Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Tantangan Indonesia Menyambut 48 Tahun ASEAN



Pada 8 Agustus tahun ini ASEAN genap berusia 48 tahun. Seiring perkembangan yang cukup pesat di kawasan ASEAN, Indonesia yang merupakan kakak tertua di wilayang asia tenggara ini perlu kiranya berbenah diri untuk merespon pelbagai tantangan yang datang baik dari sektor ekonomi, budaya, keamanan, maupun pendidikan. Selain itu, Indonesia pun haruslah menjadi negara yang menjamin lingkungan yang damai dan stabil di kawasan Asia Pasifik. Seperti beberapa waktu lalu, saat persoalan terkatung-katungnya etnis Rohingya yang kembali mencuat. Indonesia dan beberapa negara ASEAN seperti Malaysia dan Thailand yang terkena dampak langsung dari krisis tersebut, pada 20 Mei 2015 telah membahas persoalan yang rumit ini. Selain itu, Indonesia pun telah mengajak Myanmar untuk ikut serta menyelesaikan masalah ini. Dalam tahap ini, meskipun masih perlu dukungan dunia Internasional dari segi finansial dan keamanan untuk mencapai solusi yang permanen, setidaknya negara kita telah mengambil langkah yang tepat.
Sedangkan dalam bidang ekonomi, Indonesia harus siap menghadapi pasar bebas Asean yang akan berlangsung akhir tahun ini. Namun rupanya terdapat kesenjangan antara pemerintah dan rakyatnya. Di satu sisi, pemerintah bersemangat menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang diharapkan mampu membangun ekonomi Asia Tenggara. Namun di sisi lain, rakyatnya cenderung belum siap dari berbagai sudut. Baik itu sumber daya manusia maupun permodalan. Maka, perlu kiranya pemerintah membina langsung kepada masyarakat secara merata. Agar rakyat Indonesia tidak kalah bersaing dengan bangsa lainnya di Asia Tenggara. Karena walau bagaimana pun, pasar bebas ASEAN ini memiliki banyak dampak positif untuk menunjang perekonomian negara.
Adapun dari segi budaya, Indonesia adalah negara yang memiliki keragaman budaya. Untuk saat ini, kita boleh berbangga saat beberapa negara besar di belahan dunia tengah gemar mempelajari bahasa Indonesia. Sebut saja Australia dan Rusia. Begitu juga dengan dinobatkannya pulau Bali sebagai pulau terbaik ke-2 di dunia, dan ke-1 di kawasan Asia karena keindahan panorama serta keeksotisan budayanya. Namun pekerjaan rumah yang cukup sulit adalah bagaimana agar budaya kita dapat mendunia dan tidak kalah dengan budaya negara lain di Asia. Seperti halnya budaya K-Pop negeri Ginseng Korea Selatan yang mampu menyedot perhatian dunia lewat budaya dan industri kreatifnya. Hasilnya, semakin banyak turis yang datang mengunjungi negeri tersebut, serta perekonomiannya pun semakin meningkat.
Semoga negara Indonesia dapat terus berkembang dan mampu menjadikan budaya, perekonomian, keamanan serta pendidikannya memimpin negara-negara lain di Asia bahkan dunia.[] 


Warm Regards, 
Lena Sa'yati

Menyoal Fenomena Jilbabers, Hijabers dan Jilboobs di Indonesia

http://fc08.deviantart.net

Perintah untuk mengenakan jilbab dalam Islam telah diatur dalam al-Quran surat Al-Ahzab ayat 59 yang berbunyi;
"Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka’ yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. 33:59)

Yang dimaksud dengan jilbab sendiri adalah sejenis baju kurung yang lapang yang dapat menutup kepala, muka dan dada. 

