SAY NO! TO ISLAM KTP



            Pasti pernah lihat kan film Kiamat Sudah Dekat garapan Pak Dedi Mizwar. Tapi yang saya maksud sih bukan filmnya secara utuh, hanya ada satu scene yang sangat menggelitik. Yaitu, ketika Pak Haji bertanya pada si pemuda apa agamanya? Dan dengan enteng si pemuda menjawab “kalau gak salah sih Islam, Pak Haji” sambil merogoh KTP nya di dalam saku “Tuh kan bener Islam..” Setelah Ia melihat KTP nya. Ironis? Benar, Ingin seperti dia? Oh, jangan!
KENALI CIRI-CIRINYA
            Sudah beberapa bulan ini, kita seringkali disuguhi tayangan sinetron di salah satu stasiun TV swasta yang terang-terangan menyinggung tema diatas tadi, alias Islam KTP. Jika kita melihat sekilas, cukup jelas kesan yang bisa kita dapat dari sana, yaitu tentang carut marutnya kualitas iman seorang muslim. Mengaku muslim tapi tak berprilaku selayaknya seorang muslim. Mengaku muslim, tapi tak tahu apa itu Islam. Sehingga Islam cukup sebagai label pelengkap KTP saja, bahwa dia beragama ISLAM. Inilah yang kemudian orang menyebutnya dengan Islam KTP.
            Dalam keseharian kita, tentu tipe muslim semacam ini seringkali kita temukan. Bahwa mereka yang mengaku muslim, sudah enggan berada di rumah Allah, sudah abai dengan kumandang adzan, sudah lalai menjalankan shalat, sudah enggan mengeluarkan zakat, sudah neko-neko dalam menjalankan syari’at islam, bahkan sudah tak tertarik dengan agamanya sendiri.
            Jelas hal semacam ini merupakan bumerang tersendiri bagi umat islam. Ketika orang lain berbondong-bondong menjadi muallaf dan dengan sungguh-sungguh mempelajari islam, umat islam sendiri malah asik meniru-nirukan model kehidupan kebarat-baratan. Maka tak heran bila umat islam hancur justru oleh dirinya sendiri.
KETIDAK TERTARIKAN TERHADAP ISLAM
            Rasanya sudah tak asing bila shaf jajaran depan mesjid selalu terdiri dari para lansia dan kaum tua. Kemanakah para bujang? Oh, ternyata mereka lebih senang menghabiskan waktu dengan berada di jalanan, atau berlomba-lomba shopping di mall, atau bahkan di tempat-tempat ramai penuh dengan hiburan. Mesjid tak lagi menjadi tempat untuk berkumpul, mengaji dan berdiskusi. Majlis-majlis ta’lim hanya bersisi para ibu-ibu. Buku-buku dan kitab-kitab klasik hanya bagi mereka yang sering di ejek si kutu buku. Al-Quran tidak lagi memiliki pesona yang memikat untuk sekedar dibaca. Kerudung tak lagi sebagai penutup aurat secara utuh.
            Gemerlap kehidupan yang sekarang ini lebih serba instan dan canggih tentu menjadi pemicu utama mengapa kaum muda begitu terpesona dan menggila. Kecintaan terhadap dunia yang terlihat begitu manis dan menggiurkan memang mampu menyilaukan pandangan kita. Begitulah hebatnya tipu rayu dunia yang fana ini. Dalam bukunya Limadza Ta’akhoro Almuslimun Wa Yataqoddama Ghoiruhu Syakib Arsalan, salah satu ilmuan islam mengatakan, bahwa salah satu kehancuran seorang muslim disebabkan Hubbu Addunya (cinta dunia). Sehingga Islam tak lagi memiliki pesona yang menarik untuk dikaji atau bahkan dipahami secara mendalam. Islam menjadi tidak menarik dikalangan anak muda kita. Sehingga tak pelak muncul selintingan bagi mereka yang taat dan menunjukan ciri keislamannya dengan diolok-olok so’ alim dsb. Inilah tanda-tanda semakin semaraknya para muslim bermental KTP. Na’udzubillah..
YANG MUDA YANG BERAGAMA
            Setiap manusia dimuka bumi ini tahu akan kehebatan spirit dan semangat juang satu kaum yang bernama; Pemuda! Tidak perlu menunggu berapa tahun sebuah negara hancur, jika ditangan para pemuda hal demikian adalah mudah dan kilat. Namun, pemuda yang bagaimanakah yang mampu mengimplementasikan teori tersebut dalam sebuah gerakan masif. Tentu bagi mereka yang memiliki kepedulian tinggi terhadap nasib ummat dan agamanya. Namun, melihat semakin maraknya mereka yang mengaku muslim tapi hanya KTP nya saja, rasanya akan sangat sulit agar harapan tersebut terealisasi. Tapi itu bukan berarti mustahil. Dalam aspek psikologinya, para pemuda lebih mudah tersentuh atau terarah dibandingkan yang lainnya. Asal ada suri tauladan yang baik, serta sentuhan spiritual yang kontinyu terhadap mereka, maka lambat laun fenomena semacam inipun dapat teratasi.
Beberapa tips agar para pemuda kita tak terjerumus dalam fenomena islam KTP:
Pertama, Kenalilah agamamu sedalam-dalamnya. Bisa dengan membaca, menyimak ceramah, atau bertanya pada para ahli agama.
Kedua, Berusahalah untuk menyibukan diri dalam aktifitas yang berhubungan dengan keagamaan. Bisa dengan bergabung bersama para aktifis muslim, mengikuti kegiatan keagamaan seperti training atau bakti sosial dll.
Ketiga, Ingatlah selalu bahwa dunia ini hanya sementara, terlalu mencintai dunia sama halnya memanjakan diri untuk mendapat hadiah neraka. Tapi sebaliknya, beramal sebanyak-banyaknya untuk menabung kebaikan agar bahagia hidup di akhirat kelak.
Keempat, jangan pernah ragu untuk mengcover segala prilaku atau semua aspek kehidupanmu dengan islami (menanamkan nilai-nilai keislaman didalamnya).
Kelima, jangan minder bila orang mengejek dengan sebutan ustadz, so alim atau sebagainya, sesungguhnya orang seperti kamulah yang dibutuhkan masyarakat.
            Nah, semoga dengan beberapa tips tadi, kaum muda kita dapat menghela nafas sejenak untuk kembali menimang-nimang mana yang bermanfaat dan mana yang tidak. Dan yang terpenting, Islam jangan hanya dijadikan formalitas, tapi kenali, pelajari, kaji, pahami, dan cintai sampai kita mati. Sehingga, mulai saat ini, kita bisa bernafas lega untuk mengatakan No, to Islam KTP!. [Lena]

