Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Tarikh 22

By, Lena Sa'yati



22 Oktober 1945
Sosok kyai berparas teduh  memulai pembicaraan di atas meja bundar, yang dikelilingi puluhan kyai sepuh dari berbagai pesantren di Indonesia, khususnya di Jawa Timur. Atmosfer ruang rapat itu begitu sakral namun khidmat. Seluruh pasang mata hanya tertuju pada satu orang, yang bibirnya bergetar mengumandangkan takbir berkali-kali dengan nada tinggi. Setiap kata yang ia ucapkan bagai api yang gusar hendak menyulut benda-benda kering di sekelilingnya, membuat bulu kuduk yang lainnya merinding dan seakan larut dalam hipnotis kata-kata sang kyai besar itu.
“Kita gerakan seluruh santri! Kita bahu-membahu mengawal tentara, hidup atau mati, negara ini haruslah merdeka!” serunya lantang.
“Allohu Akbar! Allohu Akbar!”
Sahutan takbir bersatu seirama menggema menyesaki udara. Semuanya bangkit dan tak henti bertakbir sambil mengepalkan tangan kanan dan mengacung-acungkannya ke udara dengan serentak. Pemandangan ini pula menjadi akhir pertemuan penting para pembesar pesantren di kota pahlawan. Namun setelahnya, adalah babak baru roda kehidupan Indonesia. 
Bersejarah, tentu hari itu akan menjadi sejarah.

***
            22 Oktober 2015
            Ribuan kaum bersarung serta berkopiah menyesaki masjid terbesar se-Asia Tenggara, Istiqlal Jakarta. Latar belakang pesantren mereka berbeda-beda, namun semua bersatu dalam satu nama; SANTRI.
            Di masjid bagian dalam, seluruh orang yang hadir tampak duduk bersila sesuai shaf shalat, sedang di lantai 2 karena takut melewatkan acara penting, mereka memilih berdiri sambil berpegangan pada pagar agar bisa menonton kegiatan berlangsung di bawah. Mereka sungguh antusias.
            Sedang di barisan paling depan, kau tampak melamun, padahal MC telah memulai acara dan menyampaikan basa-basinya. Rupanya, hari itu masih saja terekam di benakmu, hari pertama kau menginjakan kaki di dunia yang baru.

***
                        22 Juli 1980
                        Jumlah santri dan santriwati yang mencapai 3.000 orang dikerahkan ke lapangan utama untuk mengikuti upacara pekan perkenalan santri bersama dewan pimpinan pesantren dan para asatidz. Seluruh santri berpakaian seragam, santri putra mengenakan atasan putih, berpeci hitam, dan celana hitam. Sedangkan putri mengenakan gamis berwarna hijau toska tua, dan berkerudung hijau toska muda. Saat para pengurus berhasil membariskan mereka, dari atas, pemandangan itu tampak begitu rapi dan menyejukan mata.
                        Telah hadir pada pagi hari itu, pimpinan pesantren yang wibawa dan kharismanya sangat disegani santri. Bukan karena galak, bukan karena otoriter, atau bahkan gila kekuasaan. Tapi karena setiap kata yang diucapkannya selalu mengandung makna filosofis yang dalam, setiap gerak geriknya menunjukan tauladan yang mulia. Setiap keputusan dan kebijakannya, menjadi pedoman pesantren dalam membina para santrinya.
                        Beliau tengah duduk di atas podium yang disimpan di lantai 3 gedung Riyadlul Badi’ah, hal ini dimaksudkan agar beliau dapat melihat seluruh santri dari ketinggian.
                        Sedang dirimu, berada di posisi terdepan dengan wajah yang layu. Di matamu, terdapat adegan pahit yang masih saja kau pikirkan. Impianmu melanjutkan SMA di sekolah negeri harus kandas saat ayahmu lebih memilih pesantren sebagai tempat tinggalmu. Setiap kali bayangan pertengkaran itu muncul di ingatanmu, saat itu pula matamu terpejam lama dengan kuat, berharap memori itu segera enyah dari kepala.
                        Tapi siapa yang tahu, Allah adalah Maha Pembolak-balik hati. Hati yang keras, bisa dengan mudah Ia lembutkan. Sebaliknya, jika Ia telah murka, hati yang telah lembut, namun membuat dosa yang begitu keji, seketika hatinya ia keraskan hingga tak dapat menggapai kekhusyuan beribadah pada-Nya lagi. Jika sudah begitu, waktu yang tersisa hanyalah gumpalan-gumpalan dosa yang semakin menyeret manusia ke lubang neraka.
                        “Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.” Kyai Adra’i membuka sambutan yang langsung mendapat sahutan dari para santri.
                        “Nak, siapa yang masih belum ikhlas mesantren, coba angkat tangan!” pintanya. Namun kalimat beliau hanya menuai keheningan. Tentu tak akan ada yang berani.
                        “Saya harap, jika masih ada yang belum ikhlas mesantren, sebaiknya perbaiki dulu hatinya, perbaharui dulu niatnya, pertajam dulu imannya!” beliau membetulkan letak kacamatanya.
