If There is a will, There is a Way

Kisah Perjalanan Study Tour ke-Bandung

          Antara semangat dan tidak semangat sebenarnya mengikuti study tour kali ini. Kenapa coba? Karena kali ini saya menjadi panitia yang  ternyata tugasnya bejibun! Dari mulai jadi bendahara (kerjaannya nagih melulu neh ke anak-anak, udah kayak rentenir aja, he), ngurusin makan anak-anak yang jumlahnya 200 orang lebih, bayangkan! 200 orang, kawan. Busnya aja nyampe berjejer 4 bus. Tapi ketidak semangatan itu segera saya tepis, kalau niatnya baik, terus dijalani dengan ikhlas, pasti segalanya jadi terasa ringan dan mudah, betul bukan? Yep, betul betul betul. Udah dua kali berturut-turut saya dikasih kesempatan sama Bapak Asep untuk menjadi panitia study tour. Itu artinya, tiap bulan pasti kerjaannya jalan-jalan, mantep, hehe. Namanya study tour, ya belajar, ya tour.
Hmm…Well, kalau ada pepatah bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian, saya sih sepakat sekali, begitupun dengan pepatah arab (Mahfudzat) ‘Wamalladzatu Illa Bakda At-ta’bi’ ‘tidak ada kebahagiaan setelah kepayahan’. Itupun yang saya rasakan kali ini. Setelah cukup rieut dan capek nagih uang ke anak-anak, beli air mineral 9 dus, obat-obatan, keliling Ibu-Ibu Dapur untuk pasokan makan pagi anak-anak, sampe ngangkatin dus-dus air mineral ke dalam bus dan negbagiin makan pagi buat para peserta study tour, semuanya terbayar dengan perjalanan yang mengesankan! Apalagi study tour kali ini ada plus-plusnya, apa coba? Hmm, itu karena dari mengunjungi beberapa tempat, saya seakan mendapat kemauan besar to do something. Ada beberapa a will (kemauan) nih yang saya dapat setelah jalan ke sana kemari. Hmm, mungkin gak ya a will itu berujung comes true? Ingat aja, if there is a will, there is a way! Dimana ada kemauan, pasti ada jalan!  Yeah!
Yuk ah kalau gitu saya mulai aja cerita ngalor-ngidul nya ya. Satu, dua, hayu!

Dapet Bus yang Mana ya?...
                Saya nggak tahu nih siapa yang ngebagiin tempat duduk para pembimbing. Yang saya tahu, tiba-tiba aja saya disuruh masuk kedalam bus ke-4 alias bus paling kecil berwarna biru. Dalemnya adalah siswi kelas 2 SMA yang gak kebagian tempat duduk di bus ke-3. Oh, malangnya mereka, hehe lebay ah. Jadi busnya gak selebar dan sepanjang ke-tiga bus lainnya. Tapi kualitas ternyata tetep sama. Layar LCD? Oke. Bisa buat muter musik. AC? Yes. Bersih? Sip deh. Ya Cuma kekurangannya itu aja, kurang lebar, he. Untung diriku tidak bertubuh lebar, Alhamdulillah dengan badan segini.
                Ya sudahlah, saya langsung mengabsen anak-anak. Mungkin karena mereka udah agak dewasa, jadi wajahnya ya ceria-ceria aja, tidak merasa teralienasi dengan ditempatkan di dalam bus kecil berwarna biru itu. Eh tapi ada yang menarik. Karena bus ini masih kosong, hampir enam kursi yang kosong, alhasil, para guru yang jadi ketua study tour pada nongkrong di sana. Kebetulan juga, anaknya Bapak Asep juga di sana, jadi beliau juga ikut duduk di sana. Hmm, ini tentu sangat menguntungkan. Gak disangka, bus kami jadi pemimpin lho, karena penunjuk jalan dan ketuanya ada di sini. Yes, jadinya kemana-mana paling awal deh. Hmm, berkah sabar dan ikhlas, kawan. 

Masa Iya sih nenek moyang kita sebangsa kera?

Depan Museum Geologi
           Tempat yang kita kunjungi pertama kali adalah Museum Geologi. Dalam benak saya kayaknya nih museum bakalan kosong, dan seakan menjadi milik rombongan condong saja. Eh ternyata, pas keluar dari bus, anak SD sedang foto-foto di depan museum bersama guru-guru mereka. Terus pas masuk ke dalam, wuih, gak kebayang berseliweran orang ke sana ke mari membawa alamat, jreng jreng…Ayu Ting-ting mode on.
                Alhasil nih ya, ruang utama museum tuh padet banget Cuma dengan rombongan SMA Terpadu Tasik aja. Pemandunya langsung mengambil alih, dan menyuruh peserta study tour yang berjumlah 200 orang itu untuk mendekat kea rah suara. Mereka diberi pengarahan, terutama seputar sejarah berdirinya museum sampai tugas-tugas mereka nanti selama melihat-lihat peninggalan apa saja yang ada di museum ini.
                Saya dan para ustadzat yang lain langsung berjalan ke sayap timur museum. Di dalamnya ternyata ada fosil-fosil hewan sebangsa dynosaurus gitu. Ada juga tuh yang paling tinggi hamper empat meter tingginya Tyranosaurus Rex. Woow, subhanallah tinggi banget! Berasa kembali ke dunia jadul ya kawan, pas zamannya si tokoh kartun Kaki mungil dan kawan-kawannya.


apaan tuh behind me?
           Tapi ada lagi yang menarik nih. Pas melihat-lihat jejeran tengkorak di etalase. Dari mulai homo sapiens di berbagai daerah, sampai mancanegara, ada yang dari Prancis, Australia, dll. Terus di salah satu dinding tertempel poster tentang evolusi manusia. Dari yang semula agak-agak mirip gitu ama kera, sampai seperti manusia pada umumnya sekarang. Jadi keingetan deh sama teori Darwin. Masa iya ya nenek moyang kita itu dulunya sebangsa kera? Kalau guru sejarah saya sih bilang, kenapa zaman dahulu beberapa jenis manusia identik tubuhnya membungkuk hamper sama seperti kera, itu karena pada zaman itu jenis mata pencahariannya adalah bercocok tanam. Namanya menanam, ya pasti jongkok lah. Lihat aja para Ibu dan Bapak petani yang lagi menanam padi di sawah. Betul gak Pak Tani? Betul betul betul.
Sempat terlintas nih di benak saya agar suatu saat bisa mempelajari hal ini lebih mendalam. Pengen tahu bagaimana yang sesungguhnya. Dan saya selalu yakin, jika kita mau berpikir lebih dalam, dan dengan landasan lillah maka kelak keaguangan Allah lah yang akan kita temukan. Sehingga terus menerus akan menuntut kita untuk tak henti bersyukur dan bertafakkur. Ih, pengen banget deh kayak gitu. Semoga terlaksana, amin.



Oh iya, setelah berfoto-foto bareng fosil, dan melihat ini itu, peserta digiring ke ruang Auditorium untuk menyaksikan salah satu tayangan video seputar sejarah fosil-fosil. Cukup senang saya dengan program itu, tapi ketika menyaksikan videonya yang ternyata berbahasa inggris, sudah dipastikan video ini produk asing pula, dalam hati saya bertanya ‘kapan atuh bangsa kita sendiri bisa memvisualkan hal-hal sejarah sepenting itu’. Padahal saya yakin di Indonesia banyak sekali doktor-doktor yang ahli dalam bidang ini, tapi karya-karya temuannya kok masih belum bisa tercium ya aromanya. Ayo ah, anak bangsa, coba deh bikin sesuatu yang berharga dan bermanfaat buat Negara bahkan untuk dunia. Masa video begitu aja harus melulu ngimpor sih dari luar.


#A Will dari berkunjung ke Museum Geologi adalah, ketika melihat berbagai keterangan seputar zaman pra sejarah perkembangan mahluk hidup terutama evolusi manusia, begitu juga dengan cuplikan video yang ditayangkan di ruang Auditorium, saya kok jadi kayak terpecut gitu lho untuk mengetahui lebih dalam seputar sejarah (dulu juga saya ngambil jurusan IPS pas SMA), saya ingin benar-benar mendapat bukti sedetail-detailnya tentang fenomena-fenomena yang ada. Plus, ingin pula jika suatu saat saya telah menjadi ahli dalam sebuah bidang, bisa total dan menghasilkan sebuah karya yang bisa saya kontribusikan untuk masyarakat banyak. Amin amin amin. Mungkin gak terwujud? Eits, mungkin dong! Nothing impossible lho di dunia ini. Kalau Allah sudah berkehendak, kun sudah tentu fayakun.  