Lena Sa'yati, Mahasiswi IAIC Tasikmalaya,
Santri pondok Pesantren riyadlul 'Ulum Wadda'wah Condong
* You may read the same note on Qalam MUI Tasikmalaya Magazine (4th edition)

Bermaafan di Hari Lebaran




Pastinya sudah tak asing dengan kalimat  ‘mohon maaf lahir dan batin’ yang mulai gencar tersuarakan ketika mendekati hari raya iedul fitri. Biasanya orang akan membeli kartu-kartu dengan ucapan serupa yang kemudian dikirimkan ke teman-teman atau saudara jauh. Ah itu dulu, sekarang sudah lebih modern. Kita tinggal memajang foto dan membubuhkan tulisan kata ‘maaf lahir batin’ di dalamnya, upload ke facebook, lalu tag-kan ke teman-teman, beres deh. Atau lebih simpel lagi, kita tinggal mengetik kata-kata yang dirangkai sedemikian rupa lewat sms, tambahkan kontak teman dan saudara, dan kirim, selesai.
Begitulah fenomena saling bermaafan di hari lebaran. Namun apakah maaf yang kita ujarkan benar-benar tulus atau hanya agar tradisi dan budayanya saja berjalan mulus?
Mengapapa Harus Bermaafan?
Manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Siapapun pasti mengakuinya. Sesuci apapun manusia, tetaplah kesalahan setidaknya sempat singgah dalam dirinya. Namun tidak lantas mendengar alasan tadi kita bisa seenaknya berbuat salah atau malah berpura-pura lupa. Manusia dikaruniai dua sifat itu tentu agar kita tidak merasa sombong. Dan sifat sombong, akan tampak atau justru binasa tatkala kita tengah berada dalam posisi bersalah yang menuntut kita untuk meminta maaf, atau bahkan memaafkan.
Kedua sikap ini (meminta maaf dan memaafkan) merupakan salah satu sikap terpuji yang sangat sulit kita lakukan. Lho, bukannya gampang ya minta maaf? Tinggal bilang “mafin aku ya” apalagi memaafkan, tinggal bilang “ya”, lalu apa sulitnya? Secara teori memang terlihat sangat gampang, tapi coba saja praktekan sendiri dalam kehidupan sehari-hari. Sulitnya minta ampun. Sms gak dibales aja marah-marah sampai menyumpahi tidak akan pernah termaafkan seumur hidup! Gak kebayang deh bagaimana jadinya jika yang bersalah tiba-tiba meminta maaf, wah mesti ngumpulin berapa ribu energi dulu, itu. Mending kalau dimaafin, nah kalau nggak? Ya nggak apa-apa sih, yang penting kita sudah dengan tulus meminta maaf, adapun hasilnya, itu sudah bukan urusan kita lagi. Meskipun secara adab bergaul tetap perlu kontinuitas dalam mengembalikan ukhuwah persaudaraan. Maklum lah, namanya juga manusia, perlu proses untuk memaafkan.
Maka dari itu, saling bermaafan pada kenyataannya memang satu sikap yang benar-benar memerlukan kejernihan akal, keihklasan hati dan kelapangan dada yang super dahsyat. Bagaimana tidak, disamping berat menahan gengsi, bahkan adalagi yang menganggap barangsiapa yang meminta maaf terlebih dahulu, berarti dia kalah. Wah, nggak benar itu. Sama sekali tidak benar. Justru yang pertama kali meminta maaf, dialah orang yang mulia derajatnya.
Ada beberapa faktor mengapa kita harus saling bermaafan;
Pertama, karena jika kita ingin diampuni Allah dari segala dosa, kita harus terlebih dahulu menyelesaikan permasalahan kita dengan sesama mahluk. Karena tentu kita mengenal istilah hablu minallah hablu minannas. Hubungan baik dengan Allah maupun dengan manusia, keduanya haruslah seimbang.
Dari Ibnu Abbas rodhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya Alloh mengampuni beberapa perilaku umatku, yakni (karena) keliru, lupa dan terpaksa." (Hadits hasan diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Baihaqi, dan lain-lain)
Alloh memaafkan kesalahan hamba-Nya akibat tersalah (keliru atau tidak sengaja), lupa atau dipaksa. Nah, maka terkait hubungan mu’amalah, jika kita membuat suatu kerugian terhadap pihak lain, kita tetap harus mempertanggungjawabkannya.
Kedua, sesama muslim tidak boleh saling bermusuhan atau bertengar lebih dari tiga hari.
Rasulullah saw. bersabda: Janganlah kamu saling membenci, saling mendengki dan saling bermusuhan, tetapi jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara. Tidak halal seorang muslim mendiamkan (tidak menyapa) saudaranya lebih dari tiga hari. (Shahih Muslim)
Bayangkan saja, jika tidak ada yang maju terlebih dahulu untuk meminta maaf, mungkin selamanya tidak akan pernah akur. Begitupun yang memaafkan, keikhlasan adalah modal utama untuk melakukannya.
Maka, jika kita ingin dosa kita diampuni Allah, dan ingin taat kepada Rosul, bermaafanlah. Karena dengan bermaafan, dosa kita akan melebur.
Bermaafan bukanlah Tren!
Ketika menyambut hari raya, suasana damai dan khidmat seakan mewarnai hari yang fitri ini. Satu sama lain saling berjabat tangan, dan saling bermaafan. Bahkan sebagian sampai menitikan air mata. Setidaknya begitulah nuansa hari raya yang terekam dibenak kita. Dengan kata khas ‘mohon maaf lahir dan batin’ tentunya.
Hal ini pula yang kemudian menjamur dikalangan anak muda. Dengan ikut serta merayakan hari raya iedul fitri, merekapun tak ingin ketinggalan saling bermaafan. Jelas ini merupakan fenomena yang sangat bagus. Tapi coba tengok. Berapa orang yang kemudian setres gara-gara saling bermaafan! Nah lho! Jangan salahkan sikap saling bermaafannya, tapi lihat dulu bagaimana cara mereka meminta maaf.
Dirumah, HP dibiarkannya saja tergeletak diatas meja. Selang beberapa detik, ada sms masuk, beberapa detik lagi, sms masuk, dan begitu seterusnya sampai esok paginya menjelang. Bagaimana tidak stress si pemilik HP, yang akhirnya HP pun dimatikan saja.
Dengan begitu canggihnya teknologi terkini, ternyata tidak sepenuhnya mampu memudahkan aktifitas manusia. Mengetik sms dengan kata-kata indah bertemakan hari raya dan saling bermaafan, seakan hanya menjadi tren saja. Rasanya tidak afdol bila tidak ikut mengetik sms serupa. Atau bahkan, yang semula terbiasa silaturahmi face to face, karena kini ada HP, akhirnya kata ‘maaf’ hanya cukup di sms saja. Tentu ini merupakan kesenjangan dalam penggunaan teknologi. Kita tidak tahu apakah kata maaf yang melayang kesana kemari itu benar-benar tulus atau hanya ikut tren sms saja. Hal ini bisa dibuktikan. Ketika hari raya sudah berlalu, HP pun kembali sunyi, tak ada lagi kata maaf yang berseliweran. Inilah yang disayangkan, bermaafan yang menjadi tren. Tentu ini terbalik, yang sebenarnya adalah,  kita harus men-tren-kan bermaafan. [Lena]