                        “Pesantren hanya untuk orang yang mau berjuang. Berjuang memberantas kebodohan dari muka bumi. Berjuang hidup mandiri jauh dari keluarga. Berjuang membangun muslim dan bangsa yang bermoral, berakidah, berpendidikan, dan berkualitas. Pesantren bukan untuk orang yang cengeng! Bukan untuk orang yang manja, yang mencintai hidup hedonisme yang jauuuuuh dari nilai-nilai luhur Islam.” Nafasnya terengah saking terlalu semangat. “Jadi saya tekankan kembali, yang hatinya masih belum ikhlas di pesantren, silahkan perbaharui lagi niatnya!”
                        Kalimat sang kyai menghentak lamunanmu yang melankolis itu. Ya, hatimu masih belum luruh untuk mesantren.
                        “Nak, hidup itu adalah pilihan. Sekarang pilih, muda belajar seenaknya, bahkan lebih banyak mainnya, lulus kerja sembarangan, tak menghiraukan yang baik atau buruk untuk akhirat, dan mati entah seperti apa. Negara hanya disesaki sampah jika karakter bangsanya begitu…
                        Lain lagi kalau masih muda fokus belajar, belajar ilmu yang fardu ain dan fardu kifayah dengan sungguh-sungguh, ibadah dengan benar, lulus cari kerja yang bisa merubah keadaan bangsa dan Negara, mati dikenang selamanya.”
                        “Pilih! Ayo pilih mau yang mana?!” hentak sang kyai.
                        Lagi-lagi kalimat itu menyindirmu yang masih memandang pesantren sebelah mata. Dan perlahan, pintu di hatimu mengeluarkan bunyi ‘krekett’ membuatnya terbuka meski secercah.
Bersejarah, tentu hari itu akan menjadi sejarah.

***
            22 Oktober 1980
            Setiap malam santri bergantian mengaji surat Yasin di kediaman pak kyai. Biasanya, santri berjumlah 20 orang atau lebih setiap malamnya, mereka akan duduk bersila di atas karpet sambil membuat lingkaran. Mereka membaca al-quran dengan nada yang sama secara berjama’ah sehingga terdengar syahdu dan merdu. Para khodimah bu nyai akan menyuguhi mereka selepas ngaji dengan berbagai cemilan dan minuman, tanda terimakasih.
            Namun kau selalu berpikir, kapan semua kejanggalan ini akan berakhir, maksudmu berakhir bahagia. Saat pak kyai keluar dari kamarnya tanpa harus lagi mengenakan kursi roda atau bahkan terbaring seharian di ranjangnya. Sungguh sedih hatimu saat itu. Kau haus sekali nasihat dan petuah beliau.
            Terakhir, pak kyai didatangi sekelompok orang dari partai politik yang menawarinya untuk menjadi calon kepala daerah. Tapi dengan tegas pak kyai menolaknya. Baginya, jika kyai sudah berpartai, maka pesantrennya tidak akan bertahan lama. Ia hanya lurus pada tujuannya, mengajar dan membina kaum muslimin sebaik-baiknya. Sungguh mulia, pikirmu.
            Selepasnya, beliau menasihati santrinya untuk menjadi pemimpin yang amanah jika terpilih. Beliau sangat ingin jika santri-santrinya bisa menjadi orang-orang terpandang di negeri ini. Namun satu yang ia tekankan, jangan lupakan ilmu yang telah dituai di pesantren. Syukur-syukur mengaplikasikannya di kehidupan mendatang.
            Bu nyai kemudian meminta sebagian santri untuk membopong kyai ke wc, beliau ingin berwudhu layaknya orang normal. Dan kau memberanikan diri untuk membantu. Kau menunaikan tugas itu. Dan kembali membaringkan beliau di tempat tidur. Kau, dimintanya memakaikan beliau pakaian bagus lengkap dengan peci dan sarung untuk melaksanakan shalat isya. Lalu kau dipersilahkan keluar.
            Sesaat kau duduk bersama yang lain, teriakan bu nyai mengagetkanmu. 
Bersejarah, tentu hari itu akan menjadi sejarah.
***
22 Oktober 2015
            Lamunanmu buyar saat MC mempersilahkanmu maju. Meski sempat terperanjat, namun cepat-cepat kau membetulkan diri dan bangkit dari duduk sambil melambaikan tangan pada seluruh orang yang hadir. Lalu kakimu melangkah dengan gagah menuju podium.
            Kau mengucap salam dan memberikan muqoddimah dengan logat arab yang kental, memperaktikan secuil kemampuanmu saat mesantren di Al-Azhar University.
            “22 Oktober adalah hari yang bersejarah bagi negara kita, di mana resolusi jihad menjadi peletak dasar kemerdekaan Indonesia yang sepertinya terkadang luput dari  perhatian masyarakat atau dari pemerhati sejarah sekalipun. Padahal jika kita telisik lebih dalam, kaum santri dan para kyai pada masa itu rela mewakafkan dirinya untuk berjuang meraih kemerdekaan Indonesia.