         Dengan begitu, sudah jelas bahwa setiap wanita yang beragama Islam wajib menutup auratnya dengan mengenakan jilbab. Jilbab tidak sekedar tradisi atau produk budaya, melainkan titah tuhan pada hambanya. Memang apa gunanya? Tentu selain mendapat pahala dengan mentaati syariat-Nya, berjilbab juga memiliki hikmah tersendiri. Salah satunya adalah “KEMULIAAN”. Benar, jilbab adalah salah satu simbol kemuliaan. Sebab dengan mengenakan jilbab, seorang wanita akan terlihat anggun, rapi, sopan, serta dihormati. Sudah bukan barang baru jika wanita berjilbab seringkali mendapat nilai yang lebih luhur jika dibandingkan mereka yang tidak mengenakannya di kalangan masyarakat. Meski terkadang sering diledek dengan sebutan “bu haji” atau disapa dengan ucapan salam yang seakan mencemooh dari orang-orang jahil, tapi pada dasarnya itu adalah bentuk kemuliaan dari sebuah jilbab. Begitulah Allah dengan nyata memperlihatkan keagungannya.
Jilbab adalah solusi dari Allah untuk kaum wanita yang seringkali menjadi korban pelecehan. Jilbab adalah salah satu ciri yang membedakan wanita muslim dengan kafir. Jilbab adalah mahkota wanita yang menjadikannya tampak luhur dan terhormat. Begitulah ketentuan Allah yang pada akhirnya menginginkan hamba-Nya agar menjadi lebih baik dan akan menjadi ladang amal serta pahala tersendiri.
Indonesia adalah negara dengan penduduk mayoritas muslim. Karenanya, tidak heran bila banyak warga negaranya yang terlihat mengenakan jilbab. Meski begitu, yang menjadi ironi adalah ketika seringkali yang ditampilakan media adalah mereka yang bebas mengumbar auratnya. Tidak jarang para selebriti yang status KTP nya beragama islam pun ikut melepas ke-Islamannya. Padahal, media bisa disebut sebagai tolak ukur gambaran realita yang ada di masyarakat. Atau mungkin saja hal ini merupakan imbas dari masa kepemerintahan orde lama yang melarang wanita berjilbab. Sungguh masa-masa kelam serta ironis bagi kaum muslim pada zaman itu.
Sekalipun kaum muslim di Indonesia telah melewati masa kelamnya itu, tapi toh nyatanya masih marak saja gambar-gambar tak senonoh yang ditampilkan wanita muslim di media. Namun, tidak perlu menghujat atau menghakimi, karena selain mereka, masih banyak wanita muslim yang mau menjalankan syari’at berjilbab. Hanya saja, kaum perempuan berjilbab di negara ini tampak berbeda dengan mereka yang ada di belahan bumi lain. Indonesia adalah negara dengan fenomena jilbab yang unik atau nyaris aneh.
Sebut saja jilbabers, hijabers, atau yang terbaru jilboobs. Istilah-istilah tersebut merupakan sebutan bagi perempuan berjilbab dengan beragam kategori. Sejak kapan wanita berjilbab terpisah-pisah dalam beberapa kategori? Dan dimana semua itu berada? Di Indonesia! Saya yakin hanya di negara INDONESIA!. 

Jilbabers         
      Ciri khas yang kental untuk istilah ini adalah mereka yang mengenakan jilbab segi empat lebar semampai sampai menutup seluruh bagian dada dan punggung. Selain itu, jenis pakaian yang dikenakan pun identik dengan gamis atau blous panjang selutut. Khusus untuk pelajar, biasanya mereka mengkombinasikan style ini dengan tas ransel, kaos kaki dan manset (semacam sarung tangan yang dikenakan di pergelangan tangan). Entah siapa yang menemukan istilahnya, hanya saja begitu lah corak style berjilbab kaum jilbabers.
        Kaum jilbabers biasanya muncul dari sebuah komunitas pelajar Islam atau mereka yang menjadi aktivis di beberapa forum ke-Islaman. Tapi ada juga yang muncul dari salah satu partai politik yang berasaskan Islam. Sejauh ini, saya kira penampilan komunitas ini sesuai dengan syariat Islam, karena selain bentuk jilbab dan pakaian mereka yang longgar dan lebar, biasanya orang-orangnya mempunyai sifat yang sopan, religius, supel serta baik hati. Namun entah kenapa, justru orang-orang yang berpikiran negatif malah sering menghakimi mereka dengan sebutan so’ suci, teroris, norak atau bahkan kampungan.

