TERAPI MEMBASMI PENYAKIT HATI ‘TIKUS BERDASI’

Oleh: Lena Sa’yati

Pengantar
            Pahit untuk ditelan menghadapi kenyataan bahwa kini Indonesia menjadi salah satu Negara terkorup di dunia. Rasa malu semakin bercokol dalam hati tatkala melihat tak henti-hentinya media meluncurkan berita yang sama dari waktu ke waktu namun dengan aktor yang berbeda-beda. Mereka ini adalah orang-orang terdidik, dengan gelar yang sedemikian berderet di ujung namanya, dan awalnya dikenal begitu alim santun dan terpercaya. Namun yang kemudian menjadi ironis, ketika kita dihadapkan pada kenyataan bahwa departemen agama menjadi salah satu lembaga paling terkorup di negeri ini. Atau ketika seorang Kyai yang aktif dalam pemerintahan digiring polisi menuju jeruji besi lantaran kasus memalukan yang dilakoninya yakni korupsi. Ini baru yang terekam kamera, lain lagi dengan gerombolan tikus yang semakin merajalela di saban daerah di Indoenesia.
            Korupsi menjadi situasi paling fenomenal yang amat transparan di negeri ini. Tidak lagi kalangan elit pemerintahan atas yang menjadi aktor para pelaku korupsi, tapi kini korupsi bahkan telah menyentuh hamper seluruh lapisan masyarakat bawah. Setiap hari kolom berita dihiasi berbagai modus korupsi dan suap-menyuap yang melibatkan para pengambil kebijakan publik-politik baik di pusat maupun di daerah. Korupsi dan suap-menyuap mengalami proses banalitas, menjadi kebiasaan yang dimaklumi (permisif) dan seakan-akan tidak dianggap salah dan dosa besar. Padahal Allah SWT berfirman:
وَلاَتَأْكُلُوْا اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالبَاطِلِ وَتُدْلُوْا بِهَا اِلَى الحُكَّامِ لِتَأْكُلُوْا فَرِيْقًا مِنْ اَمْوَالِ النَّاسِ بِالإِثْمِ وَاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ
“Dan janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil, dan (janganlah) kamu menyuap dengan harta itu kepada para hakim, dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui”( Al-Baqarah:188)
            Jelas sekali dalam ayat tersebut bahwa Allah menegaskan kepada kita agar tidak melakukan tindakan korupsi. Dan ayat ini patutlah bagi kita sebagai umat islam untuk menjadikannya sebagai landasan membasmi para tikus berdasi. Semua umat Islam tahu akan hal ini. Namun kendati demikian, akan berbeda bila halnya seseorang tengah dihadapkan pada kelonggaran sehingga memancing hawa nafsu untuk berindak sesuatu yang dilarang agama. Maka, disinilah letak penting agama untuk membentengi akidah kita. 
Korupsi Menyebabkan Frustasi
            Seperti halnya tikus, sulit menangkapnya dan selalu membuat kita berang apalagi untuk para petani yang berhektar-hektar sawahnya digerogoti segerombolan hewan tak tahu diri ini. Namun lain tikus, lain Gayus. Manusia dikaruniai akal dan hati. Sedangkan tikus tidak. Tikus hanya mengambil makanan, manusia lebih serakah lagi. Ya makan, ya uang. Benar-benar membuat frustasi bangsa Indonesia para tikus berakal dan berhati ini. Dengan beragam modus seperti suap menyuap (ar-risywah), pungutan liar (al-ghasbu), mark up (al-ghurur) dan pembobolan bank dan penggelapan uang Negara (al-ghulul), para pelaku korupsi ini tanpa disadari begitu banyak merugikan segala aspek kehidupan bangsa Indonesia.
            Seringkali bangsa ini mengaduh, terhambatnya berbagai pembangunan, sarana dan prasarana yang merupakan fasilitas rakyat yang penting tidak dapat dinikmati bahkan belum dapat diwujudkan dengan baik, kesejahteraan yang seharusnya menjadi hak rakyat belum dapat diwujudkan dengan baik, begitu juga dengan pendidikan yang belum bisa dinikmati secara merata oleh anak Indonesia, dan akses kesehatan murah berkualitas belum dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Semua ini akibat dari terlalu mengguritanya aksi korupsi disetiap lapisan pemerintahan.
Korupsi benar-benar melumpuhkan sendi-sendi kehidupan masyarakat Indonesia. The cost of corruption is poverty, human suffering and under development (dampak korupsi adalah kemiskinan, penderitaan, dan terhambatnya pembanguan. Semua pihak harus membayarnya) (Agnes Aristiarini, 2011:25). Maka, tindak korupsi ini harus dibabat habis sampai ke akar-akarnya. Semua elemen bekerja pada tugasnya masing-masing (kullun ya’mal ‘ala syakilatihi) untuk bersama-sama memberantas korupsi. Hal ini memang akan sangat sulit, namun bukan berarti tidak mungkin.