Naik-naik ke Puncak Gunung…


                Sekitar sejaman dari museum menuju Gunung Tangkuban Parahu. Kita melewati jalan yang diapit jejeran pohon pinus yang rindang lho, tinggi-tinggi pula, ih so sweet sekali, berasa di film twilight aja, mana disekitarnya terhampar perkebunan teh menghijau, hmm sejuk di hati. Dan sekali lagi saya tegaskan, si mini bus warna biru kembali memimpin lho. Eh, ternyata beberapa meter dari pintu masuk menuju Taman Wisata Gunung Tangkuban Parahu sedang berlangsung acara Sea Games lomba Balap Sepeda Subang Road. Wow, seru sekali di sana. Pengen banget nonton, tapi bus terus melaju tanpa menghiraukan kemauan ini. Kalau bus ini gak mau mengabulkan kemauan saya, biar langsung saja saya utarakan kemauan ini pada Allah SWT. Kenapa saya begitu ngebet? Karena bersepeda itu merupakan salah satu cabang olah raga favorit saya. Heu, pengen sekali nonton ihhhh….
                Setelah sampai di terminal mobil elep yang nanti akan langsung mengantar kita ke Kawah Ratu, sekawanan tukang asongan sebangsa syal, sarung tangan, dan ciput langsung menyerbu kami. Iya sih masuk akal, soalnya cuacanya dingin banget, apalagi ntar di kawahnya. Beuh, airnya saja dinginnn. Tanpa piker panjang, kita-kita langsung membeli perlengkapan penghangat. Saya sih beli syal aja deh, buat gaya, he dan sudah pasti warnanya ‘ijo’.
                Beberapa kali kami mengeluh, aduh, bauuuuuuu…dikira ada yang kentut, ternyata bau belerang yang berasal dari kawah. Uh, baunya menyengat bahkan sampai sejauh itu. Sudah lupakan, setelah kita memesan tiket, anak-anak langsung naik mobil elep buat dianter ke kawah. Kalau saya dan para ustadzat yang lain sih belakangan aja.
                Sesampainya di Kawah Ratu, kami langsung terpesona dengan keindahan alamnya. Awan yang menyelimuti terasa dekat di atas kepala, pepohonan kering Manarasa yang memesona, dibawahnya beberapa orang berpiknik, kuda-kuda yang berjalan hilir mudik, dan kawah yang dalam! Subhanallah, ciptaan Allah. Saya jadi inget drama korea Sinderella’s sister deh. Settingnya mirip-mirip dengan taman wisata Gunung tangkuban parahu. Hmm..




         Saya mencoba mencari-cari guide, tapi gak nemu-nemu, pengen tahu lebih lanjut seputar taman wisata ini, plus beberapa hal yang ada di dalamnya, ah tapi gak berhasil. Saya search aja deh di internet. Jadi ngapain di sana?


 Foto dan Belanja! 


Kalau teman-teman yang lain doyan banget tuh ngusilin turis, saya mah kurang tertarik. Gak ada guide, sayapun tanya-tanya sama tukang dagang siomay tentang pohon-pohon indah yang ada di sana. Eh, beruntung beliau tahu banyak tentang pohon yang orang-orang sana menyebutnya pohon Manarasa, katanya pohon yang daunnya memerah jika sudah tua ini dipercaya bisa bikin kita awet muda lho kalau memakan daunnya yang rasanya asem-asem gimanaa gitu. Karena konon dahulu dayang sumbi yang awet muda itu juga memakan daun Manarasa ini. Hmm, jadi inget legenda Sangkuriang ya. biar tahu lebih lanjut, klik aja Di sini


di bawah pohon Manarasa
                Setelah cukup puas berfoto-foto dan belanja, rombongan kembali menaiki mobil elep untuk turun gunung. Dan kembali masuk bus masing-masing.


#A Will dari mengunjungi Taman Wisata Gunung Tangkuban Parahu, kok tiba-tiba ada sekelumit hasrat untuk kembali membuat sebuah film yang settingnya memotret beberapa tempat wisata di Indoenesia. Sekalian promosi, sekalian banyak bertafakur. Bisa gak ya? Bisa, bisa. Kita ingin, kita bisa!

Medali Emas Untuk Indonesia…


                Ketika menuruni gunung, tiba-tiba si mini bus biru berhenti. Eh, ternyata terjadi macet puanjang! Dan itu karena jalannya ditutup untuk kepentingan acara sea games. Saya yakin ini akan berlangsung lama, tersungging sebuah senyuman di bibir saya, Allah mendengar doaku. Tanpa pikir panjang, saya langsung mohon izin ke Pak Asep sebagai penyelenggara study tour untuk menonton sea games, eh ternyata Pak Asep pun ikut turun. Yes!
              Saya mengajak seorang ustadzah yaitu yang sering saya panggil Jane untuk menemani menonton acara. Ketika sampai ditempat acara berlangsung, dimana kerumunan orang meneriakan yel-yel Indonesia, jreng jreng…MC pun mulai mengumumkan kejuaraan. Ih, pas banget! Saya langsung maju ke tempat yang lebih dekat untuk bisa mngabadikan gambar para pemenangnya.
                MC mengumumkan, juara ke-3 alias medali perunggu dimenangkan utusan Negara Filiphina, dan medali perak dimenangkan utusan Negara Thailand, jadi yang dapet medali emas siapa? Tes, tes, MC berkata dengan lantang, kurang lebih begini; ‘dan untuk medali emas, dimenangkan oleh saudara Hari Fitriyanto dari Indoensia!’ wah, seluruh penonton larut dalam kegembiraan, riuh, saling bertepuk tangan ketika Hari Fitriyanto sang juara naik ke atas podium. Wah, beruntung saya berdiri paling depan, saya bisa melihat langsung para juaranya.
                Setelah pengalungan medali, para fotografer menyuruh Hari untuk menggigit medali emasnya dan mengabadikan momen tersebut. Termasuk saya. Setelah itu, pengibaran ke-3 Bendera diiringi lagu Indonesia raya. Seluruh penonton ikut bernyanyi dan larut dalam keharuan. Saya juga gak mau ketinggalan untuk bernyanyi sekaligus mem-video momen itu. Ih, sungguh merinding melihat si merah putih berkibar-kibar di terpa angin. Terimakasih ya Allah, terima kasih Hari, untuk sumbangan medali emasnya untuk Indonesia. Insya Alah kalau semua atlit seperti ini, Indonesia dipastikan juara umum sea games kali ini. Yeah, hidup Indonesia!




                  Saat saya berfoto dengan backround sea games, tiba-tiba seorang Bapak-Bapak dari salah satu media mewawancarai saya seputar sea games terutama lomba balap sepeda. Hmm, pas sekali ya Bapak ini mewawancarai saya yang memang hobi sekali bermain sepeda. Sayapun langsung memberi tanggapan dari beberapa pertanyaan yang diajukan.





#A Will saya kali ini adalah, lebih berupa harapan. Harapan agar Indonesia bisa memiliki prestasi yang gemilang dalam semua bidang, tidak hanya dalam sea games. Mudah-mudahan sea games tahun mendatang bisa terus berjaya, amin. Dukung para atlit Indonesia, harumkan nama Indonesia. Jadi ingat lagu Ello feat Sherina nih, ‘Ayo ayo ayo, Indonesia Bisa! Ayo ayo ayo, bangkit Bersatulah! Ayo ayo ayo, kami datang untuk mendukungmu….’

