It's Time to Go Back!

Lena Sa'yati, Seorang Pelajar
lenasayati@gmail.com


                
Tempat aku kembali


                   Setiap yang hidup, pasti akan mati. Setiap yang bertemu, pasti akan berpisah. Begitupun setiap yang pergi, pasti akan kembali untuk pulang. Semua itu sudah suratan, dan tak dapat diganggu gugat. Namun seringkali kita menentang suratan itu. Yang hidup, takut mati. Yang bertemu, tak mau berpisah. Dan yang pergi, tak mau kembali pulang. Mengapa demikian? Tiada lain karena kita terkadang dibutakan oleh kesenangan yang fana. Fana? Itu jelas. Semua yang berwujud dimuka bumi ini adalah fana. Termasuk bumi yang kita tinggali inipun hanyalah sementara. Lantas, kemana kita harus kembali untuk pulang?....Apakah keluar angkasa? Ke Planet lain? Atau kemana? Ah, teman-teman juga pastinya sudah tahu, ya tentu saja ke dunia kita yang kedua, yaitu Alam Akhirat. Inilah tempat kita kembali untuk selamanya. Tempat kehidupan yang abadi, tiada akhir. Wah, gak kebayang ya hidup tiada akhir. Makanya jangan dibayangin, takut malah ngigau nantinya.
                Pulang, berarti kembali. Tempat kembali pulang yang terkecil, mungkin keluarga, lalu desa, kota, sampai kembali pulang untuk Negara. Ini levelnya sudah sampai paling tinggi. Dan yang paling sulit adalah kembali pulang untuk desa, dan Negara. Betapa banyak sekali mereka para pelajar dari desa yang merantau keluar kota, atau bahkan keluar negeri yang enggan pulang untuk tanah kelahirannya. Mereka lebih senang berlama-lama bahkan menetap dikota, atau diluar negri, tanpa ‘ngeh’ untuk kembali pulang memberikan kontribusi bagi masyarakat di sana. Hmmm...saya termasuk orang-oarng yang kayak gitu gak ya?...Ah, semoga saja tidak. Karena apa? Karena kali ini saya sendiri sedang pulang ke tanah kelahiran saya, Salopa. Mumpung ada libur dua hari, ya saya sempatkan untuk pulang. Sebenarnya, ada dua motif mengapa saya hendak pulang;
Pertama, karena saya ingin bersilaturahmi plus meminta do’a dari sanak keluarga terutama mama dan nenek, untuk kelancaran kuliah, serta sebuah acara yang sedang saya rancang bersama rekan-rekan di pondok. Meminta do’a dan bersilaturahmi itu penting lho! Dan efeknyapun memang sangat manjur. Lho kok?...Tidak ada apa-apanya jika usaha tidak dibarengi do’a. Dan tidak akan terjadi kerukunan serta keeratan tali persaudaraan tanpa adanya silaturahmi. Hmmm....real banget kan dampak dari do’a dan silaturahmi ini?..maka dari itu, yuk kita biasakan untuk tak henti-henti berdo’a dan juga bersilaturahmi. Sok lah, rasakan saja manfa’atnya. Ageng pisan pokokna mah.
Kedua, karena saya sudah sangat rindu kepada keluarga  yang setia setiap saat mendo’akan kelancaran saya dan adik yang tengah menuntut ilmu di ‘kota’. Meski tanpa Bapak di rumah, karena beliau memang sedang merantau jauh ke luar kota, atau tepatnya mungkin ke luar pulau kali ya, tapi saya tetap ingin cepat-cepat berkumpul untuk kemudian bersua kembali bersama mereka. Mama, adik-adikku yang masih pada SD dan TK. Nenek, Abah, bibi, mamang, sepupu, apa lagi ya?...oh iya, dan juga  keponakan. Hmmm....I miss you all deh pokoknya. Sepertinya, tanpa ada rasa rindu di hati kita, pastinya tak akan muncul hasrat untuk bertemu. Nah, maka bersyukurlah kepada Maha penganugrah rasa rindu itu ya. Alhamdulillah.
Ini dia nih orang-orang yang sudah membuat saya rindu;

  Para pendekar Cilik,...Rifa', Ilham, and Fikar.

 Dan inilah sahabat untuk selamanya; Me, Sepupu: Dini, and Irna

Oh my beloved nephew, Dafa, U're so Cute.

My Beloved Super power Mom, 

Namun yang lebih menyenangkan, kebetulan di kampung saya ini sedang ada hajatan yang cukup besar. Dan serunya, rumah keluarga saya dijadikan markas memasaknya ibu-ibu ahli dapur. Hehe. Walhasil, rumah saya penuuuuuuuuuh luar biasa dengan berbagai macam olahan. Dan pastinya, perut saya kenyang tiada tara. Haha, Alhamdulillah. Ngomong-ngomong, hajatan apa ya yang sedang warga kampung ini adakan? Samenan? Nikahan? Khitanan? Atau pesta-pestaan?....Ah, bukan semua. Ternyata warga kampung sini tengah mengadakan acara peringatan maulid nabi, atau kalau kata masyarakat disini mah, Muludan. Hmm....acaranya cukup hebring, karena mengundang bintang tamu, aih, maksudnya, Muballigh dari kota. Dan seperti warga kampung pada umumnya, para bapak bebondong-bondong memadati isi masjid dengan berkostumkan sarung dan baju koko. Bakda ‘isya, speaker dinyalakan, dan....tes,tes, satu dua tiga,....mulailah MC berbicara. Hmmm.....Sempurna! Pas sekali deh saya pulang kali ini. Padahal tidak ada ancang-ancang sebelumnya. Coba lihat deh ramenya rumahku penu dengan macam-macam olahan:




               Namun yang selalu berkesan , serta tak akan pernah terlewatkan ketika saya pulang kerumah adalah, berbincang-bincang di rumah emih. Allow me to introduce my Emih, hehe. Usianya sudah menginjak kepala tujuh. Wah, banyak banget kepalanya? Ih, bukan itu, maksudnya sudah hampir 70 tahun. Sudah tua ya? Iya, memang. Tapi usianya tidak memudarkan semangatnya untuk terus memotivasi cucu yang paling disayanginya ini. Cieee. Eh, serius! Dari setiap perkataannya pasti penuh muatan nasihat dan pepatah yang bisa dijadikan prinsip hidup. Berbekalkan pengalaman, dan pandangan hidup yang emih tafsirkan berdasarkan jiwa sosialnya yang tinggi, emih selalu mampu memompa semangat cucunya ini untuk selalu kuat menghadapi sebagian pahitnya hidup, dan selalu siaga menjaga sikap untuk selalu bersikap sopan santun ketika menghadapi orang seperti apapun. Tidak pernah bosan saya  mendengar nasihat beliau, pun tidak pernah kaku untuk mencurahkan segala persoalan hidup kepada emih. Dan seperti biasa, pasti di akhir perbincangan, emih akan bertanya? “ Nong, kapan kembali ke pondok? “, lalu mengeluarkan lembaran uang, dan memberikannya pada saya. Terkadang selalu merasa tak enak kalau emih harus memberikan uang tiap kali saya berkunjung ke rumahnya, tapi emih selalu merasa tak afdhal bila tak membekali cucunya ini. Baiklah, saya anggap itu sebuah hadiah, plus imbalan dari Allah untuk orang-orang yang mau bersilaturrahmi. Hmm...beruntung saya dianugrahi nenek sebaik dan sesholihah emih. Semoga Allah memeberikan usia yang bermanfa’at dan barokah baginya, dan selalu merahmati dan melindungi emih yang saya sayangi ini. Amin. Nah, siapa hayo yang mau kenalan dengan emihku yang super hebat ini? Dijamin hati yang keras menjadi lunak, leher yang menengadah akan menunduk, dan wajah yang masam menjadi manis! Ini dia emihku tersayang:
Dan inilah "emih' 


Akhirnya, saya harus kembali ke pondok dengan membawa misi besar yakni tholabul ‘ilmi. Ingat Ena, Tholabul ‘ilmi! Siapkan mental yang matang, pikiran yang fokus, serta hati yang jernih. Tajdidun Niyyat untuk menggapai sebuah perubahan yang positif. Semoga perantauan memikul misi besar ini dapat tercurah kembali kemana seharusnya hasil dari misi itu di berikan. Dan pada saatnya tiba, disamping terus berusaha untuk beramal baik, pun siap berkontribusi untuk pembangunan masyarakat. Maka, prinsip hidup  saya kali ini adalah: Beramal, dan Berkontribusi! Bismillahirrahmaanirrahiim....
 

MAULID NABI, Bukti Bangga dan Cinta Kepada-nya


Lena Sa’yati, STPT Tasikmalaya
lenacinta@ymail.com




Muhammadku, Muhammadku
Dengarlah seruanku,
Aku rindu, aku rindu
Kepadamu Muhammadku....
[Haddad Alwi_Rindu Muhammad]

            Dalam Islam, setiap bulan memiliki sejarah atau peringatan tersendiri. Seperti Syawal, dengan ‘Iedul Fitrinya, Dzulhijjah, dengan ‘Iedul Adhanya, termasuk Rabi’ul Awwal, dengan peringatan Maulid Nabi-nya. Pada tanggal 12 Robi’ul Awwal tahun Gajah/ 571 M bertahun-tahun yang silam, telah lahir kedunia ini seorang Nabi panutan ummat sepanjang masa, seorang Nabi akhir zaman yang hanya darinya kita mendapatkan syafa’atul ‘udma. MUHAMMAD, itulah namanya. Kelahiran Nabi Muhammad ini, yang kemudian kita sering menyebutnya dengan ‘Maulid Nabi’.

Maulid Nabi Vs Valentine ?
            Tahun ini, hari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW seringkali di sebrangkan dengan perayaan hari Valentine yang jatuh pada hari sebelum peringatan Maulid Nabi. Valentine yang ditetapkan pada tanggal 14 Februari, bersebrangan dengan peringatan Maulid Nabi yang jatuh pada tanggal 15 Februari. Tak sedikit yang menyangkut pautkan atau bahkan membanding-bandingkan antara dua momen penting tersebut. Dan ironisnya, segelintir orang yang mengaku  ‘Islam’ sendiri, bahkan sempat menulis status dengan kalimat; ‘Valentine atau Maulid Nabi ya?’. Seharusnya ini sangat tidak etis dipublikasikan di pentas khalayak. Seakan masih ada keraguan untuk memperingati hari lahirnya Nabi kebanggaan ummat Islam, yang notabene seluruh Ummat Islam di Dunia ikut memperingatinya. Tua, muda, anak-anak, orang dewasa, kaya, miskin, semua kalangan ikut memperingati. Maka, seharusnya kita tak pantas bila membanding-bandingkan antara dua peringatan itu. Valentine dengan hakikatnya sebagai peringatan kematian pastur, dengan Maulid Nabi sebagai peringatan Lahirnya Nabi Muhammad. Keduanya tentu akan sangat kontras bila harus dibandingkan. Maka, agar semuanya menjadi lebih jelas dan tidak  lagi menimbulkan keraguan, perlu diketahui motif apa yang menopang ummat islam untuk memeperingati Maulid Nabi Muhammad SAW ini.

Dua Motif Mengapa Ummat Islam Memperingati Maulid Nabi
Mungkin teman-teman bertanya-tanya atas dasar apa seluruh ummat islam di dunia serentak memperingati hari lahir Nabi Muhammad. Karena tentu bukan tanpa alasan, seseorang sampai memperingati sebuah momen. Nah, kedua motif itu sendiri antara lain;

Motif Pertama, Karena ummat islam merasa bangga sekaligus bahagia dengan lahirnya seorang nabi yang merupakan Khotaman Nabiyyin (Nabi Terakhir), sekaligus satu-satunya nabi yang berhak memberikan syafa’atul ‘udzma pada hari akhir nanti. Dalam sebuah hadist dikatakan:
“..Barang siapa yang mengagungkan hari lahirnya Nabi, maka Ia akan mendapatkan Syafa’atul ‘Udzma..”
Menyimak hadist diatas, tentu kita langsung tahu dan mengerti mengapa harus memperingati Maulid Nabi ini. Yang sangat diharapkan oleh setiap muslim dari Nabinya ini tiada lain adalah Syafa’at yang agung itu, syafa’at yang tidak ada satu nabipun dapat memberikannya. Jika memang demikian, maka untuk mencapai harapan itu, salah satu caranya adalah dengan mengagungkan peringatan hari lahir Nabi.
            Salah satu bentuk peringatan Maulid Nabi ini yakni sebagaimana yang saya, para Santriwati, dan ustadzat lakukan pada malam Maulid Nabi, yaitu membaca Barzanji atau deba. Kitab ini umumnya berisi syair-syair shalawat yang biasa dikaji para santri salaf seperti kami ini. Menurut Syuyuti, dalam keterangannya, “ Barangsiapa orang membacakan Barzanji ini pada suatu tempat, maka tempat itu akan dipenuhi malaikat “ . Membaca disini tentu bukan hanya sekadar membaca tanpa ada esensi yang mendasarinya. Namun harus disertai kekhusyuan (Ikhdzorul Qolbi). Masih banyak lagi bentuk-bentuk dari peringatan Maulid ini, namun yang sudah sangat umum sekali di kalangan masyarakat kita adalah membaca Barzanji.

