KRITIK MENYALA UNTUK SEMANGAT MUDA

Lena Sa’yati, Mahasiswi Sekolah Tinggi Pesantren Terpadu (STPT) Tasikmalaya
www.lenasayati.blogspot.com

               
               “Muda berkarya, tua kaya raya, mati masuk syurga” terkandung nilai filosofis dalam pepatah yang cukup populer tersebut. Sungguh alur kehidupan yang sangat ideal, diidam-idamkan hampir seluruh umat manusia dimuka bumi, sangat sempurna, dan tak lupa juga sangat sulit mewujudkannya, namun bukan berarti mustahil untuk bisa menggapainya. Jika demikian adanya, semestinya kita merenung tatkala mendengar pepatah tersebut. Cobalah kita tengok, betapa kebahagiaan yang abadi yakni di syurga, bermula dari bagaimana kita hidup semasa muda di dunia. Kalau begitu, jelas sudah, bahwa ditangan pemudalah sebuah perubahan besar dapat tercipta.
                Pemuda dalam artian seseorang yang masih berusia muda, semestinya memiliki jiwa dan semangat muda pula. Begitulah setidaknya jika kita menengok kebelakang, tatkala para pemuda masa penjajahan, saling berebut kemerdekaan, mereka beramai-ramai membentuk beragam komunitas, menyiapkan konsep, membuat misi, serta mampu membuat suatu perubahan dari pergerakannya. Seperti halnya organisasi yang pertama kali dibentuk kala itu BUDI UTOMO yang merupakan awal pergerakan menuju Indonesia merdeka.
                Menyoroti semangat menyala para pemuda zaman dahulu yang begitu kental dengan kobar perjuangan dan pengorbanan terhadap tanah air, namun kini, mungkin akan sangat sulit bila kita hendak menemukan tipikal karakter pemuda dengan semangat muda layaknya pemuda zaman dahulu. Betapa tidak, jika kita telaah, sebenarnya, pemuda masa kini adalah mereka yang serba lebih dalam mendapatkan segala hal. Status pendidikan lebih tinggi, perkembangan teknologi lebih canggih, cara berpikir lebih rasional. Lalu apakah dengan semua itu semangat muda para pemuda zaman sekarang lebih canggih pula dari pemuda zaman dulu? Oh sudah jelas, semangat demonstrasi mereka bahkan lebih anarkis, cara berpikir mereka lebih menekankan sikap emosional, penggunaan teknologipun tak kalah canggih dari teknologinya sendiri dengan sembarang mengumbar video-video tak senonoh ke dunia maya, apa tidak hebat? 
Terlebih ketika tiba masa kelulusan anak SMA, dengan semangat muda yang menyala-nyala, mereka berani ugal-ugalan dijalanan sambil meneriakan yel-yel, dan bahkan saking kreatifnya, merekapun beramai-ramai mencorat-coreti seragam putih abu kebanggaannya. Mau tidak mau, image pemuda masa kini masih saja ter-cap jelek dalam pandangan masyarakat. Memang tidak semua pemuda Indonesia seperti itu, hanya saja yang selalu muncul kepermukaan adalah aksi-aksi negatif tersebut. Sepertinya akan sangat membanggakan bila chanel-chanel televisi ramai memberitakan bahwa kelulusan dihiasi aksi sujud syukur bersama dilapangan sekolah, misalnya. Tapi apa yang selalu kita lihat? Setiap memindahkan chanel TV, sudah dipastikan, semua memberitakan bahwasanya kelulusan dihiasi aksi bentrok antar sekolah, atau corat-coret seragam, motor-motoran di jalan, dan lain sebagainya. Sungguh ironis, inilah semangat muda para pemuda zaman sekarang.
Tanpa kita sadari, faktor apakah yang menyebabkan aksi para pemuda Indonesia kini semakin terpuruk? Jauh dari gambaran para pemuda zaman dahulu yang jelas-jelas status pendidikannya saja lebih rendah. Apakah berasal dari faktor lingkungan? Sudah jelas. Apakah faktor gempuran teknologi yang semakin membutakan dan membuat mereka ketagihan? Tentu. Apakah karena rentannya pengaruh dari belahan bumi luar, terutama dari segi budaya yang hilir mudik menyapa generasi muda kita? Itu juga sudah barang benar. Namun pernahkah kita merenung, bahwasanya pertanyaan besar mengapa generasi muda hari ini begitu anarkis, emosional, dan tak tahu adab? Ternyata aksi-aksi negatif itu berasal dari penyakit hati yang tidak memperoleh pencegahan apalagi pengobatan.
Setiap lembaga pendidikan sudah tentu memiliki tujuan yang mulia. Yakni turut mencerdaskan dan memperbaiki moral bangsa. Kurikulum dirancang sedemikian rupa demi kelancaran menggapai tujuan tersebut. Disisplin peraturan dibuat sedemikian ketat untuk mencegah aksi pelanggaran dan menjaga ketertiban. Fasilitas terus dilengkapi demi menopang kegiatan belajar mengajar yang ideal. Semua diciptakan demi menggapai satu tujuan. Namun tanpa kita sadari, yang lebih penting dari sekedar mencerdaskan dan memperbaiki moral bangsa adalah menciptakan karakter beradab dan berakhlak mulia dalam jiwa setiap anak bangsa.
Kebanyakan sistem pendidikan di negeri kita lebih menekankan anak untuk dijejali pelajaran-pelajaran yang menuntut otak untuk terus berpikir, namun sangat sedikit yang menuntut hati untuk ikut tergerak. Pelajaran agama hanya menjadi kurikulum semata, tanpa masuk lebih jauh kedalam hati dan kesadaran anak. Fenomena aksi korup para politikus yang notabene adalah orang-orang yang berpendidikan merupakan contoh pahit yang harus kita telan, bahwa kecerdasan intelektual saja tidak cukup, perlu penyeimbang yang mengontrol setiap aksi dari kecerdasan intelektual tersebut, yang tiada lain adalah kecerdasan spiritual. Kecerdasan spirituallah yang kemudian mampu membentuk sebuah karakter dalam diri anak.  Membimbing pola hidup si anak dengan apa yang Ia yakini dalam hatinya. Cobalah tengok, mereka sekawanan anak muda yang ugal-ugalan dijalan itu adalah mereka yang kering kerontang jiwa spiritualnya. Tandus, tidak terairi. Itulah sebab dari hanya selalu mengunggul-unggulkan pendidikan lahiriah saja.
Dalam pergaulan sehari-hari, ilmu alam, sosial atau bahkan matematika sekalipun tidak akan mampu angkat biacara. Yang berperan kala itu adalah ilmu-ilmu yang mengajarkan ketauladanan, adab, sopan santun, yang hanya bisa dapatkan dari ilmu keagamaan. Inilah yang seharusnya menjadi standar kualitas setiap lembaga pendidikan, dan pedoman bagi setiap orang tua.
Tanpa hati, mana mungkin seseorang akan tergerak untuk melakukan suatu perubahan. Jika perubahan yang diciptakan berbentuk positif, itu karena berasal dari niat hati yang positif. Sebaliknya, jika perubahan yang diciptakan berbentuk negatif, sudah barang pasti berasal dari niat hati yang juga negatif.
Maka, tatkala kita mengetahui akan hal tersebut, bahwa ditangan pemudalah suatu perubahan tercipta, dan perubahan positif timbul karena niat hati yang positif pula, sepantasnyalah bagi kita untuk mengevaluasi diri, apakah hati ini telah mampu tergerak untuk menciptakan sebuah perubahan besar, dan apakah semangat muda yang berkobar dalam diri kita ini akan berbuah positif. Bila sudah begitu, tinggal menunggu waktu, kapan icon baru pemuda bangsa muncul dengan bibit unggulnya, serta mampu memberikan pengaruh besar bagi dirinya khususnya, dan masyarakat pada umumnya.