Lena Sa'yati, Mahasiswi IAIC Tasikmalaya,
Santri pondok Pesantren riyadlul 'Ulum Wadda'wah Condong
*This note is published on Qalam MUI Tasikmalaya Magazine

Heart






Iyoo, kadang kesedihan itu mampu membuat seseorang mati. Aku mengerti dan tentunya faham mengapa hal demikian sampai terjadi. Setiap orang tentu memiliki hati. Kalau kau tahu, tidak ada di dunia ini sesuatu yang lebih lembut melebihi hati. Hati adalah anugrah dari Allah yang begitu lembut, jujur, dan memiliki pengaruh yang sangat fatal bagi jiwa manusia.
Jika banyak didunia ini yang selalu bersikap kasar, tidak berperasaan, itu bukan karena hatinya yang keras. Hati tetaplah lembut sampai kapanpun, hanya saja bisa jadi akal pikirannya lebih mendominasi jiwanya, sehingga sesuatu yang indah atau benar sekalipun dapat berubah menjadi kebalikannya. Mereka hanya tak mau mendengarkan kata hatinya. Itulah sebabnya banyak orang yang tak berperasaan di dunia ini.
Iyoo, dari semua kelebihan yang dimiliki hati kita, ternyata Iapun begitu sensitif, mudah terjamah, mudah tersentuh, mudah terluka, itulah kekurangannya. Tak bisa dibayangkan bagaimana dampak dari semua kekurangannya itu bagi keselamatan seorang anak manusia.
Banyak orang yang jika suasana hatinya bergembira, jiwanyapun ikut ceria, berbinar-binar, yang kemudian tercermin kedalam prilaku yang manusia itu perbuat. Bayangkan jika seseorang yang kau sukai ternyata akhirnya juga mencintaimu. Bagaimana perasaan hatimu? Tentu berbunga-bunga, senang luar biasa, bahkan bisa sampai mengejang perutmu. Dahsyat bukan dampak dari suasana hati itu?
Tapi sebaliknya, bila ternyata kekasih kita berpindah ke lain hati, bagaimanakah perasaan hati kita? Sakit luar biasa, serasa teriris pisau, sesak, mencekik, dan sangat sulit untuk diobati. Ini yang ekstrim dari dampak suasana hati kita. Bahkan bisa saja seseorang bunuh diri lantaran prihal ‘sakit hati’.
Jikalau ada di dunia ini obat terampuh untuk menyembuhkan hati ini, tentulah sangat langka, dan proses penyembuhannyapun dijamin akan lama. Dapat berminggu-minggu, berbulan-bulan, bertahun-tahun, atau bahakan seumur hidup hingga akhirnya manusia masuk ke liang lahat.
Coba saja rasakan sendiri. Rasakan jika kau memiliki permasalahan yang melibatkan hatimu. Saling bertengkar antar sahabat misalnya. Atau kurang perhatian orang tua. Atau bahkan dihianati kekasih sendiri. Sungguh rasanya sakit luar biasa. Aku berkata begini karena aku benar-benar telah mengalami semuanya. Dan memang rasanya itu ngilu, perih. Mungkin jika seumpama kulit, sudah berdarah-darah dan tak berbentuk lagi.
Jika kau tahu, bahwa sebenarnya, alat untuk kembali menenangkan suasana hati itu apa? Jawabannya adalah  berdzikir dengan sekhusyu’-khusyu’nya. Berpegang teguh pada Allah. Mengingat satu nama saja dalam benakmu, yaitu ‘Allah’, maka hatimu lambat laun akan melunak, lalu kemudian menjadi tenang.
Itulah, salah satu rahasia di dunia ini yang harus kira tafakkuri dan ‘arifi. Jangan pernah dengan sengaja mencoba menyakiti hati seseorang. Karena entah akan bagaimana nanti di akhirat hisaban dari orang yang kau sakiti itu.Jangan, jangan pernah.

