Exotic Holiday in Bali Part 3

It's a spiritual journey! Saya tertarik untuk berpenampilan lebih anggun dari sebelumnya, hehe. Banyak tempat yang kami kunjungi. Terutama tempat-tempat peribadatan, bersejarah, dan suasana alam.

Start at 08.30 a.m

I can see Kintamani Lake from here!
Felt so Cold here in Kintamani
Tampak Siring
Wearing sarong please if you come in to Tampak Siring

Exotic Holiday in Bali Part 2

Akan sangat sayang sekali jika liburan di Bali tidak menyempatkan diri untuk bermain dengan air (laut). Bukan itu saja, yang juga tak boleh dilewatkan adalah wahananya. Yup, saya sangat tidak sabar untuk mencoba berbagai wahana watersport di Tanjung Benoa!

Begin from 150 Room


Paralayang. I can see Bali from hereeee!

Jetski


Exotic Holiday in Bali Part 1

Saya punya tulisan menarik seputar Bali, terlebih karena saya baru pulang liburan dari sana. Tapi sabar ya, foto nya dulu nggak apa-apa kan, :-)







Saya tinggal di daerah Kuta, sangat dekat dengan pantai,jadi setiap ada waktu senggang, saya menyempatkan diri untuk jalan-jalan disekitar kota da pantai Kuta :)

MAHAPRENEUR

Sebuah catatan bagi mahasiswa Indonesia.


Banyak pertanyaan yang menyambangi seorang Mahasiswa selepas lulus kuliah. Apakah Ia akan melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi, bekerja, menjadi mahasiswa abadi atau bahkan menganggur. Yang terakhir ini seringkali menjadi bumerang bagi seorang mahasiswa yang ‘katanya’ sudah tinggi-tinggi sekolah akhirnya nganggur juga.
            Kreatif, imaginatif dan inofativ. Umumnya menjadi image khusus untuk seorang mahasiswa. Sebenarnya tidak berbeda jauh dengan seorang entrepreneur atau seorang wirausaha. Hanya saja fakta berbicara sebaliknya, terbukti dari perbandingan antara lulusan perguruan tinggi yang bekerja dan menganggur. Rupanya kondisi ini mendorong banyak universitas dan praktisi pendidikan untuk mereorientasi lulusannya agar siap menjadi pencari kerja. Tapi bukankah “pencari kerja” dan “pencipta kerja” memiliki makna yang berbeda.
            Menjadi seorang enterpreneur tidak hanya berlaku bagi pengusaha besar saja. Bahkan anak yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar atau Menengah pun berhak menjadi entrepreneur. Di Luar Negeri termasuk USA seringkali mengadakan program kidpreneurship saat musim luburan. Anak-anak disediakan tempat untuk membuat boot bazar, dan mereka menjual berbagai macam produk. Mereka menjual mainan, atau makanan buatan sendiri. Tentu saja hal ini bukan tanpa tujuan, justru kegiatan ini berhasil membuat kesadaran dalam jiwa anak untuk merasakan apa yang orangtua mereka rasakan. Yaitu bahwa mencari uang sulit, perlu kerja keras, berpikir kreatif dan inofativ serta pantang menyerah.
            Jika anak kecil saja mampu, tentu seorang mahasiswa pun bisa. Kini sudah mulai menjamur entrepreneur di kalangan kampus, namun kebanyakan sulit menyeimbangkan antara kewajiban belajar dan berjualan. Hasilnya, banyak pula yang kemudian meninggalkan bangku kuliah. Sebenarnya, tidak melulu begitu. Dua-dua nya bisa berjalan beriringan jika seorang mahasiswa bisa menggunakan waktu dan kesempatan sebaik-baiknya. Dalam penggunaan media internet misalnya. Dari pada melulu mengorek-ngorek status dan komentar-komentar di sosial media, mengapa tidak dijadikan kesempatan bisnis. Dlsb.
            Tidak sedikit yang mencibir satu kegiatan ini. Namun jika saja kita tahu Rasulullah SAW pun bersabda bahwa sebaik-baik kasab (usaha) adalah berdagang. Orientasi dari menjadi seorang entrepreneur tentunya tidak hanya materi, tapi yang paling penting adalah manajemen diri serta pembentukan mental. Sudah terbukti dari banyaknya pengusaha yang memiliki mental baja, karena mereka cenderung berjiwa kepemimpinan tinggi, disiplin serta pantang menyerah.
            Satu yang pasti, niat ketika memilih menjadi entrepreneur bukanlah karena hobi, bukan pula karena tuntutan keadaan, melainkan menyempurnakan ibadah. Selain untung, juga berkah. Itu lah wujud hasil bisnis yang sebenarnya. Selamat mencoba dan jangan hanya menjadi pengekor, tapi mampu menjadi kreator. Bukan hanya menjadi entrepreneur tapi menjadi mahapreneur. []
 


        

Happy 26th Birthday Papa..