(KPK) Ketika Perut Keroncongan…
                Setelah kenyang menonton acara sea games yang berujung manis, kini Pak Polisi kembali membuka jalan raya, so, nggak ada lagi deh kata macet. Sekitar jam 3-an baru bus melaju menuju restoran Sindang Reret yang tak jauh dari Gunung Tangkuban Parahu. Hmm, kebanyakan anak-anak juga sudah mengeluh kelaparan katanya. Tadinya kan di jadwal kita makan jam setengah 2, eh ngaret setengah jam-an, aduh, pokoknya perut-perut kami sudah benar-benar berada pada titik kelaparan, kawan. Untung resto-nya deket.
                Alhamdulillah hidangan sudah ludes disikat para pemburu makanan, he. Tapi Allah kembali menurunkan rahmat-Nya berupa hujan. Yang asalnya kita mau ke kebun strawberry pun batal. Ya sudahlah, gak apa-apa. Toh jalan-jalan udah, nonton sea games udah, makan juga udah, itu aja udah cukup, pak. Jadi?
Jadi selanjutnya kita akan berangkat menuju Garut!
Taman Air Sabda Alam adalah tujuan kami, kita mau renang, horee. Setelah itu baru berbelanja sepuasnya di gerai picnic. Sip deh.

Dua Keranjang gak Cukup…
                Setengah sebelas malam kita baru sampai di gerai Picnic, sungguh waktu yang tidak tepat untuk berbelanja. Untung sebelumnya sudah ada kontak dengan gerainya, jadi jam berapapun mereka siap menunggu, hmm pelanggan setia gitu loh.
                Ceritanya, anak-anak kelas 2 di Pondok nitip dibeliin oleh-oleh. Mereka kasih uang plus catatannya. Hmm, awalnya sih fine-fine aja, eh ternyata ketika saya mulai belanja, pesenan mereka tuh lebih dari apa yang diperkirakan. Bahkan dua keranjang aja gak cukup. Nyampe jatoh-jatoh segala, untung si mas-mas gerai-nya baik nolongin. Hupff, saya sampai belanja 3 kereksek jumbo lho, hehe. Semua orang mencibir
“ Ck ck ck, teh Lena, gak salah tuh belanjaan?”
Ah udah deh, ini tuh bukan punya saya. Saya Cuma menjalankan tugas sebagai Ibu yang baik buat anak-anak di rumah, ups maksudnya di pondok. 


#Eh, setelah mengunjungi gerai ini yang ke-2 kalinya lho setelah study tour SMP kemarin, saya kok jadi mikir ya. Kata manager pabrik dodol picnic di garut, produk mereka tuh bahkan udah go internasional lho. Nah pas ngebayangin Tasik, sebenarnya banyak ya ciri khas makanannya itu. Ada opak, ranginang, dll. Tapi rasa-rasanya belum bisa seluas itu pangsa pasarnya. Masa iya sih makanan kita kurang diminati? Pasti ada yang kurang beres nih. Maka, saya berkeinginan suatu saat nanti bisa membuka usaha yang benar-benar menjual barang lokal dengan kualitas memukau. Hmm, kan keren tuh. Sekalian memberdayakan masyarakat kampung saya yang suka memproduksi makanan-makanan tersebut tapi tak tahu harus disalurkan kemana.  Sip deh.


                Dan berakhirlah perjalanan study tour kami. Teat pukul 12.30 si mini bus biru paling awal sampai di Lawang Condong. Mata yang terlelap dan pantat yang merasakan panas lantaran berjam-jam duduk tanpa bergerak, akhirnya usai juga.
Hei, kita sampai!
Dengan membawa 3 kresek oleh-oleh, di tambah tas gendong, saya berjalan bersama yang lainnya menuju pondok. Aduh, bantuin atuh ih, berat. Tapi apa daya, mereka pun mengalami hal yang sama. Ya sudahlah, dengan tidak berisik karena takut membangunkan warga sekitar, kamipun akhirnya sampai di kamar masing-masing. Aduh, langsung pengen rebahan deh jadinya. Jam setengah satu malam, bayangkan!
Sebelum tidur, tiba-tiba a will  tadi berkelebatan. Ada yang kemudian menjadi tekad yang kuat, tapi ada juga yang sedikit ragu-ragu ketika membayangkan bagaimana jadinya nanti. Ah saya ini. Cepat saja saya hapus bayangan keraguan itu. Allah pasti mendengar, karena Allah lah Maha mendengar. Sekarang bagaimana kita berusaha untuk menggapai tekad kuat itu.
                Jika ada orang yang bilang,  banyak manusia menderita karena keinginannya sendiri. Eits, ini tidak berlaku bagi beberapa keinginan saya. Karena a will di sini lebih terkesan sebagai tekad yang kuat untuk mewujudkan sesuatu agar berbuah kemanfaatan dan kebarakahan yang semuanya dilandaskan untuk semata-mata mencari Ridha Allah SWT. Kalau kita gak punya kemauan, ya selamanya kita akan tetap begitu-begitu aja. Tidak ada perubahan, statis, tidak maju tidak mundur. Ah, kalau sudah begitu mau jadi manusia apa kita ini. Sayang banget hidup sekali Cuma buat jadi manuia statis mah. Mending jadi manusia yang gemar melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Sesuai hadist Rasul :
“ barangsiapa hari ini lebih baik dari kemarin maka Ia beruntung, jika sama saja maka Ia merugi, Jika lebih jelek, maka Ia dilaknat! “
So, sesuatu akan terwujud jika berawal dari kemauan yang besar. Setelah itu lanjutkan dengan usaha dan doa. Barulah bertawakal ilallah. Dan ingat, If there is a Will, there is a Way. 
Happy Ending,
Happy Study Tour ^_^

                               

Memelihara Sumpah Setia


            Mengingat 83 tahun yang lalu, ada satu hal yang menjadi tolak ukur kebangkitan rakyat terutama para pemudanya. Tepat pada tanggal 28 oktober 1928, tercetuslah sebuah tekad kuat yang menjadi bukti otentik lahirnya bangsa Indonesia. Sumpah pemuda, buah dari perjuangan rakyat yang selama ratusan tahun tertindas dibawah kekuasaan kaum kolonialis.
            Kita tidak mampu membayangkan bagaimana situasi dan keadaan yang bergejolak kala itu. Namun satu yang pasti, para pemuda bangsa ini dengan berani dan luhurnya tekad yang kuat, menamai bukti otentik kelahiran bangsa ini dengan Sumpah Pemuda. Sumpah yang bukan sembarang sumpah. Terlalu gagah kalau harus disandingkan dengan sumpah-sumpah semacam sumpah mati, sumpah suer samber geledek, apalagi sumpah pocong.
            Dari namanya saja, kita bisa tahu bagaimana kuatnya tekad para pemuda jaman dahulu. Sumpah yang secara etimologis memiliki tiga arti; a) Pernyataan yang diucapkan secara resmi dengan bersaksi kepada Allah SWT untuk menguatkan kebenaran dan kesungguhan, b) Pernyataan yang disertai tekad melakukan sesuatu menguatkan kebenarannya atau berani menerima sesuatu bila yang dinyatakan tidak benar, c) Janji atau ikrar yang teguh akan menunaikan sesuatu, tentu tidak akan dianggap remeh oleh siapapun. Termasuk kita yang kali ini mengemban tugas untuk memelihara sumpah tersebut.
Memelihara tanah air
            Kita selalu menekankan pada semua orang, bahwa bumi yang kita pijak kini adalah tanah Indonesia. Kitapun melulu bangga dengan kesuburan yang dikandung tanahnya. Memang semestinya begitu. Sebagaimana bunyi sumpah pemuda poin pertama Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia. Sedikit berbeda dengan jaman dahulu, ketika tanah Indonesia masih dalam sengketa yang begitu alot dengan para kolonial. Pemuda kita bersih kukuh untuk mempertahankan tanah air ini dari tangan penjajah yang kian menduduki beberap wilayah negara kita.
            Kini, secara fisik, kita sudah tak menyaksikan sengketa serupa. Kita tak lagi melihat rakyat Indonesia dijajah untuk menjadi pekerja yang mengeruk sumber daya alam sebesar-besarnya di kandangnya sendiri untuk kemudian menjadi hak milik mereka (kaum kolonialis). Kendati demikian, memang secara kasat mata tidak nampak, tapi bila kita menyadari semakin gundulnya hutan-hutan, tanah yang menjadi bolong-bolong besar lantaran penambangan yang juga besar-besaran, belum lagi limbah sampah yang kian menumpuk dan berujung pada petaka dan musibah, tentu kita akan berpikir ulang, apa benar tanah kita ini dalam posisi aman? Jika ternyata tidak, maka kitalah yang harus duduk di garda depan untuk mensosialisasikan ayat dalam Al-Quran surat Al A’raf : 56:
“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepadanya rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.”

