayon Tasikmalaya) baru aja selesai launching film kedua dari seri
Hidup Sekali hiduplah yang Berarti yang rilis dua tahun lalu. Kali ini judul
film nya adalah “INTENSIF”. Wah, maksudnya apaan? Ya maksud banget dong. Kita
tuh serius menggarap film ini, saking seriusnya, kadang pas syuting krew film
sampai lupa makan dan tidur, halaaah...
Film “INTENSIF” ini memakan waktu
5 hari untuk proses syutingnya. Durasi waktunya 1 jam 10 menit, lumayan lama
kan? Hehe. Wah, kok bisa bisa durasi segitu syuting nya Cuma 5 hari? Jawabannya,
ya Man Jadda Wa Jada dong.Jadi,
dari mulai Sutradara, Kameramen, Krew dan pemain semua disiplin banget terutama
masalah waktu, pokoknya gak ada tawar menawar deh.Bayangin aja, kita syuting
dari pukul 06.00 pagi sampai pukul 00.00 larut malam. WOW! Belum abis itu
Sutradara dan krew harus kumpul untuk nentuin rundown buat besoknya. Amazing
kan? Tapi untungnya semua elemen pada kompak, jadi Alhamdulillah syutingnya
lancar. Terus kalau masalah masuk kelas, kita membuat surat memohon perizinan
kepada Kepala Sekolah, Bagian Pengajaran dan Guru di kelas, jadi aman deh.
Fiuh..
Maksud dari judulnya sendiri
yaitu karena para pemain menceritakan diri mereka sebagai anak INTENSIF. Di
Pesantren kita setiap santri yang masuk SMA Terpadu tapi SMP nya di luar, kelas
mereka dinamakan “INTENSIF”. Artinya, kelas ini harus dengan sungguh-sungguh
mengejar ketertinggalan mereka dalam bidang akademik dari kelas “Quddama” alias
mereka yang sedari SMP sudah sekolah di Pesantren ini. Tapi selain itu, makna
INTENSIF sendiri di sini lebih luas, karena selain sungguh-sungguh dalam bidang
akademik, tapi mereka juga harus sungguh-sungguh dalam hal lain, semisal dalam
ibadah, persahabatan, pengorbanan, ketaatan, dll.
Genre film ini terbilang drama komedi
ya. Karena karakter dari tokoh-tokohnya sendiri beragam. Ada Raihani Dewi yang bisa dikatakan leader
kelompok ini. Dia berwatak tegas, serius, cepat dalam mengambil keputusan dan
alternatif, pintar namun tidak sombong. Sedangkan Nuni Hidayat memiliki
karakter yang agak konyol, tidak pernah serius dan tidak memiliki pendirian
yang kuat. Hana Salima berwatak hampir sama dengan Nuni, mereka kadang lebih
nyambung dengan kekonyolannya. Dan Ina Shaliha seorang santri yang agak
pendiam, penurut, namun memiliki pendirian kokoh yakni ingin menjadi seorang
Da’iah kondang, lantaran Ia sering dituntut menggantikan Nenek nya di kampung. Wah,
lengkap kan? Pokoknya dijamin seru kalau nonton film ini. Dan jangan lupa nonton
trailer filmnya di Youtube,
Mau tahu serunya Behind The Scene
Film “INTENSIF” dan serunya launching Film di acara Pekan Literasi Pelajar? Ini
dia saya kasih bocorannya.
Lena Sa'yati as The Director
Ini dia acara Launchingnya
Everyone wants to take pictures in photo booths with "INTENSIF MOVIE" as its background :)
Kalau acara Pekan Literasi Pelajarnya, serunya kayak gini
Jangan lupa cap jari di pohon pena nya ya :)
Yang ngisi acaranya Mbak Syamsa Hawa (Pimred Majalah Annida Online dan Mas Agung)
Aduh itu ketek nya :-p
All Committees with All Annida Crew
Me, Mbak Syamsa Hawa and Ove!
Grand Final Sayembara Menulis Novel, Cerpen dan Puisi. And they are as a winner. Congratulation! :)
My Beloved Hubby and I. Hihii
Oh iya, untuk pemesanan film "INTENSIF" yang harganya IDR 25.000,- silahkan hubungi Lena 085793708573 ya :)
Buat kamu pelajar se-Jawa Barat yang tertarik
pada dunia sastra, ayo ikuti acara keren ini. Menghadirkan Krew Majalah Annida
(Majalah Remaja Islam satu-satunya dan terbesar di Indonesia. Yang saat ini
jumlah kunjungan web annida-online mencapai 65 ribu kunjungan/ bulan (Februari
2012), dengan rata-rata 2000 pengunjung per hari, dan diakses oleh lebih dari
70 negara).