Data dan Fakta Angkat Bicara
            Sudah banyak lembaga yang mengurusi pemberantasan korupsi di negeri ini. Sebut saja Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Indonesian Corruption Watch (ICW) yang kian eksis menyuarakan gagasan dan tindakan nyata terhadap misi tersebut. Namun banyaknya lembaga anti korupsi tetap saja tak sebanyak para pelaku korupsi itu sendiri. Berdasarkan hasil investigasi Indonesia Corruption Watch (ICW) tahun 2010 semester I ini, korupsi justru terus mengalami peningkatan. Selama periode 1 Januari - 30 Juni 2010 ditemukan 176 kasus korupsi yang terjadi di level pusat maupun daerah. Tingkat kerugian negaranya pun mencapai Rp2,102 triliun.
Untuk perbandingan, tahun 2009 semester I sebanyak 86 kasus dengan tingkat kerugian negara mencapai Rp1,7 triliun.
Jumlah pelaku korupsi yang telah ditetapkan sebagai tersangka di semester I tahun ini sebanyak 441 orang. Sedangkan tahun lalu sebanyak 217 orang sudah menyandang status tersangka. Pelaku korupsi yang menempati peringkat tertinggi diduduki oleh swasta dengan latar belakang komisaris maupun direktur perusahaan sebanyak 61 orang.
Empat pelaku tertinggi lainnya yakni, kepala bagian (56 orang), anggota DPRD (52 orang), karyawan atau staf di pemerintah kabupaten/kota (35 orang) dan kepala dinas sebanyak 33 orang. Jika dibanding tahun 2009 semester I, menunjukkan ada pergeseran pelaku korupsi dengan peringkat pertama anggota DPR/DPRD (63 orang).           
Melihat sejarah, pada saat mundurnya presiden Soeharto dari kursi kekuasaannya selama 32 tahun menjadi langkah awal dari reformasi disegala bidang baik itu ekonomi, politik, hukum, sosial dan budaya serta yang terpenting adalah pintu demokrasi harus dibuka lebar-lebar dengan harapan bangsa ini akan memiliki masa depan yang lebih baik. Namun sayang impian itu tidak sepenuhnya terpenuhi, lamban bahkan sebagian kebobrokan itu menjadi meningkat drastis secara kualitas maupun kuantitasnya. Dan kini, salahsatu bagian dari kebobrokan itu adalah praktek korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN). Dan sampai saat ini, dari data yang terekam di atas, menunjukan bahwa tindak korupsi belum menunjukan kemunduran yang signifikan, melainkan peningkatan yang kian tajam.
Terapi Membasmi Penyakit Hati Tikus Berdasi
             Beribu cara dan strategi disusun untuk mencapai tujuan yang sama; memberantas korupsi. Di lain sisi, berjuta strategi pula disusun para pelaku koruptor agar lulus dari jerat peradilan. Para pelaku korupsi seakan telah memanage semuanya dengan begitu rapi, terlebih karena mereka memliki supporting system yang sedemikian hebat. Bahkan hukumpun bisa diakali, dengan mengusung konsep solidaritas sesama tikus. Suap saja hakimnya. Begitu juga bagi pelaku yang telah tertangkap, suap saja polisinya, remisi akan lebih mudah didapatkan. Hal inilah mengapa korupsi bisa menjadi extra ordinary chrime di manapun. Hal ini pula yang kian menantang para aktivis pemberantasan korupsi agar mampu membasmi kasus ini dengan lebih canggih lagi. Pendidikan ‘anti’ korupsi, pembuktian five in one, peniadaan remisi bagi koruptor dan segala macamnya adalah segelintir cara untuk menguak tuntas kasus korupsi ini.
            Terlepas dari berbagai cara dan strategi yang jumlahnya sudah banyak ini, saya rasa akan lebih mantap lagi bila halnya pemerintahan kita melakukan langkah pencegahan (preventif) bukan melulu mengambil langkah represif (pemberantasan/pengobatan) dalam memberantas korupsi. Dengan mengacu pada surah Al-Baqarah ayat 188 pada awal tulisan, semestinya yang harus kita galakan adalah kembali pada pembentengan akidah. Para koruptor  adalah segolongan makhluk yang dikaruniai hati oleh Sang Pencipta. Dengan langkah preventif, diharapkan mampu melunakan hati-hati yang tengah mengeras itu. Karena kita tidak akan mau menjadi bagian dari makhluk yang kelak berjejalan di neraka jahannam. “dan sesungguhnya kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah)” (QS. Al-A’raf: 179)
            Praktek korupsi terjadi karena adanya motif pelaku. Beberapa motif di bawah ini biasanya mendasari para pelakunya, antara lain:
a.       Keinginan untuk menumpuk harta sebanyak-banyaknya (materialisme)
b.      Keinginan untuk memenuhi seluruh kebutuhannya (konsumerisme)
c.       Takut terhadap kemiskinan
d.      Ingin cepat kaya dalam waktu cepat.
Motif-motif itu timbul karena pelaku tidak bisa memanajemen gejolak jiwa yang ada padanya. Kondisi-kondisi jiwa di bawah ini ditengarai menjadi katalisator praktek korusi, antara lain:
a.       Mengikuti nafsu keserakahan (tamak) terhadap harta
b.      Mendewaan kehidupan dunia (hedonis)
c.       Panjang angan-angan
d.      Lalai dari pengawasan Sang Pencipta (ghaflah)
e.       Hilangnya sifat jujur dan malu pada pelakunya.
Beberapa motif yang mendasari para koruptor sebetulnya dapat “direm” apabila pelaku bisa memanajemen diri dan mempunyai terapi bagaimana mengendalikan jiwanya yang condong terhadap korupsi. Di dalam Islam kondisi jiwa yang condong kepada kemaksiatan (korupsi) disebut sebagai hati yang sakit.
Mari kita sadari, melihat institusi pemerintahan, selalu yang tampak adalah kesemerawutan, penuh dengan sengketa, panas, dan sebagainya. Yang diinginkan bangsa ini adalah keseriusan para wakil rakyat dalam membangun negeri dan bangsanya ke arah yang lebih baik. Bukan malah ribut dengan konflik intern-nya. Rindu rasanya melihat jiwa agamis yang ditampilakan pemerintah. Inginnya melihat para pejabat mengagendakan pengajian rutin untuk mengisi kekosongan hati, memberi kesejukan pada kering kerontangnya hati, berdzikir bersama, bermuhasabah bersama, berjama’ah, damai dalam kebersamaan. Sungguh indah. Dengan begitu kedua urusan, baik duniawi maupun ukhrawi menjadi seimbang.
Biarkan mereka para pelaku korupsi menyadari apa yang diperbuatnya akan memberikan feed back yang merugikan dirinya. Sabda Rasululah “setiap daging yang tumbuh dari mengkonsumsi yang haram (as-shut), maka neraka lebih baik baginya”. Sahabat bertanya, “Ya Rasulullah apa itu as-shut?” Rasululah menjawab, “suap menyuap di dalam hukum”.
Berikan pada mereka para pelaku korupsi terapi penyucian jiwa dari hal-hal berbau duniawi. Hal ini bisa bermula dari contoh hidup sederhana yang harus ditunjukan para wakil rakyat, bukan malah bermewah-mewah dengan fasilitas yang diamanahkan. Pemimpin yang tegas dalam keseriusan membentuk jiwa agamis. Dan dengan agenda pengajian rutin agar penyakit hati bisa terus terkontrol dan terkendali. Kemudian, terapkan terapi berikut dalam setiap pertemuan dan aplikasikan dalam keseharian. 
1.      Memulai kehidupan dengan niat ikhlas
2.      Menyikapi kehidupan dunia berdasarkan ajaran illahi
3.      Mengendalikan nafsu syahwat terhadap harta
4.      Menjaga pikiran yang terlintas dan langkah nyata untuk perbuatan
5.      Tawakkal
6.      Mensyukuri nikmat hara yang ada padanya
7.      Sabar menghadapi kemiskinan dan fitnah (ujian) harta
8.      Ridha terhadap qadha (ketentuan) Allah
9.      Menumbuhkan rasa takut (khauf) kepada Allah
10.  Membentuk sifat jujur dalam diri
11.  Membangun sifat malu untuk berbuat maksiat
12.  Muhasabah (introspeksi diri)
13.  Muraqabatullah
14.  Menumbuhkan kecintaan (mahabbah) kepada Allah
15.  Bertaubat untuk tidak melakukan praktik korupsi.
Begitu ampuh rasanya bila agama menjadi fondasi yang kuat untuk semakin menyempurnakan segala cara dan strategi pemberantasan korupsi. Bila Ary Ginanjar pun mampu membangun spiritualitas bangsa dengan konsep ESQ nya, maka bukan berarti tidak mungkin pemerintah kita menciptakan sesuatu yang sama dengan konsep berbeda untuk menuju pemerintahan yang bersih dan damai. Bukan hanya berlaku bagi pemerintah pusat, melainkan seluruh lapisan pemerintahan di negeri ini.
Penutup
Akibat tingkah polah segelintir oknum manusia di negeri ini mengakibatkan seluruh rakyat di negeri ini ikut merasakan akibatnya. Korupsi adalah contoh tingkah laku manusia yang bersumber dari kejiwaan manusia yang tidak pernah tersentuh oleh ajaran-ajaran Illahi. Saya kira tidaklah salah jika mengajak seluruh komponen bangsa ini untuk bersama memberantas penyelewengan-penyelewengan tersebut yang salah satunya dengan menyebarkan konsep terapi penyucian jiwa ini. Kendati demikian, juga perlu adanya usaha-usaha dari pemegang kebijakan di negeri ini untuk dengan tegas memberantas korupsi di negeri ini dengan membina moral dan spiritual para peabatnya. Salah satunya, dengan menyebarkan dan menerapkan konsep terapi penyucian jiwa ini. Karena bagaimanapun, penyebab korupsi adalah dimulai dari individu yang integritas moralnya rusak.
Kendati demikian, memanglah konsep terapi penyucian jiwa bukanlah satu-satunya jurus ampuh dalam memberantas korupsi. Namun konsep ini merupakan upaya dalam rangka mengambil langkah preventif untuk membasmi penyakit hati yang bercokol dalam hati para tikus berdasi umumnya bangsa Indonesia. 

