Yudisium Siswa akhir 2011

Lena Sa'yati, Panitia Yudisium Siswa Akhir SMA Terpadu
lenacinta@ymail.com



TASIKMALAYA (17/5) SMA Terpadu Riyadlul ‘Ulum Condong mengadakan acara yudisium untuk siswa akhir. Terdiri dari 75 siswa, nama mereka dipanggil satu persatu berdasarkan klasifikasi nilainya. Klasifikasi terdiri dari empat panggilan. Setelah mendapat surat keputusan, mereka memasuki ruangan yang telah ditentukan untuk diberikan taujihat dan irsyadat dari Kepala Sekolah, Komite dan tokoh pesantren. Di sana mereka dibekali nasihat-nasihat agar siap menghadapi dunia luar kelak. Baru setelah itu mereka diperkenankan untuk membuka amplop kelulusan.
Berbeda dari sekolah-sekolah pada umumnya, siswa akhir SMA Terpadu Riyadlul ‘Ulum Condong mewarnai acara yudisium dengan melaksanakan sujud syukur bersama selepas membuka amplop kelulusan. Setelah itu mereka menyalami guru-guru yang juga ikut hadir dalam acara yudisium tersebut. Acara berlangsung secara khidmat tanpa ada acara hura-hura, hiburan atau jalan-jalan bersama. Di sekolah berbasis pondok pesantren ini memang sangat konsen terhadap pembinaan karakter siswa. Sesuai dengan visi misinya untuk mencetak generasi ahli fikir dan zikir, juga melahirkan kader bangsa yang berakhlakul karimah dan berwawasan ilmiah. Semoga acara yudisium seperti ini dapat menjadi contoh untuk sekolah-sekolah lainnya.[Lena]

 
Siswa akhir saat menunggu panggilan

Panitia Yudisium (kiri-kanan: Nurul, Teh Elim, Ustadzah Yuli, Dian, Teh Euis,  dan Saya)



Dan ini dia daftar nama siswa akhir yudisium berdasarkan urutan pemanggilannya;
PANGGILAN PERTAMA
NO
NAMA
WALI
ALAMAT
KET