Perekrutan Anggota Baru Matapena Tasik

Oleh: Lena Sa'yati, Pengurus Komunitas Matapena Rayon Tasik
http://www.lenasayati.blogspot.com



 Jum’at, 12 Agustus 2011 kemarin, Komunitas Matapena Tasik untuk pertamakalinya mengadakan acara perekrutan anggota baru. Ada 47 peserta yang mengikuti acara ini. Terdiri dari 43 santriwati dan 4 santri. Bertempat di gedung I’anah lt.2, agenda pertama adalah pembukaan. Dengan Mina Hapadoh (Ketua Matapena Tasik) sebagai MC, dan Ustadz Syahruzzaky Romadloni  memberikan sambutan selaku pembina Kepenulisan di Ponpes Condong.
Selanjutnya pengenalan Komunitas Matapena kepada para peserta disampaikan oleh saya sendiri selaku pengurus Komunitas Matapena Tasik. Materi ini bertujuan untuk memperkenalkan dan memahamkan kepada para peserta tentang apa itu Komunitas Matapena, kapan terbentuknya, apa sajakah kegiatannya, dll. Disela-sela materi, saya pun memutar video kegiatan-kegiatan anggota Matapena Tasik selama setahun terakhir. Video tersebut dapat anda lihat disini:



Setelah materi pengenalan Komunitas Matapena, para peserta digiring ke area gedung mandiri untuk mengikuti kegiatan selanjutnya, yaitu olah rasa. Dalam kegiatan ini, para peserta dituntut untuk lebih peka terhadap apa yang mereka rasakan, mereka lihat dan yang mereka  dengar. Kegiatan ini dilakasanakan diluar ruangan, dengan tujuan, agar para peserta dapat dengan mudah mendapatkan inspirasi dari apa yang mereka rasakan (tentu akan berbeda jika bertempat didalam ruangan).
 Setiap anak ditekankan agar tidak pernah sekalipun melepaskan pena dan buku, kemudian mata mereka satu persatu ditutup oleh panitia. Lalu satu sama lain berpegangan tangan, untuk kemudian diarahkan oleh panitia ke lokasi yang dituju. Di sini, kata hati, insting dan pendengaran yang lebih ditekankan. Kemudian anak-anak didudukan oleh panitia dengan jarak berjauhan satu sama lain. Seakan-akan mereka merasa sendirian saja ditempat itu. Beberapa menit kemudian, terdengar seruan “ Tidakkah kau lihat dibarisan rak-rak toko buku itu disesaki oleh buku-buku karangan orang asing? Tidakkah kau melihatnya? Buka matamu, buka! Buka mata kalian! “. Enam orang dari panitia telah siap mementaskan teater yang diawali oleh seruan tadi. Serentak para peserta melepaskan penutup matanya meski dengan ragu-ragu. Mereka terlihat celingukan saat menyadari disekelilingnya banyak orang, termasuk para santriwati di dalam kelas yang juga ingin ikut menyaksikan teater yang ditampilkan oleh para panitia dari anggota Matapena. Dengan menyaksikan penampilan teater, para peserta dituntut untuk peka terhadap apa yang mereka lihat dan dengar.

Pengenalan Komunitas Matapena
sebelum olah rasa
pengarahan sebelum olah rasa
menguji kepekaan
penempatan peserta saling berjauhan
penempatan selesai
" Buka matamu! buka!.."
Semua orang bisa menulis, Nak..jarrib, walaahid takun 'aarifan. Kita ingin, kita bisa!
Setelah melalui proses olah rasa, para pesertapun diminta untuk menuangkan apa yang baru saja mereka rasakan kedalam tulisan. Mereka diberi waktu satu jam untuk mengerjakannya. Sementara disela-sela itu, para panitia sengaja mendekati satu-persatu dari mereka untuk sedikit bertanya ini itu seputar sastra dan pengalaman mereka dalam bidang itu.

menuangkan apa yang dirasakan
panitia menghampiri peserta
pena, pena, pena. Jadilah prajurit penghunus pena.
Setelah semuanya selesai, para peserta kemuidan berkumpul untuk mengikuti diskusi sastra bersama seluruh panitia. Saya memulai dengan mengajukan beberapa pertanyaan seputar buku-buku bergenre sastra. Beberapa dari mereka ada yang bisa menjawab, bahkan sampai menjelaskan tentang isi bukunya, kesan terhadap buku tersebut, kemudian alasan mengapa buku itu begitu menarik untuk dibaca. Sebuah kebanggaan bagi saya ketika melihat sebagian dari mereka memiliki minat baca yang cukup besar. Karena penulis yang besar, adalah pembaca dengan minat besar pula.