DAFTAR PUSTAKA
Al-Quran Al-Karim
Abdur Rafi, Abu Fida’. 2006. Terapi Penyakit Korupsi Dengan tazkiyatun Nafs (Penyucian Jiwa). Jakarta. Republika.
Aristiarini, Agnes. 2011. Korupsi yang Memiskinkan. Jakarta. Kompas.
Indrayana, Denny. 2011. Cerita di Balik Berita Jihad Melawan Mafia. Jakarta. BIP. 

If There is a will, There is a Way

Kisah Perjalanan Study Tour ke-Bandung

          Antara semangat dan tidak semangat sebenarnya mengikuti study tour kali ini. Kenapa coba? Karena kali ini saya menjadi panitia yang  ternyata tugasnya bejibun! Dari mulai jadi bendahara (kerjaannya nagih melulu neh ke anak-anak, udah kayak rentenir aja, he), ngurusin makan anak-anak yang jumlahnya 200 orang lebih, bayangkan! 200 orang, kawan. Busnya aja nyampe berjejer 4 bus. Tapi ketidak semangatan itu segera saya tepis, kalau niatnya baik, terus dijalani dengan ikhlas, pasti segalanya jadi terasa ringan dan mudah, betul bukan? Yep, betul betul betul. Udah dua kali berturut-turut saya dikasih kesempatan sama Bapak Asep untuk menjadi panitia study tour. Itu artinya, tiap bulan pasti kerjaannya jalan-jalan, mantep, hehe. Namanya study tour, ya belajar, ya tour.
Hmm…Well, kalau ada pepatah bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian, saya sih sepakat sekali, begitupun dengan pepatah arab (Mahfudzat) ‘Wamalladzatu Illa Bakda At-ta’bi’ ‘tidak ada kebahagiaan setelah kepayahan’. Itupun yang saya rasakan kali ini. Setelah cukup rieut dan capek nagih uang ke anak-anak, beli air mineral 9 dus, obat-obatan, keliling Ibu-Ibu Dapur untuk pasokan makan pagi anak-anak, sampe ngangkatin dus-dus air mineral ke dalam bus dan negbagiin makan pagi buat para peserta study tour, semuanya terbayar dengan perjalanan yang mengesankan! Apalagi study tour kali ini ada plus-plusnya, apa coba? Hmm, itu karena dari mengunjungi beberapa tempat, saya seakan mendapat kemauan besar to do something. Ada beberapa a will (kemauan) nih yang saya dapat setelah jalan ke sana kemari. Hmm, mungkin gak ya a will itu berujung comes true? Ingat aja, if there is a will, there is a way! Dimana ada kemauan, pasti ada jalan!  Yeah!
Yuk ah kalau gitu saya mulai aja cerita ngalor-ngidul nya ya. Satu, dua, hayu!