Padi - Tempat Terakhir [Official Video Clip "Hai" Magazine version 2011]

             


Tempat Terakhir - Padi
(cipt. Fadly dan Yoyo)

Meskipun aku di surga
Mungkin aku tak bahagia
Bahagiaku tak sempurna bila itu tanpamu

Lama sudah kau menemani langkah kaki
Di sepanjang perjalanan hidup penuh cerita
Kau adalah bagian hidupku
Dan akupun menjadi bagian dalam hidupmu
Yang tak terpisah

Kau bagaikan angin di bawah sayapku
Sendiri aku tak bisa seimbang
Apa jadinya bila kau tak di sisi

Meskipun aku di surga
Mungkin aku tak bahagia
Bahagiaku tak sempurna bila itu tanpamu
Aku ingin kau menjadi bidadariku di sana
Tempat terakhir melabuhkan hidup di keabadian

Bila nanti aku kehilangan, mungkin itu hanya sesaat
Karena kuyakin kita kan bertemu lagi

Kau bagaikan angin di bawah sayapku
Sendiri aku tak bisa seimbang
Apa jadinya bila kau tak di sisi

Meskipun aku di surga
Mungkin aku tak bahagia
Bahagiaku tak sempurna bila itu tanpamu
Aku ingin kau menjadi bidadariku di sana
Tempat terakhir melabuhkan hidup di keabadian

Meskipun aku di surga
Mungkin aku tak bahagia
Bahagiaku tak sempurna bila itu tanpamu
Aku ingin kau menjadi bidadariku di sana
Tempat terakhir melabuhkan hidup di keabadian


***
           Mungkin saat menulis ini saya terlalu muda, tapi saya sadar bahwa saya tengah menginjak dewasa. Tidak terbersit untuk segera melangkah ke arah sana, namun setidaknya saya ingin memiliki seseorang yang saya kira mampu membuat saya yakin untuk kelak melangkah ke jalan yang semoga diridhoi Allah.
                 Menyimak lirik lagu ini seakan teringat kembali akan semua itu. Yang paling saya suka pada bait 'kau bagaikan angin di bawah sayapku, sendiri aku tak seimbang'. Benar, tak mungkin diri manusia mampu tanpa seorangpun penyokong dibaliknya, yang mengibarkan kembali hawa positif untuk sekedar sayapnya terkepak, lalu melangalang jauh tinggi menembus awan, mengitari alam lengang, untuk kemudian berlabu kembali di peraduannya. Jika saya kelak adalah angin itu, akan saya bangkitkan semangat kepakan sayapnya agar selalu siap terbang berjuang, dan kemudian bersama-sama menebar benih kebaikan diseluruh penjuru dunia. Dan saya yakin, dengan seizin Allah, semua pasti tercipta!
 