Aa Willy Nugraha
Dimyati
Cineam


Oha Rohmana
Ahim
Ciamis


Dinan Syamsul M
Aan Sutiana
Karang Nunggal


Ahmad Fauzi
E.Komsali
Cigalontang


M. Ridwan
Kiyai Diding Darul Falah
Cibeureum


Dhiaul Iman
H. E Hendrasyah
Mitra Batik


Dadin Saefudin
O.Iskandar
Rajapolah


Dadan Ishak Hamdani
Engkus Yana
Ciamis


Bubuh Bukhori Muslim
Yusuf Iskandar
Cisayong


Asep Mundzir
Drs. Tatan Burhanuddin
Garut


Asep Kamaluddin
Oman
Karangjaya


Yasin Farid
Sufyan
Sukahurip


Taufik  M Iskandar
Oyon
Cibeureum


Risman Abdul Aziz
Encep
Garut


Opik Hendarsyah
Ujang Subki
Cianjur


M. Ihsan Maftuh
H. Cece Hidayat (Alm)
Cibeureum


Luthfi Supriatna
Ade Abdurrahman
Cibeureum


Hamdani Soleh
Aslim
Bekasi


Faiz Azhari
Drs. KH. Bisri Kamaludin
Bogor


Ersan Abdul A
Nanang Junaedi
Kawalu


Ahmad Sobaruddin
Holil
Cibeureum


A Anwarul Umam
Eman Permana
Gunung Tanjung


Roin Fathi
Abdul Mu’thi
Rajapolah


Syamsul Shiddiq
Rosid
Kawalu


PANGGILAN KEDUA
NO
NAMA
WALI
ALAMAT
KET

Ati Nurrohmah
Maman S.Pd
Cikalong


Annisa Mardiyah
H. Ateng Suryawardja
Indihiang


Yuni Wahyuni
Hasan Mahmud
Purbaratu


Selvyani Surya Gunawan
Drs. Anwas Gunawan
Karangnunggal


Laily Masruroh
E. Muhtar
Sodong Hilir


Irma Nurwahidah
Oim Abdul Rohim
Mangkubumi


Irma Novianti
M. Ratim A
Gobras


Herni Hernawati
Suherli
Kawalu


Fitriani
Ujang Munir
Karangnunggal


Fitria Awijdiani
KH. Jalaluddin
Garut


Elin Susanti
Jajat
Cianjur


Cucu Rohayati
Adang
Panca Tengah


Syifa Malihatul Husna
H. Wahid
Purwakarta


Ana Kurnia Muslihah
Johan Syah
Purbaratu


Ai Rizki Siti Rahmah
Uup Supriadi
Cineam


Ade Sumiati
Abdul Rojak
Salopa


Witri Nur Aulia
K.H. Muhammad Nur
Kalimantan


Wida Nurhasanah
Drs. Dede DA
Ciawi


Uuh Uswatun Hasanah
Enjang Badruzzaman
Cibeureum


Tia Mutiara Zulfa
Hoer Falihin
Cibeureum


Teni Nursyifa
H. A. Nurzaman
Cianjur


Syifa Fauziah
Didin Syarifuddin
Limbangan Tengah


Siti Shofiyatul Amanah
Jeje Wahyu
Tamansari


Siti Nurjanah
Undang Suryana
Cibeureum


PANGGILAN KE TIGA






Eggy Aryabazda
Dr.Dadang Sadeli,M.Si
Bandung


Dede Zarkasyi
Ahmad Munawar
Bekasi


Beni Adam
Jajang Sutedi
Cibeureum


Arif Badruzzaman
Yayan Mastian
Cihideung


Andri
Yusuf Jaenudin
Bekasi


Mukhlis Rojabi
Suma,S.Pd
Bekasi


Adi Apandi Wijaya
Agus Deni
Cibeureum



Shiska Cahyati
Sugiman
Cibeureum


Shanti Nurul Ulum
Bahrul Ulum
Gunung Tanjung


Ratih Tresnasih
Bubun Bunyamin
Cikatomas


Ratih Retnasari A
Alawi
Garut


Popi Fauziah
Ahmad Ibrahim
Jakarta Timur


Nurul Hikmah
Undang Bunyamin
Rajapolah


Nuraini
Jajang
Sukahening


Nida Siti Khumaeroh
Atjeng Djaelani
Cikatomas


Nelly Ghantini
Anwar Sanusi
Cibeureum


Naziah Alamiah
Didin Muhyudin
Sumedang


Mukromatussa’diyah
Emen
Cineam


Siti Nurbaya
Tata
Karangjaya


Herawati
Harun
Tawang


Fegita Resti Fauziah
Ta’lim
Depok


Euis Nursyaidah
Eno
Bojong Asih


Erna Epriliyanti Kamilah
Mustofa
Ciamis


Yin Yin Heryani R
Herdiman
Ciamis


Dini Rizki Lestari
H. Nana Suhana
Cikalong


PANGGILAN KE EMPAT


Shiska Cahyati
Sugiman
Cibeureum


Shanti Nurul Ulum
Bahrul Ulum
Gunung Tanjung


Ratih Tresnasih
Bubun Bunyamin
Cikatomas


Ratih Retnasari A
Alawi
Garut


Popi Fauziah
Ahmad Ibrahim
Jakarta Timur


Nurul Hikmah
Undang Bunyamin
Rajapolah


Nuraini
Jajang
Sukahening


Nida Siti Khumaeroh
Atjeng Djaelani
Cikatomas


Nelly Ghantini
Anwar Sanusi
Cibeureum


Naziah Alamiah
Didin Muhyudin
Sumedang


Mukromatussa’diyah
Emen
Cineam


Siti Nurbaya
Tata
Karangjaya


Herawati
Harun
Tawang


Fegita Resti Fauziah
Ta’lim
Depok


Euis Nursyaidah
Eno
Bojong Asih


Erna Epriliyanti Kamilah
Mustofa
Ciamis


Yin Yin Heryani R
Herdiman
Ciamis


Dini Rizki Lestari
H. Nana Suhana
Cikalong


Kebetulan kala itu saya bertugas untuk memanggil nama-nama di atas 

Penyerahan amplop kelulusan oleh Ustadzah Dian Ningsih

Para tokoh Ponpes memberikan taujihat dan irsyadat 


Para siswi akhir mendengarkan nasihat dari wakil pimpinan pondok

Menunjukan amplop kelulusan, congratulation for U all, girls

Prosesi sujud syukur warnai yudisium

Berfoto bersama panitia
  
Finally, saya mengucapkan selamat dan sukses untuk seluruh siswa akhir SMA Terpadu Riyadlul ‘Ulum yang telah melewati masa kelulusan dengan hasil yang baik, semoga selanjutnya kalianpun termasuk orang-orang yang lolos dalam melewati segala macam ujian dimasa mendatang, amin.