Dapet Bus yang Mana ya?...
                Saya nggak tahu nih siapa yang ngebagiin tempat duduk para pembimbing. Yang saya tahu, tiba-tiba aja saya disuruh masuk kedalam bus ke-4 alias bus paling kecil berwarna biru. Dalemnya adalah siswi kelas 2 SMA yang gak kebagian tempat duduk di bus ke-3. Oh, malangnya mereka, hehe lebay ah. Jadi busnya gak selebar dan sepanjang ke-tiga bus lainnya. Tapi kualitas ternyata tetep sama. Layar LCD? Oke. Bisa buat muter musik. AC? Yes. Bersih? Sip deh. Ya Cuma kekurangannya itu aja, kurang lebar, he. Untung diriku tidak bertubuh lebar, Alhamdulillah dengan badan segini.
                Ya sudahlah, saya langsung mengabsen anak-anak. Mungkin karena mereka udah agak dewasa, jadi wajahnya ya ceria-ceria aja, tidak merasa teralienasi dengan ditempatkan di dalam bus kecil berwarna biru itu. Eh tapi ada yang menarik. Karena bus ini masih kosong, hampir enam kursi yang kosong, alhasil, para guru yang jadi ketua study tour pada nongkrong di sana. Kebetulan juga, anaknya Bapak Asep juga di sana, jadi beliau juga ikut duduk di sana. Hmm, ini tentu sangat menguntungkan. Gak disangka, bus kami jadi pemimpin lho, karena penunjuk jalan dan ketuanya ada di sini. Yes, jadinya kemana-mana paling awal deh. Hmm, berkah sabar dan ikhlas, kawan. 

Masa Iya sih nenek moyang kita sebangsa kera?

Depan Museum Geologi
           Tempat yang kita kunjungi pertama kali adalah Museum Geologi. Dalam benak saya kayaknya nih museum bakalan kosong, dan seakan menjadi milik rombongan condong saja. Eh ternyata, pas keluar dari bus, anak SD sedang foto-foto di depan museum bersama guru-guru mereka. Terus pas masuk ke dalam, wuih, gak kebayang berseliweran orang ke sana ke mari membawa alamat, jreng jreng…Ayu Ting-ting mode on.
                Alhasil nih ya, ruang utama museum tuh padet banget Cuma dengan rombongan SMA Terpadu Tasik aja. Pemandunya langsung mengambil alih, dan menyuruh peserta study tour yang berjumlah 200 orang itu untuk mendekat kea rah suara. Mereka diberi pengarahan, terutama seputar sejarah berdirinya museum sampai tugas-tugas mereka nanti selama melihat-lihat peninggalan apa saja yang ada di museum ini.
                Saya dan para ustadzat yang lain langsung berjalan ke sayap timur museum. Di dalamnya ternyata ada fosil-fosil hewan sebangsa dynosaurus gitu. Ada juga tuh yang paling tinggi hamper empat meter tingginya Tyranosaurus Rex. Woow, subhanallah tinggi banget! Berasa kembali ke dunia jadul ya kawan, pas zamannya si tokoh kartun Kaki mungil dan kawan-kawannya.


apaan tuh behind me?
           Tapi ada lagi yang menarik nih. Pas melihat-lihat jejeran tengkorak di etalase. Dari mulai homo sapiens di berbagai daerah, sampai mancanegara, ada yang dari Prancis, Australia, dll. Terus di salah satu dinding tertempel poster tentang evolusi manusia. Dari yang semula agak-agak mirip gitu ama kera, sampai seperti manusia pada umumnya sekarang. Jadi keingetan deh sama teori Darwin. Masa iya ya nenek moyang kita itu dulunya sebangsa kera? Kalau guru sejarah saya sih bilang, kenapa zaman dahulu beberapa jenis manusia identik tubuhnya membungkuk hamper sama seperti kera, itu karena pada zaman itu jenis mata pencahariannya adalah bercocok tanam. Namanya menanam, ya pasti jongkok lah. Lihat aja para Ibu dan Bapak petani yang lagi menanam padi di sawah. Betul gak Pak Tani? Betul betul betul.
Sempat terlintas nih di benak saya agar suatu saat bisa mempelajari hal ini lebih mendalam. Pengen tahu bagaimana yang sesungguhnya. Dan saya selalu yakin, jika kita mau berpikir lebih dalam, dan dengan landasan lillah maka kelak keaguangan Allah lah yang akan kita temukan. Sehingga terus menerus akan menuntut kita untuk tak henti bersyukur dan bertafakkur. Ih, pengen banget deh kayak gitu. Semoga terlaksana, amin.