Notes: So, what's your opinion about this touchy song,....
             just wanna present this song to 'the dark knight'....you're the best, 
             insya allah

Peresmian Gedung Belajar




Condong, Kamis (16/06/2011) Pondok Pesantren Riyadlul ‘Ulum kembali menggelar acara runutan milad satu abad ponpes dan 10 tahun sistem keterpaduannya dengan acara “Peresmian Gedung Belajar” Hibbah dari Duta Besar Brunei Darussalam Yang Mulia Dato Paduka Mahmud bin Haji Saidin. Acara berlangsung meriah dan khidmat, tentunya didukung dengan kehadiran para tamu undangan yang meliputi Walikota Tasikmalaya DR. Syarif Hidayat beserta jajarannya, Ketua MUI Tasikmalaya, Qori Internasional Bapak Mu'min Ainul Mubarak, para tokoh masyarakat, Pimpinan Ponpes, guru-guru, serta kepala sekolah se-Tasikmalaya.
Pukul 10.00 pagi Dubes Brunei Darussalam tiba di lokasi, disambut meriah dengan hentakan suara drumband, barisan santri dan santriwati serta tamu undangan. Setelah acara penyambutan, rangkaian acara peresmian gedung belajarpun dimulai. Setelah pembacaan ayat suci Al-Quran oleh Bapak Husni Mubarak, Bapak Darmawan dari pihak Konsultan bertugas membacakan rincian dana yang total berjumlah 427 juta berikut properti yang digunakan bangunan. Disambung dengan sambutan dari Wakil Pimpinan Pondok Pesantren Riyadlul ‘Ulum Wadda’wah Kiyai Diding Darul Falah yang dalam isi pidatonya memohon izin kepada Pak Dubes untuk menamai Bangunan baru dengan nama Gedung Brunei Darussalam. Lalu dilanjut dengan sambutan Bapak Walikota dan Duta Besar Brunei Darussalam.
Diakhir sambutannya, Yang Mulia Dato Mahmudpun meresmikan bangunan dengan penandatanganan prasasti ditemani Bapak Walikota. Setelah itu, acara gunting pita dan peninjauan bangunan baru disertai seluruh tamu undangan.
Hibbah ini dimaksudkan sebagai bantuan bagi ponpes di Tasikmalaya yang sempat terkena gempa september 2010 silam. Ada dua pesantren di Tasikmalaya yang mendapatkan hibbah serupa dari Duta Besar Brunei Darussalam; Ponpes Riyadlul ‘Ulum Wadda’wah dan Ponpes Miftahul Huda. Semoga dengan hibbah ini menjadi sebuah amal bagi dermawannya yang senantiasa mengalir sampai ke akhirat nanti. Amin. [Lena]

berikut galeri foto:

Gedung inilah yang diresmikan dan diberi nama Brunei Darussalam
hibbah dari dubes brunei darussalam

inilah prasasti yang ditanda tangani pak dubes
para ustadzah pada saat peninjauan gedung baru
Terimakasih bapak Dubes yang mulia Dato Paduka Mahmud bin Haji Saidin
  