Maka saya kira sudah sepatutnya kita mengenang jasa-jasa mereka dengan memperingati hari santri yang in sya Allah akan diresmikan mulai hari ini.”
“Allohu Akbar!” sahutan para audiens mengudara menyahut perkataanmu. Dan dengan bangga, seulas senyum tergaris di bibirmu.
“Dengan bismillahirrahmanirrahiim, hari santri yang jatuh pada tanggal 22 Oktober ini saya resmikan!”
            Sebelum hari ini, berbagai komentar positif mau pun negatif sempat mengganggu hari-harimu. Mereka bilang, kalau kau membeda-bedakan pelajar. Kau lebih menspesialkan santri dari pada pelajar umum. Mereka bilang lantaran kau sendiri adalah santri dulunya. Namun dengan tegas kau menghimbau, bahwa tidak ada maksud membeda-bedakan, peringatan hari santri sama halnya seperti peringatan hari pahlawan pada tanggal 10 November.
            Nyatanya, Allah telah membalikan hati kerasmu yang dulu. Dan kau amat bersyukur karenanya. Kau ingat pepatah kyai yang berharap bangsa ini dipimpin oleh orang-orang yang memiliki pemahaman agama yang baik, berakidah, berpendidikan, bijak dan jujur. Meski terkadang kau merendah, tapi kau telah mewujudkan angannya. Kini, betapa bangga ayahmu dan pak kyai padamu.
            Samar-samar, masih di podium, saat mengakhiri sambutan, matamu menangkap sosok putih di tengah kerumunan. Wajah teduhnya mengulas senyum hangat dan mengganguk padamu. Kau kedipkan beberapa kali matamu, untuk memastikan itu nyata. Namun berikutnya, tak lagi kau dapati sosok itu.
            “Pak kyai, apakah kau itu?” gumamu dalam hati.
                        Meski guratan isyarat yang tampak tak nyata itu menghilang, namun senyum hangat orang paling berpengaruh dalam hidupmu tetap kau ingat. Jika boleh, kau ingin sekali lagi berjumpa secara dekat. Kau ingin memeluknya, mengecup tangannya seperti dulu, dan mengucapkan terimakasihmu yang dulu tak sempat kau utarakan.
Bersejarah, tentu hari itu akan menjadi sejarah.[]

DIALOG HUJAN (cerpen)


by, Lena Sa'yati



            Halte bus mendadak ramai karena hujan yang deras mengguyur jalanan ibu kota. Kebanyakan memang menunggu bus, namun ada juga yang hanya sekedar berteduh. Begitu pula seorang wanita yang hijab pinknya basah kuyup dengan tubuh menggigil kedinginan. Ia yang duduk meringkuk sesekali menggosok-gosokan telapak tangannya untuk menghangatkan diri.
Saat bus tiba, sebagian berbondong-bondong menaikinya, hingga hanya tersisa dirinya seorang. Ia hanya bermaksud mendatangi kantor penerbit novelnya di seberang jalan, tapi kalau harus menerobos hujan selebat itu, ia pun tak mau. Sialnya lagi, ia sama sekali tak mempersiapkan payung atau jaket.
            Beberapa menit berlalu, nada hujan masih saja sama, kesendiriannya pun semakin nyata. Namun tidak pada sepersekian detik kemudian, saat seorang pemuda yang berpayung berlari terseok-seok di trotoar hendak menuju halte.
         “Kau di sini rupanya.” ia menyapa wanita itu yang kemudian merasa terkejut dengan kedatangannya. Pemuda tampan dengan tubuh semampai itu pun lekas menutup payungnya dan mencari posisi untuk duduk disamping si wanita.
            “Mau ke kantor penerbit itu?” tanya si pemuda dengan nada ramah sambil sesekali melepas senyum di bibirnya. Sebaliknya, wanita itu hanya mengangguk dengan ekspresi datar.
            “Ayo, biar kuantar!” pemuda itu bangkit sambil kembali membuka payungnya. Tapi kemudian wanita itu mendongakan kepala dan melirik si pemuda dengan tajam. Ia tak suka. Tapi kemudian ia bangkit juga, lalu berlari ke jalan raya, membuat si pemuda terkejut dan terburu-buru menyusulnya.
@@@
            Semenjak rentetan riwayat chat yang lumayan panjang di malam itu, sepertinya Aura telah sedikit memberi harapan untuk membuka hatinya pada Aldo. Tapi nyatanya, apa yang mereka bicarakan adalah layaknya seorang teman biasa. Namun menjadi berbeda saat Aura bercerita dengan agak emosional soal kepergian suaminya tercinta. Ia terpuruk dan hanya Aldo yang mau mendengar kisahnya.
@@@
            Suara bising klakson mobil saling bersahutan saat Aura dengan berani berlari di jalan raya, disusul Aldo yang masih menenteng payung di belakangnya. Aura hanya fokus ke depan, sedangkan Aldo harus berkali-kali membungkukan punggungnya, meminta maaf pada para pengendara yang cukup terganggu.