Salam, 
Lena Sa'yati

KRITIK MENYALA UNTUK SEMANGAT MUDA

Lena Sa’yati, Mahasiswi Sekolah Tinggi Pesantren Terpadu (STPT) Tasikmalaya
www.lenasayati.blogspot.com


 
                 “Muda kaya raya, tua foya-foya, mati masuk syurga” terkandung nilai filosofis dalam pepatah yang cukup populer tersebut. Sungguh alur kehidupan yang sangat ideal, diidam-idamkan hampir seluruh umat manusia dimuka bumi, sangat sempurna, dan tak lupa juga sangat sulit mewujudkannya, namun bukan berarti mustahil untuk bisa menggapainya. Jika demikian adanya, semestinya kita merenung tatkala mendengar pepatah tersebut. Cobalah kita tengok, betapa kebahagiaan yang abadi yakni di syurga, bermula dari bagaimana kita hidup semasa muda di dunia. Kalau begitu, jelas sudah, bahwa ditangan pemudalah sebuah perubahan besar dapat tercipta.
                Pemuda dalam artian seseorang yang masih berusia muda, semestinya memiliki jiwa dan semangat muda pula. Begitulah setidaknya jika kita menengok kebelakang, tatkala para pemuda masa penjajahan, saling berebut kemerdekaan, mereka beramai-ramai membentuk beragam komunitas, menyiapkan konsep, membuat misi, serta mampu membuat suatu perubahan dari pergerakannya. Seperti halnya organisasi yang pertama kali dibentuk kala itu BUDI UTOMO yang merupakan awal pergerakan menuju Indonesia merdeka.
                Menyoroti semangat menyala para pemuda zaman dahulu yang begitu kental dengan kobar perjuangan dan pengorbanan terhadap tanah air, namun kini, mungkin akan sangat sulit bila kita hendak menemukan tipikal karakter pemuda dengan semangat muda layaknya pemuda zaman dahulu. Betapa tidak, jika kita telaah, sebenarnya, pemuda masa kini adalah mereka yang serba lebih dalam mendapatkan segala hal. Status pendidikan lebih tinggi, perkembangan teknologi lebih canggih, cara berpikir lebih rasional. Lalu apakah dengan semua itu semangat muda para pemuda zaman sekarang lebih canggih pula dari pemuda zaman dulu? Oh sudah jelas, semangat demonstrasi mereka bahkan lebih anarkis, cara berpikir mereka lebih menekankan sikap emosional, penggunaan teknologipun tak kalah canggih dari teknologinya sendiri dengan sembarang mengumbar video-video tak senonoh ke dunia maya, apa tidak hebat? 
Terlebih ketika tiba masa kelulusan anak SMA, dengan semangat muda yang menyala-nyala, mereka berani ugal-ugalan dijalanan sambil meneriakan yel-yel, dan bahkan saking kreatifnya, merekapun beramai-ramai mencorat-coreti seragam putih abu kebanggaannya. Mau tidak mau, image pemuda masa kini masih saja ter-cap jelek dalam pandangan masyarakat. Memang tidak semua pemuda Indonesia seperti itu, hanya saja yang selalu muncul kepermukaan adalah aksi-aksi negatif tersebut. Sepertinya akan sangat membanggakan bila chanel-chanel televisi ramai memberitakan bahwa kelulusan dihiasi aksi sujud syukur bersama dilapangan sekolah, misalnya. Tapi apa yang selalu kita lihat? Setiap memindahkan chanel TV, sudah dipastikan, semua memberitakan bahwasanya kelulusan dihiasi aksi bentrok antar sekolah, atau corat-coret seragam, motor-motoran di jalan, dan lain sebagainya. Sungguh ironis, inilah semangat muda para pemuda zaman sekarang.