Tarian Daun Gugur

Lena Sa’yati, Pengurus Matapena Tasikmalaya
lenacinta@ymail.com


            Hari ini semuanya terungkap, sepanjang jalan yang telah kami ikuti kini sampai pada batasnya, setiap apa yang dipertanyakan kini mendapat jawabannya. Di tengah lapangan hijau nanluas, dia memeluk erat seorang wangan, di sekelilingnya para pendosa hanya merongrong meratapi nasibnya tanpa sedikitpun merasa bersalah. Sungguh menyakitkan. Dan lihatlah, air mata yang tak henti-henti berlinangan dipipinya itu telah menjadi bukti rasa perih yang menyakitkan. Tanah yang basah, beserta hujan yang mengguyur bumi menjadi saksinya.
            “ Aku tak percaya ini,”
            “ Sulit untuk dipercaya, “
            “ Bagaimana mungkin kita sama sekali tak mengetahuinya?”
Sekelumit rasa ketidakpercayaan kami terhadap situasi ini cukup menjelaskan betapa Ia begitu lihai menyembunyikan semua ini.
***
            Namanya Ibu Halimah, Ia seorang janda terhormat yang pernah kami temukan dijagat ini. Perangainya baik, wajahnya teduh, tutur katanya sopan, namun berwibawa tinggi. Ibu Halimah cerdas luar biasa. Dan selain itu, Ia juga kaya raya.
            Kami selalu membanggakannya karena Ibu Halimah berjiwa sosial tinggi. Dari kekayaannya itu, dengan besar hati Ia telah berhasil mendirikan enam lembaga pendidikan dan dua panti asuhan. Dari mulai yang terkecil PAUD, sampai taraf seusia kami yaitu SMA, Ibu Halimahlah pemilik sekaligus kepala sekolahnya. Namun, sehubungan keadaannya yang semakin sibuk, Ibu Halimah kini hanya menjabat sebagai Kepala Sekolah SMA saja, sedangkan yang lain Ia serahkan pada rekan-rekannya yang Ia pecaya. Namun yang selalu membuat kami merasa heran, mengapa Ia tidak pernah menyampaikan pidato pada saat upacara hari senin. Selalu tidak hadir, dan kami selalu tak pernah mendapatkan jawaban atas ketidak hadirannya itu.
            “ Kenapa Ibu Halimah tidak pernah sekalipun pidato pada upacara hari senin?” Aku memulai percakapan di meja kantin pada sang itu.
            “ Apa kamu tidak paham dengan keadaan beliau yang notabene termasuk orang yang super sibuk? Bayangkan, enam lembaga, Na, enam lembaga!” Sinta mengacung-acungkan jempolnya kedepan mukaku.
            “ Ah, tidak masalah bagiku tidak mendengar pidatonya. Toh aku sudah tahu bagaimana intonasi, mimik,ritme dan sopan santunnya saat berpidato pada acara kenaikan kelas. Pasti kalau upacara hari seninpun tak akan jauh berbeda.” Indah ikut menyahut sesaat sebelum Ia menyedot minumannya.
            “ Yang justru membuatku aneh itu, kenapa Ibu Halimah tidak pernah bercerita sedikitpun mengenai anaknya!...” Itu Lina. Namun kembali Indah menyahut,
            “ Dari sosok Ibu Halimah yang rupawan, sudah dipastikan anaknyapun ganteng, kalau laki-laki, dan pasti cantik, kalau perempuan.”
            “ Tapi umur anaknya berapa ya? Anaknya sekolah dimana? Kemudian, berapa sebenarnya anak Ibu Halimah itu? “
Di samping percakapan mereka itu kemudian ada satu lagi pertanyaan yang membuat hasrat ingin tahuku kembali membuncah untuk menguaknya. Lina benar, selama tiga tahun kami mengenal sosok Ibu Halimah, mengapa tidak pernah ada kabar sedikitpun tentang siapa anaknya? Berapakah umurnya? Sekolah dimana? Atau bahkan mungkin Ibu Halimah tidak mempunyai anak sama sekali karena dari dulu Ia sudah menjadi janda? Sifat kuriousitasku muncul lagi. Dan aku harus tahu jawabannya!
***
            Pada hari itu kami mulai menguntiti setiap gerak-gerik Wanita sosialita itu. Dari balik pagar rumah sebelah, kepala kami saling bersembulan hendak mengintip saat Ibu Halimah kebetulan keluar dari rumah asrinya. Seperti biasa, sudah ada sang sopir yang setia membukakan pintu mobil untuknya. Saat itu Ibu berpakaian layaknya seorang guru, dengan setelan seragam berwarna abu-abu, tas di bahu kanannya, dan sebotol air mineral yang di kepal tangan kirinya.
            “ Apa tidak apa-apa kita bolos sekolah hanya untuk berlaku seperti ini?” Indah mulai merasa tak nyaman dengan misi kami.
            “ Dengar, kita datang kesini bukan hanya untuk percuma. Tapi kita akan menguak semua rasa penasaran dihati setiap orang. Bisa terkenal, kita!” Sinta selalu semangat untuk hal-hal semacam ini.