         Sesampainya di trotoar sebrang halte, Aura masih mempercepat langkahnya, hendak menghindari Aldo. Tapi selalu begitu sebaliknya, Aldo pun semakin mempercepat langkahnya agar sejajar dengan Aura.
            “Aura tunggu!” Aldo sesekali menyeru agar Aura mau mensejajarkan langkahnya. Hingga akhirnya tersusul juga.
            “Kamu tidak sopan, harusnya panggil aku kakak!” Aura membuka suara, meski masih agak ketus. Langkah mereka mulai beriringan. Saat itu pula Aldo mulai membagi payung.
            “Tidak lagi.” Aldo menyahut. Membuat langkah Aura terhenti. Aldo yang selangkah kedepan, kembali mundur dan membetulkan letak payungnya agar menaungi kepala Aura. Mereka menjadi berhadapan, persis seperti 9 tahun lalu. Adegan Aldo berbagi payung dengan Aura memang bukan pertama kalinya.
            “Kenapa? Kenapa harus berubah?” Aura bertanya, meski lebih terkesan mengintrogasi. Aldo tak lantas menjawab, ia menatap wanita yang lebih tua 5 tahun darinya itu dengan seksama.
“Karena semuanya sudah berbeda.” ucapnya. Aura mengernyitkan dahi, padahal sebetulnya ia tak begitu terkejut. Laki-laki yang kini tumbuh dewasa di hadapannya itu dulu hanya bocah ingusan yang selalu berkonsultasi masalah dosen dan tugas mata kuliah atau hanya sekedar berbagi cerita ringan padanya. Mungkin karena jurusan mereka sama, sastra.
Tapi semua menjadi ganjil saat Aldo selalu menolak wanita mana pun yang menyukainya, selalu menguntit setiap kegiatan Aura, dan bahkan sempat sedikit menjauh saat Aura harus menikah dengan lelaki yang mempersuntingnya. Tapi apa peduli Aura padanya, baginya Aldo hanya adik dan teman.
“Kalau kamu berpikir karena keadaanku sekarang sudah berubah, jangan mengira hatiku pun telah berubah.” Aura menyahut. Sesaat, suara titik hujan di atas payung terdengar jelas memecah keheningan di antara mereka.
“Bukan, bukan keadaanmu yang berubah.” Aldo menyambung, “Aku yang berubah.” lanjutnya. “Aku tahu kita punya perasaan yang sama, bahkan sejak dulu. Tapi aku juga tahu, kau hanya menganggapku bocah, dan aku belum mampu menyangkalnya saat itu. Tapi kini, aku sudah berubah, aku telah berbeda, aku sudah siap.”
Aura kembali gugup, perlahan, pintu hatinya mulai terketuk. 3 bulan setelah kematian suaminya dalam kecelakaan mobil, baru kali ini hatinya kembali merona. Ia tak bisa menyangkal, Aldo yang dewasa memang sangat memesona.
“Aldo, dengar.” Aura menundukan wajahnya, tak sanggup menatap mata Aldo yang sedari tadi memancarkan kesungguhan niatnya. “Ada banyak alasan kenapa aku tidak memilihmu.”
“Ya, aku tahu itu. Tap..”
“Sebentar,” Aura memotong, “Alasan ini berlaku untuk kita yang dulu maupun yang sekarang.” 
“Aku sudah tahu, aku sudah sangat hafal. Kau hanya akan menghawatirkan usia kita, cibiran orang untuk kita, kedewasaanku yang mungkin di bawahmu. Aku sudah hafal itu semua, dan aku sudah mati rasa untuk itu. Perasaan ini lebih besar dan lebih kuat untuk mengalahkan semua alasanmu.”
“Bagaimana bisa kamu hidup dengan orang lain dengan cinta butamu itu?” Aura menyahut.
“Kita semua bisa, hanya kau yang masih ragu.” Aldo bertahan.
“Orangtuamu tidak akan menerima janda untuk pendamping putranya.”
“Orangtuaku menerima semua keputusanku.”
“Hidupmu akan penuh cibiran dari teman-temanmu, teman-temanku.”
“Aku menjadikannya bumbu yang memperkaya hubungan kita.”
“Aku akan lebih cepat tua darimu.”
“Kau akan selalu cantik, bagiku.”
“Sikapku akan lebih keibuan dibanding istri yang seumuran.”
“Aku akan senang menerimanya, kau akan mengatur hidupku lebih tertata.”
Aura menyerah. Setiap alasan, selalu dibalas Aldo dengan kebalikannya. Menyadari keterpakuan Aura, Aldo menyabet tas gendongnya dan merogoh sesuatu di saku tas paling depan. Selembar foto. Ia menunjukannya pada Aura.
“Aku membuat ini untuk kita.” Gambar itu menunjukan sebuah gembok berwarna biru muda yang tergantung bersama ribuan gembok lain di sebuah pagar. Di atas gembok biru muda itu tertulis Aldo dan Aura yang ditengahi dengan lambang love.