 Kitab Barzanji

Motif Kedua, Merasa Cinta dan Menyayangi Nabi. Ketika seseorang ditanya, manakah yang paling dia cintai, apakah Ibu, Bapak, Pacar, atau Nabi? Otomatis dia akan berfikir sejenak, lalu kemudian menjawab : “ Nabi! ”. Tapi kenapa harus berfikir terlebih dahulu? Ini semata-mata karena orang itu belum yakin dengan kecintaannya terhadap Nabi. Karena yang namanya cinta, perlu pengorbanan, kesetiaan dan ketulusan. Lantas jika benar kita mencintai Nabi lebih dari siapapun dimuka bumi ini, maka yang jadi pertanyaan, pengorbanan seperti apa yang telah kita persembahkan? Kesetiaan seperti apa yang kita tawarkan? Ketulusan yang bagaimana yang kita tanamkan? Hal ini merujuk pada diri kita masing-masing untuk kembali belajar untuk mencintai, dan mengikuti sunnahnya. Hal ini mengingatkan saya kepada penyanyi religi kondang, yakni Haddad Alwi yang dalam Syair lagunya Ia menyebutkan:
“..Siapa yang cinta pada Nabinya, pasti bahagia dalam hidupnya..”
Ini bukan fiktif, dan karangan syair belaka. Namun lirik itu memang benar adanya. 

Terlepas dari kedua motif di atas, bukan tanpa maksud Allah SWT menjadikan nabi sebagai Rosulnya. Dengan berbagai keajaiban sewaktu kecil, serta berbagai mukjizat saat menjadi Nabi, maka ini memang sudah rencana manis Allah mengutus Nabi untuk kemudian menyempurnakan akhlak di muka bumi ini. Sebagaimana sabda Nabiyul Islam Muhammad bin ‘Abdillah shollallahu ‘alaihi was sallam melalui sahabat Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu,
 “Sesungguhnya aku (Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam) diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia (dalam riwayat yang lain dengan lafadz untuk memperbaiki akhlak)”

Contoh uswah dari Rosul yang merupakan suri tauladan dalam keseharian kita antara lain;
-          Rosul selalu membiasakan tersenyum, ada yang bilang jika kita banyak tersenyum saat berpapasan dengan orang, maka kita akan awet muda! Wah, masa? Lho, benar kok. Senyum kan merupakan bentuk dari senam muka yang bisa membuat wajah kita senantiasa terlihat segar dan enak di pandang. Begitupun Rosul yang wajahnya full of smiles, melihat anak kecil, Ia tersenyum, melihat Sahabat, Ia tersenyum, tak terkecuali Nenek-nenekpun beliau senyumi. Betapa senyum itu dapat memberikan kesan ramah dan bersahabat pada diri seseorang. Dan lagi, senyum itu kan sodaqoh. So, jangan pelit untuk tersenyum ya, dalam sebuah syair Nasyid juga dikatakan;
Senyum tanda mesra,
Senyum tanda sayang,
Senyumlah sedekah yang paling mudah
[Raihan_Senyum]

-          Rosul bersifat tawadu’, sudah tentu tahu kan apa arti dari tawadu’ ini? Yup, bersikap humble ternyata juga merupakan sifat Rosul kita ini. Tapi yang ini bukan rendah diri, melainkan rendah hati. Karena rendah diri akan menimbulkan kekufuran, sedangkan rendah hati dapat menimbulkan kesyukuran. Tawadu’ juga bisa di bilang lawan kata dari sifat sombong. Nah, bagi kita-kita yang merasa memiliki segudang kelebihan, baik itu yang bersifat fisik atau non-fisik, berhati-hatilah, karena syaitan akan selalu menggoda kita agar bersikap sombong. Nah, maka Nabi kita ini tampil dengan sikap ketawadu’an-nya. Orang yang seperti ini akan selalu disegani dan dihormati. Patut dicontoh juga, nih.

 
-          Dan masih banyak lagi. 

Hmm...Maulid tahun ini semakin terasa ramai dan khidmat terutama bagi saya pribadi. Pertama, karena pada malamnya, pondok kami mengadakan pengajian barzanji, dan siangnya ada acara kompetisi pidato empat bahasa yang juga temanya tak lepas dari peringatan hari Maulid Nabi. Hmm....dimana-mana acara peringatan hari besar islam itu memang selalu ramai dan khidmat ya?...dan yang pasti, peringatan bukan sembarang peringatan kosong, tanpa ada hikmah dan pesan yang terkandung di dalamnya. Itulah kelebihan setiap bulan dalam Islam, penuh makna, hikmah, dan barokah, amin.





VALENTINE : Hari Kasih Sayang Yang disayangkan


Lena Sa’yati












Tentunya tak asing bagi kita ketika mendengar kata “Valentine” Maka kesan yang timbul adalah hari kasih sayang yang seringkali di gembar-gemborkan lewat berbagai media, baik itu media massa, maupun media elektronik. Bahkan Hari yang ternyata dulunya ini merupakan hari untuk menghormati juno (ratunya dewa-dewi Romawi)  ini sepertinya sudah menjadi sebuah tradisi yang mengakar terutama bagi masyarakat kita. Lihat saja, ketika tanggal 14 Februari tiba, maka mall-mall atau tempat-tempat rekreasi lainnya tiba-tiba disulap menjadi tempat serba bernuansa pink, tentu lengkap dengan pernak-pernik berlambangkan ‘heart’ sebagai tanda kasih sayang. Tak jarang pula pada hari itu diadakan berbagai even yang juga berkaitan dengan momen valentine. Lomba bikin puisi bertema cinta-lah, Lomba bikin kue berbentuk heart-lah, atau bahkan lomba pasangan terserasi. Semakin semaraklah nuansa ‘kasih sayang’ pada hari valentine itu. Lantas, bagaimana sebenarnya bentuk kasih sayang yang dipentaskan orang-orang pada hari valentine ini?