Mengajukan beberapa pertanyaan seputar buku-buku sastra dan penulis-penulisnya
menyimak pertanyaan
Elif sharing buku yang dibacanya
Rahmaliapun menjelaskan isi buku yang dibacanya
Bakda dzuhur acara dilanjutkan dengan sarasehan sastra. Yang menjadi narasumber kala itu adalah sastrawan muda Tasik Bode Riswandi, penggiat sastra yang tergabung dalam Sanggar Sastra Tasik (SST), yakni salah satu sanggar sastra yang diasuh oleh sastrawan sekaliber Saiful Badar, Acep Zam-zam Noor, dan Nazaruddin Azhar. Sewaktu duduk dibangku SMP, saya sempat mengikuti lomba baca puisi yang diadakan SST. Dan kala itu saya membacakan puisi yang berjudul ‘Epitaf’ karya Bode Riswandi. Dan akhirnya, kemarin saya bisa juga membawa beliau ke ponpes untuk memberikan materi pengenalan sastra dan training motivasi menulis kepada para peserta. 

Pak Bode menyampaikan materi seputar sastra
Beliaupun sempat becerita tentang cerpennya yang berjudul 'wanita tanpa cerulit'
Panitia bersama sastrawan muda tasik Kang Bode Riswandi

Setelah mengikuti sarasehan sastra, para peserta beristirahat untuk melaksanakan shalat ashar, setela itu kembali ke ruangan untuk menonton trailer film santri ‘Hidup sekali Hiduplah Yang Berarti’ bersama-sama. Setelah itu, mereka kembali digiring ke gedung mandiri untuk mengikuti kegiatan selanjutnya, yaitu Forum Diskusi Sastra. Para peserta dibagi kedalam 6 kelompok. Masing-masing kelompok dibimbing oleh satu fasilitator dari panitia. Dalam forum ini, fasilitator memberikan sedikit pengenalan sastra, lalu meminta para peserta untuk saling menyambung cerita, menanyai satu-persatu tentang proses awal mereka menulis, memainkan game sastra, sharing seputar sastra, dll.

bazar kaset, buku dan buletin
Bazarnya banjir pembeli nih, alhamdulillah

Proses FDS (Forum Diskusi Sastra)


Selepas mengikuti Forum Diskusi Sastra, para pesertapun berkumpul di belakang gedung Brunei. Di sana para peserta akhirnya diberitahu bawa mereka semua telah resmi menjadi anggota baru Matapena, dan sebagian dari mereka akan dibentuk redaktur khusus mading Matapena. Acara ini sekaligus menutup seluruh kegiatan dalam acara perekrutan anggota baru Matapena. Lalu salah satu dari peserta diminta untuk memberikan testimoni terhadap kegiatan ini.
                Sambil ngabuburit, terakhir, acara diakhiri dengan musofahah para peserta dengan seluruh panitia. Dan mereka diberi pesan untuk tetap istiqomah dalam menulis, dengan tetap mengusung nilai-nilai keislaman dan dakwah. Suasana haru terlihat kala itu, karena setelah musofahah, para peserta enggan meninggalkan lokasi kegiatan. Akhirnya saya menyuruh para panitia untuk berkumpul di depan kelas gedung Mandiri, baru para peserta pasrah meninggalkan lokasi. Dan dengan rasa haru, mereka melambaikan tangan pada panitia. Seakan lambaian itu mampu mengutarakan perasaan mereka; ‘sampai jumpa, sampai bertemu lagi dengan karya-karya yang lebih hebat, dan bermakna’. Ya, akhirnya, sayapun mengucapkan “ Terimakasih sudah berpartisipasi dalam kegiatan ini, semoga acara ini bermanfaan bagi kita semua, amin”.

Shollalloh 'ala muhammad, Shollalloh 'alaihi wasallam
sampai jumpaaaaaaaaaa!...