“Apa ini?” Aura berpura-pura tak tahu.
“Ini gembok cinta, sedikit tidak rasional memang, orang dewasa seperti kita masih begini, tapi aku selalu percaya simbol. Dan ini, adalah simbol perasaan kita.”
“Kita?” Aura mengernyitkan dahi.
“Benar. Mereka bilang, jika kita mengunci gembok itu di sana, cinta kita akan abadi. Dengan satu syarat, kuncinya harus dibuang ke tempat yang sudah disediakan.” Aldo menunggu respon dari Aura. Tapi tak ada, lalu ia melanjutkan. “Apa kau tidak mau bertanya dimana kuncinya?” Aldo memancing. Aura melihat wajah Aldo yang mulai basah dengan cipratan air hujan. Sebagian besar payungnya menaungi Aura, hingga membuat sebagian kepala Aldo terciprat hujan.
            “Dimana?” Aura akhirnya menyahut. Aldo merogoh saku celananya.
            “Di sini, dan selalu kubawa kemana pun.” Aldo menunjukan kunci itu pada Aura yang masih bersikap datar.
            “Baguslah.” sungguh bukan jawaban yang Aldo harapkan. Tapi biarlah, nyatanya ia tak lantas menyerah.
            “Kau tahu kenapa aku tidak menaruhnya di tempat kunci itu?” Sambungnya sambil berharap-harap cemas akan jawaban Aura selanjutnya. Tapi Aura yang masih memandangi wajahnya yang basah malah membetulkan posisi payung agar menaungi mereka berdua. Hujan masih saja deras, Air yang memantul dari tanah membuat ujung rok Aura maupun ujung celana jeans Aldo basah dan kotor.
            “Oke, jadi kenapa?” tanya Aura sambil melipatkan kedua lengannya di dada, menahan dingin. Aldo yang masih menggenggam erat kuncinya itu segera mempersiapkan jawaban.
            “Karena aku ingin kau yang menaruhnya di sana.” pelan suara Aldo dengan nada memelas membuat kejutan besar yang mengalahkan gemuruh petir dan hujan yang begitu deras. Membuat hati Aura basah dengan guyuran sebait kalimat yang pemuda berusia 23 tahun itu lontarkan.
Air hujan yang membentuk garis-garis vertikal itu seakan berhenti dalam bentuk titik-titik bening ikut menahan perasaan aneh yang semakin bergumul di dalam hati Aura. Suara bising deru kendaraan pun seakan bisu, kalah akan riuhnya perasaan yang menyerbu relung hati wanita di bawah payung.
Masih tercekat, Aura hendak mengatakan sesuatu. Tapi berkali-kali untapan bibirnya berakhir hening, bingung, kata apa yang sepantasnya keluar. 
“Dimana, dimana tempat itu?” tanyanya hampir tak terdengar. Aldo yang juga menahan kegelisahan di hatinya, seketika matanya membulat penuh bahagia.
“Korea.” jawabnya semangat. Dengan sedikit gugup, Aura memberanikan diri menatap lekat-lekat Aldo yang mulai merona.
“Antar aku ke sana.” Aura mengatakannya. Aldo tak sanggup lagi menahan kebahagian yang menyelimuti dirinya, wajahnya begitu sumringah dengan senyum yang lebar. Sebaliknya dengan Aura, ia hanya mampu tersenyum tipis melihat tingkah lelaki muda yang juga dulu adalah tetangganya.
Aldo meminta Aura untuk memegang gagang payung, lalu ia melepas jaketnya dan menaruhnya di atas pundak Aura. Ia ambil kembali gagang payung dan memberi kode untuk lanjut berjalan.
“Ayo, aku akan mengantarmu ke Korea.” ujarnya. Aura tersenyum lembut.
“Kamu harus mengantarku dulu ke penerbit.” sambil membenarkan posisi jaket yang dipasang di bahunya, Aura berkata sambil melangkah maju, diiringi Aldo.
“Tentu, setelah itu, kita akan ke Korea.” sambung Aldo.
“Setelah halal.” Aura menambahkan. “Awas, kuncinya jangan hilang!” Aldo tertawa lepas. Mereka kembali memutar candaan lama. Saat keduanya bertetangga, dan menempuh pendidikan di tempat yang sama. Semuanya akan segera kembali seperti mulanya.[]
            
*Terinspirasi dari kisah cinta si Boy, hehe.

Tarian Daun Gugur

Lena Sa’yati, Pengurus Matapena Tasikmalaya
lenacinta@ymail.com


            Hari ini semuanya terungkap, sepanjang jalan yang telah kami ikuti kini sampai pada batasnya, setiap apa yang dipertanyakan kini mendapat jawabannya. Di tengah lapangan hijau nanluas, dia memeluk erat seorang wangan, di sekelilingnya para pendosa hanya merongrong meratapi nasibnya tanpa sedikitpun merasa bersalah. Sungguh menyakitkan. Dan lihatlah, air mata yang tak henti-henti berlinangan dipipinya itu telah menjadi bukti rasa perih yang menyakitkan. Tanah yang basah, beserta hujan yang mengguyur bumi menjadi saksinya.