Happy 26th Birthday Papa..
Alhamdulillah, Papa sekarang udah makin dewasa, udah 26 tahun. Bahkan kalau dilihat-lihat sikapnya melebihi orang yang usianya sebaya dengan Papa. Tapi Papa aku pikir lebih-lebih dari apa pun. Termasuk jadi lebih dari makan dan minum, gendut dan naik 10 kilo deh akhirnya, haha. Tapi itu kan janji mu, mau gendut kalau udah nikah, dan benar juga ternyata. Selamat, selamat!

Eh ada nih kayaknya perbandingan tubuh papa antara before and after married. Nih,

Beda abissss!
Tapi bagus lah, tugas saya terpenuhi dengan baik, hehe. Tapi pada intinya, mimi cuma mau mengingatkan, kalau kita tetap harus bersyukur dengan apa yang Allah berikan. Termasuk nikmat kesehatan dan umur yang masih bisa kita jalani sekarang ini. Kita gak tahu apakah Allah akan memanggil mimi atau papa terlebih dahulu untuk menghadapnya, tapi semoga kita kembali bersama di jannah-Nya, amin ya Rabb.

Oh iya, terakhir mimi punya segudang do'a untuk papa. Diantaranya; semoga papa diberikan umur yang panjang dan barokah, ditambah-tambah dalam mencari rezeki, dilancarkan segala urusan, tercapai segala impian, bisa S2 bareng mimi nanti di IIUM, selalu sehat dan fit, semakin jenius dan sukses segala-galanya, aminnn.

Nah, ini dia video yang mimi dedikasikan untuk milad papa yang ke 26. Happy Watching ^_^


Well, the last I only wanna say, U're my everything and I love you so Much. Dadaaaahhh...


Warm Regards,          
Lena Sa'yati

30 tahun Mizan, lahirkan Generasi Cerdas, Intelek dan Fun

30 tahun Mizan


Bismillah,
Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Menginjak kepala tiga, semestinya seseorang tengah menjadi sosok manusia dewasa yang sudah matang. Matang dalam pola pikir, dalam bertindak, dalam bergaul, dalam pengalaman termasuk matang dalam mengelola sebuah keluarga yang nantinya melahirkan generasi-generasi penerus. Lantas kenapa kepala tiga dibahas pula di sini? memangnya ada apa? Saya kira bagi mereka orang-orang pecinta bacaan, sudah barang lazim mengenal satu penerbit ternama "MIZAN". Tentu saja, betapa tidak, penerbit buku-buku berkualitas ini bahkan sudah menancapkan kakinya dalam dunia Literasi selama 30 tahun! Subhanallah sekali bukan? sungguh konsistensi yang mulia.

Bukannya sok beromantisme atau bahkan lebay dan alay, namun pengalaman saya bersama Mizan mengantarkan saya menjadi sosok wanita yang berani berbeda dari yang lainnya. Mungkin bisa dibilang saya baru berkenalan dengan buku-buku dari penerbit ini sekitar 9 tahun yang lalu saat masuk kelas 1 SMP di SMP Terpadu Condong Tasikmalaya. Saat awalnya saya sama sekali buta terhadap buku-buku bacaan lantaran saya berlatar belakang seorang gadis kampung yang norak dan kampungan. Tapi sungguh, saat pertama kali mata ini menatap sebuah gambar di sampul buku, tiba-tiba hasrat untuk membuka dan membaca buku itu pun muncul. Bukunya sangat khas sekali dengan design cover kartun dan conten meremaja yang juga disertai gambar di dalamnya.

"Oh tuhan, aku jatuh cinta pada barang itu, aku pikir saat itu pula duniaku mulai berubah untuk menentukan jalan hidupku kedepannya. Sungguh, aku jatuh cinta pada pertama kali jumpa!"

Hari itu merupakan kali pertama saya berkenalan dengan buku yang mengubah duniaku. Namun karena masih bingung dimana harus membeli, saya hanya bisa meminjam dari teman atau kakak kelas. Lambat laun tipe bacaan saya merambah pada buku non-fiksi. Kembali Mizan membuat saya terhipnotis dengan gebrakannya. Buku-buku how to- bertemakan kehidupan remaja (persahabatan, pergaulan, dsb) saya pilih untuk menemani roda kehidupan yang mulai berjalan. Berlanjut hingga SMA saya mulai rajin menulis dan terus menulis. Buku pun semakin bertambah di rak lemari. Beberapa lomba menulis sempat saya ikuti.