Oh iya, setelah berfoto-foto bareng fosil, dan melihat ini itu, peserta digiring ke ruang Auditorium untuk menyaksikan salah satu tayangan video seputar sejarah fosil-fosil. Cukup senang saya dengan program itu, tapi ketika menyaksikan videonya yang ternyata berbahasa inggris, sudah dipastikan video ini produk asing pula, dalam hati saya bertanya ‘kapan atuh bangsa kita sendiri bisa memvisualkan hal-hal sejarah sepenting itu’. Padahal saya yakin di Indonesia banyak sekali doktor-doktor yang ahli dalam bidang ini, tapi karya-karya temuannya kok masih belum bisa tercium ya aromanya. Ayo ah, anak bangsa, coba deh bikin sesuatu yang berharga dan bermanfaat buat Negara bahkan untuk dunia. Masa video begitu aja harus melulu ngimpor sih dari luar.


#A Will dari berkunjung ke Museum Geologi adalah, ketika melihat berbagai keterangan seputar zaman pra sejarah perkembangan mahluk hidup terutama evolusi manusia, begitu juga dengan cuplikan video yang ditayangkan di ruang Auditorium, saya kok jadi kayak terpecut gitu lho untuk mengetahui lebih dalam seputar sejarah (dulu juga saya ngambil jurusan IPS pas SMA), saya ingin benar-benar mendapat bukti sedetail-detailnya tentang fenomena-fenomena yang ada. Plus, ingin pula jika suatu saat saya telah menjadi ahli dalam sebuah bidang, bisa total dan menghasilkan sebuah karya yang bisa saya kontribusikan untuk masyarakat banyak. Amin amin amin. Mungkin gak terwujud? Eits, mungkin dong! Nothing impossible lho di dunia ini. Kalau Allah sudah berkehendak, kun sudah tentu fayakun.  

Naik-naik ke Puncak Gunung…


                Sekitar sejaman dari museum menuju Gunung Tangkuban Parahu. Kita melewati jalan yang diapit jejeran pohon pinus yang rindang lho, tinggi-tinggi pula, ih so sweet sekali, berasa di film twilight aja, mana disekitarnya terhampar perkebunan teh menghijau, hmm sejuk di hati. Dan sekali lagi saya tegaskan, si mini bus warna biru kembali memimpin lho. Eh, ternyata beberapa meter dari pintu masuk menuju Taman Wisata Gunung Tangkuban Parahu sedang berlangsung acara Sea Games lomba Balap Sepeda Subang Road. Wow, seru sekali di sana. Pengen banget nonton, tapi bus terus melaju tanpa menghiraukan kemauan ini. Kalau bus ini gak mau mengabulkan kemauan saya, biar langsung saja saya utarakan kemauan ini pada Allah SWT. Kenapa saya begitu ngebet? Karena bersepeda itu merupakan salah satu cabang olah raga favorit saya. Heu, pengen sekali nonton ihhhh….
                Setelah sampai di terminal mobil elep yang nanti akan langsung mengantar kita ke Kawah Ratu, sekawanan tukang asongan sebangsa syal, sarung tangan, dan ciput langsung menyerbu kami. Iya sih masuk akal, soalnya cuacanya dingin banget, apalagi ntar di kawahnya. Beuh, airnya saja dinginnn. Tanpa piker panjang, kita-kita langsung membeli perlengkapan penghangat. Saya sih beli syal aja deh, buat gaya, he dan sudah pasti warnanya ‘ijo’.
                Beberapa kali kami mengeluh, aduh, bauuuuuuu…dikira ada yang kentut, ternyata bau belerang yang berasal dari kawah. Uh, baunya menyengat bahkan sampai sejauh itu. Sudah lupakan, setelah kita memesan tiket, anak-anak langsung naik mobil elep buat dianter ke kawah. Kalau saya dan para ustadzat yang lain sih belakangan aja.
                Sesampainya di Kawah Ratu, kami langsung terpesona dengan keindahan alamnya. Awan yang menyelimuti terasa dekat di atas kepala, pepohonan kering Manarasa yang memesona, dibawahnya beberapa orang berpiknik, kuda-kuda yang berjalan hilir mudik, dan kawah yang dalam! Subhanallah, ciptaan Allah. Saya jadi inget drama korea Sinderella’s sister deh. Settingnya mirip-mirip dengan taman wisata Gunung tangkuban parahu. Hmm..




         Saya mencoba mencari-cari guide, tapi gak nemu-nemu, pengen tahu lebih lanjut seputar taman wisata ini, plus beberapa hal yang ada di dalamnya, ah tapi gak berhasil. Saya search aja deh di internet. Jadi ngapain di sana?


 Foto dan Belanja! 


Kalau teman-teman yang lain doyan banget tuh ngusilin turis, saya mah kurang tertarik. Gak ada guide, sayapun tanya-tanya sama tukang dagang siomay tentang pohon-pohon indah yang ada di sana. Eh, beruntung beliau tahu banyak tentang pohon yang orang-orang sana menyebutnya pohon Manarasa, katanya pohon yang daunnya memerah jika sudah tua ini dipercaya bisa bikin kita awet muda lho kalau memakan daunnya yang rasanya asem-asem gimanaa gitu. Karena konon dahulu dayang sumbi yang awet muda itu juga memakan daun Manarasa ini. Hmm, jadi inget legenda Sangkuriang ya. biar tahu lebih lanjut, klik aja Di sini


di bawah pohon Manarasa
                Setelah cukup puas berfoto-foto dan belanja, rombongan kembali menaiki mobil elep untuk turun gunung. Dan kembali masuk bus masing-masing.


#A Will dari mengunjungi Taman Wisata Gunung Tangkuban Parahu, kok tiba-tiba ada sekelumit hasrat untuk kembali membuat sebuah film yang settingnya memotret beberapa tempat wisata di Indoenesia. Sekalian promosi, sekalian banyak bertafakur. Bisa gak ya? Bisa, bisa. Kita ingin, kita bisa!