            “ Aku tak percaya ini,”
            “ Sulit untuk dipercaya, “
            “ Bagaimana mungkin kita sama sekali tak mengetahuinya?”
Sekelumit rasa ketidakpercayaan kami terhadap situasi ini cukup menjelaskan betapa Ia begitu lihai menyembunyikan semua ini.
***
            Namanya Ibu Halimah, Ia seorang janda terhormat yang pernah kami temukan dijagat ini. Perangainya baik, wajahnya teduh, tutur katanya sopan, namun berwibawa tinggi. Ibu Halimah cerdas luar biasa. Dan selain itu, Ia juga kaya raya.
            Kami selalu membanggakannya karena Ibu Halimah berjiwa sosial tinggi. Dari kekayaannya itu, dengan besar hati Ia telah berhasil mendirikan enam lembaga pendidikan dan dua panti asuhan. Dari mulai yang terkecil PAUD, sampai taraf seusia kami yaitu SMA, Ibu Halimahlah pemilik sekaligus kepala sekolahnya. Namun, sehubungan keadaannya yang semakin sibuk, Ibu Halimah kini hanya menjabat sebagai Kepala Sekolah SMA saja, sedangkan yang lain Ia serahkan pada rekan-rekannya yang Ia pecaya. Namun yang selalu membuat kami merasa heran, mengapa Ia tidak pernah menyampaikan pidato pada saat upacara hari senin. Selalu tidak hadir, dan kami selalu tak pernah mendapatkan jawaban atas ketidak hadirannya itu.
            “ Kenapa Ibu Halimah tidak pernah sekalipun pidato pada upacara hari senin?” Aku memulai percakapan di meja kantin pada sang itu.
            “ Apa kamu tidak paham dengan keadaan beliau yang notabene termasuk orang yang super sibuk? Bayangkan, enam lembaga, Na, enam lembaga!” Sinta mengacung-acungkan jempolnya kedepan mukaku.
            “ Ah, tidak masalah bagiku tidak mendengar pidatonya. Toh aku sudah tahu bagaimana intonasi, mimik,ritme dan sopan santunnya saat berpidato pada acara kenaikan kelas. Pasti kalau upacara hari seninpun tak akan jauh berbeda.” Indah ikut menyahut sesaat sebelum Ia menyedot minumannya.
            “ Yang justru membuatku aneh itu, kenapa Ibu Halimah tidak pernah bercerita sedikitpun mengenai anaknya!...” Itu Lina. Namun kembali Indah menyahut,
            “ Dari sosok Ibu Halimah yang rupawan, sudah dipastikan anaknyapun ganteng, kalau laki-laki, dan pasti cantik, kalau perempuan.”
            “ Tapi umur anaknya berapa ya? Anaknya sekolah dimana? Kemudian, berapa sebenarnya anak Ibu Halimah itu? “
Di samping percakapan mereka itu kemudian ada satu lagi pertanyaan yang membuat hasrat ingin tahuku kembali membuncah untuk menguaknya. Lina benar, selama tiga tahun kami mengenal sosok Ibu Halimah, mengapa tidak pernah ada kabar sedikitpun tentang siapa anaknya? Berapakah umurnya? Sekolah dimana? Atau bahkan mungkin Ibu Halimah tidak mempunyai anak sama sekali karena dari dulu Ia sudah menjadi janda? Sifat kuriousitasku muncul lagi. Dan aku harus tahu jawabannya!
***
            Pada hari itu kami mulai menguntiti setiap gerak-gerik Wanita sosialita itu. Dari balik pagar rumah sebelah, kepala kami saling bersembulan hendak mengintip saat Ibu Halimah kebetulan keluar dari rumah asrinya. Seperti biasa, sudah ada sang sopir yang setia membukakan pintu mobil untuknya. Saat itu Ibu berpakaian layaknya seorang guru, dengan setelan seragam berwarna abu-abu, tas di bahu kanannya, dan sebotol air mineral yang di kepal tangan kirinya.
            “ Apa tidak apa-apa kita bolos sekolah hanya untuk berlaku seperti ini?” Indah mulai merasa tak nyaman dengan misi kami.
            “ Dengar, kita datang kesini bukan hanya untuk percuma. Tapi kita akan menguak semua rasa penasaran dihati setiap orang. Bisa terkenal, kita!” Sinta selalu semangat untuk hal-hal semacam ini.
            “ Hei, apa kalian tidak merasa heran, untuk apa Ibu Halimah menenteng sebotol air mineral? ” Justru malah itu yang aku herankan. Mataku tetap tertuju pada sosok yang kini tengah masuk kedalam mobil itu .
            “ Kenapa kamu bodoh sekali! Untuk apa lagi kalau bukan untuk minum! Kamu pikir orang semacam Ibu Halimah tidak pernah merasa haus, apa?! “ Sinta seperti biasa, selalu menyolot.