RAMADHAN, Momentum Memupuk Kesabaran


Oleh: Lena Sa’yati

Saat lapar, tak boleh makan. Saat hauspun tak boleh minum. Saat kesal, tak boleh marah. Saat itu pula sejenis jin dan syetan kabur ketakutan. Kapan semua itu terjadi? Ini dia, yang disebut somebody is leaving, Ramdhan is coming! Benar, tamu agung kembali datang! Sebaliknya, tamu tak diundang pergi ketakutan. Inilah bulan mulia yang ditunggu-tunggu. Bulan penuh ampunan dan pahala tak tergantikan. Iya, penuh ampunan, iya pahala-pahalanya dilipat gandakan, tapi seberapa besarkah kemampuan kita menggapai kesabaran dalam menjalani puasa di bulan Ramadhan? Dan jawaban anak muda sekarang; Berapa aja boleh deh. 
Ramadhan Momentum untuk Bermalas-malasan?
Seribu satu godaan pasti akan kita temukan ketika menjalani puasa Ramdhan. Dari mulai terbit fajar, sampai tenggelamnya matahari, seakan disesaki bisikan dan hasrat ingin segera berbuka. Lihat yang dingin-dingin, bawaannya haus melulu. Lihat yang enak-enak, bawaannya lapar terus. Apalagi cuaca terik, perut keroncongan, tapi aktifitas tetap berjalan. Sungguh siksaan yang tiada habisnya. Kalau sudah begitu, sudah barang tentu kita terjangkit virus 5L: lemas, letih, lesu, loyo dan lunglai. Bawaannya malas ngapa-ngapain dan milih untuk tidur saja, atau nonton tv aja di rumah sambil ngadem, dari pada beraktifitas di luar bikin iman tergoda.
Eits, ternyata belum sampai disitu saja. Ketika waktu isa tiba, kita masih harus menunaikan ibadah shalat tarawih. Mana ke mesjid jauh, jumlah raka’atnya banyak, ditambah imamnya lambat banget lagi baca surahnya. Alhasil, bagi segelintir orang-orang MAKAN alias malas dan kurang iman, langsung pindah tuh kejajaran belakang untuk selonjoran. Dan lagi, untuk balas dendam karena seharian nggak makan dan minum, malamnya dihabiskan untuk menyikat semua makanan yang ada, daging, sayur, jus, buah-buahan, rujak, sampai kue-kuean ludes atas perintah perut kosong dan hawa nafsu yang tak terkontrol. Kalau sudah kenyang, langsung tidur, malas tahajud, malas sahur, atau bahkan malas shalat subuh! Ih, na’udzubillah. Pokoknya, satu kata untuk Ramadhan; Malas! Nah, yang model begini nih yang sering banget ditemukan disekeliling kita, atau bahkan kita sendiri seperti itu? Oh no! Jangan dong!
Yang muda, yang berpahala
Tidurnya orang yang sedang berpuasa memang ibadah dan bernilai pahala. Tapi gak wajar juga kalau kerjaan kita cuma tidur sepanjang puasa. Atau malah menjadikan dalil untuk tidur seharian sampai bedug magrib tiba. Ingat, Rosulullah SAW bersabda “ Al harokatu barokah “ yang artinya, bergerak itu mendatangkan keberkahan. Tapi bukan bergerak pas tidur, ngigau ke sana kemari, itu sih sama aja boong. Maksudnya bergerak melakukan hal-hal bermanfaat, seperti memperbanyak baca Al-Quran, shalawat, mengaji, belajar, dsb. Tentu lebih mendatangkan manfaat,  dan pahalanya pun lebih cihuy daripada dzikir-dzikiran (ngantuk dengan kepala ngangguk-ngangguk). Masa sobat sama sekali nggak tertarik dengan janji Allah tentang pelipat gandaan pahala di bulan Ramadhan. Masa gak tertarik untuk berbuat hal-hal mulia selama puasa Ramadhan. Malu dong sama Ramadhan, bulan yang mulia, suci, dan memiliki segudang keutamaan.
Rosulullah SAW saja bersabda: “ Jika telah datang awal malam bulan Ramdhan, diikatlah para setan dan jin-jin yang jahat. Ditutup pintu-pintu neraka, tidak ada satu pintu-pintu yang dibuka dan dibukalah pintu-pintu surga, tidak ada satu pintupun yang tertutup, berseru seorang penyeru: ‘Wahai orang yang ingin kebaikan lakukanlah, wahai orang yang ingin kejelekan kurangilah. Dan bagi Allah itu terjadi pada setiap malam” (HR. Tirmidzi). Kemudian dalam riwayat lain, sabda Rosulullah SAW “ Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan sabar dengan menyimpan pahala disisi Allah, maka seluruh dosanya akan diampuni” (HR. Bukhoro dan Muslim).