Hijabers
         Muncul pada tahun 2010, komunitas yang dipelopori disainer muslim Dian Pelangi ini menamakan dirinya dengan istilah Hijabers Community (HC). Berbeda dengan kaum jilbabers, komunitas ini mengusung tema kreatifitas dalam penggunaan hijab. Tentu saja, karena komunitas ini lahir dari tangan-tangan para “Fashion Blogger”. Dengan begitu, jilbab pun dijadikan sebagai salah satu produk fashion yang tidak lagi terkesan norak, ekstrem atau kampungan. Dian Pelangi sebagai founder pun mulai mempopulerkan beragam gaya berjilbab dengan kreatifitasnya.
      Kemunculan komunitas ini ternyata memiliki dampak yang luas biasa bagi dunia per-jilbab-an di tanah air. Mulai dari para fashionista, selebritis, dan kaum wanita pada umumnya berbondong-bondong untuk memutuskan memakai jilbab dengan aneka gaya dan rupa. Jenis kerudung yang dikenakan identik dengan syawl atau pashmina. Kata “jilbab” pun dirubah penyebutannya dengan kata “hijab”. Akibatnya, banyak yang semula tidak berjilbab memilih untuk menutup kepalanya. Dan yang paling baru, banyak dari kalangan selebritis yang semula identik dengan keseksian serta keglamorannya ikut berhijrah untuk mengenakan hijab.
Nah, tapi dari sini dimulailah beragam kontroversi soal fenomena hijabers ini. Alih-alih menjalankan syariat Islam untuk menutup aurat, malah banyak dari mereka yang meniatkan dirinya berhijab karena ingin tampil lebih modis, dengan anggapan bahwa hijab kini tidak lagi terkesan “kampungan”. Akibatnya, banyak yang tampil setengah-setengah, alias berhijab tapi tidak menutup aurat. Atau berhijab, tapi tetap menonjolkan keseksian serta keglamoran. Bagaimana maksudnya? Secara kasat mata, jika dilihat dari segi penampilan banyak dari mereka yang berhijab tapi tidak menutup dada, memakai pakaian ketat, atau bahkan mengenakan celana pensil. Selain itu, tidak jarang dari mereka yang tidak segan mengumbar asmara dengan lawan jenis yang belum halal.
Berangkat dari fenomena ini, ada yang menilai postif tapi ada pula yang beranggapan negatif. Dari kalangan para disainer, masyarakat awam, serta para pebisnis pakaian, komunitas hijabers ini telah merubah cara pandang orang tentang jilbab. Jika dulu dianggap norak dan kampungan, kini terkesan modis dan stylish. Oleh karenanya, orang berhijab sekarang lebih banyak dari zaman dulu, karena paradigma mereka tentang jilbab yang kampungan itu telah berubah. Selain itu, dengan semakin beragam corak dan variasinya, mereka berharap bahwa kelak Indonesia menjadi kiblat fashion muslim dunia.
Meski demikian, banyak kalangan para ulama atau kaum jilbabers yang menyayangkannya. Karena bukannya menjadikan martabat kaum wanita terangkat dengan kemuliaannya, malah terkesan hedonis dan acuh terhadap kebenaran aturan dalam firman Allah. Kebanyakan dari mereka berkilah jika diingatkan atau dinasihati. Mereka selalu berkata “masih proses” jika orang mengingatkan untuk berhijab sesuai aturan yang Allah tetapkan. Tapi ternyata kalimat “masih proses” itu tidak terlihat sungguh-sungguh dalam menjemput hidayah Allah. Kebanyakan malah keasyikan dengan keadaannya sekarang, karena tak jarang yang mereka dapatkan adalah pujian serta sanjungan atas kreatifitas mereka dalam berhijab.
Terlepas dari beragam asumsi, justru komunitas ini kini semakin digemari dan membawa dampak yang signifikan dalam dunia bisnis dan perbukuan. Terbukti dari kebanyakan para anggotanya yang masing-masing memilih untuk memiliki line clothing sendiri. Selain itu, jika kita berkunjung ke toko buku, banyak buku yang termasuk best seller adalah buku-buku bergenre tutorial. Yaitu tutorial mengkreasikan kerudung dengan segala macam bentuk dan karakter.

Jilboobs
           Istilah jilboobs merupakan akronim dari kata jilbab dan boobs (payudara). Entah siapa penemunya, tapi yang pasti kemunculannya yang baru-baru ini meresahkan semua kalangan. Ciri khas dari komunitas ini adalah mereka yang mengenakan hijab transparan, tapi berpakaian ketat sehingga menonjolkan bagian dada. Tidak jarang mereka mengupload foto berhijab tapi memakai pakaian dengan lengan pendek serta celana jeans ketat. Komunitas ini dengan resmi membuat fans page di facebook dan secara berkala mengupload foto-foto serupa. Tidak tanggung-tanggung jumlah likers-nya mencapai 3000-an lebih. Sungguh ironis sekali. Saya kira komunitas seperti ini sudah merupakan sebuah penghinaan terhadap agama Islam. Karena dengan terang-terangan mereka mempermalukan agama dengan sengaja mempertontonkan bagian tubuhnya yang termasuk aurat. Saya benar-benar geram serta ingin segera fans page di facebook-nya diblokir.