 Kasih sayang dalam sebungkus Coklat
Kebiasaan yang juga sudah dianggap sebagai sebuah tradisi, dan tak pernah ketinggalan pada momen hari kasih sayang itu, adalah saling memberi coklat pada orang-orang yang dianggap spesial. Tak heran bila hari valentine tiba, pasokan coklat akan lebih meningkat. Entah dari mana awalnya, dan siapa yang memulai, namun fenomena ini seakan sudah menjadi keharusan pada hari valentine itu. Jika diumpamakan dengan hari raya idul fitri, mungkin si coklat ini seumpama ketupat yang merupakan makanan khas ummat islam pada hari raya idul fitri. Seakan sebungkus coklat ini mengandung sebuah makna yang menjadi perantara untuk mengungkapkan rasa kasih dan sayang pada orang yang dituju. Dari satu sisi, hal ini memang tidak bermasalah, bahkan mungkin bagi beberapa pihak malah bisa menguntungkan. Bagi produsen, tentunya keuntungan besar yang didapat jika ternyata produksi coklatnya laku. Bagi seseorang yang ingin menjalin hubungan yang lebih erat dengan yang lain, hal ini juga bisa menjadi alternatif. Namun apakah pernah terlintas dalam benak kita, sebenarnya dari mana asal mula kebiasaan ini, siapa yang pertama kali melakukannya. Dan yang disayangkan dari fenomena ini adalah, sebungkus coklat hanya dijadikan sebagai bentuk nilai kasih sayang secara formalitas saja. Seakan ketika tak ada coklat, maka tak ada kasih sayang. Dan setelah memberi coklat, habislah perkara saling menyayangi yang seharusnya tetap tertanam dalam hati setiap insan. Kalau begitu, kasih sayang kita terhadap sesama manusia hanya bertaruh pada sebungkus coklat saja. Mungkin ini akan terdengar cukup dibesar-besarkan, primitif, atau apalah. Namun, fenomena semacam ini ternyata memang cukup menggelitik dalam tradisi di tengah masyarakat kita, yang sudah menjadi plagiator, atau bahkan bisa dibilang korban dari budaya yang kebarat-baratan itu. Padahal, kalau memang bermaksud mencurahkan rasa kasih sayang, kenapa tidak bersodaqoh saja sebanyak-banyaknya pada orang-orang yang tidak mampu. Peminta-minta di lampu merah masih banyak, anak-anak panti asuhanpun masih sangat memerlukan uluran tangan kita.
            Yang lebih khas lagi dari hari valentine ini, adalah mencurahkan bentuk kasih sayang kepada lawan jenis. Dan memang atmosfer seperti itulah yang terasa saat hari itu tiba. Lagi-lagi, entah darimana dan siapa yang memulainya, namun hal ini sudah sangat mengakar pada masyarakat kita dewasa ini. Kini orang-orang gemar menyelenggarakan acara-acara khusus untuk para pasangan pada hari itu. Entah itu berbentuk kompetisi, atau semacam voucher gratis yang bisa ditukar dengan barang lain atau makanan jika di restoran-restoran. Tak jarang di mall-mall besar seringkali diadakan kompetisi pasangan terserasi, atau perlombaan yang berhadiah dating di tempat-tempat wisata, dan lain sebagainya. Bentuk masyarakat yang seperti itu sudah menjadi keuntungan tersendiri bagi para kaum kapitalis dengan even-even yang diselenggarakannya.
Sisi lain dari pelaku even-even itu adalah pasangan-pasangan yang berpartisipasi didalamnya. Dengan menjual nama valentine, hari kasih sayang, seakan-akan seorang laki-laki memiliki kesempatan besar dalam mewujudkan slogan dari hari itu. Namun yang disayangkan, atas nama hari kasih sayang ini, seringkali terjadi perlakuan yang tidak mengenakan antar sesama pasangan. Hari kasih sayang ini dijadikan ajang saling tembak-menembak, dating, dan yang lebih memprihatinkan tidak sedikit pasangan yang melakukan hal tidak senonoh pada hari ‘kasih sayang’ itu. Na’udzubillah. Maka, patut kembali kita bertanya, apakah fenomena seperti ini yang dinamakan hari kasih sayang?  Inikah bentuk kasih sayang sesungguhnya yang masyarakat kita meksudkan? Jika benar, maka sangat ironis sekali. Kultur masyarakat kita sudah tercampur aduk dengan semakin gencarnya budaya luar yang terus menggerogoti moral bangsa kita.
Kendati demikian, berarti hari kasih sayang pada hari valentine itu memiliki makna yang sempit akan arti sebuah kasih sayang yang sesungguhnya. Jika bentuknya hanya berupa perlakuan saling menyayangi antar lawan jenis yang memiliki hubungan khusus, lalu saling memeberi coklat hanya pada orang-orang yang dianggap spesial saja, tentu ini merupakan implementasi kasih sayang yang sangat dangkal. Betapa seharusnya kasih dan sayang ini selalu berusaha kita curahkan pada sesama manusia, terutama bagi mereka yang kurang mampu baik secara moril maupun materi. Merekalah yang lebih membutuhkan bentuk uluran kasih sayang itu. Di sanalah sikap saling mengasihi dan menyayangi akan lebih terlihat bermakna, indah, tulus, dan tak terbandingkan. Lantas, kapankah fenomena ini akan terwujud? Jawablah dengan hati dan pikiran yang jernih, agar kita bisa melihat, betapa bentuk kasih sayang yang terlihat pada hari valentine dewasa ini adalah semu, dan amat disayangkan.

#Notes From Qatar

'Si Sakti' 3 P (Positive, Persistence, Pray) 
Lena Sa'yati, Sekolah Tinggi Pesantren Terpadu (STPT) Tasikmalaya
lenasayati@gmail.com