Mengaku Berbangsa Satu
                Coba kita baca selogan apa yang selalu dibawa burung garuda? Tak asing bila kita mengejanya, akan berbunyi “Bhinneka tunggal ika” yang seringkali kita mengartikannya dengan “ Meskipun berbeda-beda tetap satu jua”. Dalam sumpah pemuda, poin yang kedua adalah mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia. Saya, anda, mereka dan orang lain di Indonesia memang berbeda dari segi fisik, karakteristik, dan sebagainya, namun pada hakikatnya kita tetap satu dalam sebuah ikatan kebangsaan, yakni bangsa Indonesia, dan tetap harus bersatu demi satu tujuan, yakni kesejahteraan dan kemakmuran bangsa.
                Namun, yang seringkali kita saksikan, pergolakan masyarakat kita yang acap kali terjadi bentrok entah itu dengan warga sebelah, atau dengan institusi kepemerintahan tak henti-hentinya diberitakan media. Perbedaan pendapat sudah sangat biasa, tinggal bagaimana kita menyikapinya. Jangan sampai kita lebih terkenal kefrontalannya dibanding kehalusan prilakunya. Dan belum lama pula, kita menyaksikan segerombolan pemuda yang membuat aksi anarkis di Glora Bung Karno dengan menyulut petasan dan melempari lawan dengan botol-botol minuman. Jangan jadikan itu alasan sebagai bentuk persatuan pemuda Indonesia untuk membela negara, yang ada malah bad judge yang kita dapat. Percayalah, banyak cara yang lebih positif untuk mewujudkan persatuan bangsa yang akan membuat bangsa ini harum sampai ke penjuru dunia. Yang perlu kita lakukan hanyalah simpan perdebatan yang berkepanjangan dan bersatulah dari sekarang.
Kita perlu bercermin pada firman Allah surat Ali-Imran:105 “ Janganlah kamu menjadi seperti mereka yang berkelompok-kelompok dan berselisih, setelah datang penjelasan kepada mereka “ Ayat ini menyandingkan kalimat “berselisih” dengan “berkelompok” tentu dengan isyarat bahwa kita dilarang untuk berkelompok jika untuk mengakibatkan perselisihan. Maka jadilah satu bangsa yang utuh, bangsa Indonesia.
Menjunjung Bahasa Indonesia
Adalah sebuah kebanggaan tatkala mengetahui bahasa kita begitu diminati di negara tetangga, terutama di negeri kangguru  Australia. "Warga Australia yang mempelajari Bahasa Indonesia cukup banyak. Mereka secara tekun mempelajari bahasa tersebut karena diantaranya sangat tertarik dengan kebudayaannya," begitu yang diungkapkan seorang Angkatan Laut Australia (Pikiran Rakyat edisi juni 2010). Tidak mempersoalkan apakah tujuan mereka benar-benar untuk mempelajari saja atau ada maksud lain, yang perlu kita contoh adalah minat mereka yang begitu besar terhadap kebudayaan kita.
Jumlah ragam bahasa Indonesia yang mencapai 726 merupakan ragam bahasa yang amatlah banyak. Ini jarang sekali terjadi di negara lain. Tentu perlu kita lestarikan. Namun kenyataannya satu persatu ragam bahasa dibeberapa daerah mulai punah. Hal ini mestinya menyulut semangat kita untuk senantiasa menjunjung tinggi ragam bahasa daerah yang merupakan salah satu corak khas kebudayaan negeri ini. Memang bukan berarti menentang untuk mempelajari bahasa asing, hanya saja yang perlu diingat, adalah jati diri yang juga jangan sampai hilang.
Ibnu ‘Asakir dalam tarikhnya meriwayatkan, Rosulullah SAW memasukan sahabatnya Salman, Romawi, dan Habasyah (Etiopia) ke dalam kelompok Arab. Ketika sebagian dari sahabat meremehkan ketiga orang tersebut, Nambi SAW bersabda:
“ Kearaban yang melekat dalam diri kalian bukan disebabkan karena ayah dan tidk pula karena ibu, tetapi karen bahasa, sehingga siapa pun yang berbahasa Arab, dia adalah orang Arab.”
Hikmah yang perlu kita ambil dari kisah tersebut, betapa sebuah bahasa mampu menjadi pemersatu beberapa pihak. Bila para sahabat yang meskipun bukan berasal dari bangsa Arab mau berbahasa Arab. Dan bila orang-orang di negeri tetangga sangat meminati bahasa kita, lantas, mengapa kita masih ragu dan harus merasa minder untuk mengekspresikan bahasa kita Indonesia.
                Pada akhirnya, sikap yang perlu kita tampilkan dan juga menempel lekat dalam diri kita menghadapi hari sumpah pemuda adalah dengan senantiasa menjaga dan memelihara ketiga poin tadi. Kita sudah tak diperbudak secara fisik, tapi ternyata perjuangan belum selesai sampai di situ. Masih banyak gempuran lain yang juga bisa dikatakan penjajahan, terutama penjajahan akidah, intelektual, dan budaya. Tinggal bertanya pada diri sendiri, mau mundur atau maju. Bila pilihan kita maju, berarti mau tidak mau, kita tak boleh mundur. 

Nasyid=Dakwah

The True Story of El-Faiza Nasyid Team
Lena Sa'yati, Personil El-Faiza

El-Faiza Nasyid Team dengan personil tetap (kelas 2 SMA)