Tanpa kita sadari, faktor apakah yang menyebabkan aksi para pemuda Indonesia kini semakin terpuruk? Jauh dari gambaran para pemuda zaman dahulu yang jelas-jelas status pendidikannya saja lebih rendah. Apakah berasal dari faktor lingkungan? Sudah jelas. Apakah faktor gempuran teknologi yang semakin membutakan dan membuat mereka ketagihan? Tentu. Apakah karena rentannya pengaruh dari belahan bumi luar, terutama dari segi budaya yang hilir mudik menyapa generasi muda kita? Itu juga sudah barang benar. Namun pernahkah kita merenung, bahwasanya pertanyaan besar mengapa generasi muda hari ini begitu anarkis, emosional, dan tak tahu adab? Ternyata aksi-aksi negatif itu berasal dari penyakit hati yang tidak memperoleh pencegahan apalagi pengobatan.
Setiap lembaga pendidikan sudah tentu memiliki tujuan yang mulia. Yakni turut mencerdaskan dan memperbaiki moral bangsa. Kurikulum dirancang sedemikian rupa demi kelancaran menggapai tujuan tersebut. Disisplin peraturan dibuat sedemikian ketat untuk mencegah aksi pelanggaran dan menjaga ketertiban. Fasilitas terus dilengkapi demi menopang kegiatan belajar mengajar yang ideal. Semua diciptakan demi menggapai satu tujuan. Namun tanpa kita sadari, yang lebih penting dari sekedar mencerdaskan dan memperbaiki moral bangsa adalah menciptakan karakter beradab dan berakhlak mulia dalam jiwa setiap anak bangsa.
Kebanyakan sistem pendidikan di negeri kita lebih menekankan anak untuk dijejali pelajaran-pelajaran yang menuntut otak untuk terus berpikir, namun sangat sedikit yang menuntut hati untuk ikut tergerak. Pelajaran agama hanya menjadi kurikulum semata, tanpa masuk lebih jauh kedalam hati dan kesadaran anak. Fenomena aksi korup para politikus yang notabene adalah orang-orang yang berpendidikan merupakan contoh pahit yang harus kita telan, bahwa kecerdasan intelektual saja tidak cukup, perlu penyeimbang yang mengontrol setiap aksi dari kecerdasan intelektual tersebut, yang tiada lain adalah kecerdasan spiritual. Kecerdasan spirituallah yang kemudian mampu membentuk sebuah karakter dalam diri anak.  Membimbing pola hidup si anak dengan apa yang Ia yakini dalam hatinya. Cobalah tengok, mereka sekawanan anak muda yang ugal-ugalan dijalan itu adalah mereka yang kering kerontang jiwa spiritualnya. Tandus, tidak terairi. Itulah sebab dari hanya selalu mengunggul-unggulkan pendidikan lahiriah saja.
Dalam pergaulan sehari-hari, ilmu alam, sosial atau bahkan matematika sekalipun tidak akan mampu angkat biacara. Yang berperan kala itu adalah ilmu-ilmu yang mengajarkan ketauladanan, adab, sopan santun, yang hanya bisa dapatkan dari ilmu keagamaan. Inilah yang seharusnya menjadi standar kualitas setiap lembaga pendidikan, dan pedoman bagi setiap orang tua.
Tanpa hati, mana mungkin seseorang akan tergerak untuk melakukan suatu perubahan. Jika perubahan yang diciptakan berbentuk positif, itu karena berasal dari niat hati yang positif. Sebaliknya, jika perubahan yang diciptakan berbentuk negatif, sudah barang pasti berasal dari niat hati yang juga negatif.
Maka, tatkala kita mengetahui akan hal tersebut, bahwa ditangan pemudalah suatu perubahan tercipta, dan perubahan positif timbul karena niat hati yang positif pula, sepantasnyalah bagi kita untuk mengevaluasi diri, apakah hati ini telah mampu tergerak untuk menciptakan sebuah perubahan besar, dan apakah semangat muda yang berkobar dalam diri kita ini akan berbuah positif. Bila sudah begitu, tinggal menunggu waktu, kapan icon baru pemuda bangsa muncul dengan bibit unggulnya, serta mampu memberikan pengaruh besar bagi dirinya khususnya, dan masyarakat pada umumnya.