#NFQ
Muhammad Assad
His Profil HERE

                Hari sabtu pagi saya menonton acara di TV One yang mewawancara pengarang buku ini. Di sana Muhammad Assad ( The Author) memaparkan kandungan dan proses terbitnya buku #NFQ ini. Setelah menonton saya langsung ngeh untuk segera membeli buku itu. Tapi kemarin tiba-tiba ada orang yang sangat baik hati memberikan buku ini pada saya, dan buku ini baru saja selesai saya baca. Dan apa tanggapan saya mengenai buku ini?...Wow,..Merinding. Kenapa merinding? Apa ada mahluk halusnya? atau kedinginan?...Ah, bukan itu. Lantas kenapa?...bulu kuduk saya berdiri bahkan pada saat membaca sampulnya saja. Forewordnya ditulis langsung oleh Her Highness Sheikha Mozah bint Nasser Al-Missned (First Lady of Qatar), wah-wah...gimana nggak merinding, coba. Lalu seperti biasa, halaman-halaman awal buku diisi dengan beragam testimoni yang juga berasal dari orang-orang hebat pula, sekaliber Jusuf Kalla, Ary Ginanjar Agustian, Helvi Tiana Rosa, Dr. Salim Segaf Al Jufri (Mentri Sosial RI), sederet artis-artis, dan lain-lain.
                       Melihat orang-orang yang menulis testimoninya, saya yakin pasti sosok penulis satu ini adalah pribadi yang luwes dalam bergaul dan never give up dalam berusaha. Ternyata eh ternyata, benar perkiraan saya, Muhammad Assad memang pribadi yang selalu positive thinking dalam menyikapi sesuatu. Terbukti dari tulisan-tulisannya yang selalu mengobarkan kata-kata positif yang mampu membangkitkan kembali semangat kita. Dan yang paling sakti adalah teori 3 P-nya itu. Positive, Persistence, and Pray.
                      Saat membaca 3 P's Secret for Scholarship Hunter, saya menangis tersedu-sedu. Lho kok?...iya, sayapun tanpa sadar melakukannya, hehe. Mau tahu kenapa? karena sayapun kelak adalah calon dari pemburu beasiswa. Wah-wah, bulu roma saya berdiri sepanjang membaca kata demi kata yang mengalir dalam artikel itu. Saya kembali merasa terpecut untuk membangkitkan impian saya yang ingin sekali bisa bersekolah kebelahan bumi lain dengan bermodalkan beasiswa. Apalagi ketika membaca kalimat " success is when preparation meets the opportunity ". Saya kembali bertanya pada diri ini, sudah sampai mana persiapanmu untuk menemui kesempatan tak terbanding itu? Meski saya barulah berada pada tingkat satu di bangku kuliah, tapi yang namanya persiapan yang matang memang harus sudah ada di genggaman. Jadi teringat nasihat Mahfudzat yang mengatakan " Barangsiapa yang tahu jauhnya perjalanan, maka bersiap-siaplah Ia ". Wuih, jadi semangat belajar lagi deh,..hehe. Dan lagi, saya kagum luar biasa ketika mengetahui bahwa Assad ini lulus S1 dengan menyabet triple awards! salah satunya "Chancellor Award for the best Graduate for the Class of 2009 " (Penghargaan tertinggi di UTP yang diberikan langsung oleh mantan Perdana Mentri Malaysia, Tun Dr. Mahathir Mohammad) Subhanallah,...mantap tap tap tap. Good job, brader, nama Indonesia terangkat tentunya.
                        3 P yang Assad pegang ini sama halnya dengan DUIT. Lho, kok bisa?...maksudnya DUIT ini bukan uang, tapi Do'a, Usaha, Ikhtiar, dan Tawakkal. Bahwa setiap permasalahan dalam hidup kita ini harus disikapi dengan DUIT itu. Usaha tanpa Do'a ya tak akan barakah, pun Do'a tanpa Usaha ya tidak bisa. So, keduanya harus balance. 
                      Yang menarik dari buku #NFQ ini, bermula dari postingan-postingan Assad di blog pribadinya. Kemudian atas paksaan, hehe maksudnya usulan dari kawan-kawannya untuk dijadikan sebuah buku, maka Assadpun memutuskan untuk mengirimkan tulisan-tulisannya itu ke beberapa penerbit di Negri ini. Ini juga yang menjadi salah satu motivasi saya untuk terus mengisi blog saya tercinta. Dan yang menjadi ciri khas dari seorang Assad, dalam setiap tulisannya Ia selalu membubuhkan nilai moral dan hikmah juga menyelipkan ayat-ayat Al-Quran. Wah-wah,...selain berkualitas secara fisik, pun berkualitas secara spiritual ya. Campur aduk deh perasaan saya selama membaca buku #NFQ ini.
                      Selain artikel 3 P's Secret for Scholarship Hunter, masih banyak artikel-artikel menarik lainnya seperti; Dahsyatnya Sedekah, Dan Bersyukurlah, Ayo Menjadi Enterpreneur!, Ingin Bertato? Baca ini Dulu, Kartini Emansipasi dan Wanita Modern Abad 21, dan masih banyak lagi. Untuk mengetahui lebih lanjut seputar #NFQ ini silahkan lihat DI SINI.
                    Ya, setelah membaca buku yang inspiring ini, saya serasa memiliki energi baru untuk memompa semangat saya dalam menjalani hidup. Dan lagi, 3 P akan selalu saya coba implementasikan dalam realita hidup ini. Semoga kelak sayapun bisa menyusul keberhasilan sosok Assad ini, untuk sedikitnya memberikan sumbangsih dalam tatanan perbukuan indonesia yang mudah-mudahan bermanfaat bagi semua kalangan. Amin. 