            “ Maksudku bukan itu. Tapi benar-benar tidak biasanya. Kalau hanya untuk sekedar minum, Ibu bisa membeli dimana saja. Tidak perlu menenteng botol dari rumah begitu.” Aku keukeuh merasa heran.
            “ Eh, mobilnya jalan! Ayo berangkat!...” Lina mengingatkan. Membuat kami segera bergegas, dan melupakan perseteruan tadi.
***
            Ibu Halimah nampaknya akan mengunjungi lembaga SLB-nya yang telah Ia dirikan bersamaan dengan lembaga-lembaga yang lainnya. Ya kami mafhum kalau Ibu Halimah jarang berada di sekolah, mungkin karena sekolahnya yang lainpun perlu kunjungannya juga. Namun kami baru tahu tentang Sekolah Luar Biasa yang diperuntukan bagi anak-anak autis itu. Itupun karena kami nekat membuntuti Ibu Halimah sampai sejauh ini. Beliau memang seorang wanita berjiwa besar. Statusnya sebagai jandapun tak mampu membuat titelnya sebagai wanita terhormat luntur. Jarang sekali tentunya ada seorang perempuan kaya raya, yang mau menggunakan kekayaannya itu semata-mata untuk turut mencerdaskan anak bangsa. Kalaupun memang ada, paling mereka hanya mampu memberikan sedikit sumbangan saja, itupun dengan syarat nama dermawannya harus disebutkan. Namun perempuan yang satu ini, sungguh luar biasa. Dari sekian hartanya, Ia dengan senang hati menggunakannya untuk membangun institusi-institusi pendidikan dan dua panti asuhan. Dan Ia sendiri tetap ikut andil dalam setiap kepengurusannya. Bahkan Ia dengan senangnya terjun langsung mengajar anak didik dengan cara yang sangat menawan dan enjoy untuk murid-muridnya. Inilah guru. Yang bukan hanya sekedar mengajar, tapi juga guru yang menjadi seorang pendidik.
            Kami mengendap-endap mencoba masuk mengelabui satpam sekolah. Namun akhirnya ketahuan juga.
            “ Kalian siapa? Ada keperluan apa? “ Dengan galak pak Satpam bertanya.
            “ He..he..kami murid Ibu Halimah, mau bertemu beliau, kebetulan Ibu Halimahnya sedang ada di dalam, bukan?” Sinta memberanikan diri sambil memamerkan sederetan gigi-gigi putihnya, cengengesan. Pak Satpam malah melihati kami dari atas kebawah.
            “ Kenapa tidak sekolah? “
            “ Ada hal penting yang ingin kami sampaikan pada Ibu, pak. Maka dari itu izinkan kami masuk ya pak, “ Indah memelas-melas dengan telapak tangan yang dilipat, memohon. Pak Satpam kembali berpikir,
            “ Kami mohon, Pak “ Hanya itu yang bisa aku ucapkan. Pak Satpam memicingkan matanya, mungkin sedang menimang-nimang. Kami saling menyikut satu sama lain, takut tak mendapat izinnya. Namun sejurus kemudian,
            “ Ya, kalian boleh masuk” Ujarnya masih dengan nada galak.
            “ Yes, terimakasih Pak, “ Kami kegirangan.
***
            Ada perasaan ingin menangis saat kami memberanikan diri masuk kedalam. Melihat berbagai macam karakter anak yang memiliki keterbelakangan mental. Yang ini matanya hanya melongo kedepan. Yang itu bibirnya selalu terbuka. Yang satunya tak henti-henti tertawa. Berkali-kali aku beristigfar mengelus dada. Mungkin dari sekian banyak anak-anak itu, pasti ada yang usianya sebenarnya sudah sebaya dengan kami. Tapi masih harus duduk di tempat ini. Bergabung dengan anak yang usianya jauh dibandingkan dirinya. Hatiku meringis. Betapa kami tak pernah bersyukur Allah berikan kesempurnaan jiwa dan lahiriah ini. Kami tidak pernah berfikir bagaimana masa depan kami selanjutnya jika ternyata kami ditakdirkan seperti itu? Bagaimana perasaan orang tua kami? Apakah Mereka akan turut membenci dan mengolok-olok kami sebagaimana orang-orang tak beradab diluar sana? Sekali lagi aku mengusap dada, dan segera memohon ampunan-Nya.
            Langit tampak mendung dengan awan abu yang menutupi bias cahaya matahari siang itu. Kami tak membawa persiapan apapun. Kami mungkin harus pasrah jika nanti ketahuan Ibu halimah bahwa kami telah sejak lama membuntutinya.
            Dari kejauhan, Nampak sosok yang kami cari tengah menengok sebuah kelas yang sedang melaksanakan proses KBM. Bibirnya tersenyum, namun terlihat getir. Mungkin Iapun tak lepas dari perasaan mirisnya melihat rahasia Allah yang di limpahkan pada anak-anak luar biasa itu. Antara senang melihat mereka ceria, sedih lantaran menyadari keterbatasan mereka, dan getir menyelami nasib mereka. Sungguh akupun merasakan hal yang sama.