            “ Hei, apa kalian tidak merasa heran, untuk apa Ibu Halimah menenteng sebotol air mineral? ” Justru malah itu yang aku herankan. Mataku tetap tertuju pada sosok yang kini tengah masuk kedalam mobil itu .
            “ Kenapa kamu bodoh sekali! Untuk apa lagi kalau bukan untuk minum! Kamu pikir orang semacam Ibu Halimah tidak pernah merasa haus, apa?! “ Sinta seperti biasa, selalu menyolot.
            “ Maksudku bukan itu. Tapi benar-benar tidak biasanya. Kalau hanya untuk sekedar minum, Ibu bisa membeli dimana saja. Tidak perlu menenteng botol dari rumah begitu.” Aku keukeuh merasa heran.
            “ Eh, mobilnya jalan! Ayo berangkat!...” Lina mengingatkan. Membuat kami segera bergegas, dan melupakan perseteruan tadi.
***
            Ibu Halimah nampaknya akan mengunjungi lembaga SLB-nya yang telah Ia dirikan bersamaan dengan lembaga-lembaga yang lainnya. Ya kami mafhum kalau Ibu Halimah jarang berada di sekolah, mungkin karena sekolahnya yang lainpun perlu kunjungannya juga. Namun kami baru tahu tentang Sekolah Luar Biasa yang diperuntukan bagi anak-anak autis itu. Itupun karena kami nekat membuntuti Ibu Halimah sampai sejauh ini. Beliau memang seorang wanita berjiwa besar. Statusnya sebagai jandapun tak mampu membuat titelnya sebagai wanita terhormat luntur. Jarang sekali tentunya ada seorang perempuan kaya raya, yang mau menggunakan kekayaannya itu semata-mata untuk turut mencerdaskan anak bangsa. Kalaupun memang ada, paling mereka hanya mampu memberikan sedikit sumbangan saja, itupun dengan syarat nama dermawannya harus disebutkan. Namun perempuan yang satu ini, sungguh luar biasa. Dari sekian hartanya, Ia dengan senang hati menggunakannya untuk membangun institusi-institusi pendidikan dan dua panti asuhan. Dan Ia sendiri tetap ikut andil dalam setiap kepengurusannya. Bahkan Ia dengan senangnya terjun langsung mengajar anak didik dengan cara yang sangat menawan dan enjoy untuk murid-muridnya. Inilah guru. Yang bukan hanya sekedar mengajar, tapi juga guru yang menjadi seorang pendidik.
            Kami mengendap-endap mencoba masuk mengelabui satpam sekolah. Namun akhirnya ketahuan juga.
            “ Kalian siapa? Ada keperluan apa? “ Dengan galak pak Satpam bertanya.
            “ He..he..kami murid Ibu Halimah, mau bertemu beliau, kebetulan Ibu Halimahnya sedang ada di dalam, bukan?” Sinta memberanikan diri sambil memamerkan sederetan gigi-gigi putihnya, cengengesan. Pak Satpam malah melihati kami dari atas kebawah.
            “ Kenapa tidak sekolah? “
            “ Ada hal penting yang ingin kami sampaikan pada Ibu, pak. Maka dari itu izinkan kami masuk ya pak, “ Indah memelas-melas dengan telapak tangan yang dilipat, memohon. Pak Satpam kembali berpikir,
            “ Kami mohon, Pak “ Hanya itu yang bisa aku ucapkan. Pak Satpam memicingkan matanya, mungkin sedang menimang-nimang. Kami saling menyikut satu sama lain, takut tak mendapat izinnya. Namun sejurus kemudian,
            “ Ya, kalian boleh masuk” Ujarnya masih dengan nada galak.
            “ Yes, terimakasih Pak, “ Kami kegirangan.
***
            Ada perasaan ingin menangis saat kami memberanikan diri masuk kedalam. Melihat berbagai macam karakter anak yang memiliki keterbelakangan mental. Yang ini matanya hanya melongo kedepan. Yang itu bibirnya selalu terbuka. Yang satunya tak henti-henti tertawa. Berkali-kali aku beristigfar mengelus dada. Mungkin dari sekian banyak anak-anak itu, pasti ada yang usianya sebenarnya sudah sebaya dengan kami. Tapi masih harus duduk di tempat ini. Bergabung dengan anak yang usianya jauh dibandingkan dirinya. Hatiku meringis. Betapa kami tak pernah bersyukur Allah berikan kesempurnaan jiwa dan lahiriah ini. Kami tidak pernah berfikir bagaimana masa depan kami selanjutnya jika ternyata kami ditakdirkan seperti itu? Bagaimana perasaan orang tua kami? Apakah Mereka akan turut membenci dan mengolok-olok kami sebagaimana orang-orang tak beradab diluar sana? Sekali lagi aku mengusap dada, dan segera memohon ampunan-Nya.
            Langit tampak mendung dengan awan abu yang menutupi bias cahaya matahari siang itu. Kami tak membawa persiapan apapun. Kami mungkin harus pasrah jika nanti ketahuan Ibu halimah bahwa kami telah sejak lama membuntutinya.