My Multifunction Room
08.16
2011

PERGANTIAN PENGURUS BARU Periode 2011/2012


JABATAN atau AMANAT?
Lena Sa’yati,
lenasayati@gmail.com

                  Ada yang menggelitik pada setiap acara pergantian pengurus Organisasi Santri Pesantren Condong (OSPC). Dulu, kami Seringkali menamai proses pergantian itu dengan nama Serah Terima Jabatan (SERTIJAB). Jika dilihat dari objek yang menjadi pergantiannya memang penyerahan sebuah jabatan, Ketua menyerahkan masa  jabatannya sebagai  ketua kepada pengurus baru. Divisi pendidikan menyerahkan masa jabatannya sebagai divisi pendidikan kepada pengurus baru, begitupun dengan divisi-divisi lain. Tidak ada yang salah, memang. Dan memang sudah lumrah begitu. Tapi mari kita tengok kembali, ketika Bapak SBY menjabat sebagai presiden, Bapak Dede Yusuf menjabat sebagai wakil gubernur Jawa Barat, dan Bapak Syarif menjabat sebagai wali kota Tasikmalaya, maka masing-masing  jabatan yang ketiganya duduki itu bukan hanya sekedar sebuah amanat dari rakyat untuk bisa mewakili aspirasi dan juga harapan untuk sebaik mungkin memimpin sebuah daerah atau negara. Sebuah Jabatan seringkali dikonotasikan dengan kedudukan seseorang pada sebuah struktur masyarakat yang nantinya harus ada timbal balik berupa materi atau dengan bahasa merakyat kita sering menyebutnya ‘gaji’. Mana ada presiden yang tidak digaji? Atau seorang manager perusahaan yang tidak digaji? Atau bahkan pak RT yang memilki jabatan paling dekat dengan masyarakat sekalipun, pasti memiliki gaji yang tetap atas jabatannya itu. Itulah kesan yang timbul dari ‘jabatan’. Ketika seseorang mendudukinya, timbal balik atas jabatannya itu haruslah ada.
                Lantas bagaimana dengan pergantian pengurus OSPC? Bukankah setiap pengurus OSPC menduduki jabatannya didasarkan atas keikhlasan dan pengabdian kepada lembaga tempat mereka menuntut ilmu. Tidak ada gaji perbulan. Tidak ada dana kompensasi. OSPC murni menanamkan sikap ikhlas dan bertanggung jawab atas amanat yang telah diberikan kepada para pengurusnya. Ketua, Sekretaris, Divisi-divisi, pada hakikatnya semua sama. Tak ada yang lebih diatas, atau yang rendah dibawah. Lebel yang menaungi semua kedudukan itu adalah sama, yakni sebuah amanat. Kedudukan itu menjadi sebuah amanat yang tidak boleh disalah gunakan dan harus menjadi pandangan. Seorang Ketua tidak bisa memerintah seenaknya lantaran merasa kedudukannya lebih tinggi dibanding yang lain. Atau senang memerintah sedangkan dirinya sendiri tidak mengerjakan. Disinilah makna sebuah amanat berperan. Amanat yang merupakan sebuah kepercayaan dari seseorang  untuk orang lain dan apabila dikhianati maka hukumannya datang langsung dari Allah SWT. Betapa Jika sebuah amanat dikhianati, maka orang itu termasuk orang munafik, sedangkan tempat yang setimpal bagi orang munafik hanyalah dineraka. Na’udzubillah.
                Begitulah makna sebuah amanat yang diemban para pengurus OSPC ini. Maka, berkhianat atau tidaknya  terhadap amanat yang mereka emban , dapat dilihat dari etos kerja, semangat menggerakan masa kearah yang positif, serta rasa kepekaan dan tanggungjawab yang tertanam dalam diri masing-masing. Tidak sedikit para pengurus yang awalnya semangat, giat menggiring anggotanya kemushala, atau sekolah, menjadi orang yang paling depan pada shaf shalat, serta peka terhadap semua keluhan dari para anggotanya, namun beberapa bulan kemudian berubah 180 derajat. Sikap-sikap istimewa yang mereka tampilkan diawal masa kepengurusan tidak ada sama sekali bekasnya lagi. Sifat ingin memerintah, sedangkan dirinya tak mengerjakan menjadi rutin diperbuat. Allah murka pada orang-orang seperti ini. Keikhlasan mulai luntur seiring perasaan penat yang dirasakan selama mengurusi anggota. Mungkin akan berbeda jika ada ‘iming-iming’ yang akan mereka dapatkan jika berhasil membuat sebuah inovasi, atau sebuah perubahan yang signifikan seperti yang seringkali terjadi pada karyawan perusahaan, lantaran berhasil menarik sekian banyak klien, diapun mendapatkan reward berupa rumah baru misalnya. Tentu akan timbul motivasi besar untuk terus menemukan inovasi-inovasi baru, dan semakin baik dalam bekerja. Disinilah letak keikhlasan mengemban sebuah amanat diuji. Pun perbedaan yang cukup mencolok antara amanat dan jabatan.
                Maka, sebenarnya proses peyerahan sebuah amanat ini sangat berperan dalam melatih karakter kepemimpinan dan tanggungjawab para pengurus dimasa yang akan datang. Tidak mustahil diantara mereka, sepuluh tahun kedepan ada yang menjadi walikota, gubernur, mentri, atau bahkan seorang presiden. Penanaman benih keikhlasan yang diterapkan OSPC inipun tentunya akan sangat berefek dikemudian hari. Insyaallah. Jika sekarang mengurus anggota yang imbalannya pahala dari Allah sudah bisa jujur, dan maksimal, maka nanti ketika menjabat sebuah kedudukan yang imbalannya berlipat disamping pahala juga mendapatkan ihsan, maka tentunya etos kerja dan sikap jujur harus lebih maksimal lagi (meski sebenarnya tetap harus didasari keikhlasan, bukan karena pahala dan ihsan).
                Nah, setelah menyelami makna sebuah amanat lebih dalam, nama pergantian pengurus sempat berubah menjadi Serah Terima Amanat (SERTIMAN), dan terakhir, pada acara pergantian pengurus yang baru saja dilaksanakan pada tanggal 15 Januari 2011 kemarin, berubah kembali menjadi “Pergantian Pengurus” baru saja. Mungkin sebagian orang ada yang menganggap perubahan nama itu tidak penting, tapi justru dari sebuah nama acaranya saja akan timbul beragam kesan.
                Terakhir, saya ingin mengucapkan selamat dan sukses kepada pengurus baru yang siap mengemban amanat baru mengurusi pondok dan anggota-anggotanya. Semoga amanat itu terus terngiang-ngiang di telinga kalian, sehingga bisa menjadi suatu pandangan, dan kalian dapat berhati-hati dalam bertindak nanti. Dan yang terpenting, semoga kalian tidak termasuk orang-orang yang ‘ajug’ (menyuruh, tapi tidak mengerjakan). Amin.
               

majalah DAMAR edisi 4

Lena Sa'yati,
lenasayati@gmail.com


                          Saya mengenal Bapak Asep M. Tamam, Ketua Jurusan Bahasa Arab IAIC Cipasung sekaligus penulis yang tulisannya getol dimuat di Koran Lokal Radar Tasikmalaya dan Kabar Harian Priangan. Saat melaksanakan UAS di IAIC seminggu lalu, Beliau memanggil saya, dan menyerahkan tiga eksemplar Majalah DAMAR (majalah Sunda & Islam Periangan Timur ) kepada saya. Ternyata tulisan saya yang berjudul "IBU" dimuat juga di Majalah Nuansa Sunda & Islam milik Beliau itu. Ini merupakan pertama kalinya tulisan saya dimuat dalam media cetak. Beliau kembali menawarkan saya untuk menulis yang nantinya akan beliau kirimkan pada media cetak lain. Semoga saya bisa selalu istiqomah menulis, dengan selalu menyuguhkan tulisan-tulisan berkualitas dan berbobot tentunya.
                           Rubrik dalam Majalah DAMAR edisi 4 ini: Kacamata Kebangkitan Islam kebangkitan Versus Dajal Beja Ti Redaksi Musibah Taya Eureuna Liputan Khusus Selembut Apapun Kiayi itu Akan Mereka Habisi Mimbar Pelajar dan Mahasiswa Ibu, Tak Tergantikan, Tak Terbandingkan Opini Ironi Penanggalan Islam Nyoreang Katukang Sasakala Kampung Kutil, Dll.