Bismillaahirrahmaaniraahiim...
Ahlan wa sahlan sahabat semua, kali ini saya ingin berbagi pengalaman plus hikmah yang saya dapatkan dari pengalaman itu. Sebagaimana pengalaman, yang tentunya sayapun akan menuturkan sepenggal kisah di dalamnya. Semoga apa yang akan saya paparkan ini, bermanfaat khususnya bagi saya pribadi, umumnya bagi sahabat semua, amin.
Sekitar empat tahun yang lalu, saya bersama sembilan teman lainnya membentuk team nasyid dengan nama E-Faiza, artinya pemenang. Kami memiliki motto “Meskipun tak menang, tapi kami tetaplah seorang pemenang”, yeah, setiap kali motto ini terngiang ditelinga, setiap itu pula semangat kami terasa dibakar. Kami ingin menang dalam segalanya. Menang dalam kompetisi, menang melawan hawa nafsu sendiri, menang melawan kemunkaran, menang dalam berbuat kebaikan, dan tentu menang dalam menggapai ridha Allah SWT.
 Setelah beberapa kali latihan, kamipun memberanikan diri untuk coba-coba mengikuti perlombaan nasyid antar SMA se-Jawa Barat yang diadakan SMAN 2 Tasikmalaya. Dan tanpa disangka, pertama kali mengikuti perlombaan, kamipun langsung menyabet juara ke-3 (saat itu kami masih kelas 1 SMA).
Alhamdulillah, sejak kemenangan itu, pembimbing kamipun semakin percaya dan yakin pada kami. Karena uniknya, anggota El-Faiza seluruhnya adalah wanita. Padahal jarang sekali ada team nasyid yang beranggotakan wanita, hampir mayoritas laki-laki. Ditambah, kami hanya menggunakan alat perkusi sebagai pengiring lagu, tidak seperti yang lain yang menggunakan keyboard, guitar, atau bahkan biola. Kami sangat bersyukur sekali kala itu. Karena cenderung masih kekakak-kanakan, terkadang ada perselisihan diantara sesama personil, yang pada akhirnya, kamipun sempat bongkar pasang personil.
Seiring eksistensi kami dalam bidang nasyid terus berjalan, alhamdulillah undangan dari sana-sini mulai berdatangan, baik itu acara pernikahan, imtihan, atau acara-acara peringatan hari besar islam, dan masih banyak lagi. Namun satu yang pasti, kami tidak pernah meniatkan semua ini untuk popularitas, sumber penghasilan, atau bahkan mentargetkan harus berapa kami dibayar, na’udzubillah. Seluruhnya apa yang kami dapatkan dari hasil undangan tersebut selalu kami berikan pada pondok pesantren tempat kami mengaji. Kami selalu berpegang teguh pada satu komitmen; “Bahwa kami bernasyid untuk berdakwah, bukan yang lain”. Alhamdulillah, dengan komitmen itu justru semakin banyak orang yang percaya pada kami. Maka benar firman Allah dalam surat Muhammad:7 “ Hai orang-orang yang beriman jika kamu menolong agama Allah niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”.
Lalu pada satu waktu, kami kembali mengikuti perlombaan (dengan personil yang berbeda). Kali ini kami tidak sendiri, dari pihak sekolah mengirimkan dua utusan. Namun tiba-tiba, suara saya saat itu hilang, serak dan benar-benar tidak bisa maksimal. Benar-benar tidak terduga. Padahal malamnya masih baik-baik saja. Saya seketika menangis tak tahu harus berbuat apa. Pembimbing membelikan saya segala macam minuman berharap suara saya kembali pulih. Tapi hasilnya nihil! Saya benar-benar putus asa saat itu. Namun pembimbing dan teman-teman saya tak henti menguatkan, hingga akhirnya kami tetap memutuskan untuk tampil. Saat itu kami undian ke 6. Saya pasrah apapun hasilnya nanti.
Hingga tiba waktu pengumuman, saya tak sanggup menyaksikan, akhirnya saya kabur kala itu, karena merasa sayalah penyebab dari semuanya. Dan benar saja, El-Faiza kala itu tidak menang. Tapi team nasyid satu lagi utusan ponpes kami berhasil menyabet juara ke-3, alhamdulillah. Meski begitu, masih tetap saja bercokol rasa menyesal dan tak puas dalam hati saya. Sayapun hanya bisa bertawakkal ‘alalloh.
Dan hei, Inilah kejutan yang Allah berikan! Esoknya, pembimbing kami memanggil El-Faiza untuk datang ke kantor sekolah. Kami kira ada apa, ternyata beliau bilang, ada satu juri yang dulu pernah menjadi juri di SMAN 2 Tasik ingin menjadi pelatih kami! Sungguh di luar dugaan! Beliau bilang, juri tersebut kagum pada vocal kami. Sehingga mendorong beliau untuk ingin melatih kami. Wow, tidak tanggung-tanggung juri itupun merupakan vocalis salah satu team nasyid dari Tasik yang sudah berhasil dan termasuk anggota dari Asosisasi Nasyid Nusntara (ANN). Subhanallah, berkah dari tawakkal, meski kadang saya malu sendiri karena saat itu tidak ukup bersabar, padahal benar dalam pepatah arab mengatakan “Man Shobaro Dzofiro” “ Siapa bersabar, maka beruntunglah Ia”.
Latihan bersama beliaupun berjalan baik. Kami rasa, olah voal kami mengalami kemajuan yang cukup baik bersama beliau. Namun sayangnya, setiap mengikuti perlombaan kami tak pernah lagi menang. Tapi kami tetap optimis, dan bersabar, juga tetap mengingat komitmen, bahwa kami bernasyid bukan untuk mencari kemenangan, tapi untuk berdakwah dan mengharap ridha Allah.
Waktu kian berlalu, hingga membuat pelatih kami itu tak lagi dapat melatih El-Faiza seperti biasanya. Ada urusan lain yang lebih urgent yang membuat kami harus terpisah. Tapi sungguh, kami seakan mendapat bekal baru untuk terus melatih kemampuan vocal dan performane bernasyid kami. Kamipun terus berlatih dan berlatih. Terkadang disela-sela waktu datang undangan dsb. Pada hakikatnya kami tetap eksis untuk terus berdakwah lewat senandung nasyid.
Akhirnya, kami siap untuk kembali mengikuti perlombaan nasyid. Saat technical meeting, saya mencermati siapa saja peserta yang ikut lomba kali ini. Karena telah terbiasa mengikuti lomba hingga tahu karakter dari setiap team nasyid, maka sayapun tahu seberapa hebat dan batas maksimal kreatifitas mereka dalam setiap lomba. Sayapun berfikir, kalau ingin kali ini menang, maka, kami harus mampu membuat satu penampilan diluar batas kemampuan team nasyid lain. Sayapun ingat pepatah ustadz di pondok “I’maluu Fauqo Maa ‘amiluu” “ Bekerjalah diatas rata-rata orang bekerja”.
Dengan semangat yang saya bawa dari technial meeting, kamipun segera menyusun strategi, mencari-cari lagu mana yang cocok dengan karakter vocal kami, membuat aransemen baru dalam bermusik dan merecycle ulang lagu pembukaan. Dan yes! Sempurna. Setelah dua minggu menyusun semuanya, akhirnya kamipun mantap dan siap untuk kembali hadir di ajang lomba nasyid yang kala itu diadakan di Universitas Siliwangi.
Pada saat tampil, kami lebih dahulu menatap juri-juri, lalu menyapu seluruh peserta dan penonton, barulah lagu pembukaan berkumandang. Sepanjang menyanyikan dua buah lagu, penonton benar-benar hening, mata mereka hanya tertuju pada kami. Dan di akhir lagu, tepuk tangan meriahpun membahana seiring ucapan salam terakhir yang kami uapkan. Alhamdulillah, kami cukup puas dengan penampilan itu. Hingga pada saat pengumuman kejuaraan, benar saja, kami menyabet juara pertama! Ini benar-benar untuk pertama kalinya kami menyandang gelar itu. Bahagia, iya, terharu, tentu, tapi ada yang lebih berat lagi. Yakni, kami harus mampu mempertahankan prestasi tersebut dan bahkan harus mempersembahkan yang lebih baik dari ini. Karena dalam hadist diakatakan “ Barang siapa yang hari ini lebih baik dari kemarin maka Ia beruntung, barang siapa yang hari ini sama dari kemarin maka ia merugi, da barangsiapa yang hari ini lebih jelek dari kemarin, maka ia dilaknat!”.
Berbekal komitmen yang kuat, serta kesungguhan yang kami tanamkan dalam diri, selanjutnya, setap perlombaan yang kami ikuti selalu berturut-turut menyandang sebagai juara pertama bahkan juara umum. Undangan dari sana-sini kembali berdatangan. 

Salah satu penampilan El-Faiza di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tasikmalaya