Menyoal fenomena di atas, seakan kaum muslim di Indonesia tengah mencari jati diri ke-Islaman satu sama lain. Termasuk kedalam kelompok manakah diri ini, atau pantas tergolong kelompok manakah style yang saya tampilkan. Tentu hal ini dirasa tidak baik dan tidak kondusif bagi kaum muslim yang semestinya bersatu padu serta taat pada tuhannya yang satu, Allah SWt. Karena hal seperti ini hanya terjadi pada kaum wanita, sehingga tak jarang kaum pria seringkali mencemooh atau bahkan ikut prihatin, terutama pada orang-orang terdekatnya.
Perbedaan asas, corak serta pemikiran masing-masing kelompok menjadi bumerang tersendiri bagi kaum wanita muslim untuk tak henti-hentinya berdebat. Kaum jilbabers yang sederhana, serba tertutup dan syar’i merasa prihatin dengan kaum hijabers yang dengan kreatifitiasnya malah merujuk ke arah yang tidak Islami. Begitu juga kaum hijabers yang merasa terhina karena sebagian dari mereka yang seringkali diolok-olok sebagai “wanita jilboobs” lantaran kerudungnya tidak menutup dada.
Sedih? Iya. Marah? Mungkin tidak seharusnya kita sebagai ummat muslim bersikap antagonis. Jika Allah memerintahkan kita dalam firmannya untuk saling menasihati satu sama lain dalam kebaikan, itu sudah sepantasnya kita lakukan. Tapi bagaimana jika mereka yang dinasihati atau diingatkan malah membelot dengan dalih “pikirin aja diri lo sendiri, ngapain ngurusin orang. Emang lo udah sempurna!” tentu lain lagi. Tapi satu yang pasti, untuk saling menasihati satu sama lain dalam kebaikan, kita tidak perlu menjadi sempurna, karena tidak ada manusia yang sempurna selain Rasulullah. Jika begitu, sikap yang mesti kita ambil adalah kembali luruskan niat. Mari melapangkan dada dan membuka pikiran untuk menerima hal-hal positif dari orang yang berefek baik bagi diri sendiri. Tidak boleh saling menghujat satu sama lain, dan teruslah saling mendoakan agar kita kaum wanita bisa mendapat hidayah Allah untuk menjadi hamba-Nya yang lebih baik.[]
 

Twit..Twit..Jadi Buku!



Kecanggihan internet dan segala sesuatu yang hadir di dalamnya sepertinya sudah menjadi berkah tersendiri bagi penulis serta pengusaha penerbitan belakangan ini. Salah satu bukti nyata adalah semakin menjamurnya beragam sosial media yang selain menjadi alat penghubung antar sesama, juga mampu menghasilkan sebuah karya! Nggak percaya? Ayo kita buktikan.

Tren Buku dari Masa ke Masa
            Buku selain menjadi kebutuhan akan kehausan ilmu, ternyata juga bisa menjadi gaya hidup. Dari masa ke masa perkembangannya selalu berubah. Dari mulai gaya bahasa, genre, ragam cerita, kemasan sampai teknik promosinya selalu punya khas yang kemudian menjadi tren tersendiri dalam dunia perbukuan terutama di Indonesia.
            Masih lekat dalam ingatan kita pada zaman kolonialisme buku-buku fiksi banyak disesaki oleh cerita-cerita perjuangan, sejarah, maupun konflik negara. Munculah banyak nama penulis seperti Pramoedya Ananta Toer dengan tetralogi Pulau Buru-nya dll. Atau ada saatnya juga ketika komunitas-komunitas kepenulisan di negeri ini mulai eksis, dan menghasilkan tren baru perbukuan dengan lebih banyak menulis keroyokan dalam satu buku. Tak heran kala itu banyak dijumpai buku-buku antologi cerpen maupun puisi.
            Lebih jauh kedepan, ketika kebosanan akan genre tulisan mulai melanda para pelahap buku terutama fiksi, munculah tren teenlit. Teenlit sendiri merupakan trade mark  atau signature yang disematkan penerbit pada buku-buku berbau remaja dan cinta. Kebanyakan para penulisnya sudah tentu remaja. Buku semacam teenlit ini sangat renyah untuk dibaca, di samping cerita dan bahasanya yang ringan, penulis pun tidak terlalu mengedepankan gaya bahasa seperti buku karya sastrawan. Sehingga membacanya pun terkadang habis hanya dalam tempo hitungan jam saja. Salah satu penulis teenlit yang jadi trendsetter kala itu adalah Rachmania Ayunita dengan novel romantisnya yang juga diangkat ke layar lebar, Eiffel I’m In Love.  
            Selanjutnya, penulis dengan buku yang kembali membuat trend adalah Habiburrahman El-Shirazy dengan Ayat-ayat Cinta-nya. Bagaimana tidak, buku ini hampir dimiliki kebanyakan pembaca bahkan presiden SBY sekalipun. Selain itu, cerita yang disuguhkan dinilai berbeda dan bahkan terkesan melawan arus tren perbukuan kala itu. Tapi justru malah disambut dengan sangat baik oleh banyak kalangan karena kelihaian penulis dalam menggabungkan antara kisah cinta, perjuangan, perjalanan, dan Islam. Berkat karya fenomenalnya itu, sederet penulis-penulis baru ikut meramaikan tren buku yang dikatakan genre Novel Islami itu dengan membuat ide cerita serupa. Tidak hanya itu, nama penulis pun banyak diubah dengan membubuhkan imbuhan “El” seakan menunjukan kesamaan terhadap sang trensetter.
            Setelahnya, banyak lagi tren yang disuguhkan buku-buku karya penulis lokal. Seperti menjamurnya buku-buku biografi, how-to, true story, perjuangan menggapai mimpi, kisah konyol, sampai yang terbaru yakni buku yang ditulis para seleb twitter. Tren seperti apa lagi ini kira-kira?