Acara:
Launching Majalah Condong
Launching Film
Grand Final Sayembara Penulisan Novel,
Cerpen dan Puisi
Nasyid, Marawis, dll.
Worksho Menulis bersama krew Majalah Annida
Meet and Greet Syamsa Hawa (Pimred Majalah
Annida).
ü
Cara Partisipasi:
Peserta adalah pelajar SMP, SMA dan
Mahasiswa Aktif.
Daftarkan diri kamu dengan mengisi formulir
yang disediakan paling lambat tanggal 12 Maret 2013. Atau melalui e-mail kami
di matapenatasik@gmail.com
Membayar uang pendaftaran 35.000,-
Fasilitas peserta; Blocknote, Bolpoin, Co
Card, Soft drink, Lunch, Book Signing dan sertifikat.
Bagi pelajar SMP dan SMA wajib memakai
pakaian sekolah.
ü
Waktu dan Tempat:
Komplek Pondok Pesantren Riyadlul ‘Ulum wadda’wah Condong
Cibeureum Tasikmalaya
Pada siang dan
sore Jum’at kemarin suasana pondok menjadi agak sedikit berbeda dari
sebelumnya. Pada satu ruangan terdapat satu kelompok yang menyalakan semangat
luar biasa untuk menulis. Bahkan saking semangatnya, teriakan mereka sampai
terdengar ke luar gedung.
Memang pada
hari itu sedang diadakan kegiatan karantina pembinaan untuk peserta Sayembara
Menulis Novel, Cerpen dan Puisi yang digelar Komunitas Matapena Rayon
Tasikmalaya. Kompetisi tersebut sengaja hanya melibatkan peserta dari dalam
saja. Dikira yang berminat hanya satu atau dua, ternyata kian hari peserta
semakin membludak. Kini tercatat peserta Sayembara Menulis di Pondok Pesantren
Condong jumlahnya menyentuh 117 orang. Subhanallah. Saya sampai kewalahan
ketika membina mereka, takut tidak terjangkau satu persatu, tapi Alhamdulillah
karena semangatnya yang begitu besar memicu diri saya untuk membimbing mereka
dengan sepenuh hati.
Kompetisi ini
baru diadakan tahun ini dan mudah-mudahan bisa terus istiqomah untuk
kedepannya. Kegiatan semacam ini disadari Komunitas Menulis di Pondok Pesantren
Condong untuk membakar semangat para santri dalam dunia Literasi, sehingga
harapannya dapat muncul para penulis yang berkualitas. Alhamdulillah ternyata
animo santri pun sangat besar saat digelar acara seperti ini.
Para peserta
Sayembara Menulis baru memasuki tahap satu dalam kompetisi. Yaitu tahap
karantina pembinaan. Di sini mereka dijejali pengetahuan seputar menulis dan
beberapa tips agar menjadi penulis yang baik. Dengan begitu, diharapkan ketika
nanti membuat karya, mereka tidak kebingungan dan bisa mengejawantahkan apa
yang mereka ketahui kedalam tulisannya masing-masing. Tahap selanjutnya, mereka diberi waktu satu
bulan untuk menyelesaikan karya dengan deadline terakhir pengumpulan
tanggal 2 Maret 2013 tepat pukul 12 malam. Setelah itu, semua karya yang
terkumpul akan diserahkan pada dewan juri, dan penentuan juaranya sendiri akan
diumumkan pada saat acara Pekan Literasi Pelajar ke-2 tanggal 12 Maret 2013 di
depan ratusan pelajar se-Jawa Barat.
Kompetisi ini
tentunya akan berlangsung seru, karena juaranya tidak memandang dia tingkat SMP
atau SMA, jadi siapa pun berhak menang jika karyanya bagus. Selain itu, juara
Sayembara Menulis juga memperebutkan piala Gubernur, Kepala Sekolah SMA Terpadu
dan SMP Terpadu. Keren bukan?Hal ini
sengaja untuk menjadi motivasi bagi para peserta agar mereka mempersiapkan
karya mereka dengan sebaik-baiknya. Selanjutnya, bagi para juara, karya mereka
juga akan diterbitkan. Ah, siapa yang tidak tergiur mengikuti ajang ini.
Begitulah semangat para prajurit penghunus pena di Pondok Pesantren Condong. {Lena}