Namun seiring waktu, para personil El-Faizapun berpencar menyusuri jalan kehidupannya masing-masing, ada yang berkuliah di luar Tasik, merantau dll. Hingga kami disudutkan pada satu pertanyaan, apakah El-faiza masih akan tetap menang? menang dalam kompetisi, berdakwah, dlsb?. Yang masih tinggal di pondok tinggal empat orang lagi. 2 vocalis, dan 2 musikus. Akhirnya saya hanya bisa bertawakkal dan kembali berserah diri pada Allah. Jika halnya El-Faiza memiliki peran yang kau ridhai dan sekiranya memberikan manfaat bagi orang banyak, maka ridhailah El-Faiza untuk tetap ada di tengah-tengah masyarakat.
Dan jawabannya? Seiring terus berdatangan undangan yang menginginkan El-Faiza yang tampil, lalu salah satu personil dituntut untuk menjadi pelatih bagi kader nasyid selanjutnya di pondok kami, dan sesekali sayapun menjadi juri pada perlombaan nasyid di pondok, akhirnya El-faizapun dengan sendirinya tetap kokoh dan hadir untuk menabur benih dakwah dengan nafas lagu islami. Meski kadang meminjam personil dari team nasyid lain yang ada di pondok, tidak menghambat setiap aktifitas kami. Bahkan dengan izin Allah, El-Faiza bisa lebih dikenal masyarakat luas dengan tiga personilnya (saya, nove dan ratna) menjadi penyiar di radio dkawah dalam acara mawadah( mari bersua di radio dakwah) dan rekaman single meski belum maksimal.
Saya adalah orang yang sangat percaya pada mimpi, tentu jika mimpi itu dibarengi dengan doa, usaha dan tawakkal. Dulu sekali saya berharap El-Faiza ini bisa menciptakan lagu sendiri dan bisa rekaman, kemudian menjadi salah satu team nasyid yang seluruhnya beranggotakan akhwat. Dengan begitu, kami ingin lebih luas lagi menyapa setiap manusia di muka bumi ini. Mengajak untuk bersyukur, Allah mengaruniai kita segala sesuatu untuk disyukuri dan digunakan sebaik mungkin. Seperti halnya Allah menganugrahkan kelebihan suara yang bisa dikatakan tidak fals, hehe pada kami, maka sepantasnya kami gunakan suara itu untuk kembali pada jalannya dan menggapai ridhanya, yakni salah satunya dengan senantiasa melantunkan shalawat, lagu bernafas islam dlsb.
Kadang ada yang nyeletuk bilang kami artis, sesungguhnya sangat tidak enak setiap kali mendengarnya. Sangat tidak ingin kami menjadi team nasyid yang komersial. Biarlah kami dikenal dari mulut ke mulut saja untuk dapat meneruskan estapeta perjuangan dakwah ini, daripada harus membuat satu sensasi agar bisa masuk tv, atau bahkan pindah aliran menjadi penyanyi pop lalu lepas kerudung dan semaamnya hanya demi mengejar popularitas, oh tidak! Untuk apa semua itu? Sungguh bukan itu tujuan El-Faiza. Dan kini, dengan kembali bertawakkal ‘alalloh, kami telah meniptakan beberapa lagu, yang semoga saja dapat diterima dengan baik, dan kami berazzam untuk rekaman, dengan izin Allah, ia kembali memudahkan jalan itu. Rizki dengan sendirinya datang atas kuasa Allah, alhamdulillah.
Bagi saya, inilah bukti betapa janji Allah selalu benar. Allah akan selalu mencintai hambanya yang mau berniat dan berbuat baik. Meski begitu, perjuangan dakwah El-Faizapun pastinya menjadi motivasi dan kontrol sendiri bagi para personilnya, untuk senantiasa berlaku sesuai dengan apa yang dilantunkan dalam setiap nyanyian. Inilah yang berat. Memang begitulah dakwah, jika kita bersungguh-sungguh dalam kebaikan, maka akan kita dapati kebathilan, tapi Allah selalu berjanji, pada akhirnya, kebaikanlah yang akan menang. Dari mulai harus menjaga sikap masing-masing karena bersandar pada firman Allah dalam surat Asshaf:3; Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”, kemudian terkadang orang mengolok-olok nasyid kampungan, tidak modern, atau bahkan teroris dsb. Namun kitapun tak boleh tingal diam, untuk melewati badai tentu kita harus berjalan, bukan malah terdiam. Maka, marilah kita semua terus bejuang dan berusaha untuk senantiasa menebar benih kebaikan di muka bumi, dan memerangi kemunkaran, terutama kemunkaran yang berasal dari hawa nafsu kita sendiri. Sungguh, Penduduk langit, bumi, bahkan ikan-ikan di lautan akan bershalawat untuk mendoakan orang yang berbuat kebaikan. Marilah menjadi orang baik dan menjadi seorang pemenang!


Galeri Foto El-Faiza:
Juara Umum se-priatim di Universitas Siliwangi
Juara Pertama pada Giat Tangkas Pramuka II di UNSIL
Juara Pertama pada Giat Tangkas Pramuka di UNSIL
Pada acara pernikahan Ustadzah Daniyah
Saat menjadi penyiar di Radio Dakwah Mesjid Agung
Saat tampil apada acara pernikahan Ustadzah Yuli & Ustadz Nurrohman

Juara Pertama & Umum Se-Priatim di Universitas Siliwangi














Kuliah Ta'aruf


Mahasiswa/i baru Institut Agama Islam Cipasung (IAIC) kelas khusus Kampus Condong baru saja melaksanakan kegiatan Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (OSPEK) atau Kampus IAIC menamainya dengan Kuliah Ta’aruf di Kampus IAIC Singaparna pada 08-09/11/2011 kemarin. Sekitar 40 peserta dari kelas khusus Condong mengikuti kegiatan yang memakan waktu dua hari itu. Termasuk tingkat II yang tahun sebelumnya belum mengikuti OSPEK karena terlambat mendaftar sebagai Mahasiswa IAIC. Peserta Kuliyah ta’aruf sendiri secara keseluruhan berjumlah 530 orang lebih (mencakup IAIC Pusat dan Kelas Khusus Daerah).
                Kegiatan OSPEK yang tahun-tahun sebelumnya biasanya dilaksanakan selama kurang lebih satu minggu, kini dipersingkat menjadi dua hari saja. Begitu juga embel-embel persyaratan bagi Mahasiswa/i baru yang sebelumnya selalu aneh-aneh dan neko-neko kini dihapuskan. Hal ini dipandang Rektor Kampus IAIC KH. Drs. A. Bunyamin Ruhiyat, M.SI tidak memberikan dampak positif dalam berlangsungnya kegiatan. “Apa hubungannya kaleng susu dengan ta’aruf” pungkas beliau. Maka, kegiatan inipun tidak lagi bernama OSPEK, melainkan Kuliah Ta’aruf, karena memang yang lebih dipadatkan pada kegiatan ini adalah pengenalan semua hal menyangut seluruh Civitas Akademika IAIC dan beberapa hal menyangkut kemahasiswaan dan dorongan serta motivasi.
                Berikut beberapa kegiatan dalam Kuliah Ta’aruf Mahasiswa-Mahasiswi Baru IAIC tahun akademik 2011-2012; 

Check ini Peserta.
Peserta terlebih dahulu dikelompokan lalu dikumpulkan dilapangan area Kampus. Acara dimulai pukul 07.00. Bagi Mahasiswa/i baru yang berasal dari daerah disediakan asrama agar tidak terlambat mengikuti acara, begitupun dengan kelas khusus Condong.
Saat Check in Peserta


      Pembukaan 
      Pembukaan Kuliah Ta’aruf dilaksanakan di Aula IAIC dengan dihadiri Rektor serta segenap jajaran para pembantu Rektor, dan para Dekan juga Dosen IAIC. Kuliah Ta’aruf dibuka secara simbolis oleh Rektor IAIC KH. Drs. A. Bunyamin Ruhiyat, M.SI dengan penerbangan balon di lapangan depan aula IAIC dengan disaksikan seluruh peserta Kuliah Ta’aruf. Tepuk tangan meriahpun membahana diseluruh penjuru kampus.

saat pembukaan
KH. Drs. A. Bunyamin Ruhiyat, M.SI selaku Rektor IAIC
pembukaan secara simbolis dengan pelepasan balon
Sang balon terbang membawa harapan kami

1.   
      Perkenalan Panitia-panitia dan Dosen
      Sebelum masuk pada tahap pemberian kuliah umum, para panitia berjajar didepan untuk memperkenalkan diri masing-masing. Dan berhubung para dosen tidak seluruhnya hadir, maka perkenalanpun hanya dari para panitia saja.

Para panitia mengenalkan diri
1.    
      Kuliah Umum
     Kuliyah umum perdana dimulai dengan materi Sinergitas Kmapus dan Pesantren oleh KH. A. Bunyamin Ruhiyat, M.SI. Dalam kuliahnya, beliau menceritakan sejarah berdirinya Pondok Pesantren Cipasung yang berdiri pada tahun 1931. Ponpes ini didirikan oleh KH. Ruhiat. Dan pada tahun 1965 IAIC lahir dibawah Yayasan Cipasung.
Selain itu, beliau juga menyampaikan sinergitas antara Kampus dan Pesantren. Maksud dari didirikannya kampus IAIC ialah untuk melahirkan kader ulama yang intelek. Dengan mesantren juga kuliah, diharapkan keilmuan mahasiswanya mampu tergali dengan maksimal. Beliau juga menjelaskan tentang beberapa maziyah/kelebihan dari Pesantren. Diantaranya; Pesantren memiliki kurikulum yang baku dll.


saat menyimak pemateri
Pada kuliah-kuliah selanjutnya, ada beberapa pemateri yang menarik perhatian saya. Diantaranya kuliah yang diberikan Drs. H. Muttaqin, M.Pd dengan tema Sosiologis dan Antropologis Kampus. Juga Drs. H. Endang Solihin, M.SI dengan tema membangun jiwa intelektual dalam diri Mahasiswa.

bersama Drs. H. Endang Solihin, M.SI

      Demo UKM
Dari beberapa UKM, diantaranya; UKM BKC dan Pramuka yang kebagian memperlihatkan demonya pada kami

UKM BKC (Bandung Karate Club) saat demo
1
      Debating dan Refresh Otak
     Kegiatan ini menuntut setiap kelompok untuk mempresentasikan nama dari kelompoknya masing-masing yang merupakan nama-nama pan ilmu agama. Seperti Tajwid, Nahwu, Fiqih, dari Kelas Khusus Condong sendiri, Condong 1 bernama Al-Balagoh, dan Condong 2 bernama Tahsinul Khot.