            Dari kejauhan, Nampak sosok yang kami cari tengah menengok sebuah kelas yang sedang melaksanakan proses KBM. Bibirnya tersenyum, namun terlihat getir. Mungkin Iapun tak lepas dari perasaan mirisnya melihat rahasia Allah yang di limpahkan pada anak-anak luar biasa itu. Antara senang melihat mereka ceria, sedih lantaran menyadari keterbatasan mereka, dan getir menyelami nasib mereka. Sungguh akupun merasakan hal yang sama.
            “ Riana, lihat itu!...” Lina membuyarkan ketercenunganku. Mataku mengekor telunjuknya yang menunjuk segerombolan anak yang tengah berkelahi di tengah lapang. Hujan mulai deras mengguyur bumi. Dari kejauhan tampak para staf guru berlari hendak menghentikan perkelahian itu. Mereka sampai abai dengan seragamnya yang harus basah kuyup. Halilintar mulai menggelegar, disertai sinar-sinar pantulan kilat. Siang itu menjadi tampak menyeramkan bagi kami. Tapi aku mau tahu sebenarnya apa yang terjadi disana. Maka seketika aku turun juga kelapangan tanpa memperdulikan bajuku yang nantinyapun akan basah kuyup.
            “ Riana!...tunggu!...” Sinta dan Indah memanggil-manggilku. Namun aku abai. Akhirnya merekapun ikut turun kelapangan. Beberapa lama kemudian semua guru sudah turun, sedangkan murid-muridnya hanya menonton di koridor kelas. Ada yang malah tersenyum, tertawa-tawa, atau bahkan ada yang menangis histeris. Luar biasa runyam keadaan siang itu. Pada akhirnya Ibu Halimahpun turun tangan, dan segera menerobos kerumunan.
            “ Ya Allah, Tidaaaaak!!!...” Teriaknya.
            “ Tolong minggir semua, minggir!...” Baru kali ini kami menyaksikan amukannya. Semua orang mundur, termasuk anak-anak luar biasa yang sudah dipisahkan dari perkelahiannya itu. Namun ada satu yang tersisa di tengah-tengah. Yang Ibu Halimah sampai bersila diatas lapangan basah dan mengangkat kepala anak itu kepangkuannya.
            “ De, bangun De…” Ibu Halimah menampar-nampar pipi anak itu. Mimik Bu Halimah luar biasa keakutan, entah mengapa. Mungkin takut anak itu benar-benar tak sadarkan diri. Semua guru semakin merasa was-was. Beberapa mengusap air hujan dari wajahnya. Beberapa lagi memegangi anak-anak yang lain. Dan kamipun mulai ikut was-was. Namun  yang paling mengejutkan adalah,
            “ De, Dede…anakku,…bangun, Nak…bangun,…”
            Ketahuilah, yang kami perkirakan bahwa jikalau Ibu halimah memiliki anak laki-laki pasti wajahnya rupawan, otaknya cerdas, budi pekertinya tinggi. Ternyata siang yang dingin itu, telah membuka gerbang rahasia yang selama ini telah tertutup rapat itu. Dia, yang badannya gempal, pipinya telah biru-biru karena ditonjoki teman-temannya yang lain, lalu wajahnya yang sudah mulai memucat lantaran terlalu lama terguyur hujan, yang saat itu tengah berada dipangkuan Ibu Halimah itu adalah anaknya! Bukan siapa-siapa, dia adalah anak kandung Ibu Halimah. Anak yang bersekolah di Sekolah Luar Biasa itu adalah anak seorang perempuan berintelektual dan berbudi tinggi bernama Ibu Halimah! Rasanya setiap titik hujan yang menghinggapi badan ini adalah titik-titik paku yang silih berganti menghujami tubuh ini dengan tajamnya. Kami semua tercengang. Dan kau tahu, botol air mineral yang di tenteng Ibu itu khusus diperuntukan buat anak tercintanya itu.
            “ Dede!!....Dede bangun, nak…hiks, hiks, jangan tinggalkan Bunda…” Dengan suara yang hampir tercekat, Ibu halimah meronta-ronta mendapati anaknya sudah tak sadarkan diri. Tangisnya meraung-raung memecah suara guyuran hujan. Anaknya telah tiada. Dan tak ada lagi yang tersisa.
            Sekarang kami tahu kenapa Ia senang sekali mendirikan lembaga pendidikan. Itu adalah bentuk pelampiasannya terhadap seorang anak. Ia mungkin merasa mendapat kesenangan batin saat bisa mengajar dan bertemu dengan anak-anak yang normal pada umumnya. Dan kenapa setiap senin Ia tak pernah ada di Sekolah, karena Ia harus berada di Sekolah Luar biasa ini.
            Ibu halimah dengan takdir pahit yang harus diterimanya. Kehilangan suami, kehilangan anak, dan kehilangan kebahagiaan yang sesungguhnya. Namun Ia tak kehilangan akhlak mulianya, luhur budinya. Ibu Halimah dengan kepahitan dan kesedihannya itu, laksana daun yang gugur namun tetap lihai menari bersama angin seiring jatuhnya kebumi. Aku menyimpan kisah ini dalam benakku, dalam-dalam, dan sekalipun tak akan pernah terlupa. 
Taman Ilmu
25 Desember 2010
09.52