            “ Riana, lihat itu!...” Lina membuyarkan ketercenunganku. Mataku mengekor telunjuknya yang menunjuk segerombolan anak yang tengah berkelahi di tengah lapang. Hujan mulai deras mengguyur bumi. Dari kejauhan tampak para staf guru berlari hendak menghentikan perkelahian itu. Mereka sampai abai dengan seragamnya yang harus basah kuyup. Halilintar mulai menggelegar, disertai sinar-sinar pantulan kilat. Siang itu menjadi tampak menyeramkan bagi kami. Tapi aku mau tahu sebenarnya apa yang terjadi disana. Maka seketika aku turun juga kelapangan tanpa memperdulikan bajuku yang nantinyapun akan basah kuyup.
            “ Riana!...tunggu!...” Sinta dan Indah memanggil-manggilku. Namun aku abai. Akhirnya merekapun ikut turun kelapangan. Beberapa lama kemudian semua guru sudah turun, sedangkan murid-muridnya hanya menonton di koridor kelas. Ada yang malah tersenyum, tertawa-tawa, atau bahkan ada yang menangis histeris. Luar biasa runyam keadaan siang itu. Pada akhirnya Ibu Halimahpun turun tangan, dan segera menerobos kerumunan.
            “ Ya Allah, Tidaaaaak!!!...” Teriaknya.
            “ Tolong minggir semua, minggir!...” Baru kali ini kami menyaksikan amukannya. Semua orang mundur, termasuk anak-anak luar biasa yang sudah dipisahkan dari perkelahiannya itu. Namun ada satu yang tersisa di tengah-tengah. Yang Ibu Halimah sampai bersila diatas lapangan basah dan mengangkat kepala anak itu kepangkuannya.
            “ De, bangun De…” Ibu Halimah menampar-nampar pipi anak itu. Mimik Bu Halimah luar biasa keakutan, entah mengapa. Mungkin takut anak itu benar-benar tak sadarkan diri. Semua guru semakin merasa was-was. Beberapa mengusap air hujan dari wajahnya. Beberapa lagi memegangi anak-anak yang lain. Dan kamipun mulai ikut was-was. Namun  yang paling mengejutkan adalah,
            “ De, Dede…anakku,…bangun, Nak…bangun,…”
            Ketahuilah, yang kami perkirakan bahwa jikalau Ibu halimah memiliki anak laki-laki pasti wajahnya rupawan, otaknya cerdas, budi pekertinya tinggi. Ternyata siang yang dingin itu, telah membuka gerbang rahasia yang selama ini telah tertutup rapat itu. Dia, yang badannya gempal, pipinya telah biru-biru karena ditonjoki teman-temannya yang lain, lalu wajahnya yang sudah mulai memucat lantaran terlalu lama terguyur hujan, yang saat itu tengah berada dipangkuan Ibu Halimah itu adalah anaknya! Bukan siapa-siapa, dia adalah anak kandung Ibu Halimah. Anak yang bersekolah di Sekolah Luar Biasa itu adalah anak seorang perempuan berintelektual dan berbudi tinggi bernama Ibu Halimah! Rasanya setiap titik hujan yang menghinggapi badan ini adalah titik-titik paku yang silih berganti menghujami tubuh ini dengan tajamnya. Kami semua tercengang. Dan kau tahu, botol air mineral yang di tenteng Ibu itu khusus diperuntukan buat anak tercintanya itu.
            “ Dede!!....Dede bangun, nak…hiks, hiks, jangan tinggalkan Bunda…” Dengan suara yang hampir tercekat, Ibu halimah meronta-ronta mendapati anaknya sudah tak sadarkan diri. Tangisnya meraung-raung memecah suara guyuran hujan. Anaknya telah tiada. Dan tak ada lagi yang tersisa.
            Sekarang kami tahu kenapa Ia senang sekali mendirikan lembaga pendidikan. Itu adalah bentuk pelampiasannya terhadap seorang anak. Ia mungkin merasa mendapat kesenangan batin saat bisa mengajar dan bertemu dengan anak-anak yang normal pada umumnya. Dan kenapa setiap senin Ia tak pernah ada di Sekolah, karena Ia harus berada di Sekolah Luar biasa ini.
            Ibu halimah dengan takdir pahit yang harus diterimanya. Kehilangan suami, kehilangan anak, dan kehilangan kebahagiaan yang sesungguhnya. Namun Ia tak kehilangan akhlak mulianya, luhur budinya. Ibu Halimah dengan kepahitan dan kesedihannya itu, laksana daun yang gugur namun tetap lihai menari bersama angin seiring jatuhnya kebumi. Aku menyimpan kisah ini dalam benakku, dalam-dalam, dan sekalipun tak akan pernah terlupa. 
Taman Ilmu
25 Desember 2010
09.52