Selepas SMA saya mulai berani mendirikan sebuah komunitas menulis dan merekrut murid-murid dimana tempat saya mengajar. Sudah empat tahun berjalan, komunitas ini semakin menguat dengan konsisten berkarya dari mulai menerbitkan buku secara indie, memproduksi film, dan mengundang penulis-penulis nasional. Selain itu, alhamdulillah saya melaju ke tingkat nasional dan menyabet gelar juara dalam lomba menulis. Juga lagi-lagi dengan referensi yang saya gunakan dari buku-buku Mizan. Begitu pula anak-anak didik saya yang juga semakin semangat berkarya berkat lecutan semangat yang Mizan ciptakan.

Saya dan para penghunus pena di Komunitas Matapena
Salah satu rak buku saya dan suami. Beberapa bukunya terbitan Mizan
Salah satu buku terbitan Mizan

Sekarang, saya sudah menikah dengan suami yang juga pecinta dunia Literasi. Banyak pula koleksi bukunya terbitan Mizan. Bacaan-bacaan saya pun mulai merambah genre serius, dan lagi-lagi Mizan kembali menjadi pilihan. Kami seperti tidak memiliki dua hati. Segalanya serasa sama dan tidak ada pembeda. Saya kira, bahkan sampai nanti kami dikarunia malaikat-malaikat kecil, buku-buku bergizi dari Mizan akan selalu jadi pilihan. Alasan utama, tentu karena segala genre buku lengkap siap sedia. Dari yang lucu menggelitik, sedih haru dan menyayat hati, sampai membuat motivasi tumbuh dan pemikiran bekembang semua ada di Mizan. Terimakasih saya ucapkan, dan saya akui kematangan dan kesuksesan Mizan di tahun ke 30 ini sudah sangat maksimal. Saya doakan semoga terus melaju menuju gerbang kesuksesan serta tidak henti mendidik bangsa dengan goresan tinta dan semangat menjaga intelektualitas setiap insan di Indonesia bahkan di seluruh dunia.

Happy 30th Anniversary for Mizan. ^_^

Alhamdulillah,
Wassalamu'alaikum wr. Wb.


Warm Regards,     
Lena Sa'yati


Let's Gardening!



Hari apa ini? Hari Jum’at. Itu berarti? Hari yang istimewa buat kami para santri di Pesantren Condong. It’s Hollidayyyyyyyy, Alhamdulillah. Kali ini kita punya agenda yang mulia, eeaa. Apa itu? Yups, hari ini kita akan berkebun!

Ada apa dengan berkebun? Sebenarnya alasan kami memilih kegiatan ini pertama, tentu karena ibadah. Kedua, karena kelas 3 SMP sebentar lagi mau UN. Nah lho apa hubungannya? Ya, biar mereka nggak setres-setres amat, jadi ada yang bikin mereka have fun dan nggak boring gitu lho. Terus yang ketiga, berhubung harga bumbu-bumbu dapur mahhhaaal, jadi kita coba berinisiatif untuk menanggulangi hal tersebut. Keempat, pengen ngerasain aja sih gimana rasanya jadi “PETANI” (dan ternyata, ya Allah it’s so difficult, we have to do hard and harder!). Kelima, pengen nyiptain waktu bersama antara Wali Kelas dan Murid, kan seru. 

Terbukti dari awalnya banyak yang mau memanfaatkan hari libur buat pulang, tiba-tiba pas saya dan ke-3 wali kelas yang lain ngumpulin mereka buat kegiatan ini, mereka pada nggak jadi pulang kecuali yang bener-bener urgent. Akhirnya, kita mulai bagi tugas dari mulai pembagian kelompok yang kebagian membabat rumput, membuat pagar, membuat gadengan, mengurusi benih dll. Jam 09.30 kita mulai start kerja. Biar kerja makin asik, saya siapkan Laptop dan Sound untuk Live Music (Musik Islami pastinya), Kamera (buat foto-foto), handycame (buat kenang-kenangan mereka nanti). Oh iya, ada juga bagian konsumsi yang bertugas nyiapin cemilan dan minum buat para pekerja. Alhasil, kelihatan banget mereka kerja cerdas dan cepat. Jam 12.00 semuanya selesai. Wow, subhanallah sekali kan wanita yang masih kecil-kecil gitu bisa ngerjain pekerjaan abang-abang becak, eh, tukang kuli bangunan maksudnya. I’m proud of you girls. 

Ada beberapa momen yang sempet kami abadikan ketika berkebun tadi. Bisa lihat-lihat. 

initially like this

and than like this
Nisa cleared weeds

Eva cut bamboo
Gita made a fence

Ami hoe (one)
Ami hoe (two)

Ami hoe (three)

Here our Garden has become! :)
Horeee, Alhamdulillah :)
 Alhamdulillah berakhir dengan bahagia juga, dan akhirnya kita shalat dzuhur dan kembali ke aktifitas masing-masing. Thanks for today my girls. Love you all :)


Warm Regards,           
Lena Sa'yati