Resensi Film


Hidup Sekali Hiduplah yang Berarti


Lena Sa'yati,
lenacinta@ymail.com



Judul                     : Hidup Sekali Hiduplah yang Berarti
Genre                   : Religi
Durasi                   : 90 menit
Sutradara            : Lena Sa’yati
Skenario              : Tim matapena Rayon Tasikmalaya
Pemain                 : Wafda, Elif, Rini, Yuni, Lidini, Agnes, Muna, Noverita Mustika
Produksi              : Matapena Tasik in Association with Lingkar Kreatif 

Sinopsis:
Film ini diangkat dari buku berjudul sama, karya anggota Matapena Rayon Tasikmalaya Ponpes Riyadlul ‘Ulum Wadda’wah. Bercerita tentang seluk beluk romantika kehidupan santri dan santriwati di sebuah pondok pesantren. Dalam film ini terdiri dari beberapa judul dengan cerita yang berbeda-beda. Diantaranya; Language is Our Crown, No Gosob!, Pepping? No way!, Belanja Sambil Beramal, Blezzer, dll.
Dalam Language is Our Crown misalnya, seorang santriwati bernama Linta kerap menjadi pelanggar bahasa, hingga namanya disebutkan beberapa kali dalam pengumuman pelanggar bahasa. Akhirnya dia diberi hukuman untuk memakai kerudung pelanggaran selama satu hari. Sejak saat itu, beberapa temannya mulai menjauhi dan mencemooh dirinya, tapi sahabat sejatinya Ilya selalu memberi semangat dan motivasi sehingga Linta mencoba untuk giat belajar bahasa dari buku-buku bahasa yang ada. Dari hari ke hari bahasa Linta mulai membaik, hingga akhirnya, namanya tak lagi tertera dalam daftar para pelanggar bahasa. Maksud bahasa disini adalah dua bahasa asing (arab dan inggris), karena di ponpes ini, memakai kedua bahasa tersebut dalam kehidupan sehari-hari adalah wajib hukumnya, maka jika ada salah satu santri yang keahuan tidak berbahasa resmi, sudah dipastikan mendapat hukuman dari bagian bahasa.
FYI, Hidup Sekali Hiduplah yang Berarti merupakan film perdana yang dibuat santri Ponpes Riyadlul ‘Ulum Wadda’wah bekerjasama dengan rumah produksi Lingkar Kreatif. Bermula dari buku karya anak klub sastra matapena, merekapun ingin lebih memvisualisasikan isi dari buku yang mereka buat, agar pesan yang terkandung dlam buku tersebut lebih mdah diterima oleh khalayak umum. Pada intinya, film ini berusaha mengangkat kehidupan para santri yang snagat jarang sekali terekspos media. Film ini ingin menunjukan, bahwa memilih hidup di pesantren merupakan sebuah keputusan untuk menjadikan hidup ini lebih berarti.
Disajikan dengan cerita-cerita ringan dan menghibur, dalam film inipun para pemain menggunakan dua bahasa asing dalam setiap percakapannya. Inilah yang membuat film ini beda dari film-film indonesia lainnya. Pesan yang tersirat dari setiap ceritapun lebih nyata dan tampak real, karena setiap cerita di akhiri dengan pesan nasihat. Seperti dalam Language is our Crown, di akhir cerita tertulis nasihat ; ‘Language is not lesson, but language is habit’ ‘Brave to try, never give up, speaking, speaking, and speaking’. Selain cerita, dalam film inipun disajikan sebuah infotainment bernama ‘Laa Ghibah’ yang dibawakan oleh presenter kocak namun menyajikan berita-berita yang sarat akan makna, begitupun dengan narasi yang  dibacakannya.
Menonton film ini dijamin tidak akan jenuh, karena dari setiap cerita, selalu ada hal-hal yang menarik yang berbeda, dan lain dari yang lain. [Lena]

Beberapa adegan dalam film Hidup Sekali Hiduplah yang Beararti:

 



Itulah beberapa adegan dalam film HSHYB. pastinya penasaran kan sama para pemainnya yang kelihatan total banget berakting di film ini. Yup, kami memang sengaja mempersembahkan para pemain yang sekiranya berbakat dlam seni akting. Tidak perlu ada casting formal, kami cukup melihat aksi mereka dalam Lomba Drama Bahasa Inggris, maka langsung saja kami gaet anak-anak berbakat ini. Ini dia beberapa pemain utama dalam film HSHYB.
Wafda Fahrunnisa

Wafda fahrunnisa berperan sebagai Linta dalam judul 'Language is Our Crown'. Semula langganan menjadi pelanggar bahasa, lalu bangkit menjadi mahir berbahasa.

   
Elif Alifah
Berperan sebagai Laura dalam judul 'No Gosob!'. Laura adalah anak yang selalu menjadi korban penggosoban. Dibantu temannya Sinta, Ia berhasil menyadarkan orang yang menggosob barangnya.

Rini Iswanti & Yuni Latifatun Nisa
 Rini berperan sebagai Nada, dan Yuni berperan sebagai Sella. Mereka bermain dalam judul 'Alunan Nasyid dan Dakwah'. Semula selalu tidak akur, namun lama-lama bersatu karena satu tim dalam nasyid.

Muna Wafa Fikria
Muna berperan sebagai Muna dalam judul 'Ummu Naum'. Muna dijuluki Ummu Naum lantaran selalu tidur dalam situasi apapun. Namun akhirnya Ia berubah dan malah teman yang selalu mengejeknya yang jadi Ummu Naum.

Agnes Sustine
Agnes berperan sebagai Sisil dalam judul 'Pepping? No Way!'. Di sini Sisil berwatak centil, suka mengintip cowok, sampai akhirnya Ia bertubi-tubi kena musibah pada waktu mengintip. Akhirnya Ia tobat, dan tidak akan mengulangi aksi pepping lagi.

Lidini Hanifa
Lidini berperan sebagai Lidini dalam judul 'Belanja Sambil Beramal'. Semula tidak mau belanja di Unit Usaha milik Pondok dengan alasan selalu antri, tapi semenjak dijewer dan dinasihati Keamanan, akhirnya Lidini mencoba untuk belanja di Mini Market Pondok.

Sebagai presenter kocak, Noverita membawakan acara dengan tidak membosankan, agak-agak mirip dengan pembawa acara infotainment Silet, hanya saja tema berita berisikan liputan tentang kehidupan para santri beserta kegiatan-kegiatan wajibnya.