Subhanallah, betapa mulia bukan bulan Ramadhan ini? Saking mulianya, sampai orang yang tidurpun bernilai pahala. Berarti, kalau tidur saja mendapat pahala, apalagi kalau ditambah mengaji Al-Quran, dzikir, shalat tahajud dan baca Shalawat, ya? Ditengah keterbatasan fisik; tidak boleh makan, minum, marah, dll, jika kita menghadapinya dengan semangat dan mengisinya dengan hal-hal yang bermanfaat, bukan dengan malah bermalas-malasan, tentu nilai pahalanyapun akan semakin bertambah. Tapi ingat, jangan pahalanya dong yang dijadikan batasan, niat harus tetap lurus lillahi ta’ala, adapun pahala, itu sebagai tabungan buat akhirat  dan motivasi saja. Sebagai kaum muda, yang spiritnya masih berkobar, tentu harus jauh dari kata malas. Nenek kita saja yang sudah renta dan bahkan sulit berdiri, masih semangat puasa, shalat tarawih, dan ibadah lainnya. Apalagi kita-kita yang masih muda? Malu dong! Mestinya, kaum muda yang semangatnya membara, paling sering ibadahnya, paling banyak pula pahalanya.
Saatnya memupuk kesabaran
Sepertinya kata yang paling khas di bulan Ramadhan adalah; Lapar! Benar sekali, padahal biasanya saja sehari kita makan tiga kali, tapi ketika Ramadhan Cuma dua kali, itupun di ujung senja dan di ujung malam, berjauhan sekali, keburu lapar lagi. Tapi kan kalau melahap makanan pas puasa  batal! Melahap buku aja, atau Al-Quran lebih bagus, lebih menentramkan, dijamin tidak batal, malah dapat pahala. Intinya, ujian terberat yang Allah berikan pada kita di bulan ini adalah ujian kesabaran. Kesabaran dalam mengendalikan emosi, dan kesabaran dalam menghadapi segala sesuatu yang serba terbatas.
Bangsa arab jaman dahulu menggunakan kata Ramadhan untuk menyebut nama bulan kesembilan dalam penanggalan hijriyah, yang artinya ‘panas yang teramat sangat’, dimana padang pasir tengah bergemuruh riuh, disertai terik matahari yang mengkilat-kilat. Pada saat itulah kewajiban puasa ramadhan diturunkan.  Lha kok, mengapa Allah begitu ‘tega’ memerintah hambanya menunaikan ibadah puasa pada waktu dengan keadaan yang sangat tidak bersahabat. Justru disanalah Allah menguji kesabaran hambanya.
Rosulullahpun bersabda “ Puasa itu setengah kesabaran. Dan kesabaran itu sebagian dari iman” (HR. Tirmidzi).
Kalau dipikir-pikir, sungguh ajaib ya bangsa arab jaman dahulu itu. Di tengah padang pasir tandus, di bawah terik matahari, mampu menahan diri dari lapar dan dahaga! Apa tidak gila? Ya, mereka gila, gila akhirat, gila ibadah, gila pahala, gila yang sangat menguntungkan untuk hidupnya kelak diakhir masa. Lantas bagaimana dengan kita? Kita tidak sedang hidup di padang tandus kan? Cuaca terik, tinggal ngadem dirumah, sambil menyalakan AC. Jarak jauh, jadi cepat dengan kendaraan modern. Jaman dulu kan pake kuda. 
Berkaca pada masa lalu adalah sikap yang bijak. Kita sudah dianugrahi semua kemudahan yang lebih dari maksimal. Tapi apa yang terjadi? Mengaku anak muda, berjiwa muda, maju tak gentar membela yang benar, maju terus pantang mundur, energik dan bersemangat, namun ironis, lihatlah siapa yang dengan terang-terangan merokok di pinggir jalan? Lihatlah siapa yang mengisi shaf masjid di jajaran pertama? Siapa yang melakukan shalat berjamaah subuh di sana? Lihatlah siapa yang selalu dengan anarkis main hakim sendiri? Tidak sadarkah siapa yang selalu berbondong-bondong menghadiri majlis ta’lim dan pengajian-pengajian?
Ternyata fakta berbicara, kaum muda lebih banyak menyuarakan daripada melakukan. Hanya segelintir dari mereka yang lulus dari ujian Allah. Nilai kesabaran yang terlihat baru nol koma persen dari nilai maksimumnya. Terkadang semangat muda yang terlalu menggebu pun berbelok ke arah egoisme yang berujung anarkis. Sungguh miris bukan? Maka, dengan datangnya bulan Ramadhan, seakan menjadi embun yang menyejukan keringnya hati namun akan pergi seiring lahirnya matahari. Maka pergunakanlah bulan ramadhan yang hanya 30 hari ini untuk moment membagun dan memupuk kesabaran kita. Kesabaran yang menjadikan kita lebih bijak menatap hidup, dan yang paling penting, lebih mulia derajatnya disisi Allah. Kan jarang-jarang tuh kita puasa di hari-hari biasa. Maka, berbahagialah tatkala puasa ramdhan tiba, karena kita dapat menguji seberapa besar nilai kesabaran dalam diri kita, dan ketahuilah, barangsiapa yang lulus dari ujian Allah, maka Ia beruntung. Siapa sih yang tida mau untung? Baik untung di dunia, maupun unung diakhirat. Tak terkecuali kaum muda, anak kecil, ibu-ibu, bapak-bapak, nenek-nenek, kakek-kakek, semuanya pasti ingin beruntung! Jadi, supaya beruntung, mulai sekarang, hilangkan keegoisan, pupuk kesabaran di bulan Ramadhan. [Lena]