Twit..Twit..Jadi Buku
            Menerbitkan buku menjadi lebih praktis dan mudah dengan adanya sosial media terutama blog dan twitter. Banyak penulis yang telah membuktikannya. Iseng-iseng menulis pengalaman atau cerita sehari-hari di blog, tidak lama berubah menjadi buku. Atau iseng nge-twit dan banyak followers, tidak lama kemudian menerbitkan buku. Bagaimana bisa begitu?
Selepas hebohnya buku-buku ajaib yang meramaikan toko buku, seperti serial Kambing Jantan-nya Raditya Dika, atau Poconggg karya Arief Muhammad, kini rak toko buku penuh dengan buku-buku karya orang-orang yang eksis di media sosial Twitter. Nggak percaya? Tentu bagi para pengguna Twitter, orang-orang ini tidak asing lagi. Sebut saja @infowatir, @benakribo, @liputan9 dll. Mereka telah menelorkan buku selepas sukses menjadi seleb Twitter. Bagaimana bisa? Sekedar info, salah satu ciri yang membuat akun-akun ini terkenal adalah kekhasan dari setiap twit mereka yang biasanya konyol dan tidak serius, sehingga membuat para stalker betah membacanya. Selain itu, biasanya mereka menggunakan nama samaran/palsu dan enggan mengungkap identitas asli, hal ini sebagai pendukung dari pencitraan identitas twit-twit mereka. 

Buku WATIR karya @infowatir
Buku LIPUTAN 9 karya @liputan9
            Selain para seleb twitter yang identik konyol tadi, tidak ketinggalan akun-akun berbau Islam juga ikut mewarnai. Seperti @ibelieve, @manjaddawajada dll. Mereka pun sama-sama telah menerbitkan buku namun dengan genre yang berbeda. Buku mereka lebih terkesan serius karena bernuansa dakwah dan motivasi.
            Segelintir contoh di atas menjadi bukti akan adanya tren baru yang tengah dialami dunia perbukuan di negeri kita. Tidak salah memang, karena ini lah bentuk dan hasil kemajuan zaman. Hanya saja yang terpenting bagi penulisnya adalah konsistensi dalam berkarya. Dan catatan bagi pembaca adalah pilihlah buku yang sekiranya bermanfaat untuk dibaca. Tidak hanya sekedar hiburan, tapi juga menambah wawasan. Tidak sekedar gaya-gayaan, tapi juga kritis terhadap bacaan.
            Kira-kira, tren apa lagi ya yang akan dialami dunia perbukuan di Indonesia? Just wait and see. Salah, maksudnya just wait and create! Mari tunggu dan ciptakan sesuatu!

Jadi Bendahara Kata, Jadi Penulis!