Untuk melihat tulisan saya yang dimuat di majalah Damar bisa klik DI SINI

KOMUNITAS MATAPENA (Liburan Sastra Di Pedesaan)

MATAPENA GOES TO VILLAGE
Oleh : Lena Sa'yati, Sekolah Tinggi Pesantren Terpadu (STPT) Tasikmalaya
lenasayati@gmail.com

                         Pada tanggal 26-28 Desember 2010, Komunitas Matapena Tasikmalaya yang terdiri dari 16 Orang, yaitu; Saya sendiri, Minna Hafadoh, Diani Utami, Amalia Fathiya, Solawatil Furqoh, Anon Ambari Tania, Wina Selviani, Wida Wandini, Meta Barokatul, Mul Nurjannah, Nabila, Gina Imanayati, Nita Nopianti, Annisa Nurfatwa, Siti Madinah, dan Ikbal Fauzi, mengikuti acara Liburan Sastra di Pedesaan yang ke-5 (LSdP#5) yang di selenggarakan oleh Matapena Pusat. Acara ini bertempat di Yogyakarta, desa Guosari Bantul. Para peserta LSdP ini ternyata berasal dari berbagai macam daerah, dan tentunya mayoritas anak santri (Karena Matapena lebih dikhususkan bagi santri untuk bisa berkarya). Ada yang dari Pekalongan, Medan, Lampung, Jatim, Jogja, Tasikmalaya (kami) dan masih banyak lagi. Acara ini berlangsung selama kurang lebih tiga hari. Meski hari pertama kami sempat ketinggalan karena telat datang. Ada beragam kegiatan yang kami ikuti pada acara tahunan ini. Antara lain;

1. Pemberian materi dari para narasumber yang sudah berpengalaman dalam bidang tulis menulis dan juga bersastra. Seperti Sunlie Thomas Alexander, Sachree M D, Pijer Sri Laswiji, Hasta Indriyana, Gunawan Maryanto,  dan masih banyak lagi.Materi yang dibahas kala itu seputar teknik-teknik membuat karya yang bermutu baik itu dari segi setting cerita, penokohan, atau bahkan pengelolaan konflik.

Para Peserta LSdP#5 sedang memperhatikan pemateri

Menurut Mas Hasta, " Setting cerita itu sangat penting untuk menggambarkan situasi yang sedang dialami si tokoh, sehingga sebuah cerita menjadi lebih hidup. Maka ketika membuat setting cerita, penulis harus bisa membuatnya detail, jelas, namun tetap dengan kata-kata indah yang mengalir."

Mas Sunlie memberikan materi "Motivasi Menulis, mencari dan Menentukan Ide cerita"
 beliau juga memberikan beberapa tips untuk menggali ide cerita, antara lain;
-Kenali Dunia Sendiri
-Baca Sebuah buku, kemudian coba tulis ulang dengan kata-kata sendiri
-Tabungkan ide yang sulit ditulis
-Tulis Ide yang mudah ditulis dulu

Belajar mengelola konflik bersama Mas Gunawan Maryanto. Beliau bilang, " Bahwa suatu cerita, jika tidak diperkaya dengan konflik, maka hanya akan menjadi cerita yang tidak menarik. Bahkan cerita monotonpun bisa menjadi menarik jika diperkaya konflik."

2. Senam Pagi yang sangat unik karena menggunakan payung sebagai propertinya. Ditambah Mas Mahbub yang menjadi instruktur senamnya sangat konyol dengan gerakan-gerakannya yang eneh bin ajaib. Coba saja lihat foto-foto ini;
 Mas Mahbub selaku penulis senior di Matapena yang juga menjabat sebagai instruktur senam dadakan.




Gerakan-gerakan unik atas instruksi Mas Mahbub
Tapi, setelah sekian lama berfikir dan terus memperhatikan para pemateri, akhirnya otakpun fresh kembali, dan semangat untuk kembali berkarya.

3. Evaluasi menulis berkelompok. Kegiatan ini memilih outdoor sebagai tempat yang dirasa efisien untuk mengevaluasi para peserta dari apa yang telah mereka dapat dari para pemateri. Disini para peserta boleh meluangkan semua unek-uneknya seputar bersastra dan tulis-menulis. Kegiatan ini dibina oleh para penulis Matapena, seperti Mas Restu, Mas Zaki, Mas Peppy, Mas Rimba, Mbak Khilma, Mbak Sofa, Mbak Fina, Mbak Pijer, Mbak Sundari, Mas Sugeng, Mbak Dzakiya, dll. Satu kelompok, satu pembina. 
Tepi sungai menjadi tempat menarik dan nyaman untuk evaluasi antar kelompok.
Selain mengeluarkan unek-unek, para peserta juga bisa sharing dengan teman-teman sekelompoknya untuk saling menambah wawasan seputar kepenulisan. Peran pembina disini adalah sebagai mediasi, selain memimpin proses berjalannya kegiatan.

4. Olah Rasa. Yang dimaksud olah rasa disini adalah, pelatihan para peserta untuk mengolah apa yang mereka rasakan dan dituangkan menjadi sebuah tulisan. Kegiatan ini bertempat di tempat wisata Gua Selarong. Setiap peserta ditutup matanya ketika hendak berjalan menuju puncak gua. hal ini bertujuan untuk menguji ketajaman feeling para peserta dalam meresapi apa yang terjadi disekitar mereka.

Sesampainya di Tempat Wisata Gua Selarong

Sebelum melakukan perjalanan dengan mata tertutup, para peserta sempat berlatih olah nafas terlebih dahulu.