KRITIK MENYALA UNTUK SEMANGAT MUDA

Lena Sa’yati, Mahasiswi Sekolah Tinggi Pesantren Terpadu (STPT) Tasikmalaya
www.lenasayati.blogspot.com

               
               “Muda berkarya, tua kaya raya, mati masuk syurga” terkandung nilai filosofis dalam pepatah yang cukup populer tersebut. Sungguh alur kehidupan yang sangat ideal, diidam-idamkan hampir seluruh umat manusia dimuka bumi, sangat sempurna, dan tak lupa juga sangat sulit mewujudkannya, namun bukan berarti mustahil untuk bisa menggapainya. Jika demikian adanya, semestinya kita merenung tatkala mendengar pepatah tersebut. Cobalah kita tengok, betapa kebahagiaan yang abadi yakni di syurga, bermula dari bagaimana kita hidup semasa muda di dunia. Kalau begitu, jelas sudah, bahwa ditangan pemudalah sebuah perubahan besar dapat tercipta.
                Pemuda dalam artian seseorang yang masih berusia muda, semestinya memiliki jiwa dan semangat muda pula. Begitulah setidaknya jika kita menengok kebelakang, tatkala para pemuda masa penjajahan, saling berebut kemerdekaan, mereka beramai-ramai membentuk beragam komunitas, menyiapkan konsep, membuat misi, serta mampu membuat suatu perubahan dari pergerakannya. Seperti halnya organisasi yang pertama kali dibentuk kala itu BUDI UTOMO yang merupakan awal pergerakan menuju Indonesia merdeka.
                Menyoroti semangat menyala para pemuda zaman dahulu yang begitu kental dengan kobar perjuangan dan pengorbanan terhadap tanah air, namun kini, mungkin akan sangat sulit bila kita hendak menemukan tipikal karakter pemuda dengan semangat muda layaknya pemuda zaman dahulu. Betapa tidak, jika kita telaah, sebenarnya, pemuda masa kini adalah mereka yang serba lebih dalam mendapatkan segala hal. Status pendidikan lebih tinggi, perkembangan teknologi lebih canggih, cara berpikir lebih rasional. Lalu apakah dengan semua itu semangat muda para pemuda zaman sekarang lebih canggih pula dari pemuda zaman dulu? Oh sudah jelas, semangat demonstrasi mereka bahkan lebih anarkis, cara berpikir mereka lebih menekankan sikap emosional, penggunaan teknologipun tak kalah canggih dari teknologinya sendiri dengan sembarang mengumbar video-video tak senonoh ke dunia maya, apa tidak hebat? 
Terlebih ketika tiba masa kelulusan anak SMA, dengan semangat muda yang menyala-nyala, mereka berani ugal-ugalan dijalanan sambil meneriakan yel-yel, dan bahkan saking kreatifnya, merekapun beramai-ramai mencorat-coreti seragam putih abu kebanggaannya. Mau tidak mau, image pemuda masa kini masih saja ter-cap jelek dalam pandangan masyarakat. Memang tidak semua pemuda Indonesia seperti itu, hanya saja yang selalu muncul kepermukaan adalah aksi-aksi negatif tersebut. Sepertinya akan sangat membanggakan bila chanel-chanel televisi ramai memberitakan bahwa kelulusan dihiasi aksi sujud syukur bersama dilapangan sekolah, misalnya. Tapi apa yang selalu kita lihat? Setiap memindahkan chanel TV, sudah dipastikan, semua memberitakan bahwasanya kelulusan dihiasi aksi bentrok antar sekolah, atau corat-coret seragam, motor-motoran di jalan, dan lain sebagainya. Sungguh ironis, inilah semangat muda para pemuda zaman sekarang.
Tanpa kita sadari, faktor apakah yang menyebabkan aksi para pemuda Indonesia kini semakin terpuruk? Jauh dari gambaran para pemuda zaman dahulu yang jelas-jelas status pendidikannya saja lebih rendah. Apakah berasal dari faktor lingkungan? Sudah jelas. Apakah faktor gempuran teknologi yang semakin membutakan dan membuat mereka ketagihan? Tentu. Apakah karena rentannya pengaruh dari belahan bumi luar, terutama dari segi budaya yang hilir mudik menyapa generasi muda kita? Itu juga sudah barang benar. Namun pernahkah kita merenung, bahwasanya pertanyaan besar mengapa generasi muda hari ini begitu anarkis, emosional, dan tak tahu adab? Ternyata aksi-aksi negatif itu berasal dari penyakit hati yang tidak memperoleh pencegahan apalagi pengobatan.
Setiap lembaga pendidikan sudah tentu memiliki tujuan yang mulia. Yakni turut mencerdaskan dan memperbaiki moral bangsa. Kurikulum dirancang sedemikian rupa demi kelancaran menggapai tujuan tersebut. Disisplin peraturan dibuat sedemikian ketat untuk mencegah aksi pelanggaran dan menjaga ketertiban. Fasilitas terus dilengkapi demi menopang kegiatan belajar mengajar yang ideal. Semua diciptakan demi menggapai satu tujuan. Namun tanpa kita sadari, yang lebih penting dari sekedar mencerdaskan dan memperbaiki moral bangsa adalah menciptakan karakter beradab dan berakhlak mulia dalam jiwa setiap anak bangsa.
Kebanyakan sistem pendidikan di negeri kita lebih menekankan anak untuk dijejali pelajaran-pelajaran yang menuntut otak untuk terus berpikir, namun sangat sedikit yang menuntut hati untuk ikut tergerak. Pelajaran agama hanya menjadi kurikulum semata, tanpa masuk lebih jauh kedalam hati dan kesadaran anak. Fenomena aksi korup para politikus yang notabene adalah orang-orang yang berpendidikan merupakan contoh pahit yang harus kita telan, bahwa kecerdasan intelektual saja tidak cukup, perlu penyeimbang yang mengontrol setiap aksi dari kecerdasan intelektual tersebut, yang tiada lain adalah kecerdasan spiritual. Kecerdasan spirituallah yang kemudian mampu membentuk sebuah karakter dalam diri anak.  Membimbing pola hidup si anak dengan apa yang Ia yakini dalam hatinya. Cobalah tengok, mereka sekawanan anak muda yang ugal-ugalan dijalan itu adalah mereka yang kering kerontang jiwa spiritualnya. Tandus, tidak terairi. Itulah sebab dari hanya selalu mengunggul-unggulkan pendidikan lahiriah saja.
Dalam pergaulan sehari-hari, ilmu alam, sosial atau bahkan matematika sekalipun tidak akan mampu angkat biacara. Yang berperan kala itu adalah ilmu-ilmu yang mengajarkan ketauladanan, adab, sopan santun, yang hanya bisa dapatkan dari ilmu keagamaan. Inilah yang seharusnya menjadi standar kualitas setiap lembaga pendidikan, dan pedoman bagi setiap orang tua.
Tanpa hati, mana mungkin seseorang akan tergerak untuk melakukan suatu perubahan. Jika perubahan yang diciptakan berbentuk positif, itu karena berasal dari niat hati yang positif. Sebaliknya, jika perubahan yang diciptakan berbentuk negatif, sudah barang pasti berasal dari niat hati yang juga negatif.
Maka, tatkala kita mengetahui akan hal tersebut, bahwa ditangan pemudalah suatu perubahan tercipta, dan perubahan positif timbul karena niat hati yang positif pula, sepantasnyalah bagi kita untuk mengevaluasi diri, apakah hati ini telah mampu tergerak untuk menciptakan sebuah perubahan besar, dan apakah semangat muda yang berkobar dalam diri kita ini akan berbuah positif. Bila sudah begitu, tinggal menunggu waktu, kapan icon baru pemuda bangsa muncul dengan bibit unggulnya, serta mampu memberikan pengaruh besar bagi dirinya khususnya, dan masyarakat pada umumnya.