Kebanyakan masalah yang timbul pada seorang penulis pemula adalah kebuntuan. Baik itu dalam menulis artikel, essai, cerpen atau bahkan novel. Salah satu faktor penyebabnya adalah minimnya perbendaharaan kata yang dimiliki diri penulis. Mengapa bisa begitu? Tentu saja, karena semakin sedikit jenis dan gaya kata yang dimiliki, semakin sulit juga bagi seorang penulis untuk merangkai kalimat yang indah. Hal sepele semacam ini lah yang justru tidak disadari kebanyakan calon penulis. Akibatnya, pengulangan kata serupa dan kalimat yang itu-itu saja pun akan terus berulang dari paragraf satu ke yang lainnya. 


Kebuntuan dalam menyulam kalimat yang menawan sebetulnya memang gampang-gampang sulit. Selain memutar otak, kita terkadang perlu melibatkan perasaan agar apa yang dituangkan menjadi lebih total. Tapi jika jenis kata yang dikenal hanya sedikit, tentu akan menyebabkan sulitnya menuangkan gagasan ke dalam tulisan sehingga berujung pada kemandegan.
Cara yang paling mudah untuk membekali diri dengan perbendaharaan kata adalah membaca. Kenapa membaca? Karena dengan membaca beragam jenis buku, mau tidak mau kita akan bertemu sapa dengan deretan kata-kata. Dan disela-sela itu sudah tentu kata-kata baru pun akan muncul dan menjadi koleksi kata tersendiri bagi pembaca. Semakin banyak buku yang dibaca, semakin banyak pula perbendaharaan kata yang didapat. Sebaliknya, semakin jarang kita membaca, imajinasi dan kelihaian menulis pun akan semakin tumpul.
Membaca menjadi jurus ampuh untuk mengoleksi banyak kata-kata baru. Selain itu, cara lain yang tidak kalah efektif adalah dengan membeli kamus thesaurus atau banyak bergaul dengan Kamus Bahasa. Tapi biasanya cara seperti itu dirasa cukup lamban da tidak begitu menarik. Berbeda dengan membaca beragam jenis buku, dari mulai yang bergenre fiksi, biografi, atau how to, selain mengasyikan juga manfaatnya akan lebih mudah menempel di otak. Jadi, mulai sekarang galakan kembali membaca agar perbendaharaan kata semakin menumpuk. Kalau sudah jago mengoleksi banyak kata, menulis menjadi mudah, terhindar dari kebuntuan, dan tentunya bisa menjadi penulis. Asyik bukan? []  


Ramadan Menyatukan Kita




 Namanya Ramadan. Dari beberapa musim yang ada di dunia, tidak ada yang lebih mengagumkan dan secantik dia. Musim gugur dengan dedaunan yang mengalun di udara, musim semi dengan semarak wanginya aroma sakura, terasa biasa. Karena Ramadan adalah musim menebar kebaikan. Kebaikan selalu terlihat indah dan menyejukan.
             Satu hal yang membuat mata ini berkaca-kaca, disertai perasaan haru luar biasa, adalah ketika melihat eloknya jalinan tali persaudaraan di antara sesama makhluk-Nya. Si kaya mengasihi dan memberi yang miskin, ratusan anak yang bernasib sama di sebuah panti, tak lagi kesepian dari orang-orang yang ikhlas berbagi dan menyumbang kebahagiaan, atau sahabat lama, berkumpul kembali menyambung memori nostalgia. Serta, kedekatan makhluk dengan Khaliq-nya.  
             Momen baik ini seakan menjalar dan menular pada keluarga kami. Saya tinggal bersama suami dan orang tuanya. Selama berumah tangga, saya belum pernah sekali pun makan bersama dalam satu meja dengan mertua. Seringkali hal seperti itu kami anggap terlalu formal dan kaku. Kami selalu berpencar, di mana pun yang penting tetap dalam satu rumah.
            Namun Ramadan merubah segalanya, tepatnya memperbaiki segalanya. Bakda ashar adalah waktu yang tepat bagi saya dan Ibu untuk berkolaborasi di dapur. Menyusun menu, saling berbagi resep, dan tentu tak lupa saling berbagi cerita dan bercengkrama. Hal terlangka yang pernah kami lakukan dalam keseharian terjadi dengan begitu indah pada bulan penuh kemuliaan ini. Lebih dari itu, setiap magrib dan subuh, keluarga kecil ini berkumpul, berbagi rasa, cerita dan cinta. Saya melihat kasih sayang Allah menyertai rumah kami. Dan saya mensyukuri betapa Ramadan telah menyatukan kami.
Alhamdulillah..


*) Tulisan saya yang diikut sertakan dalam lomba Love Ramadan
dari OkeZone.com. Mohon di like ya link-nya dengan klik di sini.
Thank you :)