Setiap kelompok harus mempresentasikna dari nama kelompoknya sendiri
Kelompok Condong 1 bernama Al-Balaghoh


Condong 2 bernama Tahsinul Khot
1.      
      Pembagian Hadiah
     Panitia menentukan beberapa kategori bagi para peserta yang berprestasi selama mengikuti Kuliah Ta’aruf. Diantaranya; Kelompok Terdisiplin, Peserta teraktif, Kelompok dengan yel-yelan terheboh, dan peserta terheboh. Dan Kelompok Condong 2 berhasil mendapatkan hadiah sebagai Kelompok Terdisiplin dan Terbaik J.

Abdul Gani ketua dari kel. Condong 2 saat menerima hadiah
1. 
      Bakti Sosial 
     Dalam rangka memperingati milad IAIC, maka para panitia berinisiatif untuk mengadakan bakti sosial, dengan memberikan sumbangan kepada panti asuhan dan anak-anak kurang mampu dengan cara memberikan persyaratan pada Mahasiswa/i baru untuk membawa beragam makanan, beras, dan uang masing-maisng Rp. 2.000,- rupiah.

Dan semestinya, merekapun (yang tidak mampu) merasakan hal yang sama :-) indahnya berbagi


      Penutupan
      Sampailah pada akhir acara, penutupan kembali digelar di aula kampus IAIC. Kali ini, para petugas upacara penutupan seperti MC, Drigen, Qori’ dsb diambil dari para peserta, bukan dari panitia. Dengan berakhirnya acara, Drs. H. Muttaqin, M.SI yang mewakili Rektorpun menyampaikan selamat pada kami, karena kami telah menjadi Mahasiwa dan bagian dari Civitas Akademika kampus IAIC, horeeeee J. Padahal dari tahun kemarin juga saya sudah jadi mahasiswa, hehe J. Oh iya, dan tak afdol rasanya dalam suasana masih lebaran, jika penutupan tidak ditutup dengan acara mushofahah. Shollalloh 'ala muhammad, shollalloh 'alaihi wasallam...

Penutupanpun diakhiri dengan mushofahah

SAY NO! TO ISLAM KTP



            Pasti pernah lihat kan film Kiamat Sudah Dekat garapan Pak Dedi Mizwar. Tapi yang saya maksud sih bukan filmnya secara utuh, hanya ada satu scene yang sangat menggelitik. Yaitu, ketika Pak Haji bertanya pada si pemuda apa agamanya? Dan dengan enteng si pemuda menjawab “kalau gak salah sih Islam, Pak Haji” sambil merogoh KTP nya di dalam saku “Tuh kan bener Islam..” Setelah Ia melihat KTP nya. Ironis? Benar, Ingin seperti dia? Oh, jangan!
KENALI CIRI-CIRINYA
            Sudah beberapa bulan ini, kita seringkali disuguhi tayangan sinetron di salah satu stasiun TV swasta yang terang-terangan menyinggung tema diatas tadi, alias Islam KTP. Jika kita melihat sekilas, cukup jelas kesan yang bisa kita dapat dari sana, yaitu tentang carut marutnya kualitas iman seorang muslim. Mengaku muslim tapi tak berprilaku selayaknya seorang muslim. Mengaku muslim, tapi tak tahu apa itu Islam. Sehingga Islam cukup sebagai label pelengkap KTP saja, bahwa dia beragama ISLAM. Inilah yang kemudian orang menyebutnya dengan Islam KTP.
            Dalam keseharian kita, tentu tipe muslim semacam ini seringkali kita temukan. Bahwa mereka yang mengaku muslim, sudah enggan berada di rumah Allah, sudah abai dengan kumandang adzan, sudah lalai menjalankan shalat, sudah enggan mengeluarkan zakat, sudah neko-neko dalam menjalankan syari’at islam, bahkan sudah tak tertarik dengan agamanya sendiri.
            Jelas hal semacam ini merupakan bumerang tersendiri bagi umat islam. Ketika orang lain berbondong-bondong menjadi muallaf dan dengan sungguh-sungguh mempelajari islam, umat islam sendiri malah asik meniru-nirukan model kehidupan kebarat-baratan. Maka tak heran bila umat islam hancur justru oleh dirinya sendiri.
KETIDAK TERTARIKAN TERHADAP ISLAM
            Rasanya sudah tak asing bila shaf jajaran depan mesjid selalu terdiri dari para lansia dan kaum tua. Kemanakah para bujang? Oh, ternyata mereka lebih senang menghabiskan waktu dengan berada di jalanan, atau berlomba-lomba shopping di mall, atau bahkan di tempat-tempat ramai penuh dengan hiburan. Mesjid tak lagi menjadi tempat untuk berkumpul, mengaji dan berdiskusi. Majlis-majlis ta’lim hanya bersisi para ibu-ibu. Buku-buku dan kitab-kitab klasik hanya bagi mereka yang sering di ejek si kutu buku. Al-Quran tidak lagi memiliki pesona yang memikat untuk sekedar dibaca. Kerudung tak lagi sebagai penutup aurat secara utuh.
            Gemerlap kehidupan yang sekarang ini lebih serba instan dan canggih tentu menjadi pemicu utama mengapa kaum muda begitu terpesona dan menggila. Kecintaan terhadap dunia yang terlihat begitu manis dan menggiurkan memang mampu menyilaukan pandangan kita. Begitulah hebatnya tipu rayu dunia yang fana ini. Dalam bukunya Limadza Ta’akhoro Almuslimun Wa Yataqoddama Ghoiruhu Syakib Arsalan, salah satu ilmuan islam mengatakan, bahwa salah satu kehancuran seorang muslim disebabkan Hubbu Addunya (cinta dunia). Sehingga Islam tak lagi memiliki pesona yang menarik untuk dikaji atau bahkan dipahami secara mendalam. Islam menjadi tidak menarik dikalangan anak muda kita. Sehingga tak pelak muncul selintingan bagi mereka yang taat dan menunjukan ciri keislamannya dengan diolok-olok so’ alim dsb. Inilah tanda-tanda semakin semaraknya para muslim bermental KTP. Na’udzubillah..
YANG MUDA YANG BERAGAMA
            Setiap manusia dimuka bumi ini tahu akan kehebatan spirit dan semangat juang satu kaum yang bernama; Pemuda! Tidak perlu menunggu berapa tahun sebuah negara hancur, jika ditangan para pemuda hal demikian adalah mudah dan kilat. Namun, pemuda yang bagaimanakah yang mampu mengimplementasikan teori tersebut dalam sebuah gerakan masif. Tentu bagi mereka yang memiliki kepedulian tinggi terhadap nasib ummat dan agamanya. Namun, melihat semakin maraknya mereka yang mengaku muslim tapi hanya KTP nya saja, rasanya akan sangat sulit agar harapan tersebut terealisasi. Tapi itu bukan berarti mustahil. Dalam aspek psikologinya, para pemuda lebih mudah tersentuh atau terarah dibandingkan yang lainnya. Asal ada suri tauladan yang baik, serta sentuhan spiritual yang kontinyu terhadap mereka, maka lambat laun fenomena semacam inipun dapat teratasi.
Beberapa tips agar para pemuda kita tak terjerumus dalam fenomena islam KTP:
Pertama, Kenalilah agamamu sedalam-dalamnya. Bisa dengan membaca, menyimak ceramah, atau bertanya pada para ahli agama.
Kedua, Berusahalah untuk menyibukan diri dalam aktifitas yang berhubungan dengan keagamaan. Bisa dengan bergabung bersama para aktifis muslim, mengikuti kegiatan keagamaan seperti training atau bakti sosial dll.
Ketiga, Ingatlah selalu bahwa dunia ini hanya sementara, terlalu mencintai dunia sama halnya memanjakan diri untuk mendapat hadiah neraka. Tapi sebaliknya, beramal sebanyak-banyaknya untuk menabung kebaikan agar bahagia hidup di akhirat kelak.
Keempat, jangan pernah ragu untuk mengcover segala prilaku atau semua aspek kehidupanmu dengan islami (menanamkan nilai-nilai keislaman didalamnya).
Kelima, jangan minder bila orang mengejek dengan sebutan ustadz, so alim atau sebagainya, sesungguhnya orang seperti kamulah yang dibutuhkan masyarakat.
            Nah, semoga dengan beberapa tips tadi, kaum muda kita dapat menghela nafas sejenak untuk kembali menimang-nimang mana yang bermanfaat dan mana yang tidak. Dan yang terpenting, Islam jangan hanya dijadikan formalitas, tapi kenali, pelajari, kaji, pahami, dan cintai sampai kita mati. Sehingga, mulai saat ini, kita bisa bernafas lega untuk mengatakan No, to Islam KTP!. [Lena]