Medali Emas Untuk Indonesia…


                Ketika menuruni gunung, tiba-tiba si mini bus biru berhenti. Eh, ternyata terjadi macet puanjang! Dan itu karena jalannya ditutup untuk kepentingan acara sea games. Saya yakin ini akan berlangsung lama, tersungging sebuah senyuman di bibir saya, Allah mendengar doaku. Tanpa pikir panjang, saya langsung mohon izin ke Pak Asep sebagai penyelenggara study tour untuk menonton sea games, eh ternyata Pak Asep pun ikut turun. Yes!
              Saya mengajak seorang ustadzah yaitu yang sering saya panggil Jane untuk menemani menonton acara. Ketika sampai ditempat acara berlangsung, dimana kerumunan orang meneriakan yel-yel Indonesia, jreng jreng…MC pun mulai mengumumkan kejuaraan. Ih, pas banget! Saya langsung maju ke tempat yang lebih dekat untuk bisa mngabadikan gambar para pemenangnya.
                MC mengumumkan, juara ke-3 alias medali perunggu dimenangkan utusan Negara Filiphina, dan medali perak dimenangkan utusan Negara Thailand, jadi yang dapet medali emas siapa? Tes, tes, MC berkata dengan lantang, kurang lebih begini; ‘dan untuk medali emas, dimenangkan oleh saudara Hari Fitriyanto dari Indoensia!’ wah, seluruh penonton larut dalam kegembiraan, riuh, saling bertepuk tangan ketika Hari Fitriyanto sang juara naik ke atas podium. Wah, beruntung saya berdiri paling depan, saya bisa melihat langsung para juaranya.
                Setelah pengalungan medali, para fotografer menyuruh Hari untuk menggigit medali emasnya dan mengabadikan momen tersebut. Termasuk saya. Setelah itu, pengibaran ke-3 Bendera diiringi lagu Indonesia raya. Seluruh penonton ikut bernyanyi dan larut dalam keharuan. Saya juga gak mau ketinggalan untuk bernyanyi sekaligus mem-video momen itu. Ih, sungguh merinding melihat si merah putih berkibar-kibar di terpa angin. Terimakasih ya Allah, terima kasih Hari, untuk sumbangan medali emasnya untuk Indonesia. Insya Alah kalau semua atlit seperti ini, Indonesia dipastikan juara umum sea games kali ini. Yeah, hidup Indonesia!




                  Saat saya berfoto dengan backround sea games, tiba-tiba seorang Bapak-Bapak dari salah satu media mewawancarai saya seputar sea games terutama lomba balap sepeda. Hmm, pas sekali ya Bapak ini mewawancarai saya yang memang hobi sekali bermain sepeda. Sayapun langsung memberi tanggapan dari beberapa pertanyaan yang diajukan.





#A Will saya kali ini adalah, lebih berupa harapan. Harapan agar Indonesia bisa memiliki prestasi yang gemilang dalam semua bidang, tidak hanya dalam sea games. Mudah-mudahan sea games tahun mendatang bisa terus berjaya, amin. Dukung para atlit Indonesia, harumkan nama Indonesia. Jadi ingat lagu Ello feat Sherina nih, ‘Ayo ayo ayo, Indonesia Bisa! Ayo ayo ayo, bangkit Bersatulah! Ayo ayo ayo, kami datang untuk mendukungmu….’

(KPK) Ketika Perut Keroncongan…
                Setelah kenyang menonton acara sea games yang berujung manis, kini Pak Polisi kembali membuka jalan raya, so, nggak ada lagi deh kata macet. Sekitar jam 3-an baru bus melaju menuju restoran Sindang Reret yang tak jauh dari Gunung Tangkuban Parahu. Hmm, kebanyakan anak-anak juga sudah mengeluh kelaparan katanya. Tadinya kan di jadwal kita makan jam setengah 2, eh ngaret setengah jam-an, aduh, pokoknya perut-perut kami sudah benar-benar berada pada titik kelaparan, kawan. Untung resto-nya deket.
                Alhamdulillah hidangan sudah ludes disikat para pemburu makanan, he. Tapi Allah kembali menurunkan rahmat-Nya berupa hujan. Yang asalnya kita mau ke kebun strawberry pun batal. Ya sudahlah, gak apa-apa. Toh jalan-jalan udah, nonton sea games udah, makan juga udah, itu aja udah cukup, pak. Jadi?
Jadi selanjutnya kita akan berangkat menuju Garut!
Taman Air Sabda Alam adalah tujuan kami, kita mau renang, horee. Setelah itu baru berbelanja sepuasnya di gerai picnic. Sip deh.

Dua Keranjang gak Cukup…
                Setengah sebelas malam kita baru sampai di gerai Picnic, sungguh waktu yang tidak tepat untuk berbelanja. Untung sebelumnya sudah ada kontak dengan gerainya, jadi jam berapapun mereka siap menunggu, hmm pelanggan setia gitu loh.
                Ceritanya, anak-anak kelas 2 di Pondok nitip dibeliin oleh-oleh. Mereka kasih uang plus catatannya. Hmm, awalnya sih fine-fine aja, eh ternyata ketika saya mulai belanja, pesenan mereka tuh lebih dari apa yang diperkirakan. Bahkan dua keranjang aja gak cukup. Nyampe jatoh-jatoh segala, untung si mas-mas gerai-nya baik nolongin. Hupff, saya sampai belanja 3 kereksek jumbo lho, hehe. Semua orang mencibir
“ Ck ck ck, teh Lena, gak salah tuh belanjaan?”
Ah udah deh, ini tuh bukan punya saya. Saya Cuma menjalankan tugas sebagai Ibu yang baik buat anak-anak di rumah, ups maksudnya di pondok. 