Behind The scene


               
                Proses syuting berjalan selama 4 hari, dari hari jum’at sampai hari senin pagi. Sebenarnya kami menargetkan waktu hanya dua hari saja, namun karena banyak hal-hal yang tak terduga terjadi pada saat proses syuting, alhasil waktupun ngaret sampai dua hari. Dari mulai diguyur hujan, ada salah satu kru yang terluka saat take gambar, ada yang sampai nangis-nangis, kameramen lupa tidak membawa lampu sampai kami harus beribut mencari lampu neon kesana kemari, dan lain sebgainya. Tapi actually semuanya berjalan dengan lancar, alhamdulillah.
                Sebenarnya pembuatan film ini bisa dibilang cukup singkat, karena kami harus menyesuaikan deadline waktu dengan kedatangan penulis nasional Ahmad Fu’adi. Rencananya kan film ini akan di launching pada waku bersamaan. Maka sayapun bergegas mengumpulkan anggota matapena untuk segera membuat naskah cerita. Setiap orang ditugaskan membuat satu script dan bertanggung jawab untuk mengcasting sendiri para pemainnya, menentukan kostumnya, menyipakan settingnya, dan menentukan siapa penerjemah naskahnya. Namun sebelum itu, saya bertugas untuk mengedit terlebih dahulu kelayakan dari naskah mereka.
                Dalam tempo tiga hari, naskah selesai beserta translate-nya. Dan para pemain hanya diberi kesempatan untuk reading, dan menghafalkan naskah dalam kurun waktu satu hari dua malam saja! Wow, apa tidak gila! Beruntung mereka sudah terlatih dengan seringnya diselenggarakan drama bahasa arab dan inggris, jadi tidak terlalu sulit untuk menggodok mereka dalam menghafal naskah. Latihan gladi bersihpun kami laksnakan semalam sebelum besoknya kami mulai syuting. Fiuh, benar-benar melelahkan, memang. Kami baru selesai latihan pukul 23.30 malam, setelah itu para krew masih harus mempersiapkan properti yang akan digunakan syuting, latar tempat, kostum, dan lain sebagainya. Alhasil kami begadang semalaman, dan baru bisa tidur pukul 03.00 pagi untuk kemudian subuh-subuhnya harus mengomando para santri agar bersiap siaga di lapangan untuk take gambar pertama.
                Hari jum’at yang biasanya digunakan para santri untuk mengisi libur dengan kegiatan seperti olahraga, makan bakso bersama, nyuci, dll, kini mereka disibukkan untuk berakting di depan kamera, seperti tampak dalam foto berikut ini:

Salah satu scene dalam 'Belanja Sambil Beramal' ketika anak-anak berkumpul mengisi waktu libur
Scene dalam Belanja Sambil Beramal, menggunakan kolam renang yang belum jadi sebagai setting tempat
Hari jumat disulap jadi hari belajar (dalam 'pepping? no way!')
 Yang lucu adalah pengambilan gambar judul Pondok Tak Pernah Tidur, yaitu dengan infotainment Laa Ghibah-nya. Noverita itu sudah dandan dari jam dua siang, tapi mulai take jam 5 sore, haha, kasihan sekali, mana dia dandan sendirian di dalam studio dadakan bertempat di kelas VII C. memang niatnya mau jam 2 siang, tapi karena judul lain take gambarnya belum rampung, alhasil Laa Ghibah di akhirkan dulu. Mau tahu aslinya infotainment Laa ghibah? 

Before
after
             Wah, gak kebayang hebohnya proses take gambar scene ini. Habisnya presenternya banyak tingkah sih. A Ari sama A Obes aja sampai maksain diri buat nahan biar gak kebablasan ketawa...dan yang paling neybelin, presenternya malah jadi lupa teks total kalau udah di depan kamera, walhasil, saya mesti bersedia nulis teksnya deh dan disimpan dibawah kamera biar presenternya bisa ngintip kalau lupa. Seperti gambar dibawah ini;

Wah, negrjain nih pemain, masa sutradara disuruh nulis narasi berita?..fiuh,
 Tapi it's oke, meskipun agak memakan waktu lama, tapi hasilnya cukup memuaskan apalagi dengan aksi lebay presenternya. Maksudnya sih supaya pesan yang terkandung dapat dengan senang hati diterima penonton.


Yang kasihan itu, para script writer. Rencanany kan mereka memberikan prolog dulu sebelum masuk ke cerita, tapi waktu syutingnya di undur-undur mulu. Mereka sampai gagal tiga kali mesti buka kostum lagi. Sampai keempat kali ganti, baru mereka kebagian take gambar, hehe, maaf ya kawan-kawan, memang selalu ada hal tak terduga dalam setiap perjalanan. Tapi akhirnya, selesai juga pembuatan film dengan diakhiri take gambar para scriptwriter.

Para scriptwriter setelah selesai take gambar judul 'Pondok Tak Pernah Tidur' di mujappaf Rojul
Sebenarnya syuting diakhiri take gambar untuk behind the scene, baru setelah itu kita kumpul bareng krew dan pemain tak lupa juga kameramen dari Lingkar Kreatif di kelas VII C. Dan bersama-sama kami menarik nafas lega, karena proses syuting telah selesai! Yeee...tinggal menunggu hasilnya deh. Wah, lega tak terkira deh teman-teman.Finally, kita semua mengucapkan Alhamdulillah karea sudah diberi kesempatan dan kemudahan dalam menjalani proses syuting film HSHYB ini.
Finally, we say....ALHAMDULILLAH
Ucapan terimakasih juga saya ucapkan kepada kedua rekan saya Ratna dan gani yang bersedia menjadi asisten, dan kepada Ustadz Syahruzzaky yang menjadi produser bagi acara ini. Terutama kepada pondok ini yang telah memberikan kesempatan pada kami untuk ikut mengibarkan potensi demi kebaikan pondok ini.

Salam,

Lena sa'yati