Lena Sa'yati, Mahasiswi IAIC Tasikmalaya,
Santri pondok Pesantren riyadlul 'Ulum Wadda'wah Condong
* You may read the same note on Qalam MUI Tasikmalaya Magazine (4th edition)

Bermaafan di Hari Lebaran




Pastinya sudah tak asing dengan kalimat  ‘mohon maaf lahir dan batin’ yang mulai gencar tersuarakan ketika mendekati hari raya iedul fitri. Biasanya orang akan membeli kartu-kartu dengan ucapan serupa yang kemudian dikirimkan ke teman-teman atau saudara jauh. Ah itu dulu, sekarang sudah lebih modern. Kita tinggal memajang foto dan membubuhkan tulisan kata ‘maaf lahir batin’ di dalamnya, upload ke facebook, lalu tag-kan ke teman-teman, beres deh. Atau lebih simpel lagi, kita tinggal mengetik kata-kata yang dirangkai sedemikian rupa lewat sms, tambahkan kontak teman dan saudara, dan kirim, selesai.
Begitulah fenomena saling bermaafan di hari lebaran. Namun apakah maaf yang kita ujarkan benar-benar tulus atau hanya agar tradisi dan budayanya saja berjalan mulus?
Mengapapa Harus Bermaafan?
Manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Siapapun pasti mengakuinya. Sesuci apapun manusia, tetaplah kesalahan setidaknya sempat singgah dalam dirinya. Namun tidak lantas mendengar alasan tadi kita bisa seenaknya berbuat salah atau malah berpura-pura lupa. Manusia dikaruniai dua sifat itu tentu agar kita tidak merasa sombong. Dan sifat sombong, akan tampak atau justru binasa tatkala kita tengah berada dalam posisi bersalah yang menuntut kita untuk meminta maaf, atau bahkan memaafkan.
Kedua sikap ini (meminta maaf dan memaafkan) merupakan salah satu sikap terpuji yang sangat sulit kita lakukan. Lho, bukannya gampang ya minta maaf? Tinggal bilang “mafin aku ya” apalagi memaafkan, tinggal bilang “ya”, lalu apa sulitnya? Secara teori memang terlihat sangat gampang, tapi coba saja praktekan sendiri dalam kehidupan sehari-hari. Sulitnya minta ampun. Sms gak dibales aja marah-marah sampai menyumpahi tidak akan pernah termaafkan seumur hidup! Gak kebayang deh bagaimana jadinya jika yang bersalah tiba-tiba meminta maaf, wah mesti ngumpulin berapa ribu energi dulu, itu. Mending kalau dimaafin, nah kalau nggak? Ya nggak apa-apa sih, yang penting kita sudah dengan tulus meminta maaf, adapun hasilnya, itu sudah bukan urusan kita lagi. Meskipun secara adab bergaul tetap perlu kontinuitas dalam mengembalikan ukhuwah persaudaraan. Maklum lah, namanya juga manusia, perlu proses untuk memaafkan.
Maka dari itu, saling bermaafan pada kenyataannya memang satu sikap yang benar-benar memerlukan kejernihan akal, keihklasan hati dan kelapangan dada yang super dahsyat. Bagaimana tidak, disamping berat menahan gengsi, bahkan adalagi yang menganggap barangsiapa yang meminta maaf terlebih dahulu, berarti dia kalah. Wah, nggak benar itu. Sama sekali tidak benar. Justru yang pertama kali meminta maaf, dialah orang yang mulia derajatnya.
Ada beberapa faktor mengapa kita harus saling bermaafan;
Pertama, karena jika kita ingin diampuni Allah dari segala dosa, kita harus terlebih dahulu menyelesaikan permasalahan kita dengan sesama mahluk. Karena tentu kita mengenal istilah hablu minallah hablu minannas. Hubungan baik dengan Allah maupun dengan manusia, keduanya haruslah seimbang.
Dari Ibnu Abbas rodhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya Alloh mengampuni beberapa perilaku umatku, yakni (karena) keliru, lupa dan terpaksa." (Hadits hasan diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Baihaqi, dan lain-lain)
Alloh memaafkan kesalahan hamba-Nya akibat tersalah (keliru atau tidak sengaja), lupa atau dipaksa. Nah, maka terkait hubungan mu’amalah, jika kita membuat suatu kerugian terhadap pihak lain, kita tetap harus mempertanggungjawabkannya.
Kedua, sesama muslim tidak boleh saling bermusuhan atau bertengar lebih dari tiga hari.
Rasulullah saw. bersabda: Janganlah kamu saling membenci, saling mendengki dan saling bermusuhan, tetapi jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara. Tidak halal seorang muslim mendiamkan (tidak menyapa) saudaranya lebih dari tiga hari. (Shahih Muslim)
Bayangkan saja, jika tidak ada yang maju terlebih dahulu untuk meminta maaf, mungkin selamanya tidak akan pernah akur. Begitupun yang memaafkan, keikhlasan adalah modal utama untuk melakukannya.
Maka, jika kita ingin dosa kita diampuni Allah, dan ingin taat kepada Rosul, bermaafanlah. Karena dengan bermaafan, dosa kita akan melebur.
Bermaafan bukanlah Tren!
Ketika menyambut hari raya, suasana damai dan khidmat seakan mewarnai hari yang fitri ini. Satu sama lain saling berjabat tangan, dan saling bermaafan. Bahkan sebagian sampai menitikan air mata. Setidaknya begitulah nuansa hari raya yang terekam dibenak kita. Dengan kata khas ‘mohon maaf lahir dan batin’ tentunya.
Hal ini pula yang kemudian menjamur dikalangan anak muda. Dengan ikut serta merayakan hari raya iedul fitri, merekapun tak ingin ketinggalan saling bermaafan. Jelas ini merupakan fenomena yang sangat bagus. Tapi coba tengok. Berapa orang yang kemudian setres gara-gara saling bermaafan! Nah lho! Jangan salahkan sikap saling bermaafannya, tapi lihat dulu bagaimana cara mereka meminta maaf.
Dirumah, HP dibiarkannya saja tergeletak diatas meja. Selang beberapa detik, ada sms masuk, beberapa detik lagi, sms masuk, dan begitu seterusnya sampai esok paginya menjelang. Bagaimana tidak stress si pemilik HP, yang akhirnya HP pun dimatikan saja.
Dengan begitu canggihnya teknologi terkini, ternyata tidak sepenuhnya mampu memudahkan aktifitas manusia. Mengetik sms dengan kata-kata indah bertemakan hari raya dan saling bermaafan, seakan hanya menjadi tren saja. Rasanya tidak afdol bila tidak ikut mengetik sms serupa. Atau bahkan, yang semula terbiasa silaturahmi face to face, karena kini ada HP, akhirnya kata ‘maaf’ hanya cukup di sms saja. Tentu ini merupakan kesenjangan dalam penggunaan teknologi. Kita tidak tahu apakah kata maaf yang melayang kesana kemari itu benar-benar tulus atau hanya ikut tren sms saja. Hal ini bisa dibuktikan. Ketika hari raya sudah berlalu, HP pun kembali sunyi, tak ada lagi kata maaf yang berseliweran. Inilah yang disayangkan, bermaafan yang menjadi tren. Tentu ini terbalik, yang sebenarnya adalah,  kita harus men-tren-kan bermaafan. [Lena]

Lena Sa'yati, Mahasiswi IAIC Tasikmalaya,
Santri pondok Pesantren riyadlul 'Ulum Wadda'wah Condong
*This note is published on Qalam MUI Tasikmalaya Magazine