#Eh, setelah mengunjungi gerai ini yang ke-2 kalinya lho setelah study tour SMP kemarin, saya kok jadi mikir ya. Kata manager pabrik dodol picnic di garut, produk mereka tuh bahkan udah go internasional lho. Nah pas ngebayangin Tasik, sebenarnya banyak ya ciri khas makanannya itu. Ada opak, ranginang, dll. Tapi rasa-rasanya belum bisa seluas itu pangsa pasarnya. Masa iya sih makanan kita kurang diminati? Pasti ada yang kurang beres nih. Maka, saya berkeinginan suatu saat nanti bisa membuka usaha yang benar-benar menjual barang lokal dengan kualitas memukau. Hmm, kan keren tuh. Sekalian memberdayakan masyarakat kampung saya yang suka memproduksi makanan-makanan tersebut tapi tak tahu harus disalurkan kemana.  Sip deh.


                Dan berakhirlah perjalanan study tour kami. Teat pukul 12.30 si mini bus biru paling awal sampai di Lawang Condong. Mata yang terlelap dan pantat yang merasakan panas lantaran berjam-jam duduk tanpa bergerak, akhirnya usai juga.
Hei, kita sampai!
Dengan membawa 3 kresek oleh-oleh, di tambah tas gendong, saya berjalan bersama yang lainnya menuju pondok. Aduh, bantuin atuh ih, berat. Tapi apa daya, mereka pun mengalami hal yang sama. Ya sudahlah, dengan tidak berisik karena takut membangunkan warga sekitar, kamipun akhirnya sampai di kamar masing-masing. Aduh, langsung pengen rebahan deh jadinya. Jam setengah satu malam, bayangkan!
Sebelum tidur, tiba-tiba a will  tadi berkelebatan. Ada yang kemudian menjadi tekad yang kuat, tapi ada juga yang sedikit ragu-ragu ketika membayangkan bagaimana jadinya nanti. Ah saya ini. Cepat saja saya hapus bayangan keraguan itu. Allah pasti mendengar, karena Allah lah Maha mendengar. Sekarang bagaimana kita berusaha untuk menggapai tekad kuat itu.
                Jika ada orang yang bilang,  banyak manusia menderita karena keinginannya sendiri. Eits, ini tidak berlaku bagi beberapa keinginan saya. Karena a will di sini lebih terkesan sebagai tekad yang kuat untuk mewujudkan sesuatu agar berbuah kemanfaatan dan kebarakahan yang semuanya dilandaskan untuk semata-mata mencari Ridha Allah SWT. Kalau kita gak punya kemauan, ya selamanya kita akan tetap begitu-begitu aja. Tidak ada perubahan, statis, tidak maju tidak mundur. Ah, kalau sudah begitu mau jadi manusia apa kita ini. Sayang banget hidup sekali Cuma buat jadi manuia statis mah. Mending jadi manusia yang gemar melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Sesuai hadist Rasul :
“ barangsiapa hari ini lebih baik dari kemarin maka Ia beruntung, jika sama saja maka Ia merugi, Jika lebih jelek, maka Ia dilaknat! “
So, sesuatu akan terwujud jika berawal dari kemauan yang besar. Setelah itu lanjutkan dengan usaha dan doa. Barulah bertawakal ilallah. Dan ingat, If there is a Will, there is a Way. 
Happy Ending,
Happy Study Tour ^_^

                               

Memelihara Sumpah Setia


            Mengingat 83 tahun yang lalu, ada satu hal yang menjadi tolak ukur kebangkitan rakyat terutama para pemudanya. Tepat pada tanggal 28 oktober 1928, tercetuslah sebuah tekad kuat yang menjadi bukti otentik lahirnya bangsa Indonesia. Sumpah pemuda, buah dari perjuangan rakyat yang selama ratusan tahun tertindas dibawah kekuasaan kaum kolonialis.
            Kita tidak mampu membayangkan bagaimana situasi dan keadaan yang bergejolak kala itu. Namun satu yang pasti, para pemuda bangsa ini dengan berani dan luhurnya tekad yang kuat, menamai bukti otentik kelahiran bangsa ini dengan Sumpah Pemuda. Sumpah yang bukan sembarang sumpah. Terlalu gagah kalau harus disandingkan dengan sumpah-sumpah semacam sumpah mati, sumpah suer samber geledek, apalagi sumpah pocong.
            Dari namanya saja, kita bisa tahu bagaimana kuatnya tekad para pemuda jaman dahulu. Sumpah yang secara etimologis memiliki tiga arti; a) Pernyataan yang diucapkan secara resmi dengan bersaksi kepada Allah SWT untuk menguatkan kebenaran dan kesungguhan, b) Pernyataan yang disertai tekad melakukan sesuatu menguatkan kebenarannya atau berani menerima sesuatu bila yang dinyatakan tidak benar, c) Janji atau ikrar yang teguh akan menunaikan sesuatu, tentu tidak akan dianggap remeh oleh siapapun. Termasuk kita yang kali ini mengemban tugas untuk memelihara sumpah tersebut.
Memelihara tanah air
            Kita selalu menekankan pada semua orang, bahwa bumi yang kita pijak kini adalah tanah Indonesia. Kitapun melulu bangga dengan kesuburan yang dikandung tanahnya. Memang semestinya begitu. Sebagaimana bunyi sumpah pemuda poin pertama Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia. Sedikit berbeda dengan jaman dahulu, ketika tanah Indonesia masih dalam sengketa yang begitu alot dengan para kolonial. Pemuda kita bersih kukuh untuk mempertahankan tanah air ini dari tangan penjajah yang kian menduduki beberap wilayah negara kita.
            Kini, secara fisik, kita sudah tak menyaksikan sengketa serupa. Kita tak lagi melihat rakyat Indonesia dijajah untuk menjadi pekerja yang mengeruk sumber daya alam sebesar-besarnya di kandangnya sendiri untuk kemudian menjadi hak milik mereka (kaum kolonialis). Kendati demikian, memang secara kasat mata tidak nampak, tapi bila kita menyadari semakin gundulnya hutan-hutan, tanah yang menjadi bolong-bolong besar lantaran penambangan yang juga besar-besaran, belum lagi limbah sampah yang kian menumpuk dan berujung pada petaka dan musibah, tentu kita akan berpikir ulang, apa benar tanah kita ini dalam posisi aman? Jika ternyata tidak, maka kitalah yang harus duduk di garda depan untuk mensosialisasikan ayat dalam Al-Quran surat Al A’raf : 56:
“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepadanya rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.”