Perjalanan menuju Puncak Gua Selarong dengan mata tertutup
Sebelum menginjak ke acara Olah Rasa, para panitia dari Komunitas Matapena sempat menampilkan sebuah drama yang sangat memukau. dalam drama itu di ceritakan seorang raja yang mengadakan sayembara para pejuang kerajaan. Banyak para penipu ulung yang datang menghadap raja hanya karena tertarik pada imbalan harta yang dijanjikan Raja saja. namun pada akhirnya Raja memilih para pejuang pena untuk dijadikan prajurit kerajaannya. Raja berseru " Hunus Penamu! Hunus Penamu para prajurit Pena!". Drama ini menggambarkan betapa para peserta sangat dinanti-nanti sejarah untuk siap melahirkan karya-karya lewat tarian penanya. Sungguh sebuah drama yang fantastis!
 Para peserta saat diminta menuangkan karya sekali duduk
Setelah diberi pelatihan bagaimana cara mengolah rasa hingga menjadi sebuah karya yang bagus, para peserta diminta membuat karya rylis berupa cerpen dalam waktu yang singkat. Maka dari itu, season ini dinamai ' Menuangkan karya sekali duduk'

5. Pentas Teater, Puisi, dan Orasi Budaya. Acara ini sekaligus menjadi kegiatan penutup bagi LSdP#5. Para peserta diminta untuk menampilkan drama. Proses pemilihan peran, penari, pembaca puisi, dan backing vokalnya dilakukan di Gua Selarong. Sekaligus latihan secara intensif, tanpa naskah. Begitu mendadak, memang. Tapi justru melatih seni peran dan bakat para peserta. 
 proses pemilihan peran untuk drama
 Mas Rimba memberikan pengarahan kepada para peserta
Mas Mahbub memberikan pengarahan kepada para peserta yang terpilih dalam pementasan drama 
 Para penari saat latihan
                  Tibalah malam terakhir yang merupakan puncak dari semua kegiatan. Panitia menyiapkan panggung dan sederet kursi-kursi yang nantinya akan diduduki para warga desa, tamu undangan, dan para peserta LSdP#5. Setelah pembacaan ayat suci al-quran dan beberapa sambutan, para peserta LSdP#5 yang bertugas tampil dramapun naik keatas panggung. Suasana mulai terasa ramai.Dan yang paling menggembirakan, Matapena kedatangan tamu, sekaliber D.Zawawi Imran, sastrawan Indonesia yang berasal dari daerah Madura. Beliau juga pernah tampil dalam acara kesenian Winter Nachten di Belanda (2002). Zawawi tampil untuk membacakan puisi. Sambutan penonton sangat meriah saat beliau pentas di panggung. Karena cara beliau membaca puisi sangat beda dari yang lain.Dan tentunya sangat memukau.
                   Hadir pula Faisal Kamandobat seorang penyair dan juga orator yang malam itu tampil untuk orasi budaya. Orasinya yang menggebu-gebu dengan isi orasi yang mengangkat tema karya-karya anak-anak pesantren, dan menyindir habis-habisan generasi sekarang yang sudah tak perduli lagi dengan sastra dan karya tulis lainnya.
                  Dan diujung acara, Genk Kobra yang terdiri dari empat personil tampil memeriahkan acara dengan lagu-lagunya yang khas jawa dan sangat asyik didengar. Suasanapun kembali meriah. Berikut foto-foto dokumentasi kami,
 Minna (Perwakilan Matapena Tasik) berkesempatan menjadi MC malam itu

 Warga Kampung ikut nonton juga lho,

Pentas Drama oleh sebagian peserta LSdP#5

D. Zawawi Imran saat tampil membaca puisi. 'Alif Kecil' adalah salah satu puisi yang dibacakannya dengan begitu atraktif sehingga mengundang tepuk tangan meriah dari para penonton.

Faisal Kamandobat saat menyampaikan Orasi Budaya
             Dalam Orasinya Faisal menyampaikan kemirisannya terhadap para remaja yang lebih memilih HP dibanding buku. Ibu-ibu yang lebih memilih Sinetron dibanding kesenian wayang. Anak-anak yang lebih senang menonton TV sebelum tidur dibanding mendengarkan cerita dongeng. Dan sindiran-sindiran lainnya yang bersinggungan dengan dunia seni, sastra dan dunia tulis-menulis.

 Banyak yang minta tanda tangan Genk Kobra

Yang tak kalah menarik, adalah penampilan Genk Kobra yang menjadi bintang tamu kita pada malam itu. Genk Kobra itu sendiri berasal dari kata KUBRA, artinya besar. Dan memang sesuai, namanya memang sebesar kreatifitasnya dalam menciptakan lagu-lagu bernuansa jawa yang sangat menarik dan asyik didengar. Genk Kobra ini sudah memiliki beberapa album, dan beberapa lagunya sempat menjadi soudtrack beberapa Film layar lebar. Hebat, bukan?

6. Pembagian Sertifikat dan Perpisahan. Setelah acara pementasan berakhir, kami kembali digiring ke pendopo untuk pembagian sertifikat dan perpisahan. Sempat sedih juga berpisah dengan teman-teman matapena yang sudah menjadi akrab bagi keluarga sendiri. Dan hal ini sangat terasa ketika kami musofahah saling memegang erat kedua telapak tangan seakan tak mau berpisah. Saya sendiri sempat memberikan sedikit tanggapan tentang LSdP#5 ini sebagai perwakilan dari peserta Putri. namun yang paling berkesan adalah saat saya berkesempatan memberikan Cendramata sebagai kenang-kenangan untuk Matapena pusat dari Matapena Tasik. Berikut foto-foto dokumentasi kami,


Sambutan terakhir dari Mbak Shofa selaku Ketua Pelaksana
Mas Sachree pun ikut memberikan kata-kata perpisahan perwakilan dari seluruh panitia LSdP#5

Pembagian sertifikat oleh Mbak Akhiriyati Sundari selaku ketua Komunitas Matapena

Mushofahah saling memaafkan, saling menggenggam erat

saya menyerahkan cendramata sebagai kenang-kenangan untuk Matapena pusat dari Matapena Tasik
Acara berakhir pukul 01.15, para pesertapun kembali ke penginapan untuk istirahat dan persiapan pulang ke daerahnya masing-masing. Banyak cerita menarik, kisah-kisah lucu, Berlimpah nutrisis ilmu, sejuta pengalaman, semangat kembali berkarya dan banyaknya teman setelah mengikuti acara ini. 
Info: LSdP diadakan setahun sekali, ketika waktu liburan. tahun kemarin LSdP di laksanakan di Pesantren. Untuk tahun ini bertempat di Pedesaan. Untuk tahun depan kira-kira dimana ya? Jangan lupa ikutan lagi ya,
-Kemudian, Liburan Sastra kali ini juga menghasilkan sebuah grup baru di Facebook dengan nama grup; LSdp#5 yang bisa anda lihat DI SINI. Grup ini bertujuan untuk menampung semua aspirasi anggota Matapena, dan menjadi wadah diskusi juga sharing antar anggota mengenai dunia kepenulisan.

" Berlibur, Bersastra, Berkarya "