Mengaku Berbangsa Satu
                Coba kita baca selogan apa yang selalu dibawa burung garuda? Tak asing bila kita mengejanya, akan berbunyi “Bhinneka tunggal ika” yang seringkali kita mengartikannya dengan “ Meskipun berbeda-beda tetap satu jua”. Dalam sumpah pemuda, poin yang kedua adalah mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia. Saya, anda, mereka dan orang lain di Indonesia memang berbeda dari segi fisik, karakteristik, dan sebagainya, namun pada hakikatnya kita tetap satu dalam sebuah ikatan kebangsaan, yakni bangsa Indonesia, dan tetap harus bersatu demi satu tujuan, yakni kesejahteraan dan kemakmuran bangsa.
                Namun, yang seringkali kita saksikan, pergolakan masyarakat kita yang acap kali terjadi bentrok entah itu dengan warga sebelah, atau dengan institusi kepemerintahan tak henti-hentinya diberitakan media. Perbedaan pendapat sudah sangat biasa, tinggal bagaimana kita menyikapinya. Jangan sampai kita lebih terkenal kefrontalannya dibanding kehalusan prilakunya. Dan belum lama pula, kita menyaksikan segerombolan pemuda yang membuat aksi anarkis di Glora Bung Karno dengan menyulut petasan dan melempari lawan dengan botol-botol minuman. Jangan jadikan itu alasan sebagai bentuk persatuan pemuda Indonesia untuk membela negara, yang ada malah bad judge yang kita dapat. Percayalah, banyak cara yang lebih positif untuk mewujudkan persatuan bangsa yang akan membuat bangsa ini harum sampai ke penjuru dunia. Yang perlu kita lakukan hanyalah simpan perdebatan yang berkepanjangan dan bersatulah dari sekarang.
Kita perlu bercermin pada firman Allah surat Ali-Imran:105 “ Janganlah kamu menjadi seperti mereka yang berkelompok-kelompok dan berselisih, setelah datang penjelasan kepada mereka “ Ayat ini menyandingkan kalimat “berselisih” dengan “berkelompok” tentu dengan isyarat bahwa kita dilarang untuk berkelompok jika untuk mengakibatkan perselisihan. Maka jadilah satu bangsa yang utuh, bangsa Indonesia.
Menjunjung Bahasa Indonesia
Adalah sebuah kebanggaan tatkala mengetahui bahasa kita begitu diminati di negara tetangga, terutama di negeri kangguru  Australia. "Warga Australia yang mempelajari Bahasa Indonesia cukup banyak. Mereka secara tekun mempelajari bahasa tersebut karena diantaranya sangat tertarik dengan kebudayaannya," begitu yang diungkapkan seorang Angkatan Laut Australia (Pikiran Rakyat edisi juni 2010). Tidak mempersoalkan apakah tujuan mereka benar-benar untuk mempelajari saja atau ada maksud lain, yang perlu kita contoh adalah minat mereka yang begitu besar terhadap kebudayaan kita.
Jumlah ragam bahasa Indonesia yang mencapai 726 merupakan ragam bahasa yang amatlah banyak. Ini jarang sekali terjadi di negara lain. Tentu perlu kita lestarikan. Namun kenyataannya satu persatu ragam bahasa dibeberapa daerah mulai punah. Hal ini mestinya menyulut semangat kita untuk senantiasa menjunjung tinggi ragam bahasa daerah yang merupakan salah satu corak khas kebudayaan negeri ini. Memang bukan berarti menentang untuk mempelajari bahasa asing, hanya saja yang perlu diingat, adalah jati diri yang juga jangan sampai hilang.
Ibnu ‘Asakir dalam tarikhnya meriwayatkan, Rosulullah SAW memasukan sahabatnya Salman, Romawi, dan Habasyah (Etiopia) ke dalam kelompok Arab. Ketika sebagian dari sahabat meremehkan ketiga orang tersebut, Nambi SAW bersabda:
“ Kearaban yang melekat dalam diri kalian bukan disebabkan karena ayah dan tidk pula karena ibu, tetapi karen bahasa, sehingga siapa pun yang berbahasa Arab, dia adalah orang Arab.”
Hikmah yang perlu kita ambil dari kisah tersebut, betapa sebuah bahasa mampu menjadi pemersatu beberapa pihak. Bila para sahabat yang meskipun bukan berasal dari bangsa Arab mau berbahasa Arab. Dan bila orang-orang di negeri tetangga sangat meminati bahasa kita, lantas, mengapa kita masih ragu dan harus merasa minder untuk mengekspresikan bahasa kita Indonesia.
                Pada akhirnya, sikap yang perlu kita tampilkan dan juga menempel lekat dalam diri kita menghadapi hari sumpah pemuda adalah dengan senantiasa menjaga dan memelihara ketiga poin tadi. Kita sudah tak diperbudak secara fisik, tapi ternyata perjuangan belum selesai sampai di situ. Masih banyak gempuran lain yang juga bisa dikatakan penjajahan, terutama penjajahan akidah, intelektual, dan budaya. Tinggal bertanya pada diri sendiri, mau mundur atau maju. Bila pilihan kita maju, berarti mau tidak mau, kita tak boleh mundur.